The Highly Energetic Hyperbolic Indonesian Person

Eko's posts with tag: indonesia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag indonesia
Sepertia biasa, nyolong dari milis:

 





 
All,
 
Artikel ini cukup bagus untuk menjadi renungan anak-anak muda negeri ini.
 
Wasalam.
 
Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar 
Oleh Saratri Wilonoyudho * 

Kasus tertipunya sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogjakarta oleh ''proyek" blue energy cukup menyedihkan. Sialnya, yang mengerjai perguruan tinggi tersebut adalah orang biasa. Bukan sarjana. Buntut kasus itu adalah mundurnya sang rektor. 


Kasus tersebut boleh jadi menunjukkan sepinya ilmuwan yang berkaliber serta sedikitnya karya-karya monumental yang lahir di negeri ini. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat, bahkan untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri !


Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson, adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.


Di tengah sepinya karya-karya besar, demo-demo yang dilakukan insan perguruan tinggi berubah menjadi anarkis. Selanjutnya, perguruan tinggi kita hanya terlibat dalam soal-soal sepele layaknya seorang pedagang. Mahasiswa bagaikan si pembeli dan perguruan tinggi bagai sang penjualnya. Transaksi ijazah berlangsung untuk mengejar pekerjaan belaka tanpa transfer keilmuan yang berarti. Itu tidak terjadi di level strata satu, namun juga sudah sampai level strata dua, bahkan strata tiga.


Negeri ini pernah memiliki pemikir besar yang mampu berbicara dalam skala global. Orang biasa menyebut jenis pemikir tersebut adalah generalis. Orang itu adalah almarhum Soedjatmoko yang juga pernah menjabat rektor Universitas PBB di Tokyo. Soedjatmoko menebar ide-ide besar tentang teori pembangunan, sosial, strategi budaya, pendekatan kewilayahan, dan sebagainya. Lawan seorang generalis adalah seorang spesialis.


Tampaknya, dunia spesialis itulah yang kini dianut perguruan tinggi kita. Ketika seseorang menulis artikel atau penelitian ilmiah, pasti yang ditanya adalah apa latar belakang keahliannya. Seorang ilmuwan teknik yang mencoba menulis masalah-masalah sosial akan ditolak lembaganya. Padahal, sang ilmuwan teknik tadi menulis ilmu sosial justru untuk mendukung temuan teknologinya.


Demikian pula, salah satu syarat yang dibutuhkan seseorang dosen untuk menjadi profesor adalah ''linieritas" basis ilmunya sejak S-1, S-2, dan S-3. Alangkah monotonnya jika dalam jurusan teknik, keahlian yang diambil melulu teknik belaka, sementara yang mencoba ''mengawinkan" dengan ilmu sosial, kependudukan, lingkungan, dan seterusnya ditolak gara-gara dianggap ''murtad" atau tidak linier.


Sepi Ide-Ide Besar 

Akibatnya, kini perguruan tinggi kita sepi dari pemikiran-pemikiran besar yang komprehensif untuk menjawab permasalahan bangsa. Benar bahwa spesialisasi juga perlu, namun jika para spesialis tersebut bagai katak dalam tempurung dan tenggelam dalam ''ilusi limiah" atau arogansi ilmiah masing-masing, apa jadinya masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa?


Buktinya, masalah ''sepele" seperti mahalnya kedelai, sampah, banjir, dan anarkisme pilkada juga tidak terselesaikan, meski banyak doktor spesialis masalah tersebut. Mengapa tidak terselesaikan? Sederhana saja, masalah yang kelihatannya berdiri sendiri sebenarnya berada dalam persoalan sistem besar yang saling terkait. Kalau para spesialis tidak saling ''menyapa", bagaimana mungkin masalah besar akan teratasi?


Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyebut istilah ''sarjana fakultatif" dan bukan sarjana ''universal", meski nama lembaga yang dimasukinya bernama universitas. Jurusan atau fakultas tenggelam dalam dunianya masing-masing. 


Di titik itu pula, saya lantas ingat kata Lord C.P. Snow dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow mengkritik polarisasi dua jenis cendekiawan di Inggris saat itu, yakni dari kalangan humaniora dan ilmu pengetahuan murni.


Kalangan humaniora mengatakan ukuran kecendekiawanan ditentukan seberapa jauh seseorang mampu memahami karya sastra yang berbobot, sedangkan arogansi cendekiawan ilmu alam mendasarkan seberapa jauh seseorang mampu memahami hukum massa, termodinamika, energi, dan sebagainya. Mereka tidak saling menyapa.


Bagi Snow, tujuan pertama pendidikan adalah bagaimana menghasilkan ilmuwan supra cum laude sebanyak-banyaknya. Kedua, melatih ilmuwan agar dapat menjalankan penelitian-peneliti an yang diperlukan, membuat rencana-rencana tingkat tinggi dan pengembangan.


Ketiga, melatih beribu-ribu ilmuwan dan ahli teknik lainnya. Keempat, melatih politikus, pegawai, dan masyarakat untuk mengerti ilmu pengetahuan agar bisa memahami apa yang dibicarakan kaum ilmuwan.

Sederhana saja alasan mengapa hal tersebut di atas perlu dilakukan. Ilmu dan teknologi adalah know-how (keterampilan teknis). Know-how adalah cara tanpa tujuan, suatu potensi, suatu kalimat tidak lengkap. Know-how bukanlah sebuah kebudayaan. Karena itu, tugas perguruan tinggi adalah menyebarkan ide, tata nilai mengenai mau apakah kita dengan hidup ini. 


Know-how juga perlu, namun itu soal kedua. Sebab, gegabah sekali menyerahkan kekuasaan besar kepada rakyat dan birokrat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mereka tahu apa yang harus diperbuat dengan know-how tersebut. 


Science hanyalah masalah praktis dan tidak bisa digunakan untuk menafsirkan dunia dalam konteks besar yang terdiri atas berbagai persoalan spesifik yang saling terkait dan bertingkat. Masalah banjir Jakarta, impor kedelai, bencana alam, anarkisme, dan sebagainya memerlukan pemikiran besar dan pendekatan kewilayahan komprehensif. 


Kalau masing-masing ''spesialis" tidak saling menyapa, masalah besar tersebut juga tidak akan terselesaikan. 

* Saratri Wilonoyudho, dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang



.
--
Visit http://www.strivearth.com and be entertained


Blog EntryKisah Kasih Pengunduran DiriJun 28, '08 4:40 PM
for everyone
Alkisah ada seorang engineer kenthir bernama prayitno,ST yg bekerja di
pabrik manufaktur elektronik Jepang, ni orang baru aja lolos tes
perusahaan KPS Migas dari Eropah (jelas gede duitnya) dan mau
resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya kita singkat aja ya,
manajer = M, dan prayitno = P

M = edan kowe yo prayitno, dimana morality kamu?
P = morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yg nyuruh
karyawannya lembur2 melebihi aturan pemerintah sampe sakit tapi
tunjangan
kesehatan gak full

M = sebenernya mau kamu apa? dimana2 kerja itu sama. Saya sudah
menjalani
2 company sebelum ini
P = karena kerja dimana2 itu sama, makanya saya gak ragu resign pak,
wong sama aja kok, cuma rewardnya yg beda tho.... ya saya pilih yg
rewardnya lebih

M = kenapa kamu gak mencoba profesional disini aja, klo alasannya
reward,
kan nanti karir serta salary kamu juga bakal naik klo kamu bertahan
P = kenapa saya harus nunggu, klo ada company yg nawarin itu sekarang?

