Eko's posts with tag: jakarta
Finally, some video on illegal tax on Jakarta public bus video050.3gp (382 KB)
Fans are fans. They are sometimes calm and logical like scholars in a great academic assembly, and the same gothic metal fans scholars can become wild and unruly on an underground metal concert. Wild and unruly, devoid of logics, and thus, prone to fatal accidents. That was what happened to 9 underground metal fans who attended a wild and energetic concert taking place on a closed hall. They go wild, they jumped around, they exhausted the oxigen supply on a room containing more than a thousand of equally energetic and oxigen sucking wild young things. It would not be fatal if the said room is a specially designed concert hall, but the deadly chamber was a rundown cinema converted into makeshift concert hall, and with capacity of only....500 people. And adding to the recipe of death are the fact that the dead chamber only have one room, the chaotic deliquents were smoking, and some of them were intoxicated. Thus, 9 lives were taken vainly that night. On another part of Java, Indonesia, another live was taken vainly. This time the young soul was a part of the local hooligans caught in post-match riots. His life ended after he suffered traumas to his physiques. His young energy was not fully exhausted after more than 90 minutes of yelling, shouting, choring, and jumping around in the stadium. He still need to wear out the effects of adrenaline intoxicating his blood. Indeed, perhaps the hormone was further enhanced by nicotine, caffeine, and alcohol. So when he saw insignias, logos, emblems, and colors that were not of his "soccer tribe", he and his friends went berserk and attack. And his life snuffed out. Energy wasted, and potencies dumped out, meaningless and never to be returned. Vain deaths. They are everywhere. Sometimes we take them for granted. Realize, that for each death we take for granted, our collective sensitivity will be dulled furthermore also posted at: http://zenstrive.qassia.com
Pagi hari adalah waktu yang baik untuk menempa diri dengan berolahraga. Udara yang masih low pollution, tubuh yang masih tak terkena terpaan kekejaman tempat kerja (boss dan air conditioner yang dingin), dan kesegaran sejuk pagi yang berembun.
Maka berangkatlah aku menyongsong pagi, mengayunkan langkahku. Kubuka pintu rumah dan kudorong pintu gerbang dan kusapa sejuknya udara pagi. Kuhirup, dan kuresapi. Rasanya beda. Tak ada tekanan di situ. Jiwaku menyambut pagi tanpa persiapan apa-apa, dan dia pun menyapaku “Apa kabar, tak biasanya kamu melepas topengmu”
Ah, pagi. Maafkan aku yang selalu memelukmu dengan tipu daya sehingga membuatmu selalu mengambek dan membalas dengan kepekatan gelap jiwa.
Tapi pagi ini aku tak ingin memelukmu begitu saja. Aku ingin memelukmu erat, ingin kunikmati kamu, dan ingin kucari memori bersamamu.
Maka kulangkahkanlah kaki-kaki ku, menapaki bumi yang masih berselimut embun pagi. Kudaki bukit kecil yang memisahkanku dengan dunia. Kuhirup kau dalam-dalam, Pagi.
Terus kulangkahkan diri ini, melangkah cepat, menggerakkan tungkai-tungkai yang biasanya terkulai tak berguna di bawah meja cubicle, hanya berayun-ayun tak jelas sementara jari-jari bekerja extra keras. Sekarang saatnya membangunkan otot-otot kaki, dan mengalirkan darah segar penuh gizi ke tungkai penopang tubuh ini.
Oh, Pagi, tapi apa yang kurasakan ini?
Ternyata kau tak sesegar yang kuduga. Manusia-manusia itu memang tidak sabaran. Sepagi ini, kaleng-kaleng rombeng itu pun masih bergulir. Suara deru dan nafas nya menebar polusi di pagi ini. Tak bisa kunikmati kau lekat-lekat, Pagi. Nafas ini harus kujaga supaya sedikit saja tersentuh partikulat-partikulat beracun yang dihembuskan oleh mereka-mereka.
Memang tak seindah yang kuduga, tapi tak apa lah. Terus kuayunkan langkahku, mendaki tangga-tangga yang membawaku melayang di atas ruas-ruas jalan yang tak pernah tertidur. Kukeluarkanlah kameraku tercinta, Canon Powershot A700 (6x zoom), dan kubidiklah pemandangan urban yang terkadang indah ketika surya masih tertidur.
