The Highly Energetic Hyperbolic Indonesian Person

Eko's posts with tag: life

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag life
Blog EntryNasehat, Nasehat, Siapa Mau Nasehat??Nov 21, '07 9:03 PM
for everyone
Membangun Kebersamaan

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar



Saudaraku, semoga kita terus menerus bersemangat untuk memiliki kearifan. Karena sangat banyak orang menjadi tua karena bertambah usia tapi tidak semakin dewasa. Kita tidak akan bisa menahan laju pertambahan umur kita, karena umur adalah milik Allah. Yang harus kita lakukan adalah menahan akhlaq kita agar jangan sampai turun ke derajat yang lebih rendah, tapi justru kita harus menggantinya dengan kualitas pribadi yang semakin mulia.


Lalu bagaimana caranya untuk membangun kebersamaan dengan orang lain itu? berikut ini akan kita kupas suatu langkah yang kita namakan dengan konsep 5 (lima) M;


M yang pertama adalah Mengenal Orang Lain.


Kita harus berupaya untuk mengenal orang lain lebih jauh dan lebih dalam dan hal-hal yang proporsional bisa kita kenali. Karena ada pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Oleh karena itu semakin kita mengenal, Insya Allah akan tumbuh kasih sayang di hati kita. Tapi sebalikanya jika kita tidak mengenal, maka akan sulit menumbuhkan perasaan tersebut. Padahal dengan menyayangi orang lain maka akan mendorong kita berbuat lebih baik. Bukankah orang tua yang sayang kepada anaknya akan memberikan pengorbanan yang lebih banyak dibandingkan pengorbanan kepada orang yang tidak mereka sayangi? Oleh karena itu Mengenal orang lain Ini merupakan langkah awal agar kita bisa menikmati kebersamaan dengan orang lain.


M yang kedua adalah Memahami.


Kenapa harus memahami? karena kita akan sulit sekali untuk dipahami orang lain sebelum kita memahami duduk perkara. Kita harus pandai memahami latar belakang seseorang, karena semakin kita memahami maka Insya Allah akan memiliki ketenangan dan kesabaran dalam menyikapi perbuatan orang lain. Seperti memahami karakter bayi yang menangis misalnya. Tentunya, kita tidak akan terpancing untuk bertindak emosional kepada mereka jika kita paham bahwa memang menangis itu adalah karakter bayi. Satu hal yang perlu kita catat; “Keuntungan jika kita lebih memahami dengan baik maka manfaatnya adalah kita pun akan mudah dipahami”.


M yang ketiga adalah Memaklumi.


Apa bedanya memahami dengan memaklumi? memahami itu adalah proses aktif yang lebih ringan, tetapi memaklumi itu adalah sudah menjadi sebuah proses yang lebih tinggi lagi dimana orang tersebut bertindak belum sesuai dengan harapan kita. Kita harus memaklumi bahwa setiap orang tentu ingin lebih baik, ingin mulia dan bahagia. Tapi tidak semua orang mendapatkan jalannya dengan mudah. Oleh karena semuanya membutuhkan proses untuk lebih baik. Kita harus memaklumi jikalau orang jatuh bangun untuk menjadi lebih baik. Dengan Memaklumi Insya Allah akan membuat kita jauh lebih ringan dalam menyikapi hal-hal yang mengecewakan dari orang lain.


M yang keempat adalah Mengalah Untuk Kebaikan.


Saudaraku, kita harus memiliki kepandaian untuk mengalah kepada saudara kita sepanjang mengalah itu akan menjadi lebih baik. Pahamilah dengan mengalah bukan berarti kalah, dengan mengalah bukan berarti lemah bahkan sebaliknya. Mengalah untuk kebaikan bersama adalah sebuah kemenangan atas keserakahan diri, kemenangan atas egois, ketamakan. karena biasanya kita cenderung ingin mendahulukan milik kita.


Lalu M yang kelima atau yang terakhir adalah Memaafkan.