M = tapi sayang sekali, saya pandang kamu yg paling berpotensi diantara
yg lain
P = bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yg resign sebelum saya

M = tidak, ini serius, kamu memiliki potensi besar, disini kamu bisa
sukses! daripada kamu memulai lagi dari bawah di company lain yg belum
ketauan ntar disana kamu bakal sukses ato gak
P = disini juga sama aja saya blum tau bakal sukses apa gak, wong
namanya masa depan kok. Sama2
gak ketauan, tapi yg satu awalannya lebih baik, ya pilih yg lebih baik
dunk......

M = maksud kamu lebih baik itu apa? money? uang itu bukan segala2nya
P = klo emang begitu ngapain company costdown gaji saya, apa artinya
uang
segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer

M = Kta kan tidak hanya mengejar uang. Klo orientasi kamu hanya uang,
kamu
hanya mengejar "live". No difference with kambing, Bekerja hanya untuk
bertahan hidup, Kamu itu engineer!!!! harus berorientasi pada yg lebih
mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri
P = saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau
lepas dari
orientasi "live" klo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos,
pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaaa skarang ada company
yg nawarin itu, salary yg membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang
"live existency". So, boleh dunk saya ambil untuk menaikkan derajat
pekerjaan saya

M = prayitno.... klo kmu ngejar yg lebih baik, gak akan abis2.... selalu
ada yg lebih baik. saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu
P = emang gak bakal abis pak.... karena itu, ngapain saya abisin disini?
mending saya terus2an dapet yg lebih baik ampe brenti karena cape.
lagian Bapak juga nyatanya bisa brenti kan?

M = Nyatanya itu si pak Bambang bisa sukses disini sampe level Director,
itu karena dia sabar disini
P = pantesan pak Bambang tampangnya kaya gitu. Dah nyingkirin brapa
orang
dia pak buat ke posisi itu? Iya jabatan si Director, tapi mobilnya sama
ama manajer
di company baru saya.mendingan saya jadi GM disana dunk daripada jadi
director
disini

M = inilah yg membuat bangsa kita gak maju2. Oportunis. Orang Jepang
maju
karena loyal
P = loyalitas tu kata2 pembenaran buat ngegaji orang
dibawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah,
terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya
gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya, akibatnya istri2 mereka
harus mengimbanginya, ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak
yg hilang untuk anak2nya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada
mereka. Tanya deh cewek jepang, lelaki jepang tu paling gak romantis.
Cewe
bawa tas berat aja dicuekin

M = tapi dimana responsibility kamu?
P = responsibility tu apa pak? perasaan dulu saya pernah punya, pas
awal2 masuk disini, tapi kata2 itulah yg dijadikan pembenaran untuk
menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan
untuk ketepatan schedule launching produk yg jelas2 merupakan percepatan
uang masuk ke kantong pemilik saham.
Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling
utama? Keluarga, anak dan istri adalah amanah dari Yg Diatas.

M = kamu kurang bersyukur, masih banyak orang yg susah dapet kerjaan
P = saya dah diterima Pak, itu rejeki dari Yg Diatas, Klo gak saya
ambil,
itu yg namanya gak bersyukur. Yg Diatas itu tau kebutuhan kta.
Makanya Dia memberi saya kerjaan baru, mungkin karena kebutuhan saya
meningkat. Selain itu, Yg Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang
pengangguran yg akan menggantikan posisi saya disini setelah resign

M = EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! !!!! nek ngono aku yo melu resign...... ....
P = raiso pak.... kowe wis tuwo. Cuma bisa ngelamar ke yg sesuai
background. Cuma terbatas di sesama manufaktur elekronik hehehhee
cacingan deh lo.....


Blog EntryBalikpapan Photo galleryJun 22, '08 4:33 AM
for everyone

 

 

 

 

 

 

 


VideoBalikpapanCruise - Pasir Ridge to Le GrandeurJun 18, '08 9:52 AM
for everyone
Balikpapan is a neat city. see for yourself!


BalikpapanCruise - Pasir Ridge to Le Grandeur.avi (60.6 MB)

Link: http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/

VOTE FOR INDONESIA NATURE!
belasan ribu pulau! masa kalah ama SINGAPURA n VIETNAM???

Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat - Bagian 2May 20, '08 9:02 PM
for everyone
Melihat cerita di sini seharusnya bisa membuat orang-orang Indonesia sadar bahwa semenjak Camdessus melipat tangannya sementara Si Jendral Bego membungkuk, kita sudah terjebak dalam permainan perusahaan agrikultur multinasional yang akan mencerabut paksa Indonesia dari akar agrarianya.

Beranjak dari situ lah, saya merasa perlu berkata bahwa pencabutan subsidi BBM dan menggantikannya menjadi subsidi benih dan pupuk serta biaya pengambilalihan lahan-lahan sawah dan perkebunan dari pihak-pihak perorangan dan mengembalikannya ke masyarakat petani melalui kredit lunak adalah hal terbaik yang bisa dilakukan sebelum Indonesia terjebak seperti Meksiko, India, Jepang, dan Filipina. Mereka dulu bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Setelah terjebak dalam krisis keuangan dan menyetujui program "restrukturisasi moneter" dari IMF, mereka terjebak dalam krisis finansial dan terseret dalam kewajiban membayar hutang yang menggila. Hutang menggila ini kemudian menyita resource negara dan memberikan landasan bagi IMF untuk "memberikan nasihat" bagi negara-negara itu untuk mencabut subsidi, mempreteli sistem ketahanan sumber daya untuk membiarkan "investasi" masuk, dan 

membeli resources yang berharga murah dari negara-negara maju. Murah karena disubsidi 25% (USA) dan 40% (European Union/EU).




Miris rasanya melihat foto di atas. Foto itu dari Nigeria, negara penghasil Minyak terbesar se-Afrika. Tak perlu menunggu lama, foto-foto serupa telah bermunculan di koran-koran besar di tanah air kita. Rakyat-rakyat di daerah kelaparan karena tidak punya akses ke makanan pokok.

Kenapa negara tidak mampu memberikan makanan kepada mereka, padahal landasan negara ini adalah Pancasila dan salah satu ajarannya bersimbolkan padi dan kapas.

Karena negara menghabiskan duitnya untuk memenuhi hasrat kalangan menengah ke atas yang merasa harus memiliki kendaraan pribadi ke kantor demi identitas diri dan menarik lawan jenis. 

Right?

Right!

Dan pemerintah merasa perlu memenuhi hasrat kalangan menengah ini karena economy mostly digerakkan oleh mereka. Tanpa "kebahagiaan" kalangan menengah, pemerintah bisa "short-lived": protes-protes, hujatan-hujatan, dan yang parah adalah kudeta ekonomi. Pikiran ini semakin mempersempit ruang logika pemerintah yang sudah sempit oleh "dua tahun menikmati duit, satu tahun bekerja, dan dua tahun menumpuk duit buat pemilu".