Tapi apa mau dikata, ternyata catu daya Cammy ku tersayang habis. Dia pun menolak kupakai dan hanya mengambek, kembali tertidur.
Ya sudahlah, dan ku pun terus berjalan di bawah udara pagi yang mendung. Sesekali langit menyapaku dengan rintik-rintik kecil. Kupandang langit, gelap, tapi dia pun tersenyum. Aku pun tersenyum balik. Tak akan hujan lebat.
Kupun terus berjalan. Berjalan di sisi sebuah jalan yang tak pernah tidur. Kupandang lah sekitarku: gedung-gedung, tinggi maupun pendek. Tembok-tembok bercat putih dan lukisan-lukisan liar yang menggerayangi keputihan itu. Manusia, manusia; kapan kau bisa mengekang diri?
Ku pun terus mengayunkan langkahku, dan kulewati rentang-rentang baja, dan sebuah kereta baja pun melesat di atasnya. Angin liar pun menghantamku, tapi aku lebih tangguh. Dia tak lebih dari angin yang akan menghilang, dan aku lebih dari angin: aku kan terus exist!
Dan kuayunkan langkahku sekarang cepat-cepat; rumahku sudah dekat; kaki-kaki ku pun mulai mengeluh. Tapi apa itu? Sebuah minimarket 24 jam! Kubawa kaki-kaki itu masuk, dan kubeli beberapa konsumsi. Hey, aku hanya manusia, butuh makan dan butuh minum!
Dan aku pun melangkah ke rumah, mengakhiri petualangan bersama pagi ini. Kubuka gerbang rumah, kututup. Kulangkahkan diri ke dalam rumah, dan kulepas sepatuku. Dan baru kusadari:
Kok aku make sepatu kantoran sih?
Dasar robot kantor ~”~
Hujan menderu menggesek-gesek langit Jakarta yang penuh dengan partikulat-partikulat hasil buangan manusia-manusia tidak perdulu. Guntur dan Guruh bersahutan-sahutan bersama Petir, menyemai mimpi buruk di tidur manusia. Dingin membentangkan dirinya, meniduri kenyamanan kasur mereka-mereka yang dilelahkan oleh intrik-intrik dunia bangun.
Lalu Hujan pun membasahi jalan-jalan. Jalan-jalan yang dilalui mereka yang tak punya pilihan. Hujan pun menyebarkan anak-anaknya di tiap-tiap sudut Jakarta, terus-menerus, tanpa henti.
Lalu ketika drainase, kali, waduk, situ, dan halaman-halaman beton Jakarta tak mampu menampung kenakalanan anak-anak hujan, mereka pun menerjang jalan, rumah dan memporak-porandakan perikehidupan Jakarta; dan juga kota-kota lain.
Lalu langit pun berkata "Sadarlah, wahai Manusia Jakarta" katanya dengan tatapan dingin "ini semua adalah akibat ulahmu jua"
"Kau serakah! Kau tumpuk semua harta mu di kota ini!" bentaknya (dan guntur pun bergema) "tak ada yang kau bagi tuk tetangga-tetanggamu! Lihatlah anak-anak mereka, berduyun-duyun menerjang mu!"
"Kau tak peduli! Kau tumpuk semua harta mu di kota ini!" bentaknya (dan kilat pun menyala) "kau tak peduli meski hutan gundul atau gorong-gorong kota kau penuhi sampah-sampahmu!"
"Kau! Ini ULAHMU!" gusarnya (dan angin pun mencabut pohon-pohon) "ULAHMU! ULAHMU! ULAHMU! Kau bangun gedung-gedung tinggi tapi kau tak bangun gorong-gorong dalam!"
Dan RI-1 pun terterjang banjir, Soekarno-Hatta mencekam bak Pulau Kematian, dan apa kata Si Kumis Narkotik?
"INI ULAH PARA KONTRAKTOR PERAWATAN GORONG-GORONG!"
Dan langit pun muram. Tak ada lagi yang bisa menyadarkan manusia-manusia penguasa kota mati hati ini. "I shall return!" kata langit.

