Eko's posts with tag: it
Jumat, 9 Mei 2008 GATES MENGAPLIKASI JAGAD
KUNJUNGAN bisnis pertama Bill Gates ke Indonesia menyita berita media. Ia mendarat pada Rabu, 7 Mei 2008 di Bandara Halim Perdakusuma menggunakan private jet Boeing 747. Pagi ini ,Jumat, 9 Mei, pukul 08.40 – 10.00, sosok orang terkaya ketiga di dunia ini tampil di Presidential Lecture, di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), yang digelar pemerintah bersama Kadin Indonesia.
Kebetulan sekali saya bisa ada di forum itu. Selain Presiden SBY, tampak hadir dua Menko: Aburizal Bakrie dan Widodo AS, serta menteri lainnya; Muhammad Nuh, Kusmayanto Kadiman, Hasan Wirayuda, Hatta Radjasa, MS Kaban, Jero Wacik dan Marie Pangestu bersama suami, serta Kapolri Soetanto. Sembilan menteri dan satu Kapolri. Pelbagai kalangan; politik, bankir, LSM, hingga mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, mencapai 2.500 orang. Mereka laksana menunggu pertunjukan akbar.
Undangan berwarna biru berlogo Bhinneka Tunggal Ika. Saya mendapatkan dari Fauzi Ali, kawan, pengurus di Kadin Indonesia. Di undangan tertulis pukul 06.30 – 07.30, pendaftaran peserta. Pukul 08.00 acara dimulai. Saya membayangkan animo tinggi undangan. Maka pukul 06.00, menumpang taksi biru,Blue Bird, saya berangkat agar tidak terlambat.
Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, belum begitu padat. Rona kuning mentari pagi memantul membayang dari Gedung BRI II, mendekati arah Jembatan Semanggi. Tak sampai lima belas menit saya tiba. Di pelataran masuk JCC, sudah ramai oleh ratusan mahasiswa berjaket. Ada yang berjaket kuning, biru, hijau, berdiri-diri. Para mahasiswa undangan itu belum dibolehkan masuk.
Saya menuju tempat registrasi. Petugas mengatakan,”Karena Bapak pegang undangan langsung saja masuk.”
Benar saja.
Mulai dari Paspamres di mulut pintu, hingga petugas jaga di bagian dalam, mempersilakan saja. Saya menuju hall. Di luar dugaan, ruang dengan deretan ratusan kursi masing-masing berkelompok lima belas, dan tujuh grup menyamping, tampak kosong.
Satu dua orang sudah ada yang duduk. Di panggung, dua orang pekerja bule masih membenahi letak dua monitor komputer flat di lantai. Kursi duduk pembicara belum ada. Seorang mengetes mikropon,”Tes, tes, tes.” Suaranya terus-terusan. Menganggu telinga.
Saya melihat ketegangan di wajah Christ Kanter, Wakil Ketua Kadin Indonesia, yang menjadi Ketua OC event ini. Beberapa kali ia melintas ke depan dan ke belakang. Saya menyaksikan Christ mengkordinir rombongan pengawas puteri, yang membimbing rombongan mahasiswa membagi tempat, untuk ruang bagian atas.
Karena masih kosong, saya memilih tempat di baris ke empat di kelompok lima belas kursi keempat pula. Tiga baris atau empat puluh lima kursi di depan saya, konon untuk menteri, dan pejabat pemerintah lain. Pengurus Kadin Indonesia justru di tempatkan di bagian kanan kelompok pejabat ini.
Saya merasa berada di posisi paling tengah. Paling strategis. Dua orang bapak-bapak berjas rapi duduk di samping saya. Mereka tersenyum. Saya menyalami satunya. Ia tak menyebutkan nama. Ia tersenyum, lalu berbicara dalam bahasa Mandarin ke kawan di sebelahnya.
Kemudian saya menyaksikan adegan lain: dua orang membawa sapu lidi bertangkai panjang. Satu bertangkai biru, satunya lagi bertangkai coklat. Tanpa menghiraukan tamu yang sudah mulai masuk di ruang be-AC, kedua orang itu menyapu lantai panggung. Saya membayangkan pesawat jet Bill Gates parkir di Halim, saya membayangkan kuliah teknologi informasi yang akan dipentaskan, membayangkan aplikasi-aplikasi canggih teknologi informasi. Tetapi sebuah vacum cleaner di JCC, di depan saya, tidak ada.