Kalangan menengah. Heh. Kalangan yang berhasil menjadi kalangan paling apatis-pragmatis setelah kejatuhan orde jendral bego.

Naik harga BBM? Minta naik gaji! Angkot resek? Beli Motor! Naik motor kena polusi? Beli Mobil! Naik Mobil capek nyetir? Sewa Sopir! 

Begitu lah.

Anyway, back to pencabutan subsidi n ketahanan pangan.

Duit trilyunan rupiah bisa dialokasikan untuk memberikan "starter pack" pangan berupa bibit-bibit unggul, pupuk-pupuk, pestisida, dan pendidikan pertanian yang baik. Setelah memberikan "paket kail" tersebut, pemerintah perlu menjamin keberhasilan panen melalui sarana irigasi yang efektif n efisien.Setelah panen berhasil, pemerintah harus membeli langsung dari petani/koperasi petani. Harga pembelian ditentukan pemerintah sebijak mungkin mempertimbangkan pengeluaran petani selama menunggu panen, skala kesejahteraan mereka, dan penyisihan hasil panen untuk pangan petani dan bibit untuk masa tanam berikutnya. Setelah membeli, pemerintah perlu menyimpan hasil panen di gudang-gudang pemerintah secara baik. Pengeluaran hasil panen untuk konsumsi masyarakat perlu dikontrol secara ketat mempertimbangkan statistik rata-rata konsumsi dan pertumbuhan konsumsi. Harga pangan disubsidi secara baik sehingga masyarakat tidak terlalu berkeberatan. Dan tentu saja, pemerintah perlu menyisihkan sebagian untuk cadangan pangan selama setahun ke depan. Kalo bisa tujuh tahun ke depan, seperti sunnah (?) Nabi Yusuf

Setelah semua terjamin, baru lah ekspor dilakukan. Di sini lah pemerintah bisa meraup sedikit keuntungan dari harga pangan dunia yang pastinya lumayan tinggi karena stoknya semua ditimbun oleh pemeritnah. Keuntungan ini bisa digunakan untuk menambal subsidi, sukur-sukur bisa semua.

Saya yakin, kalau pangan terjamin, berdesak-desakan sedikit di angkot dan bus umum atau hidup tanpa tivi and motor pribadi bisa dimaklumi oleh kalangan menengah ke bawah.

Menengah ke atas? Oh well, ngapain memanjakan orang yang mapan n mampu, right? Kecuali alasan politik, tak ada logikanya membantu mereka. 

Sekarang, bagaimana pemerintah mem-phase out subsidi BBM dari masyarakat? Itu akan saya bahas di bagian tiga












Blog EntryDasar MunafikMay 18, '08 6:25 PM
for everyone
Gak boleh masuk ya Pak?

Terus dulu yang ngundang Yahudi siapa ya?

"Globalisasi ya nggak apa-apa, silakan. Tapi di beberapa bidang tidak boleh masuk. Kita bangun infrastruktur setengah mati melalui departemen kita, mereka yang makai," kata Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB Gus Dur di Hotel Kartika Chandra, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (18/5/2008)

Sok bijak lu, ngurus rumah tangga aja masih gak bener


Blog EntryUdah gak bisa jaga diri...May 18, '08 9:29 AM
for everyone

Photo AlbumItung-itungan Kebutuhan Subsidi BBM (2 photos)May 15, '08 8:52 PM
for everyone

Ini lah hitung2an kasar bin nyata kebutuhan duit konsumsi bensin (gasoline) se-Indonesia

Blog EntryKwik Kian Gie SOK TAU!May 14, '08 9:03 PM
for everyone
Berikut ini omong kosong Kwik Kian Gie tentang subsidi BBM:

 www.koraninternet.com

Subsidi BBM Bukan Pengeluaran Uang. Uangnya Dilarikan Kemana?
Jumat, 11 April 08

Dengan melonjaknya harga minyak mentah di pasaran dunia sampai di atas US$
100 per barrel, DPR dan Pemerintah menyepakati mengubah pos subsidi BBM
dengan jumlah Rp. 153 trilyun. Artinya Pemerintah sudah mendapat persetujuan
DPR mengeluarkan uang tunai sebesar Rp. 153 trilyun tersebut untuk dipakai
sebagai subsidi dari kerugian Pertamina qq. Pemerintah. Jadi akan ada uang
yang dikeluarkan?

Saya sudah sangat bosan mengemukakan pendapat saya bahwa kata "subsidi BBM"
itu tidak sama dengan adanya uang tunai yang dikeluarkan. Maka kalau DPR
memperbolehkan Pemerintah mengeluarkan uang sampai jumlah yang begitu
besarnya, uangnya dilarikan ke mana?

Dengan asumsi-asumsi untuk mendapat pengertian yang jelas, atas dasar
asumsi-asumsi, pengertian subsidi adalah sebagai berikut.

Harga minyak mentah US$ 100 per barrel.
Karena 1 barrel = 159 liter, maka harga minyak mentah per liter US$ 100 :
159 = US$ 0,63. Kalau kita ambil US$ 1 = Rp. 10.000, harga minyak mentah
menjadi Rp. 6.300 per liter.

Untuk memproses minyak mentah sampai menjadi bensin premium kita anggap
dibutuhkan biaya sebesar US$ 10 per barrel atau Rp. 630 per liter. Kalau ini
ditambahkan, harga pokok bensin premium per liternya sama dengan Rp. 6.300 +
Rp. 630 = Rp. 6.930. Dijualnya dengan harga Rp. 4.500. Maka rugi Rp. 2.430
per liternya. Jadi perlu subsidi.

Alur pikir ini benar. Yang tidak benar ialah bahwa minyak mentah yang ada di
bawah perut bumi Indonesia yang miliknya bangsa Indonesia dianggap harus
dibeli dengan harga di pasaran dunia yang US$ 100 per barrel. Padahal tidak.
Buat minyak mentah yang ada di dalam perut bumi Indonesia, Pemerintah dan
Pertamina kan tidak perlu membelinya? Memang ada yang menjadi milik
perusahaan minyak asing dalam rangka kontrak bagi hasil. Tetapi buat yang
menjadi hak bangsa Indonesia, minyak mentah itu tidak perlu dibayar. Tidak
perlu ada uang tunai yang harus dikeluarkan. Sebaliknya, Pemerintah
kelebihan uang tunai.

Memang konsumsi lebih besar dari produksi sehingga kekurangannya harus
diimpor dengan harga di pasar internasional yang mahal, yang dalam tulisan
ini dianggap saja US$ 100 per barrel.

Data yang selengkapnya dan sebenarnya sangat sulit atau bahkan tidak mungkin
diperoleh. Maka sekedar untuk mempertanyakan apakah memang ada uang yang
harus dikeluarkan untuk subsidi atau tidak, saya membuat perhitungan seperti
Tabel terlampir.

Nah kalau perhitungan ini benar, ke mana kelebihan yang Rp. 35 trilyun ini,
dan ke mana uang yang masih akan dikeluarkan untuk apa yang dinamakan
subsidi sebesar Rp. 153 trilyun itu?