|  | From Gray Cloud turning to menacing black monster, to a city made crippled by abysmal drainage system, to pristine morning |
| Category: | Real Estate | | Price: | Rp 550000000 |
401 m2
Rancho, South Jakarta
Rp 550 million
location (use Google Earth): 6°18'23.87"S latitude 106°51'17.64"E longitude
Call +62 21 7810746 or +62 813 168 11 950 for details.
| Category: | Real Estate | | Price: | Rp 450000000 |
Contact +62 21 7810746 or +62 813 168 11 950 for details! 350 m2 land with 200 m2 house with two rooms, one bathroom, living room, and kitchen. In South Jakarta flood free area, only 10 minutes walking from TB Simatupang and inner city toll road. Very-very refreshing environment! Fixed Price: Rp 450 million Check http://zenstrive.multiply.com/video/item/14/TANAH_DIJUAL_ for vide
A market condition in the capital city of Jakarta video042.3gp (1.7 MB)
How much driver it takes to drive a rundown bus? video040.3gp (4.2 MB)
Enjoy this walkers side of Jakarta that is so.... video039.3gp (3.3 MB)
Common Enemy
oleh : Djony Edward, Wartawan Bisnis Indonesia
Suatu hari saya menelepon seorang mantan jenderal yang disegani dimasa Presiden Megawati Soekarno Putri. Dalam percakapan dengan jenderal tersebut sempat tercetus diskusi ringan, bagaimana pendapat Anda tentang Partai Keadilan Sejahtera (PKS)? Terutama kaitannya dengan pencalonan Gubernur DKI Jakarta. Sang jenderal hanya menjawab singkat, "PKS common enemy (musuh bersama)." Tanpa hendak bermaksud menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud common enemy bagi PKS, sang jenderal mengalihkan pembicaraan dari A hingga Z tentang perkembangan di tanah air. Bagi penulis, pernyataan common enemy cukup menyentakkan. Karena pernyataan itu seolah mengingatkan saya pada kemenangan Front Islamic Salvation (FIS) di Aljazair dan Refa di Turki dalam pemilu setempat yang kemudian kemenangan itu langsung dijegal oleh militer. Indikasi serupa sempat muncul saat Nurmahmudi Ismail memenangkan pilkada di Depok setelah mengalahkan calon incumbent Badrul Kamal. Karuan saja setelah MA dan PN Jabar memenangkan kader PKS ini jegal melalui aksi-aksi tak konstitusional, mulai dari demostrasi tak berkesudahan, aksi tak simpatik anggota DPRD non PKS yang cenderung mendiskreditkan Nurmahmudi, hingga aksi pengempesan ban mobil sang walikota dan pelemparan bom molotov mobil kader PKS Depok. Pernyataan itu juga mengingatkan ketika Zulkieflimansyah bersama pasangannya Marissa Haque saat mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wagub Banten. Dimana tiga parpol besar: PPP, PDIP dan Partai Golkar bersatu untuk melawan kader dari PKS. Tak kalah pentingnya saat pilkada bupati Bekasi dimana pasangan Sa'aduddin dan M. Darip Mulyana yang sempat dinyatakan kalah, namun akhirnya dimenangkan oleh PN Jabar. Puncak gunung es relasi antara pernyataan sang jenderal tentang PKS adalah common enemy saat calon PKS: Adang Daradjatun dan Dani Anwar harus berhadapan dengan Fauzi 'Foke' Bowo dan Prijanto yang juga adalah sang jenderal militer. Tak tanggung-tanggung Foke-Prijanto didukung 20 parpol yang tergabung dalam Koalisi Jakarta. Sintesa bahwa PKS adalah common enemy seolah menemukan justifikasi paling nyata di pilkada DKI Jakarta. Ini juga yang mengonfirmasi mengapa pilkada DKI Jakarta begitu gegap gempita, riuh rendah dan seolah memanas, padahal kedua calon belum lagi memaparkan visi dan misi serta program kerja mereka. Pilkada DKI Jakarta begitu serius menyusul ada unsur PKS yang pada Pemilu 2004 menguasai pangsa suara sebanyak 1.057.246 suara atau jika dipresentir menguasai pangsa suara warga DKI sebesar 22,32%, vis a vis dengan Koalisi Jakarta yang merepresentasikan lebih dari 70% pemilih yang terhimpun di 20 parpol pendukung. Praktis di atas kertas Foke harusnya menang, karena didukung oleh 20 parpol dengan menguasai pangsa suara melebihi syarat untuk menang. Berikut al. parpol pendukung Foke: Partai Demokrat (20,23%), PDIP (14,02%), Golkar (9,16%), PPP (8,16%), PAN (7,03%), PDS (5,34%), PBR (2,90%), PBB (1,45%), maupun PKPB (1,83%).