Kadang-kadang sering terjadi ada orang yang sudah mengalah tetapi tetap belum bisa berterima kasih. Jika mengahdapi orang seperti itu alangkah lebih baik jika kita memberikan maaf. Insya Allah dengan semakin banyak kita memaafkan orang lain maka akan ringan hidup ini. Tetapi sebaliknya jika kita semakin banyak kecewa, dongkol atau dendam kesumat kepada orang lain maka akan semakin berat menghadapi hidup ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang pemaaf sepanjang pribadinya, tetapi Nabi Muhammad akan tegas terhadap soal agama dan hak Allah. Oleh karena itu kita jangan sampai terpancing menggunakan waktu dan pikiran kita hanya karena semata-mata mengganggap membela harga diri, padahal sebetulnya saat itu tidak akan jatuh harga diri kita. Jangan sampai terbakar emosi kita karena perkara-perkara sederhana yang sebetulnya dengan memaafkan akan membuat urusan menjadi lebih ringan.


Sauadaraku, Belajar mengenal dengan seksama , memahami, memaklumi, mengalah untuk kebaikan dan memaafkan orang lain ini adalah suatu langkah yang Insya Allah akan membuat kebersamaan bagi kita sehingga mudah-mudahan akan menjadi kebaikan. Dan mohon dicatat sikap mengalah atau memaafkan itu bukan tindakan pasif yang akan membuat kita menjadi semakin tersisih tidak berdaya. tapi ini adalah sebuah upaya untuk kebaikan. Wallahu ’alam


[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain]



















Blog EntryWaras yang WaraAug 26, '07 9:12 PM
for everyone
Sebuah cerita yang bisa dipake buat menusuk hati para wakil rakyat yang doyan mengumbar penis dimana-mana pake uang rakyat.

Surabaya

Kesulitan dan kesusahan sejak mendapatkan musibah banjir lumpur Sidoarjo tidak membuat Waras (56) sekeluarga, warga RT 08 Desa Siring Kecamatan Porong, meninggalkan nilai-nilai kejujuran.
Meski didera derita, lelaki jangkung itu tidak ingin memakan harta yang bukan haknya.

Hal ini terjadi saat Waras mendapatkan pembayaran dari hasil transaksi dengan PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) atas rumah, tanah pekarangan dan tanah sawah miliknya.
Setelah lolos verifikasi, bidang tanah miliknya tersebut diperhitungkan 100 persen sebesar Rp 286 juta.
Sesuai dengan Perpres 14/2007, Waras mendapatkan uang muka 20 persen dari nilai transaksi, yakni sebesar Rp 56 juta lebih dan dananya ditransfer melalui Bank Mandiri.
Setelah melakukan transaksi pertengahan Juli 2007, beberapa hari kemudian ia terkejut setelah melihat rekeningnya berisi uang Rp 485 juta.
"Saya kaget, mengapa uangnya sebanyak itu," kata Waras singkat.

Karena merasa uang sebanyak itu bukan haknya, Waras melaporkan pada perangkat Desa Siring, bahwa transfer uang dari PT MLJ ke rekeningnya terlalu besar.
"Saya lapor ke perangkat desa agar diberi tahu bagaimana caranya mengambil uang di bank untuk saya kembalikan ke PT MLJ.
Saya takut dipenjara karena mendapatkan kelebihan uang yang bukan hak saya," kata Waras dengan polos.

Akhirnya, dengan dibantu perangkat desa dan para relawan, Waras beserta keluarga berusaha menemui PT MLJ dan mengembalikan kelebihan dana sebesar Rp 429.440.000 beserta bunganya sebesar Rp 300.000.
Mendengar kabar tersebut, kini giliran para petinggi PT MLJ yang merasa terkejut.
Sebab di tengah banyaknya orang yang berusaha menarik keuntungan dari Lapindo terkait dengan semburan lumpur panas sejak 15 bulan terakhir ini, justru ada orang yang tetap menjaga kejujuran, meski mereka sedang menderita.
Apalagi Waras dan istrinya, Astiah (50), kini tidak bisa bertani lagi.
Sebab sawah yang ia miliki telah tenggelam, demikian juga dengan rumah dan pekarangan.
Kini ia menempati sebuah rumah kontrakan di Desa Juwet Kenongo, Kecamatan Porong, yang jaraknya sekitar 2 km dari rumahnya yang telah tenggelam.
Apalagi anak pertamanya, Isnanik (29), lahir dengan keterbatasan mental.
Sedangkan anak kedua, Sri Wahyuni (25) dan Ismanto (21) putus sekolah sejak lama.
"Saya sudah biasa hidup susah seperti ini. Karena itu, saya tidak mau hidup kami bertambah susah kalau makan harta yang bukan hak kami," tegasnya.