Bagi saya yang nyengir sendiri, agaknya inilah hiburan pagi paling “bergengsi”.
Pukul 06.40. Dari pengeras suara terdengar suara komandan jaga Pampamres. “Seluruh hadirin yang sudah ada di rungan, kami minta untuk meninggalkan tempat. Paspamres ingin melakukan sterilisasi lokasi,” begitu suara terdengar di mikropon. Bapak di samping saya mengeluh. Ia meletakkan undangan di kursi, sebagai tanda agar kursi strategis itu tak diambil pihak lain.
Saya tak ke luar penuh. Di mulut pintu yang sebelahnya tak dapat ditutup, karena dihalangi oleh lilitan berbagai kabel,di sana saya berdiri. Saya perhatikan apa yang disebut mensterilkan ruangan itu. Beberapa Paspamres berjalan maju ke depan, memperhatikan seluruh kursi dan lantai. Seorang komandan berbaju dinas, duduk di kursi biasa di panggung, ia memerintahkan dua petugas lampu sorot untuk naik kebagian atas. Seluruh lampu panggung itu ia minta dinyalakan.
“Kau turun kan sedikit. Nah yang kanan dinaikkan,” kata Paspamres itu dengan nada agak tinggi, ”Kau dengar tidak yang itu diturunkan, turun, turun. Nah yang satu lagi agak menyilaukan, dinaikan lagi” Begitulah aba-aba. Apakah lampu itu memang tak pas stelannya, atau memang itulah bagian SOP (standar operational prosedure).
Komandan itu turun dari panggung. Ia melintas di pintu di depan saya. Dia bilang sudah boleh masuk,”Saya akan minta panitia umumkan.” Karena belum dicorongkan, maka saya dengan mudah duduk di tempat semula. Dua bapak-bapak di kiri saya juga tampak mengikuti. Saya perhatikan dua kursi dan satu meja kecil sudah ada di panggung. Sebuah podium kecil berlogo Bhinneka Tunggal Ika pun sudah terpasang.
Waktu di jam saya pukul 7.40, kala itulah saya mendengar dari pengeras suara, undangan diperbolehkan masuk. Bagaikan airbah yang datang, para undangan cepat sekali memenuhi kursi. Saya melirik ke belakang. Ada Irwan Habsjah, Managing Director & Country Representative ING Bank N. V. Irwan saya kenal ketika ia aktif di Ikatan Alumni Nederland (IKANED). Dulu sekitar 1989, saya sempat membuatkan in house magazine IKANED. Irwan saya minta duduk ke depan di kanan saya. Ia beranjak. Kami berjabatan tangan.
Tanpa saya duga, Irwan mengenal bapak di samping saya. Kedua orang itu bertukar kartu nama, saya melirik, namanya Ali Kusumo. Menurut Irwan, bapak yang di kiri saya itu dulu pengusaha multifinance. Sembari menunggu acara, jadilah urusan menggosip. Seakan tak menyiakan kesempatan, Ali Kusumo menanyakan ihwal LC (letter of credit) kepada Irwan, untuk trading minyak bernilai US $ 650 juta, apakah dapat di-endorse oleh ING Bank?
Irwan berjanji untuk mengkonfirmasi ke kantor mereka yang di Singapura. Alasannya tak semua LC Bank dari Cina dapat diterima. Dengan “kesoktahuan” saya bertanya kepada Ali Kusumo, apakah dia dapat alokasi minyak mentah dari Aramco atau Rusia origin? ”Wah saya tak tahu, teman yang punya tanker di Singapura yang urus itu,” jawabnya.
Dua tahun lalu, saya sempat mengikuti seorang kawan yang pernah berbisnis mencari jatah minyak Aramco, Saudi Arabia, yang konon punya alokasi pangeran Arab. Setelah sampai menghabiskan Rp 25 miliar untuk proses wira-wiri, transaksi tak kunjung jadi. Di dalam hati saya beranggapan, bicara alokasi minyak mentah, tanpa paham asal-usul, lika-liku, hanyalah laksana memperdagangkan ketiak ular - - apalagi Aramco berdagang secara antar pemerintah.