Maksimalkan kemenangan
Jika mengamati besarnya dukungan atas Foke, maka praktis kemenangan putra Betawi itu sudah di atas kertas. Tapi pertanyaannya, mengapa sebegitu besar suara yang dibutuhkan Foke untuk menguasai Jakarta 1? Padahal untuk sahnya seorang kandidat cuma membutuhkan dukungan suara 15% dari parpol peserta pemilu 2004. Tentu ada hidden story yang membuat Foke tak terlalu memedulikan aspek pendidikan politik untuk provinsi tertinggi tingkat rasialnya sekaligus ibukota negara. Foke ingin memaksimalkan kemenangan setelah sebelumnya sempat ditolak oleh Ustad Hilmi Aminuddin. Suatu hari, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita bertandang ke kediaman Ustadz Hilmi di bilangan Kali Malang. Setelah diterima dan ngobrol ngalor ngidul, setengah jam kemudian Ginandjar mohon izin. "Ustad, mohon maaf. Sebenarnya saya datang ke rumah Ustadz dengan adik saya," demikian papar mantan Mentamben dan Kepala Bappenas di masa Presiden Soeharto. "Siapa? Kok tak disuruh masuk?" ungkap Ustadz Hilmi. "Foke, Ustadz," tambah Ginandjar. Pendek kata, akhirnya Foke yang berkeliling setengah jam di gang-gang sekitar Kali Malang meluncur ke rumah Ustadz Hilmi. Singkat kata, dalam obrolan itu Ginandjar dan Foke minta dukungan dari orang yang paling disegani di PKS itu. Apa jawaban Ustadz Hilmi? Tentu jauh panggang dari api. Berikut petikannya, "Wah permintaan dukungan ini telat. PKS sudah memiliki calon, yakni Adang Daradjatun. Kalau begitu silakan saja berkompetisi secara sehat." Itulah sekelumit kisah dimana Foke sempat juga meminta dukungan kepada PKS, dimana Golkar sebagai inisiator bersama PPP cukup mendapat dukungan PKS dan PDIP maka sudah mengusai pangsa suara lebih dari 51%. Artinya tingkat konsolidasi akan lebih sederhana dan lebih mudah. Namun dengan penolakan yang dilakukan Ustadzz Hilmi, yang juga merepresentasikan penolakan PKS, maka hal ini membuat gelisah kubu pendukung Foke. Maka untuk memastikan ketenangan dan memuluskan kemenangan digalanglah Koalisi Jakarta yang melibatkan 20 parpol. Peduli setan dengan aspek pendidikan politik, yang penting bagaimana memaksimalkan kemenangan. Jadilah PKS sebagai common enemy bagi, paling tidak, elit politik di DKI. Tapi belum tentu bagi rakyat DKI Jakarta. Menurut hemat penulis, dinamika yang terjadi dalam proses pencalonan Gubernur dan Wagub DKI ini, tak lepas dari sikap Koalisi Jakarta yang menganggap PKS sebagai common enemy. Apalagi jejak rekam PKS yang telah mengikuti hampir 250 pilkada di Indonesia (dari 297 pilkada yang pernah digelar), kader PKS berhasil memenangkan di 77 titik pilkada atau lebih dari 30%. Kemenangan pilkada yang diikuti kader PKS ada yang dilakukan sendiri, ada yang berkoalisi dengan elit politik lokal, maupun dengan birokrat dan pengusaha setempat. Lepas dari semua itu, kiprah parpol yang memasuki tahun ke-10 berpolitik di tanah air (maklum sebelumnya cuma sibuk berdakwah), sudah mampu tampil dengan daya pikat 30% di daerah pemilihan. Itu sebabnya, bisa difahami jika terbentuk Koalisi Jakarta yang tak mau menganggap enteng calon yang diusulkan PKS. Bukan semata-mata siapa calonnya, tapi justru cara kerja mesin politik PKS yang mampu menembus jantung hati rakyat. Ada atau tidak