Seperti terlihat dalam Tabel perhitungan, uangnya yang keluar tidak ada.
Sebaliknya, yang ada kelebihan uang sebesar Rp. 35,31 trilyun.

PERHITUNGAN ARUS KELUAR MASUKNYA UANG TUNAI
TENTANG BBM (Harga minyak mentah 100 doll. AS)

DATA DAN ASUMSI

Produksi : 1 juta barrel per hari

70 % dari produksi menjadi BBM hak bangsa Indonesia
Konsumsi 60 juta kiloliter per tahun
Biaya lifting, pengilangan dan pengangkutan US $ 10 per barrel
1 US $ = Rp. 10.000
Harga Minyak Mentah di pasar internasional Rp. US $ 100 per barrel
1 barrel = 159 liter
Dasar perhitungan : Bensin Premium dengan harga jual Rp. 4.500 per liter

PERHITUNGAN

Produksi dalam liter per tahun : 70 % x (1,000.000 x 159 ) x 365 =
40,624,500,000
Konsumsi dalam liter per tahun 60,000,000,000
Kekurangan yang harus diimpor dalam liter per tahun 19,375,500,000
Rupiah yang harus dikeluarkan untuk impor ini
(19,375,500,000 : 159) x 100 x 10.000 121,900,000,000,000
Kelebihan uang dalam rupiah dari produksi dalam negeri
40,624,500,000 x Rp. 3.870 157,216,815,000,000
Walaupun harus impor dengan harga US$ 100 per barrel
Pemerintah masih kelebihan uang tunai sebesar 35,316,815,000,000

Perhitungan kelebihan penerimaan uang untuk setiap
liter bensin premium yang dijual,
Harga Bensin Premium per liter (dalam rupiah) 4,500
Biaya lifting, pengilangan dan transportasi
US $ 10 per barrel atau per liter :
(10 x 10.000) : 159 = Rp. 630 (dibulatkan) 630
Kelebihan uang per liter 3,870

dan ini tanggapan gw sebagai orang perminyakan:

Baiklah, kalo berdasar cerita yang sampai ke saya, Pak KKG membuat error dalam hal:

Dia mengakui bahwa ada hak produksi yang menjadi milik asing, tapi perhitungannya SEMUA hasil minyak bumi Indonesia dihitung dan dihargai US$ 0. Setau saya, Indonesia mengekspor MINYAK BAGUS dan mengimpor MINYAK JELEK dan minyak jelek ini lah yang diolah di kilang-kilang kita. karena MINYAK BAGUS kita makin lama makin HILANG, maka biaya impor MINYAK JELEK > pendapatan ekspor MINYAK BAGUS

Kalau pun benar semua minyak bagus kita konsumsi untuk dalam negeri, maka pemerintah masih perlu membayar ke operator perusahaan migas yang bukan BUMN setidaknya sebesar biaya operasi mereka+15% harga minyak yang dihasilkan, bukan? Mana ada perusahaan operator lapangan migas yang mau beroperasi kalo cuman dibayar seharga biaya operasi. Saya pikir PERTAMINA pun tidak mau. Lalu hitungan harga minyaknya dari mana? Ya either international futures contract prices atao agreed government-to-government prices.

lalu ini ada lagi dari rekan sesama orang minyak

- Split oil itu 85 : 15, jadi dari 1 juta produksi itu 850,000 bbl yang punya negara (85 %), belum lagi kalau lapangan marginal, bagihasilnya bisa 70:30 tergantung isi kontraknya

- Dikurangi lagi biaya produksi 15U$/bbl yg dipotong dari minyak juga (15 U$/bbl : 125 US/bbl) = 0.12 %

- Total potongan saja : 0.15 + 0.12 = 0.27 ~ 0.3 (dibulatkan) dari lapangan marginal yg splitnya 70 : 30, total punya Negara Cuma 700,000 Bbl/day maximum (kalau asumsi 1 jt bbl/day pdhal sekarang Cuma 940 bblribu/d), jadibersihnya Cuma 660 bbl/day

- Kalau negara beli dengan harga 125 U$/bbl itu khan crude oil, biaya pengilangan berapa spy jadi bensin, solar dll ?.. khan belum dimasukkan, konversi di distilasi dari crude : bensin-solar-dll apa iya 100% khan ada yg jadi asphalt dll

- Paham economist dari Anglo Saxon : Devisa negara adalah surplus dari jual-beli dg negara lain, lha kalau dalam negeri masih tekor mana ada surplus buat APBN….

- Kenapa sektor lain nonmigas tdk digenjot, belanja negara untuk departemen dikurangi ? Pengemplang pajak ditumpas habis –penerimaan pajak bisa dimaximalkan



Heran gw, orang PDIP kok demen banget melenguh...eh mengeluh kosong sih?

Blog EntrySok Tau!May 13, '08 8:26 PM
for everyone
Si Sapi Perah sok tau soal harga minyak! Kok tau ya? Padahal sekarang aja gak tau harganya berapa

"Kalau sekarang mungkin US$100-150," katanya.

Iya deh Bu. Mungkin. Itu per liter kan?

Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat (bagian 1-a)May 13, '08 2:08 AM
for everyone
Ini ada artikel yang menyatakan bahwa subsidi memang bisa memberikan kemakmuran semu.

Out of 155 countries surveyed, U.S. gas prices were the 45th cheapest, according to a recent study from AIRINC, a research firm that tracks cost of living data.

The difference is staggering. As of late March, U.S. gas prices averaged $3.45 a gallon. That compares to over $8 a gallon across much of Europe.

The U.S. has always fought to keep gas prices low, and the current debate among presidential candidates on how to keep them that way has been fierce.

But those cheap gas prices - which Americans have gotten used to - mean they feel price spikes like the ones we're experiencing now more acutely than citizens from other nations which have had historically more expensive fuel.

Cheap gas prices have also lulled Americans into a cycle of buying bigger cars and bigger houses further away from their work - leaving them more exposed to rising prices, some experts say.


Mirip sama yang terjadi di Indonesia kan?

Gasoline costs roughly the same to make no matter where in the world it's produced, according to John Felmy, chief economist for the American Petroleum Institute. The difference in retail costs, he said, is that some governments subsidize gas while others tax it heavily.

Revenues from Europe's high gas taxes are used to fund a variety of things. One thing they have built is better public transportation, said Peter Tertzakian, chief energy economist at ARC Financial, a Calgary-based private equity firm.

They gave people an alternative to driving, something we don't have in North America," said Tertzakian

Oil use in the United Kingdom has basically stayed flat from 1980 to now, while in France it's dropped 17%, according to figures from the Energy Information Administration.

In the U.S., meanwhile, oil use is up 21% over the same period, although the country has added more people and seen its economy grow slightly faster.


Dan sekarang ada tanda-tanda bahwa Indonesia juga mau menyalin runtuhnya ekonomi ala Amerika dengan booming real estate semu (yang lagi-lagi subsidinya salah kaprah)



Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat (bagian 1)May 12, '08 6:17 AM
for everyone
Pemerintah sepertinya mulai pintar!