Saya menguping terus lalu lintas kata kedua sosok di kiri-kanan saya. Ali Kusumo pun menyampaikan ihwal bisnisnya di properti bersama kelompok usaha Lippo - - Mochtar Riady, Chairman Lippo tampak terlihat di baris bagian kanan. Mereka ingin sekali mencari lahan tambang nikel yang besar di kawasan Halmahera, Maluku Utara.
“Tambangkan investasi besar, returnnya lama,” ujar Irwan.
“Ya tak apa. Tapi nanti bisa dire-engineering struktur permodalannya, setelah jalan.”
Saya sela obrolan bisnis mereka. Irwan mengatakan bahwa Taufik Dwicahyono (Cepy), salah satu putera Tri Soetrisno, mantan Wapres, kini Ketua Umum IKANED. Saya sampaikan kepada Irwan bahwa saya pernah sekelas dengan Cepy, ketika di SMA 3 Setiabudi, Jakarta, 1981-83.
Irwan yang beredar di lingkungan perbankan, tak menduga banyak bankir lain di duduk di kanannya. Mereka saling bersalaman. Tak lama kemudian di layar tengah dan dua layar lebar di kanan dan kiri panggung, menyorot kehadiran mobil Presiden SBY.
SBY turun dari mobil berjas rapi. Tiga menit kemudian datang lagi mobil yang membawa Bill Gates. Ia tampak berbatik coklat, yang sekilas lihat mirip dengan warna dan corak batik yang dikenakan beberapa orang Paspamres. Kami undangan melihat adegan itu dari layar monitor macam menonton teve raksasa. Keduanya menuju ruang VVIP JCC, kamera kemudian hanya menyorot bagian luar ruang. Di tiga deret di depan saya, para Menteri yang hadir tampak duduk berbaris menanti, begitu pula undangan lainnya.
Lima belas menit menunggu, tamu yang ditunggu-tunggu belum juga masuk. Seorang pembawa acara meminta undangan sabar, walaupun agenda sudah molor dari jadwal. Di kamera tampak SBY menganti baju dengan batik berwarna ungu.
PUKUL 08.20. Tamu istimewa Bill Gates masuk ke ruangan, didampingi Presiden SBY,yang tampak senang wajahnya. Pembawa acara membuka, namun untuk kelanjutan membawakan acara diserahkan kepada Marie Pangestu, Menteri Perdagangan RI. Inilah dalam sejarah hidup, untuk pertama kali, saya menyaksikan seorang Menteri menjadi pembawa acara.
Setelah Marie membuka, sekitar dua menit, disambut pidato SBY menggunakan teks. Ia membaca teks bahasa Inggris dengan baik. Saya senang SBY mengutip kalimat Thomas Friedman, sosok yang pernah bertemu dengannya yang mengatakan bahwa dunia ke depan,”More flat, more crowded.” Thomas Friedman adalah sosok penulis buku The World is Flat itu, salah satu yang saya kagumi.
Presiden SBY pun menyinggung pentingnya teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Ia pun memuji Bill Gates sebagai sosok yang rendah hati namun berpikiran maju.
Di saat SBY berpidato saya perhatikan Bill Gates. Wajah pria 54 tahun berkacamata itu seakan tua. Dua tonjolan daging di tulang pipinya menajam. Kulit mata bagian bawahnya berkerut. Ia duduk menyilangkan kaki, yang kanan di atas. Tangan kirinya bertumpu di lengan kursi, tangan kanan menyilang seakan menutup tangan kiri. Wajahnya serius. Penampilannya terkesan biasa. Jika saja bukan Gates, dia tak ubahnya macam bule kebanyakan yang suka berjalan-jalan di seputar jalan Sabang, Jakarta Pusat. Ketika SBY memujinya, William (Bill) H. Gates - - begitu nama lengkapnya - - tersenyum dikulum. Tawanya tak membuat giginya tampak.
Begitu SBY kembali duduk ke kursinya, barulah sadar saya, bahwa Presiden ini duduk dalam garis lurus di depan saya. Jarak kami sedikit lebih panjang dari lapangan basket saja.