ada pilkada ataupun pemilu, kader PKS terbilang rajin menyapa atau bahkan berjibaku ikut larut dalam penderitaan yang dialami rakyat. Fenomena banjir Jakarta, cuma PKS yang dengan sigap membangun 60 titik posko yang melibatkan ratusan, bahkan ribuan kadernya, serta bantuan sukarela warga, untuk menolong mereka yang terendam banjir. Posko itu dibentuk dari awal Jakarta terendam banjir hingga tetes banjir yang terakhir. Berbeda dengan parpol lain, yang mungkin ada juga yang turun ke lokasi banjir, namun staminanya tidak selama PKS. Bahkan ada parpol besar yang cuma memasang spanduk mengucapkan turut berduka atas banjir yang melanda warga Jakarta. Bahkan Pemda DKI Jakarta saja, baru minggu kedua pasca banjir menurunkan bantuan bertruk-truk sembako dan pakaian serta selimut. Suatu sikap yang tidak buruk. Tapi jika dilihat dari aspek berlomba-lomba dalam kebajikan, maka kader PKS lah yang maju dimuka. Kedekatan PKS dengan warga inilah yang menggelisahkan lawan politik, karena itu dibuatlah strategi common enemy dengan membentuk Koalisi Jakarta. Penulis menduga, dinamika politik menjelang penentuan calon seperti fenomena yang melanda para jenderal: Slamet Kirbiyanto, Djasri Marin, maupun Agum Gumelar, belum lagi fenomena Rano Karno, Sarwono Kusumaatmaja, tak lebih dari bagian dinamika yang memperkaya dan mengarahkan PKS sebagai common enemy.
Plus minus
Oleh karena itu, pilkada DKI cuma memiliki dua calon, yakni pasangan Foke-Prijanto dan Adang-Dani. Pasangan mana yang oleh banyak pengamat dan mantan pejabat sebagai pasangan yang memiliki plus minus. Karena itu muncul ide-ide calon independen guna menampung aspirasi kelemahan dua kandidat tersebut. Namun kandidat PKS merasa tak keberatan kalau memang dinginkan, namun kandidat Koalisi Jakarta menolak lantaran tidak memenuhi kaidah dan ketentuan perundangan yang berlaku. Foke sebagai calon incumbet, tentu sangat potensial memenangkan pilkada DKI Jakarta. Karena selain didukung oleh 20 parpol, juga didukung birokrasi yang saat ini dipimpinnnya. Tambahan pula Foke cuti setelah ada kepastian Daftar Pemilih Tetap, hasil kerja Dukcapil yang nota bene masih dikomandaninya. Pada saat yang sama kader PKS, LSM, pengamat, mahasiswa, dan sejumlah tokoh mencaci cara kerja penjaringan calon pemilih karena ditengarai adanya ghost vooter lebih dari 1 juta. Tingkat diskusi pun menemui jalan buntu, KPUD tetap jalan terus dengan data yang dimilikinya dari hasil proses yang lemah sekali, kendati mendapat cap penyelenggara pilkada paling buruk di Indonesia. PKS tetap ngotot bahwa proses itu tidak aspiratif, arogan, dan menghalangi kader-kadernya yang belum terdaftar. Kendati KPUD merasa sudah membuka perpanjangan masa pendaftaran yang juga sebenarnya serba dibatasi oleh waktu dan tempat pendaftaran. Apa boleh buat, DKI ke depan harus dipimpin oleh kedua pasangan yang telah ada, yang dilahirkan dari proses demokrasi yang rendah, bahkan mengarah pada kartel kekuasaan. Foke yang juga seorang doktor tata kota memiliki justifikasi akademis yang memadai, selain kaya raya, dia juga dikenal penderma. Sejumlah organisasi parpol, organisasi sosial dan olah raga diketuainya, atau setidaknya menjadi penasihat, menunjukkan supelnya sang