Berhati Emas
Atas kejujuran tersebut, jajaran PT MLJ memberikan apresiasi yang sangat tinggi pada Waras dan keluarga.
PT MLJ sengaja mengundang Waras untuk tidur di Hotel Sangri-La, sebuah hotel bintang lima di Surabaya.
Dalam kesempatan tersebut, Komisaris Utama PT MLJ Gesang Budiarso, Komisaris PT MLJ Ari Santosa, Vice President PT MLJ Andi Darussalam Tabusalla dan Dirut PT MLJ Bambang Hawik memberikan bingkisan pada Waras sekeluarga berupa perhiasan emas yang terbungkus dalam wadah berbentuk hati ditambah dengan sejumlah uang.

"Kita semua telah ditunjukkan oleh Tuhan, bahwa masih ada manusia berhati emas.
Salah satunya adalah Pak Waras.
Ia memberi contoh pada kita semua tentang nilai-nilai kejujuran," kata Andi Darussalam Tabusallah, sambil terbata-bata karena menahan haru.
"Keluarga Bakrie juga menyampaikan salam dan terima kasih yang tak terhingga pada Pak Waras," tambah Andi.

Ingat Kambing
Bagaimana kesan Waras setelah mendapatkan hadiah dan tidur di kamar eksklusif?
"Wah, di sini dingin, udaranya seperti saat saya menjaga sawah di malam hari," jelas Waras, saat SH menemui di kamarnya.
Tiba-tiba raut muka waras cemberut, seolah ia berpikir sesuatu.
"Aduh, saya sekeluarga tidur di hotel, lalu bagaimana nasib lima kambing di rumah. Kasihan, kambing-kambing itu belum makan seharian," celetuknya.

(chusnun hadi)

Benar-benar sebuah cerita yang mengusik inti jiwa kita bukan?



Blog EntryBenih KenangAug 26, '07 8:25 PM
for everyone
Benih Kenang
Oleh

Yon’s Revolta

Jika Anda membuat seseorang bahagia hari ini,
Anda juga membuat dia berbahagia
dua puluh tahun lagi,
saat ia mengenang peristiwa itu.

(Sydney Smith)

Kehidupan yang lalu adalah kenangan…

Kita hanya bisa mengenangkan peristiwa yang telah lampau. Begitulah, tak ada yang lain. Mengutuk masa lalu, tak ada gunanya, hanya membuat hati dongkol saja Kita mengenang hari lalu dengan mengambil pelajaran atas setiap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Inilah cara terbaik yang bisa kita lakukan. Mungkin, kita pernah melakukan tindakan paling bodoh atau konyol. Biarlah peristiwa ini terkenangkan. Kelak, pengalaman mengajarkan kepada kita untuk tidak akan mengulanginya di kemudian hari. Kalau tetap mengulanginya keledai namanya. Ini kata orang.

Ketika kita mengenang sesuatu, kadang terbesit, teringat kembali kepada sosok yang sangat baik. Sosok seseorang yang telah tulus membantu dalam kehidupan kita disaat kita kesulitan. Dia begitu berharga, menorehkan sejarah tersendiri dalam kehidupan kita. Atas perilaku baik yang dilakukannya, tersimpan dalam memori dan ingatan kita, betapa peran yang telah diperbuat sangat punya pengaruh ketika kita sudah seperti sekarang ini. Ya, dia memang sosok yang terkenangkan.

Hari ini, saya teringat dengan beliau, sosok yang pertama kali mengenalkan saya pada huruf-huruf Al-Quran. Beliau bernama Ustadz Hambali Syam, seorang guru dari Lamongan, Jawa Timur. Beliau begitu sabar mengajar saya. Maklum, waktu itu, saat saya Sekolah Dasar (SD), saya bersekolah di yayasan Katholik, jadi tak ada pelajaran agama Islam. Saya diajar oleh sang ustadz itu sepulang sekolah di sebuah Taman Pendidikan Al-Quran. Al-Muhajirin namanya, pada sebuah kampung di Magelang.