Kini giliran Gates tampil. Seperti sudah seakan menjadi ciri khasnya, begitu berdiri ia langsung memasukkan kedua tangan ke dalam kantung celananya, dengan leher sedikit menunduk. Kemudian kedua tangannya memegang podium.
Di awal kuliahnya, Gates mengatakan Indonesia punya banyak potensi untuk menjadi negara maju. Ia seakan membalas pujian Presiden SBY.
Tema kuliah Gates: The Second Digital Decade. Pokok pikirannya bagaimana perkembangan dunia teknologi informasi akan berpengaruh kepada kehidupan manusia di masa depan. Ada beberapa contoh dalam presentasinya. Dalam salah satu momen, Gates bercerita mengenai anak perempuannya yang sekolah percontohan selalu membawa tablet PC sebagai gadget wajib.
"Anak saya kerap mengirim email untuk bercerita kejadian sehari-hari. Ia bisa mengirimkan nilai-nilai yang didapatkannya. Terkadang saya dapat memberi tahu jawaban soal yang dikerjaka," tutur Gates. Sempat ia terbatuk. Tanpa sungkan ia berjalan menuju meja di kiri SBY, mengambil gelas berisi minuman. Ia memnium dengan tangan kiri.
Gates mempunyai mimpi memvideokan kuliah para profesor di dunia untuk dionlinekan di internet seperti yang telah diujicobakan di Massachusets Institute of Technology (MIT), AS .
"Sehingga berada di manapun kita bisa belajar," ujarnya
Setelah sesi pendahuluan selama 30 menit, mikropon wireless yang tertempel di kemeja batik Bill Gates mati. Kala itu Gates pindah ke kanan berdiri di depan note book berlayar lebar. Ia hendak mendemonstrasikan betapa teknologi informasi di masa mendatang mendekatkan “jarak” antar planet, dan tetap mudah dioperasikan oleh murid playgroup sekali pun. Aplikasi ini bisa zoom in dan zoom out.
Di saat wireless mati, Presiden SBY langsung meminta agar Gates diberi mikrofon pengganti. Spontan petugas naik panggung mengantar mikropon lain yang harus dipegangnya.
"Hello, Aaa. that's great," ujar Gates menguji mikrofon disambut tepuk tangan mahasiswa yang duduk di balkon.
Gates mendemokan software astronomi yang ia bawa. Dalam demo, aplikasi Microsoft itu mampu menjelajah isi galaksi. Ada Nebula, ada Vega yang bisa dilihat. Sebuah tampilan menarik, melihat galaksi di siang hari.
Tak lama kemudian Bill Gates membuat kejutan.
Ia meminta Desi Hadiati, M. Octa Manullah, Budiono, Riza Ramadan, tampil ke panggung. Suara Bill Gates bagaikan pembawa acara. Ia menyebut nama-nama mahasiswa ITB ini satu persatu, tanpa teks. Mereka Tim Aksara, salah satu pemenang pembuat aplikasi berjudul ABC.
Tim Aksara ini membuat aplikasi pembelajaran membaca dan menulis melalui komputer. Menurut mereka masih banyak buta huruf di Indonesia, angkanya bisa mencapai 10% dari populasi penduduk. Keempat anggota tim ini tampil menjelaskan software mereka. Mereka bicara bergantian dalam bahasa Inggris yang lancar, dan di penghujung kata, tak lupa menyelipkan ucapan terima kasih kepada Microsoft - - sebagai sebuah ending soft sponsor.
KESEMPATAN bertanya dibuka oleh Marie Pangestu. Ada lima penanya.
Penanya: Gatot Suwondo, Dirut BNI, Rene Patirajawane, Wartawan Kompas, James Ryadi, CEO Lippo Group, Wakil dari Mahasiswi Swiss-German, Mahasiswa, wakil dari Universitas Indonesia. Meski Bill Gates yang jadi dosen, pertanyaan juga ditujukan kepada Presiden SBY yakni tentang kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan teknologi informasi di sekolah.
Mahasiswa bertanya, tip dan trik sukses di kala muda, kendati sekolah pun drop out?