calon. Kelihaiannya dalam melakukan lobby sangat mumpuni, terbukti 20 parpol dengan sedikitnya didukung 70% pemilih pada 2004, dengan warna-warni ideologi serta anutan, mampu disatukannya dalam upaya mendukung pencalonannya. Namun Foke bukanlah manusia super. Sebab pada saat dia menjadi Wakil Gubernur dengan segala ilmu dan kepandaian, serta lobbynya, toh tak mampu mencegah banjir, padahal dia ahli tata kota. Juga tak mampu membendung meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran di DKI Jakarta, padahal tekadnya menyejahterakan warga. Paling tidak itulah hasil polling Lembaga Survei Indonesia (LSI) pimpinan Saiful Muzani. Dimana dalam surveinya 70% kecewa kepada pasangan Sutiyoso-Foke atas banjir yang melanda Jakarta, 90% kecewa karena kemiskinan meningkat, dan 80% kecewa karena pengangguran naik. Meskipun dalam dialog di Metro TV, Foke berapologi banjir yang melanda semata-mata karena fenomena alam. Dia tak menjelaskan kenapa kemiskinan dan pengangguran bertambah di Jakarta. Sementara Adang Daradjatun tidak terlalu dikenal prestasinya saat menjabat Wakapolri, ia berpendapat sebagian besarnya bertugas dibidang intelijen Polri sehingga memang tak terlalu dikenal. Namun ada yang bertanya, mengapa PKS mencalonkan mantan Wakapolri itu, sementara sudah menjadi pengetahuan umum mulai dari polisi jalanan hingga jenderal polisi sulit mencari orang yang bersih. Berbagai predikat buruk tentang polisi, tiba-tiba saja harus berbaur dengan citra PKS yang bersih? PKS sempat memberi penjelasan memang tidak ada orang yang suci, no body perfect. Dengan merekrut Adang dari kepolisian diharapkan ke depan, itupun kalau terpilih, paling tidak bisa melakukan reformasi kepolisian dari dalam. Sebuah spekulasi yang memang harus diuji. Sementara Prijanto yang merupakan pasangan Foke diketahui sebagai militer aktif, namun prestasinya pun tak terlalu menonjol. Sedangkan Dani Anwar adalah mantan ketua fraksi PKS di DPRD, paling tidak perjuangan sekolah gratis yang diusungnya berhasil menjadi kenyataan, walaupun pelaksananya Sutiyoso dan Foke. Kekhawatiran sebagaian warga Jakarta bahwa jika kader PKS menang maka perjudian dan bisnis hiburan akan diberangus, karena akan diterapkan syariat Islam. Tuduhan itu dijawab oleh Dani, bahwa di 77 kabupaten, pemkot dan pemprov dimana kader PKS memenangkan pilkada, tak satupun yang otomatis diterapkan syariat Islam. Syariat Islam dengan sendirinya akan terlaksana jika akidah warga dibenahi, dan proses pembenahan akidah memerlukan waktu. Lepas dari plus minus sang kandidat, berikut plus dan minus pelaksanaan pilkada DKI Jakarta oleh KPUD, tanggal 8 Agustus warga harus tetap memilih. Termasuk memilih golput merupakan satu pilihan, kendati maknanya hampa sama sekali. Siapakah Gubernur DKI Jakarta ke depan, jawabnya ada pada nurani Anda!!!
 | GILA LU! | Jun 19, '07 9:37 PM for everyone |
OOO SEORANG PELAJAR MOTOR MEREM DIA PUNYA MOTOR KARENA BUS BERHENTI KOTOR LALU DIA PUN MERAYAP MEMBELOK
OOO SEORANG PELAJAR MOTOR MERAYAP DIA PUNYA MOTOR LALU PERLAHAN MELEWATI BUS KOTOR TAPI LALU ADA YANG LEWAT SAMBIL BERKATA KOTOR
"BEGO LU!"
DAN LALU ADA YANG MENGACUNG-NGACUNGKAN JARINYA
"TSK! TSK! TSK!"
SANG PELAJAR MOTOR PUN BINGUN
"LHA? PELAN2 SALAH?"