Saya ingat betul, saat itu suara saya serak-serak basah. Saya kurang tahu, sejak kecil begitu. Kalau membaca sesuatu, nafas terengah-engah. Entah, apa penyebabnya, dari kecil begitu. Dalam kondisi seperti itulah, ustadz itu begitu sabar menuntun saya mengenal alif Ba Ta lewat 6 jilid buku Iqra. Memang, suara saya yang payah itu berangsur membaik selepas saya sunat. Tak ngos-ngosan lagi. Saya juga kurang tahu, kenapa begitu. Yang saya tahu, yang teringat dalam benak, sang ustadz itulah yang pertama kali mengajarkan saya membaca Al-Quran disaat kondisi suara yang payah itu.

Berkat kesabarannya, sampai saat ini saya bisa membaca Al-Quran, walaupun tak begitu baik, tapi bisa. Setidaknya, tak terlalu terbata-bata. Begitulah, kenangan yang silam. Kita hanya bisa mengenangkannya, Ustadz Hambali Syam, telah menabur kenang dalam diri saya. Hingga, beberapa tahun kemudian masih saja saya ingat jasa baiknya. Sebagai mantan muridnya, cara terbaik barangkali mengucapkan terimakasih, dan sowan ala kadarnya kepadanya. Sayang, beliau telah telah tiada. Dari informasi yang saya dapatkan, telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas.

Saya hanya bisa berdoa saat ini, semoga Allah SWT memberikan tempat yang baik. Bagimanapun juga, apa yang dilakukannya telah menjadi sepohon amal yang terus tumbuh. Ya, beliau yang pertama kali mengajarkan Al-Quran kepada saya. Ketika sayapun kembali mengajarkan baca Al-Quran kepada anak-anak TPA, kepada orang lain, saya yakin beliau juga tetap akan mendapatkan amal baik itu. Amal yang akan memperberat timbangan kebaikannya.

Inilah bening kenang. Kitapun juga perlu menaburnya saat ini, sebelum ajal tiba. Menabur benih-benih kenang yang bisa kita lakukan kepada orang lain. Kelak, orang akan mengenang kita dengan perilaku baik kita. Tapi, yang perlu kita ingat, ini bukan motif utama kita. Satu hal yang mendasarinya adalah ketulusan untuk berbuat baik. Siapa menabur kebaikan, akan menuai kebaikan pula. Ini rumus kehidupan. Sekarang, cobalah sama-sama kita evaluasi, hari ini, sudahkah kita menabur benih kenang itu…?

Rumah Kelana, 14-Agustus-2007



Blog EntryBung Karno dan Musik Ngak-ngik-ngokJun 14, '07 12:17 AM
for everyone
Semoga menjadi ingatan:

Republika, 11 Juni 2007
Bung Karno dan Musik Ngak-ngik-ngok
Oleh : Ahmad Tohari

Pada masa remaja di tahun 1960-an saya tidak bisa mengerti tindakan Bung
Karno yang melarang lagu-lagu dari Barat yang disebutnya sebagai musik
ngak-ngik-ngok. Waktu itu sebuah lagu dari kelompok The Beatles yang
berjudul Send Me The Pillow sedang melanda dunia. Saya pun sangat
menyukainya karena irama lagu itu bisa menghanyutkan jiwa remaja saya.
Tindakan Bung Karno tidak hanya sampai di sini. Musik ngak-ngik-ngok
buatan dalam negeri pun dilarang beredar. Lagu 'Oh, Kasihku' ciptaan Koes
Bersaudara (kemudian berubah nama menjadi Koes Plus) dan lagu 'Boneka dari
India' yang dinyanyikan Elya Agus (kemudian berubah nama menjadi Elya M
Haris, Elya Khadam dst) juga dilarang. Bahkan Koes Bersaudara dan Elya
Agus kemudian dipenjarakan.
Mengapa Bung Karno begitu? Memangnya anak muda tidak boleh
bersenang-senang? Alasan Bung Karno seperti yang amat sering dipidatokan,
musik ngak-ngik-ngok yang biasa diiringi dansa-dansi akan merusak mental
para pemuda. Menurut bahasa Bung Karno, musik produk imperialis/kapitalis
itu akan melemahkan semangat juang para pemuda dan akan menghancurkan
nilai kepribadian bangsa. Bung Karno yang memang jadi pejuang bangsa sejak
usia muda agaknya punya alasan kuat untuk mengatakan keyakinan itu.
Bung Karno juga pasti tahu pada 1960-an itu kaum muda di Cina, Jepang,
atau Korea masih menahan diri untuk hidup berhura-hura karena mereka sadar
harus berjuang dan bekerja keras demi kemajuan masyarakat dan bangsanya.
Maka para pemuda Indonsia pun oleh Bung karno dilarang berngak-ngik-ngok
dan diminta untuk lebih giat bekerja.
Sayang, Bung Karno jatuh pada 1966, dan suasana sangat cepat berubah.
Terjadi euforia desukarnoisasi di semua bidang. Di Jakarta dan kota-kota
besar lainnya bermunculan pemancar radio yang dikelola oleh anak-anak
muda. Lalu membanjirlah lagu-lagu Barat yang sebelumnya dilarang.
Koran-koran picisan terbit dengan mudah dan bebas. Maka bukan hanya lagu,
semua produk budaya dan gaya hidup yang dulu ditentang Bung Karno
membanjir.
Memang ada sedikit perlawanan dari anak-anak muda yang masih menyisakan
idealisme kerakyatan, seperti yang terlihat dalam peristiwa Malari tahun
1974. Tapi gerakan perlawanan ini ditumpas habis oleh kekuatan besar yang
sedang tumbuh, orde baru. Tanggal 6 Juni kemarin adalah hari lahir Bung
Karno (1901). Saya jadi teringat kembali tindakan Bung Karno lebih dari 40
tahun lalu yang melarang pemuda Indonesia ber-ngak-ngik-ngok. Dulu saya
bingung, namun sekarang saya bisa lebih mengerti.
Ternyata musik jenis ini bisa menjadi pembuka bagi masuknya gaya hidup
sangat pragmatis, cair dan hedonis, dan buntutnya adalah konsumtif. Itulah
yang ingin dicegah Bung Karno. Dengan ngak-ngik-ngok yang mendayu-dayu
para pemuda mudah terlena dan mudah tercerabut dari nilai-nilai idealisme.
Apalagi bila musik itu disertai gaya pergaulan longgar serta dibumbui
alkohol dan narkoba. Maka hasilnya bisa dilihat dengan jelas di sekeliling
kita sekarang ini.
Rata-rata pemuda masa kini ingin segera bisa hidup enak tapi dengan cara
yang cepat dan mudah. Instan. Santai. Amat konsumtif. (Hormat untuk
minoritas anak muda yang mau belajar atau bekerja keras dengan cara
berjualan mi ayam, jadi buruh pabrik, PKL, TKI, dsb). Namun selebihnya
seperti hanya menuruti jebakan kaum modal yang dulu sengaja menghadirkan
musik ngak-ngik-ngok yang tidak disukai Bung Karno.
Gaya hidup pragmatis, santai, dan amat konsumtif para pemuda sekarang bisa
bisa dibuktikan dari berbagai hal. Misalnya, konsumsi rokok yang luar
biasa besarnya sehingga bangsa ini menjadi bangsa perokok terbesar di
dunia. Di kampus-kampus, kantin dan kafe lebih ramai daripada
perpustakaan. Kebutuhan pulsa jauh mengalahkan kebutuhan akan buku.
Sebagian besar pemuda Indonesia punya prestasi rendah di bidang akademik.
Juga di bidang olehraga. Sebaliknya, hasrat untuk mengonsumsi semua barang
yang ditawarkan terutama melalui media TV sangatlah besar. Melalui semua
media yang tersedia kaum modal telah berhasil mengubah masyarakat,
terutama kaum muda, bukan hanya jadi manusia pragmatis dan konsumtif
melainkan juga hidup dalam dunia sensasi. Kaum modal memang tahu,
masyarakat yang sudah masuk perangkap sensasi sangat mudah menjadi pembeli
barang yang mereka buat, baik barang itu benar-benar dibutuhkan atau hanya
diinginkan.
Empat puluh tahun lalu Bung Karno pasti sudah menduga keadaan ini akan
terjadi dan dia sudah berupaya menyegahnya. Tetapi banyak orang tidak
percaya bahkan menertawakannya. Termasuk saya! Saya menyesal telah
ikut-ikutan menyepelekan pikiran Bung Karno yang futuristik ini. Sayang
sudah terlambat. Namun setidaknya saya masih bisa mengingatkan kepada
kelima anak saya: hiduplah dengan idealisme untuk menjadi manusia yang
sehat lahir batin dan produktif. Untuk Bung Karno, semoga perjuanganmu
bagi bangsa ini menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT.
