"Saya sangat merekomendasikan untuk menyelesaikan kuliah, raih gelar akademis Anda. Saya ini contoh yang buruk," ujar Gates, rendah hati dan tersenyum. Gates menegaskan bahwa pendidikan, kuliah, adalah saat yang paling tepat memenuhi segala keingintahuan. “Agar semakin optimal, pergunakan juga peluang untuk magang di berbagai perusahaan sebagai bekal merintis bisnis sendiri kelak.”
Gates menekankan pentingnya peran orang tua mendukung cita-cita sang anak. Ia lalu mencontohkan orangtuanya yang memberikan sebuah PC sebagai kado ulang tahun sweet seventeen.
"Sains itu mudah asal kita enjoy. Kembangkan pengetahuan kalian, lalu sumbangkan demi kemajuan bangsa," tutur Gates, jebolan di Harvard University, AS, itu.
Saya tertawa.
Saya lalu teringat akan tulisan di www.prestalk.info, 19 Maret 2008 berjudul INS Sekolah Gembira. Di tulisan itu saya mengkuatirkan anak-anak di tingkat SD yang berangkat ke sekolah dengan tas berat, wajah tidak happy. Juga saya kritisi, unsur bermain anak-anak kini seakan “dirampas” orang dewasa. Padahal dengan gembira bersekolah, dengan gembira sehari-hari, apapun yang sulit dipelajari bisa menjadi mudah di hati, dan mengencerkan otak sendi-sendi pikir.
Selain poin utama alinea akhir di atas, pemaparan Gates bagi dunia ICT Indonesia menjadi biasa saja. Sebagaimana visi, misi Microsoft, sebagai sebuah entiti bisnis, Indonesia dengan populasinya, menjadi pasar besar.
Ketika acara usai, saya bertanya kepada kawan-kawan yang hadir, dimana Onno Widodo Purbo? Edy Satriya, pejabat dari kantor Menko Perekonomian, menjawab tidak melihatnya. Apa karena Onno lebih gencar mensosialisasikan pemakaian piranti lunak berbasis open sources?
Saya sampaikan kepada Irwan Habsjah, sebelum berpisah: Bahwa Onno, jika pergi menyampaikan paparannya tentang wajan bolic, teknologi 4G untuk akses wifi gratis berkomunikasi internet mobile, di Amerika Latin, Afrika,bahkan belum lama ini di Thailand, Onno disambut tak kalah meriah macam Gates diterima SBY, dibanggakan SBY.
Saya terharu, mengapa credential asset lokal, seakan tak dimunculkan, bak pepatah bilang, tungau di seberang lautan tampak - - bisa jadi kita agulkan - - sebaliknya gajah di depan mata tak kelihatan. Banyak potensi anak negeri ini yang sesungguhnya gates-gates Indonesia, seakan tak terfasilitasi tampil ke permukaan. Itulah negeriku.
Iwan Piliang
India becoming too expensive for tech firms Have to find somewhere cheaper to exploit By Sylvie Barak: Friday, 18 April 2008, 4:49 PM OUTSOURCING TO INDIA may soon become a thing of the past for small to mid-sized technology firms, due to the increasing costs of rent, salaries and a looming end to the government’s tax holiday. India’s technology, and especially software industry, has seen spectacular growth over the last few years, tripling in size to reach an astounding $52 billion. But it seems that the bubble may be about to burst. http://www.theinquirer.net/gb/inquirer/news/2008/04/18/india-becoming-expensive-techKalo Depkominfo and si muka masam pinter, ini KESEMPATAN! JANGAN SAMPE KELEWATAN! JANGAN SAMPE KITA MENGEKSPOR IT ntar jadinya kayak sinetron yang gak jelas... and oh ya, jangan bawa-bawa Roy Suryo, ntar gak beres n porno mulu
guys, gw pengen ngiklanin bisnis patungan gw ama temen (bukan bisnis bikin patung looo) StriveConsult adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang Jasa Teknologi Informasi (TI) di Indonesia. Komitmen kami adalah membantu Anda untuk mendapatkan fungsi teknologi informasi secara optimal, terutama yang berkaitan dengan teknologi Internet yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi bisnis Anda. Proses otomasi dan pengefektifan biaya komunikasi adalah salah satu hasil nyata penggunaan teknologi informasi. Namun tujuan utamanya tetap pada peningkatan Return On Investment (ROI) dari investasi Anda di bidang ini. http://www.striveconsult.net
| |