Saya selalu percaya, setelah tercerahkan oleh pertumbuhan motor membabi-buta 3 tahun belakangan ini, dan makin gilanya konsumsi masyarakat, bahwa subsidi BBM memberikan pertumbuhan semu dan karbitan bagi masyarakat Indonesia, dari segala lapisan ekonomi yang akhirnya memperparah jurang antara si kaya dan si miskin karena semua modal dan pembangunan masih terpusat di kota-kota besar karena biaya mobilitas dari pinggir kota ke pusat kota masih bisa terjangkau.

Apabila biaya mobilitas sudah tidak terjangkau, demand akan angkutan massal dan perumahan vertikal kelas menengah ke bawah akan makin tinggi, dan pada akhirnya akan mengefisienkan mobilitas kalangan urban labour.

Angkutan massal, saya pikir, tidak perlu meningkatkan tarif, karena pencabutan subsidi BBM akan memaksa para pengendara mobil dan motor yang pas-pasan akan berpindah ke angkutan umum, dan efisiensi volume angkutan umum akan meningkat, tidak seperti sekarang ini yang mana masih banyak metromini dan kopaja yang kosong, bahkan di jam-jam padat penumpang seperti pagi dan sore hari.

Perumahan vertikal akan memberikan efisiensi ruang pemukiman yang lebih tinggi, dan memungkinkan penataan yang lebih mudah karena konsentris. Perumahan vertikal juga bisa menjadi pusat-pusat ekonomi baru, dengan kebutuhan lahan yang lebih sedikit. Seperti di rusun benhil, di mana tempat tinggal berdekatan dengan rumah makan, tempat foto kopi, tempat foto, de el el.

Setelah perumahan vertikal yang dibangun dekat dengan pusat-pusat perkantoran dan dihubungkan dengan sistem transportasi massal yang efisien menjadi sebuah hal yang diterima masyarakat urban, maka otomatis demand akan BBM menyusut, dan SPBU-SPBU akan berkurang jumlahnya. SPBU bisa dipindah ke dekat hub-hub transportasi, dan lahan-lahan bekas SPBU bisa dijadikan taman-taman paru-paru kota kecil.

lanjut nanti aaaah

Blog EntryGerbang-gerbang TagihanMay 9, '08 10:44 PM
for everyone
Jumat, 9 Mei 2008
GATES MENGAPLIKASI JAGAD

KUNJUNGAN bisnis pertama Bill Gates ke Indonesia menyita berita media. Ia mendarat pada Rabu, 7 Mei 2008 di Bandara Halim Perdakusuma menggunakan private jet Boeing 747. Pagi ini ,Jumat, 9 Mei, pukul 08.40 – 10.00, sosok orang terkaya ketiga di dunia ini tampil di Presidential Lecture, di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), yang digelar pemerintah bersama Kadin Indonesia.

Kebetulan sekali saya bisa ada di forum itu. Selain Presiden SBY, tampak hadir dua Menko: Aburizal Bakrie dan Widodo AS, serta menteri lainnya; Muhammad Nuh, Kusmayanto Kadiman, Hasan Wirayuda, Hatta Radjasa, MS Kaban, Jero Wacik dan Marie Pangestu bersama suami, serta Kapolri Soetanto. Sembilan menteri dan satu Kapolri. Pelbagai kalangan; politik, bankir, LSM, hingga mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi, mencapai 2.500 orang. Mereka laksana menunggu pertunjukan akbar.

Undangan berwarna biru berlogo Bhinneka Tunggal Ika. Saya mendapatkan dari Fauzi Ali, kawan, pengurus di Kadin Indonesia. Di undangan tertulis pukul 06.30 – 07.30, pendaftaran peserta. Pukul 08.00 acara dimulai. Saya membayangkan animo tinggi undangan. Maka pukul 06.00, menumpang taksi biru,Blue Bird, saya berangkat agar tidak terlambat.

Jalan Sudirman, Jakarta Pusat, belum begitu padat. Rona kuning mentari pagi memantul membayang dari Gedung BRI II, mendekati arah Jembatan Semanggi. Tak sampai lima belas menit saya tiba. Di pelataran masuk JCC, sudah ramai oleh ratusan mahasiswa berjaket. Ada yang berjaket kuning, biru, hijau, berdiri-diri. Para mahasiswa undangan itu belum dibolehkan masuk.

Saya menuju tempat registrasi. Petugas mengatakan,”Karena Bapak pegang undangan langsung saja masuk.”

Benar saja.

Mulai dari Paspamres di mulut pintu, hingga petugas jaga di bagian dalam, mempersilakan saja. Saya menuju hall. Di luar dugaan, ruang dengan deretan ratusan kursi masing-masing berkelompok lima belas, dan tujuh grup menyamping, tampak kosong.

Satu dua orang sudah ada yang duduk. Di panggung, dua orang pekerja bule masih membenahi letak dua monitor komputer flat di lantai. Kursi duduk pembicara belum ada. Seorang mengetes mikropon,”Tes, tes, tes.” Suaranya terus-terusan. Menganggu telinga.

Saya melihat ketegangan di wajah Christ Kanter, Wakil Ketua Kadin Indonesia, yang menjadi Ketua OC event ini. Beberapa kali ia melintas ke depan dan ke belakang. Saya menyaksikan Christ mengkordinir rombongan pengawas puteri, yang membimbing rombongan mahasiswa membagi tempat, untuk ruang bagian atas.

Karena masih kosong, saya memilih tempat di baris ke empat di kelompok lima belas kursi keempat pula. Tiga baris atau empat puluh lima kursi di depan saya, konon untuk menteri, dan pejabat pemerintah lain. Pengurus Kadin Indonesia justru di tempatkan di bagian kanan kelompok pejabat ini.

Saya merasa berada di posisi paling tengah. Paling strategis. Dua orang bapak-bapak berjas rapi duduk di samping saya. Mereka tersenyum. Saya menyalami satunya. Ia tak menyebutkan nama. Ia tersenyum, lalu berbicara dalam bahasa Mandarin ke kawan di sebelahnya.

Kemudian saya menyaksikan adegan lain: dua orang membawa sapu lidi bertangkai panjang. Satu bertangkai biru, satunya lagi bertangkai coklat. Tanpa menghiraukan tamu yang sudah mulai masuk di ruang be-AC, kedua orang itu menyapu lantai panggung. Saya membayangkan pesawat jet Bill Gates parkir di Halim, saya membayangkan kuliah teknologi informasi yang akan dipentaskan, membayangkan aplikasi-aplikasi canggih teknologi informasi. Tetapi sebuah vacum cleaner di JCC, di depan saya, tidak ada.

Bagi saya yang nyengir sendiri, agaknya inilah hiburan pagi paling “bergengsi”.

Pukul 06.40. Dari pengeras suara terdengar suara komandan jaga Pampamres. “Seluruh hadirin yang sudah ada di rungan, kami minta untuk meninggalkan tempat. Paspamres ingin melakukan sterilisasi lokasi,” begitu suara terdengar di mikropon. Bapak di samping saya mengeluh. Ia meletakkan undangan di kursi, sebagai tanda agar kursi strategis itu tak diambil pihak lain.

