Hari ini gw ngeliat sesuatu yang luar biasa n baru kali gw liat dengan mata kepala gw sendiri: ratusan manusia muda berkulit legam dan rambut kemerahan terbakar matahari memadati pelabuhan penyebrangan Butun, yang setiap kali gw mampir pasti lengang.
Sopir carteran kami pun memberitahu bahwa mereka adalah buruh-buruh musiman di Riau Andalan Pulp n Paper. Kerja mereka adalah menebang pohon2 calon pulp dan menanam bibit gantinya.
Oh, pikirku, ternyata begini toh buruh-buruh kasar nan musiman itu. Kuamati sekilas, penasaran, apakah ada pancaran mata yang bilang "terpaksa" memancar dari mereka. Nope, gak ada tuh. Yang ada hanya pancaran mata cuek bebek n ready for action.
Lalu kepala ini pun langsung berputar. Roda ekonomi mereka sepertinya tidak ada masalah, dan mereka pun sepertinya tak terlalu memasalahkan pekerjaan mereka, sama seperti buruh2 di rig atau buruh2 operator sumur.
Dan buruh2 di rig atau buruh2 operator sumur paling sering mengeluh bukan tentang pekerjaan mereka, tapi tentang keadaan negeri yang carut-marut.Tentang pemimpin2 dan wakil2 rakyat yang seenak udel mereka, dan tentang mereka2 yang gak punya harga diri kalo ngadepin negara2 lain.
So, emang sebenarnya masalah negeri ini ada di kepalanya. Kepala yang udah menua, elemen2 kepala yang sisa-sisa kepala dulu yang sudah membusuk gak diganti, dan kepala yang isinya kebanyakan gigi daripada otak.
Jadi, yang dibutuhkan bukan membela buruh2, yang kita butuhkan secepatnya adalah penggantian total kepala negeri ini, gak boleh ada elemen2 tua dan busuk yang dipake lagi, bahkan Amien Rais, Megawati, dan Gus Dur, karena mereka sendiri adalah bagian dari kepala busuk tersebut, meski kelihatannya tidak.
Buruh-buruh memang selalu menawarkan indikasi nyata di bagian mana sebenarnya problem sebuah negeri berada.
Perlukah kita revolusi total?