JAKARTA EMANG ANEH
Perspektif Online 22 May 2007 Bukannya Foke muncul, malah Wimar menghilang. Bukannya kampanye curang dihentikan, malah yang nanyain dihentikan. Sudah berminggu-minggu semua orang termasuk Wimar menunggu kehadiran Fauzi Bowo, satu-satunya Calon Gubernur yang belum memenuhi undangan ke Gubernur Kita untuk memperkenalkan diri ke pemilih dan menerangkan visi dan misi sebagai Gubernur mendatang. Padahal banyak sekali pertanyaan untuk Bang Foke, antara lain mengenai niat dia sebagai penerus Gubernur Sutiyoso dan mengenai kampanye terselubung menggunakan duit rakyat. Setelah episode Gubernur Kita Kamis lalu masih menyinggung etika kampanye Fauzi Bowo, Jak-TV mengaku ke WW mereka ditekan oleh orang Fauzi Bowo, dan akhirnya hari Senin pagi (21/5) memberhentikan Wimar dari tugas panelis Gubernur Kita. Pemberhentian ini pertama dilaporkan oleh berpolitik.com, Wimar Dipecat dari Gubernur Kita! Akhirnya terjadi juga. Wimar Witoelar resmi dipecat sebagai panelis dalam acara Gubernur Kita yang mengudara setiap Kamis malam di Jakarta TV. Pemberhentian itu sebenarnya sudah diproses sejak Jumat lalu (18/5). Pihak Jak TV sudah bertemu dengan staf Wimar. Dalam pembicaraan itu, Jak TV meminta Wimar mengundurkan diri. Pasalnya, pihak stasiun yang antara lain sahamnya dimiliki oleh Eric Thohir ini mendapat banyak SMS dari yang mereka sebut sebagai "orang-orang penting" perihal omongan Wimar yang mempersoalkan iklan terselubungnya Fauzi Bowo. Ketika dihubungi per telpon siang ini (21/5), Wimar setengah bergurau masih sempat bilang, "Ini bab dua, kelanjutannya, he..hee. Kali ini atas perintah orang-orang sekitarnya Fauzi Bowo." Baca wawancara pertama Wimar mengenai kasus ini di berpolitik.com Kemudian detikcom juga melaporkan, Kritisi Fauzi Bowo, Wimar Ditendang dari Gubernur Kita: "Saya diberhentikan tadi pagi. Disampaikan secara lisan, berkali-kali berhubungan dengan staf saya," ungkap Wimar saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Pernyataan lisan itu, menurut Wimar, disampaikan oleh Produser JakTV Martin Mohede. Apa alasan Martin memberhentikan Wimar sebagai panelis dalam acara yang digelar setiap Kamis malam itu? "Dia minta saya mengundurkan diri karena mengganggu kenyamanan Fauzi Bowo," kata Wimar menyebutkan alasan Martin. Saat ditanya wartawan yang sama, pihak JakTV memberikan alasan yang berbeda: JakTV Bantah Ditekan Fauzi Bowo: "...Ini semata masalah Wimar keluar dari komitmen," ungkap Produser Eksekutif 'Gubernur Kita' JakTV Martin Mohede dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Martin, saat acara itu digagas, terjalin komitmen tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. "Kita komitmen acara ini untuk cari solusi. Boleh kritis, tapi ujung-ujungnya solusi," jelas Martin. Masih mencari siapa yang menekan, detikcom bertanya ke Fauzi Bowo Center yang menjawab: Fauzi Bowo Tidak Menekan JakTV: "Waduh, fitnah itu. Nggak kepikiran kita melakukan itu," cetus Direktur Fauzi Bowo Center, Makmun Amin, saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Makmun, Fauzi Bowo sendiri tidak pernah berkomentar apa-apa atas acara 'Gubernur Kita' itu. "Tidak logis itu. Tidak pernah juga terlintas di tim pendukung untuk menghubungi JakTV itu," kata Makmun. Siapapun yang menekan pasti tidak akan mengaku, tapi siapa sih yang diuntungkan dari pemecatan ini? Menurut Faisal Basri dalam liputan berpolitik.com: Citra Fauzi Justru Makin Buruk: ...pemecatan terhadap Wimar sebenarnya justru makin merugikan citra Fauzi Bowo sendiri. Menurut Faisal, tak soal apakah yang melakukan itu orang-orang dekatnya atau memang atas kehendak dirinya sendiri. Selama Fauzi membiarkan atau tak membantahnya, berarti dia bisa dianggap menyetujuinya. Jadi, "Jangan salahkan orang lain jika ada anggapan, 'baru jadi calon saja sudah begitu, bagaimana jika sudah benar-benar jadi Gubernur," ujarnya prihatin. Sama dengan saat JakTV memberhentikan acara rating tertingginya sendiri, Wimar's World, Wimar tidak ingin berita ini menjadi soal dirinya. Don't worry, WW sih baik-baik saja, karena secara pribadi sudah biasa dibredel sejak jaman Perspektif, Selayang Pandang, Dialog Aktual. Yang perlu dikasihani justru adalah media, penonton, dan kredibilitas acara Gubernur Kita. Apakah penonton masih bisa percaya acara mengenai Pilkada yang ceritanya mengangkat semua masalah tapi sekalinya mengangkat soal etika kampanye, satu panelis independen dipecat, sementara satu panelis yang disimpan adalah ketua salah satu partai pendukung Fauzi Bowo merangkap anggota tim sukses Fauzi Bowo, dalam acara yang disponsor iklan Fauzi Bowo di setiap break, dari stasiun yang bisnis pemiliknya sangat tergantung pada kelompok Sutiyoso-Fauzi? Jawabannya ada di Anda sendiri... http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=642http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=644http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=660http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4686&c_id=21&g_id=286http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4686&c_id=21&g_id=286http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time/184911/idnews/783013/idkanal/10http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time/192023/idnews/783026/idkanal/10http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4694&c_id=21&g_id=286http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=616http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=665http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jabodetabek/dukungan-fauzi-bowo-capai-70-3.htmlhttp://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=644http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=640
As you all have know, a building metal crane dropped on a busy business streets of Jakarta and hit three passing vehicles.