Saya tak ke luar penuh. Di mulut pintu yang sebelahnya tak dapat ditutup, karena dihalangi oleh lilitan berbagai kabel,di sana saya berdiri. Saya perhatikan apa yang disebut mensterilkan ruangan itu. Beberapa Paspamres berjalan maju ke depan, memperhatikan seluruh kursi dan lantai. Seorang komandan berbaju dinas, duduk di kursi biasa di panggung, ia memerintahkan dua petugas lampu sorot untuk naik kebagian atas. Seluruh lampu panggung itu ia minta dinyalakan.

“Kau turun kan sedikit. Nah yang kanan dinaikkan,” kata Paspamres itu dengan nada agak tinggi, ”Kau dengar tidak yang itu diturunkan, turun, turun. Nah yang satu lagi agak menyilaukan, dinaikan lagi” Begitulah aba-aba. Apakah lampu itu memang tak pas stelannya, atau memang itulah bagian SOP (standar operational prosedure).

Komandan itu turun dari panggung. Ia melintas di pintu di depan saya. Dia bilang sudah boleh masuk,”Saya akan minta panitia umumkan.” Karena belum dicorongkan, maka saya dengan mudah duduk di tempat semula. Dua bapak-bapak di kiri saya juga tampak mengikuti. Saya perhatikan dua kursi dan satu meja kecil sudah ada di panggung. Sebuah podium kecil berlogo Bhinneka Tunggal Ika pun sudah terpasang.

Waktu di jam saya pukul 7.40, kala itulah saya mendengar dari pengeras suara, undangan diperbolehkan masuk. Bagaikan airbah yang datang, para undangan cepat sekali memenuhi kursi. Saya melirik ke belakang. Ada Irwan Habsjah, Managing Director & Country Representative ING Bank N. V. Irwan saya kenal ketika ia aktif di Ikatan Alumni Nederland (IKANED). Dulu sekitar 1989, saya sempat membuatkan in house magazine IKANED. Irwan saya minta duduk ke depan di kanan saya. Ia beranjak. Kami berjabatan tangan.

Tanpa saya duga, Irwan mengenal bapak di samping saya. Kedua orang itu bertukar kartu nama, saya melirik, namanya Ali Kusumo. Menurut Irwan, bapak yang di kiri saya itu dulu pengusaha multifinance. Sembari menunggu acara, jadilah urusan menggosip. Seakan tak menyiakan kesempatan, Ali Kusumo menanyakan ihwal LC (letter of credit) kepada Irwan, untuk trading minyak bernilai US $ 650 juta, apakah dapat di-endorse oleh ING Bank?

Irwan berjanji untuk mengkonfirmasi ke kantor mereka yang di Singapura. Alasannya tak semua LC Bank dari Cina dapat diterima. Dengan “kesoktahuan” saya bertanya kepada Ali Kusumo, apakah dia dapat alokasi minyak mentah dari Aramco atau Rusia origin? ”Wah saya tak tahu, teman yang punya tanker di Singapura yang urus itu,” jawabnya.

Dua tahun lalu, saya sempat mengikuti seorang kawan yang pernah berbisnis mencari jatah minyak Aramco, Saudi Arabia, yang konon punya alokasi pangeran Arab. Setelah sampai menghabiskan Rp 25 miliar untuk proses wira-wiri, transaksi tak kunjung jadi. Di dalam hati saya beranggapan, bicara alokasi minyak mentah, tanpa paham asal-usul, lika-liku, hanyalah laksana memperdagangkan ketiak ular - - apalagi Aramco berdagang secara antar pemerintah.

Saya menguping terus lalu lintas kata kedua sosok di kiri-kanan saya. Ali Kusumo pun menyampaikan ihwal bisnisnya di properti bersama kelompok usaha Lippo - - Mochtar Riady, Chairman Lippo tampak terlihat di baris bagian kanan. Mereka ingin sekali mencari lahan tambang nikel yang besar di kawasan Halmahera, Maluku Utara.

“Tambangkan investasi besar, returnnya lama,” ujar Irwan.

“Ya tak apa. Tapi nanti bisa dire-engineering struktur permodalannya, setelah jalan.”

Saya sela obrolan bisnis mereka. Irwan mengatakan bahwa Taufik Dwicahyono (Cepy), salah satu putera Tri Soetrisno, mantan Wapres, kini Ketua Umum IKANED. Saya sampaikan kepada Irwan bahwa saya pernah sekelas dengan Cepy, ketika di SMA 3 Setiabudi, Jakarta, 1981-83.

Irwan yang beredar di lingkungan perbankan, tak menduga banyak bankir lain di duduk di kanannya. Mereka saling bersalaman. Tak lama kemudian di layar tengah dan dua layar lebar di kanan dan kiri panggung, menyorot kehadiran mobil Presiden SBY.

SBY turun dari mobil berjas rapi. Tiga menit kemudian datang lagi mobil yang membawa Bill Gates. Ia tampak berbatik coklat, yang sekilas lihat mirip dengan warna dan corak batik yang dikenakan beberapa orang Paspamres. Kami undangan melihat adegan itu dari layar monitor macam menonton teve raksasa. Keduanya menuju ruang VVIP JCC, kamera kemudian hanya menyorot bagian luar ruang. Di tiga deret di depan saya, para Menteri yang hadir tampak duduk berbaris menanti, begitu pula undangan lainnya.

Lima belas menit menunggu, tamu yang ditunggu-tunggu belum juga masuk. Seorang pembawa acara meminta undangan sabar, walaupun agenda sudah molor dari jadwal. Di kamera tampak SBY menganti baju dengan batik berwarna ungu.


PUKUL 08.20. Tamu istimewa Bill Gates masuk ke ruangan, didampingi Presiden SBY,yang tampak senang wajahnya. Pembawa acara membuka, namun untuk kelanjutan membawakan acara diserahkan kepada Marie Pangestu, Menteri Perdagangan RI. Inilah dalam sejarah hidup, untuk pertama kali, saya menyaksikan seorang Menteri menjadi pembawa acara.

Setelah Marie membuka, sekitar dua menit, disambut pidato SBY menggunakan teks. Ia membaca teks bahasa Inggris dengan baik. Saya senang SBY mengutip kalimat Thomas Friedman, sosok yang pernah bertemu dengannya yang mengatakan bahwa dunia ke depan,”More flat, more crowded.” Thomas Friedman adalah sosok penulis buku The World is Flat itu, salah satu yang saya kagumi.

Presiden SBY pun menyinggung pentingnya teknologi informasi dan komunikasi (ICT) untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Ia pun memuji Bill Gates sebagai sosok yang rendah hati namun berpikiran maju.

Di saat SBY berpidato saya perhatikan Bill Gates. Wajah pria 54 tahun berkacamata itu seakan tua. Dua tonjolan daging di tulang pipinya menajam. Kulit mata bagian bawahnya berkerut. Ia duduk menyilangkan kaki, yang kanan di atas. Tangan kirinya bertumpu di lengan kursi, tangan kanan menyilang seakan menutup tangan kiri. Wajahnya serius. Penampilannya terkesan biasa. Jika saja bukan Gates, dia tak ubahnya macam bule kebanyakan yang suka berjalan-jalan di seputar jalan Sabang, Jakarta Pusat. Ketika SBY memujinya, William (Bill) H. Gates - - begitu nama lengkapnya - - tersenyum dikulum. Tawanya tak membuat giginya tampak.