Blog EntryMotivation BlockMay 29, '07 10:45 PM
for everyone
Why, oh why, the past two weeks or so see me losing my grips on everything I have been fighting for? It is as if they worth nothing after all this time...

I lost my interest on finishing "Tarung Jakarta". There is just no more pencillers interested on completing it. I even lost the urge to finish the CG of the completed 14 pages left.

I lost interest in continuing to work with this patethic "investment vehicle" disguising as "petroleum operating company". The managers are reactive managers, seemingly losing keypoints that have been agreed in the beginning of the years and started to think in short terms and WOW effects. With petroleum industry as a whole keeps on living on borrowed time (until the price of  oil drops to US$ 30 or so) and expanded bubles, it is quite important to me to evaluate the urge inside to leave this industry for good, before I got trapped and burnt.

But where should I go? Back to school and learn managements like everyone else? Dive headfirst into the niche entertainment industry called "comic books publishing" (I am being offered a position, but doubts is still there) and going malaysia for less than 2000 malaysian ringgit per month?

Or simply continue my life as is and never watch the sun rise or fall?

Where does the urge go? Where have been my motivations go for the last several weeks? Taking a vacation inside my head and forget to turn on their cellphones?

Sigh...life is hard, and it's getting harder if you aware that your very soul is being eaten life and right, and mostly by your decisions to continue working..


Blog Entry‘UjubMar 22, '07 8:21 PM
for everyone
‘Ujub

Oleh : Moch Aly Taufiq


Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata, ''Keburukan (sayyi'ah) yang

menyebabkanmu gundah gulana, lebih baik di sisi Allah, daripada

kebaikan (hasanah) yang menyebabkanmu 'ujub (berbangga diri).


Ada dua poin dalam kalimat mutiara tersebut. Pertama, perbuatan tercela

(selain dosa besar), tetapi membuat sang pelaku gundah, tidak tenang,

serta menyesal, dapat menjadi sugesti untuk bertobat. Kedua, perbuatan

terpuji, tetapi menyebabkan sang pelaku menjadi sombong. Menurut sepupu

Nabi SAW tersebut, ''Yang pertama lebih baik daripada kedua.''


'Ujub adalah sifat terlalu membanggakan diri, sehingga individu lain

dipandang rendah, lemah, dan buruk. Seperti perkataan iblis, ''Saya

lebih baik dari Adam, Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan

Adam Engkau ciptakan dari tanah.'' (QS Al-A'raf [7]: 12).


'Ujub adalah penyakit jiwa dan hati, yang seringkali menjangkiti orang-orang

yang dikaruniai harta melimpah, jabatan bergengsi, tubuh sempurna, ilmu luas,

gelar tinggi, dan wajah rupawan. 'Ujub juga bisa menjangkiti seseorang yang

ilmu agamanya luas. Intinya, siapa pun bisa terserang 'penyakit' ini.


Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Tiga perkara yang membuatmu hancur

adalah kikir, mengikuti hawa nafsu, dan sifat membanggakan diri.

'' Hujjatul Islam, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghozali

mengatakan, ''Sifat sombong dan 'ujub mampu menghapus segala bentuk

keutamaan dan bisa merendahkan diri.'' Sebanyak apa pun sedekah kita,

bila dilakukan dengan 'ujub, tidak akan bernilai di sisi Allah.


Sesering apa pun ibadah kita, akan sia-sia, jika di dalam hati terdapat

sejengkal ruang 'ujub maka sia-sia apa yang telah kita lakukan. Hal ini

makin menguatkan, segala yang dikaruniakan kepada kita, baik jabatan,

harta, atau ilmu, adalah ujian. Barang siapa tetap rendah hati dengan segala

keutamaan yang dimiliki, maka kedudukannya makin tinggi, baik di mata

manusia maupun di sisi Allah. Tapi, bagi hamba yang 'ujub, keutamaan

tersebut menjadi kerendahan.


Maka, tak berlebihan bila Ali menyebut lebih baik perbuatan tercela,

tapi bisa menjadikan kita gundah dan bertobat. Rasa menyesal mendorong

kita selalu menghindari cela. Dan memang begitu rendah, perbuatan terpuji,

tapi berbuah kesombongan dan kecongkakan sehingga hati semakin 'sakit'

dan susah ditembus oleh nasihat bijak. Na'udzu billahi min dzalika.


http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=1











© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help