Upon reading this horrible news, my mind wandered to something else. Something that could hit many people, and I am sure one of those "honorable people" will be hit along (if it is done correctly).
My idea was this: if the inspection on this crane was done properly, this will lead to renting process of the equipment, which will then lead to inspection and certification processes for the crane structures, which will then lead to investigation to the certififying and renting companies. If the company who rent the crane, the investigation company, and the certifying company are proven to be "hiding something" then a criminal investigation shoud be implemented. Then the procurements, the users, and the owners of all companies should be investigated too, which will lead to their crane suppliers, which will then reveal if the crane is supposed to be usable or not. If it is not supposed to be usable, then Indonesian companies will be fallen deep into the shitpile alias of "user of junks"
We have trains labbeled as "junks" when imported. Hell, we even have "professionals" labelled as "junks" when they are imported from out of borders. Now we have a falling crane that could be well a "junk" when it was operated near the proximity of a busy business street.
And that reminds me of another thing: Garbage In, Garbage Out!
Pengen nanya deh:
1. Sebenarnya jembatan penyebarangan tuh buat siapa sih?
2. Tindakan seperti ini bukannya mengundang bahaya tingkat tinggi?
3. Kenapa sih pengendara motor senengnya menjajah area pejalan kaki? Di trotoar mereka menjarah, di taman mereka menjarah, dan sekarang di jembatan penyebrangan pun mereka menjarah.
Barangkali kalo jembatan busway bentuknya kayak gini, mereka pun akan menjarah.
Pindah lagi, pindah lagi! video013.3gp (634 KB)
Metromini yang dijadiin tumpahan, kena tumpahan lagi dari metromini lain, dan MOGOK!
Jadi tumpahan lagi deh gw!
TOLOL! video011.3gp (487 KB)
Ada sebuah kisah yang ingin kubagi pada kalian semua. Entah apakah cerita ini benar-benar terjadi atau tidak, tapi yang jelas benar-benar bisa membuat semua orang terkejut. Cerita ini melibatkan pihak-pihak yang sedang memperjuangkan kebebasan Jakarta; kebebasan kota terbesar se-Indonesia ini dari pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruhnya demi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongannya. Orang-orang ini berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang berjuang dengan cara bergabung dengan unsur-unsur yang lekat dengan stigma negatif. Ada yang berjuang dengan cara mencari informasi kesana-kemari dan melabrak lokasi-lokasi penyimpangan sosial. Ada pula yang mencoba berjuang secara lebih ekstrik dengan target membunuh mereka-mereka para power-abuser itu. Dan ada pula yang berjuang secara gigih dengan lagu, musik, dan pendidikan para anak-anak tak berpunya. Kisah mereka kurasa pantas kusharing. Kalian pun bisa mendukung perjuangan mereka di sini. Sebarkan kisah mereka !
Hebat, hari ini gw dipindahbuskan DUA KALI!!
Benar-benar KACAU nih KOTA!
n masih aja wakil gubernur mau calonin diri jadi gubernur mendatang, GAK DEH!
N EMANG, GW KAMPANYE, KAMPANYE JANGAN PILIH ORANG BUSUK! MVI_3061.AVI (2.5 MB)
| |