Begitu SBY kembali duduk ke kursinya, barulah sadar saya, bahwa Presiden ini duduk dalam garis lurus di depan saya. Jarak kami sedikit lebih panjang dari lapangan basket saja.

Kini giliran Gates tampil. Seperti sudah seakan menjadi ciri khasnya, begitu berdiri ia langsung memasukkan kedua tangan ke dalam kantung celananya, dengan leher sedikit menunduk. Kemudian kedua tangannya memegang podium.

Di awal kuliahnya, Gates mengatakan Indonesia punya banyak potensi untuk menjadi negara maju. Ia seakan membalas pujian Presiden SBY.

Tema kuliah Gates: The Second Digital Decade. Pokok pikirannya bagaimana perkembangan dunia teknologi informasi akan berpengaruh kepada kehidupan manusia di masa depan. Ada beberapa contoh dalam presentasinya. Dalam salah satu momen, Gates bercerita mengenai anak perempuannya yang sekolah percontohan selalu membawa tablet PC sebagai gadget wajib.

"Anak saya kerap mengirim email untuk bercerita kejadian sehari-hari. Ia bisa mengirimkan nilai-nilai yang didapatkannya. Terkadang saya dapat memberi tahu jawaban soal yang dikerjaka," tutur Gates. Sempat ia terbatuk. Tanpa sungkan ia berjalan menuju meja di kiri SBY, mengambil gelas berisi minuman. Ia memnium dengan tangan kiri.

Gates mempunyai mimpi memvideokan kuliah para profesor di dunia untuk dionlinekan di internet seperti yang telah diujicobakan di Massachusets Institute of Technology (MIT), AS .

"Sehingga berada di manapun kita bisa belajar," ujarnya

Setelah sesi pendahuluan selama 30 menit, mikropon wireless yang tertempel di kemeja batik Bill Gates mati. Kala itu Gates pindah ke kanan berdiri di depan note book berlayar lebar. Ia hendak mendemonstrasikan betapa teknologi informasi di masa mendatang mendekatkan “jarak” antar planet, dan tetap mudah dioperasikan oleh murid playgroup sekali pun. Aplikasi ini bisa zoom in dan zoom out.

Di saat wireless mati, Presiden SBY langsung meminta agar Gates diberi mikrofon pengganti. Spontan petugas naik panggung mengantar mikropon lain yang harus dipegangnya.

"Hello, Aaa. that's great," ujar Gates menguji mikrofon disambut tepuk tangan mahasiswa yang duduk di balkon.

Gates mendemokan software astronomi yang ia bawa. Dalam demo, aplikasi Microsoft itu mampu menjelajah isi galaksi. Ada Nebula, ada Vega yang bisa dilihat. Sebuah tampilan menarik, melihat galaksi di siang hari.

Tak lama kemudian Bill Gates membuat kejutan.

Ia meminta Desi Hadiati, M. Octa Manullah, Budiono, Riza Ramadan, tampil ke panggung. Suara Bill Gates bagaikan pembawa acara. Ia menyebut nama-nama mahasiswa ITB ini satu persatu, tanpa teks. Mereka Tim Aksara, salah satu pemenang pembuat aplikasi berjudul ABC.

Tim Aksara ini membuat aplikasi pembelajaran membaca dan menulis melalui komputer. Menurut mereka masih banyak buta huruf di Indonesia, angkanya bisa mencapai 10% dari populasi penduduk. Keempat anggota tim ini tampil menjelaskan software mereka. Mereka bicara bergantian dalam bahasa Inggris yang lancar, dan di penghujung kata, tak lupa menyelipkan ucapan terima kasih kepada Microsoft - - sebagai sebuah ending soft sponsor.


KESEMPATAN bertanya dibuka oleh Marie Pangestu. Ada lima penanya.

Penanya: Gatot Suwondo, Dirut BNI, Rene Patirajawane, Wartawan Kompas, James Ryadi, CEO Lippo Group, Wakil dari Mahasiswi Swiss-German, Mahasiswa, wakil dari Universitas Indonesia. Meski Bill Gates yang jadi dosen, pertanyaan juga ditujukan kepada Presiden SBY yakni tentang kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan teknologi informasi di sekolah.

Mahasiswa bertanya, tip dan trik sukses di kala muda, kendati sekolah pun drop out?

"Saya sangat merekomendasikan untuk menyelesaikan kuliah, raih gelar akademis Anda. Saya ini contoh yang buruk," ujar Gates, rendah hati dan tersenyum.
Gates menegaskan bahwa pendidikan, kuliah, adalah saat yang paling tepat memenuhi segala keingintahuan. “Agar semakin optimal, pergunakan juga peluang untuk magang di berbagai perusahaan sebagai bekal merintis bisnis sendiri kelak.”

Gates menekankan pentingnya peran orang tua mendukung cita-cita sang anak. Ia lalu mencontohkan orangtuanya yang memberikan sebuah PC sebagai kado ulang tahun sweet seventeen.

"Sains itu mudah asal kita enjoy. Kembangkan pengetahuan kalian, lalu sumbangkan demi kemajuan bangsa," tutur Gates, jebolan di Harvard University, AS, itu.

Saya tertawa.

Saya lalu teringat akan tulisan di www.prestalk.info, 19 Maret 2008 berjudul INS Sekolah Gembira. Di tulisan itu saya mengkuatirkan anak-anak di tingkat SD yang berangkat ke sekolah dengan tas berat, wajah tidak happy. Juga saya kritisi, unsur bermain anak-anak kini seakan “dirampas” orang dewasa. Padahal dengan gembira bersekolah, dengan gembira sehari-hari, apapun yang sulit dipelajari bisa menjadi mudah di hati, dan mengencerkan otak sendi-sendi pikir.

Selain poin utama alinea akhir di atas, pemaparan Gates bagi dunia ICT Indonesia menjadi biasa saja. Sebagaimana visi, misi Microsoft, sebagai sebuah entiti bisnis, Indonesia dengan populasinya, menjadi pasar besar.

Ketika acara usai, saya bertanya kepada kawan-kawan yang hadir, dimana Onno Widodo Purbo? Edy Satriya, pejabat dari kantor Menko Perekonomian, menjawab tidak melihatnya. Apa karena Onno lebih gencar mensosialisasikan pemakaian piranti lunak berbasis open sources?

Saya sampaikan kepada Irwan Habsjah, sebelum berpisah: Bahwa Onno, jika pergi menyampaikan paparannya tentang wajan bolic, teknologi 4G untuk akses wifi gratis berkomunikasi internet mobile, di Amerika Latin, Afrika,bahkan belum lama ini di Thailand, Onno disambut tak kalah meriah macam Gates diterima SBY, dibanggakan SBY.

Saya terharu, mengapa credential asset lokal, seakan tak dimunculkan, bak pepatah bilang, tungau di seberang lautan tampak - - bisa jadi kita agulkan - - sebaliknya gajah di depan mata tak kelihatan. Banyak potensi anak negeri ini yang sesungguhnya gates-gates Indonesia, seakan tak terfasilitasi tampil ke permukaan. Itulah negeriku.

Iwan Piliang


Blog EntrySHUT DOWN YOUR TEVE!May 9, '08 10:34 AM
for everyone
CAUSE IT WILL THREATEN YOU WITH TEN MOST DANGEROUS SHOWS!

warning: applicable in Indonesia only

09/05/2008 20:16 WIB
Inilah 10 Siaran TV Yang Perlu Diwaspadai Versi KPI
Arifin Asydhad - detikcom

Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menetapkan sepuluh tayangan siaran TV bermasalah dan meminta publik untuk mewaspadainya. Tayangan-tayangan tersebut mencakup sinetron serial, variety show, dan tayangan anak.

Berikut 10 siaran TV tersebut seperti dalam siaran pers KPI, Jumat (9/5/2008) dan dipublikasikan di situs KPI:

1. Cinta Bunga (SCTV)
2. Dangdut Mania Dadakan 2 (TPI)
3. Extravaganza (Trans TV)
4. Jelita (RCTI)
5. Mask Rider Blade (ANTV)
6. Mister Bego (ANTV)
7. Namaku Mentari (RCTI)
8. Rubiah (TPI)
9. Si Entong (TPI)
10. Super Seleb Show (Indosiar)

Penetapan ini didasarkan atas hasil evaluasi tim panelis yang diketuai oleh Prof. Dr. Arief Rahman, wakil ketua Dedy Nur Hidayat Ph.D, dan anggota Dr. Seto Mulyadi, Dra. Nina Armando MSi, Bobby Guntarto, MA, dan Ir. Razaini Taher serta dibantu oleh 11 orang analis.

Menurut anggota KPI Pusat bidang isi siaran, Yazirwan Uyun, dasar pertimbangan dianalisanya tiga jenis acara tersebut adalah laporan pengaduan tayangan bermasalah yang paling banyak menurut masyarakat ke KPI. Dan, tayangan-tayangan yang dianalisa oleh KPI yakni periode antara tanggal 1 sampai tanggal 13 April 2008.

"Jumlah tayangan yang ada pada periode tersebut ada 198 tayangan atau episode dari 75 judul dan ditayangkan oleh 9 stasiun TV yaitu Indosiar, SCTV, TPI, RCTI, Global TV, ANTV, TVRI, Trans TV dan Trans 7," ujar Uyun ketika mengumumkan tayangan-tayangan bermasalah tersebut di hadapan para wartawan dan undangan di kantor KPI Pusat.

Dalam kesempatan itu, Ketua KPI Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja menerangkan, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik, sosial, dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, penganiayaan terhadap anak serta tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

Sementara itu, mewakili tim panelis, Nina Armando menjelaskan, hasil dari evaluasi secara umum tim panelis menyimpulkan bahwa banyak acara yang tidak mencantumkan klasifikasi acara sesuai usia khalayak. Kemudian, banyak acara non-anak ditayangkan pada jam anak-anak biasa menonton. "Banyak juga acara yang tidak memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan," ungkapnya.

Selain itu, kata Nina Armando, dari hasil eveluasi terdapat banyak tayangan menampilkan aksi kekerasan. Aksi kekerasan tersebut ditampilkan sebagai komedi dan juga terdapat penampilan kekerasan terhadap anak. Adapun yang terakhir, kata Nina, banyak tayangan menampilkan kata-kata kasar, merendahkan, melecehkan orang lain dan sebagian besar aksi tersebut ditampilkan sebagai komedi.

Dalam kesempatan itu, Ketua KPI Pusat, Sasa Djuarsa Sendjaja juga menyatakan, akan terus memantau secara periodik tayangan-tayangan TV bermasalah tersebut dan berjanji akan memberikan sanksi, apabila stasiun TV tidak melakukan perbaikan terhadap acara tersebut. ( asy / asy )


Blog EntryTERNYATA....May 5, '08 5:15 AM
for everyone
..PKS pun sama saja.....hayo, para qiyadah, jangan sampe kena kutuk kayak Qorun!

Blog EntrySerakah oh serakah!Apr 29, '08 7:25 AM
for everyone
Jasa Marga (JSMR) membukukan pertambahan laba sebesar 1350%!

WOW!

Perusahaan yang luar biasa! Performa sahamnya pasti LUAR BIASA KAAAN?

Mari kita lihat performa JSMR:





ternyata CRAPPY!

saham terjun bebas, Moving Average Converge Divergenya (MACD) juga masih memberikan sinyal probabilitas harga turun masih ada. 

Mungkin karena itu lah, top management JSMR mengusulkan kenaikan harga 12,4% ?

Bener-bener deh.....udah tanpa saingan, masih minta dielus-elus....DASAR LIBIDO WORSHIPPER!







Blog EntryKayak Selingkuh.....Apr 28, '08 8:27 PM
for everyone
Kunci Ruang Ketua Komisi IV DPR Diganti, Setjen Tak Punya Serep

Judul yang menguatkan anggapan bahwa anggota-anggota DPR itu memang bak ABG yang dikasih kekusaan berlebih dan selingkuh di mana-mana.

Really.....ganti kunci ruang ketua komisi n sekretariat gak punya serep? Ini anggota DPR nya paranoid, n setjennya gak bisa apa-apa pas tuh kunci dengan suksesnya diganti seenaknya sama si penzinah hina itu.

GANTI SEMUA ANGGOTA DPR! KEBIRI SEMUA!

Blog EntrySekali Lagi!Apr 28, '08 3:07 AM
for everyone
Pemerintah lebih mementingkan proyek dan solusi jangka pendek!

Mereka gak nyadar apa, konsumsi BBM itu LUAR BIASA karena most pekerja harus KOMUTING karena RUMAHNYA JAUH-JAUH!

Jadi daripada sibuk-sibuk bikin proyek baru yang PASTI GAGAL TOTAL, kenapa gak menggalakkan pembangunan PERUMAHAN BERSUBSIDI, penyelenggaraan dan perbanyakan TRANSPORTASI UMUM BERSUBSIDI dan CABUT SUBSIDI BBM secara TOTAL dan KOMPREHENSIF!

CABUT! CABUT! CABUT!



Blog EntryRepresenting ArrogancyApr 28, '08 1:39 AM
for everyone
Last week, a big thing happened. This big thing put another taint on the collective face of the dishonorable Indonesian representatives of people.

The big thing is the arrogance showed by members of DPR (Dewan Perwakilan Rakyat or People's House of Representative) toward KPK (Komite Pemberantasan Korupsi, Corruption Annihilation Committee). KPK told several DPR members that their working offices will be searched for evidences following a capture of a legislative member who was caught red-handed when receiving money from an enterpreneur. DPR then refused to be searched, saying that their offices are immune to KPK actions and even saying threats that they will disband KPK if KPK insisted on searching. DPR members, in short, felt that they are immune from legal actions.

That actions spurred negative reactions from people who branded DPR as arrogant cunts. They were told that their behaviors indicated that they really were hiding something rotten in their offices. Their arrogance showed that they didn't realize their true natures as servant of the people and not above legal aspects.

This arrogance effectively sunk the house of representatives further down the spiral of bad behaviors.


Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help