Eko's posts with tag: hobbies
Pagi hari adalah waktu yang baik untuk menempa diri dengan berolahraga. Udara yang masih low pollution, tubuh yang masih tak terkena terpaan kekejaman tempat kerja (boss dan air conditioner yang dingin), dan kesegaran sejuk pagi yang berembun.
Maka berangkatlah aku menyongsong pagi, mengayunkan langkahku. Kubuka pintu rumah dan kudorong pintu gerbang dan kusapa sejuknya udara pagi. Kuhirup, dan kuresapi. Rasanya beda. Tak ada tekanan di situ. Jiwaku menyambut pagi tanpa persiapan apa-apa, dan dia pun menyapaku “Apa kabar, tak biasanya kamu melepas topengmu”
Ah, pagi. Maafkan aku yang selalu memelukmu dengan tipu daya sehingga membuatmu selalu mengambek dan membalas dengan kepekatan gelap jiwa.
Tapi pagi ini aku tak ingin memelukmu begitu saja. Aku ingin memelukmu erat, ingin kunikmati kamu, dan ingin kucari memori bersamamu.
Maka kulangkahkanlah kaki-kaki ku, menapaki bumi yang masih berselimut embun pagi. Kudaki bukit kecil yang memisahkanku dengan dunia. Kuhirup kau dalam-dalam, Pagi.
Terus kulangkahkan diri ini, melangkah cepat, menggerakkan tungkai-tungkai yang biasanya terkulai tak berguna di bawah meja cubicle, hanya berayun-ayun tak jelas sementara jari-jari bekerja extra keras. Sekarang saatnya membangunkan otot-otot kaki, dan mengalirkan darah segar penuh gizi ke tungkai penopang tubuh ini.
Oh, Pagi, tapi apa yang kurasakan ini?
Ternyata kau tak sesegar yang kuduga. Manusia-manusia itu memang tidak sabaran. Sepagi ini, kaleng-kaleng rombeng itu pun masih bergulir. Suara deru dan nafas nya menebar polusi di pagi ini. Tak bisa kunikmati kau lekat-lekat, Pagi. Nafas ini harus kujaga supaya sedikit saja tersentuh partikulat-partikulat beracun yang dihembuskan oleh mereka-mereka.
Memang tak seindah yang kuduga, tapi tak apa lah. Terus kuayunkan langkahku, mendaki tangga-tangga yang membawaku melayang di atas ruas-ruas jalan yang tak pernah tertidur. Kukeluarkanlah kameraku tercinta, Canon Powershot A700 (6x zoom), dan kubidiklah pemandangan urban yang terkadang indah ketika surya masih tertidur.
Tapi apa mau dikata, ternyata catu daya Cammy ku tersayang habis. Dia pun menolak kupakai dan hanya mengambek, kembali tertidur.
Ya sudahlah, dan ku pun terus berjalan di bawah udara pagi yang mendung. Sesekali langit menyapaku dengan rintik-rintik kecil. Kupandang langit, gelap, tapi dia pun tersenyum. Aku pun tersenyum balik. Tak akan hujan lebat.
Kupun terus berjalan. Berjalan di sisi sebuah jalan yang tak pernah tidur. Kupandang lah sekitarku: gedung-gedung, tinggi maupun pendek. Tembok-tembok bercat putih dan lukisan-lukisan liar yang menggerayangi keputihan itu. Manusia, manusia; kapan kau bisa mengekang diri?
Ku pun terus mengayunkan langkahku, dan kulewati rentang-rentang baja, dan sebuah kereta baja pun melesat di atasnya. Angin liar pun menghantamku, tapi aku lebih tangguh. Dia tak lebih dari angin yang akan menghilang, dan aku lebih dari angin: aku kan terus exist!
Dan kuayunkan langkahku sekarang cepat-cepat; rumahku sudah dekat; kaki-kaki ku pun mulai mengeluh. Tapi apa itu? Sebuah minimarket 24 jam! Kubawa kaki-kaki itu masuk, dan kubeli beberapa konsumsi. Hey, aku hanya manusia, butuh makan dan butuh minum!
Dan aku pun melangkah ke rumah, mengakhiri petualangan bersama pagi ini. Kubuka gerbang rumah, kututup. Kulangkahkan diri ke dalam rumah, dan kulepas sepatuku. Dan baru kusadari:
Kok aku make sepatu kantoran sih?
Dasar robot kantor ~”~
Here's hoping that The Devil really grants wishes in exchange of souls, cause really, I am willing to sell my soul for this fine piece of machinery! All glorious engines are depicted beautifully, all parts are made for show, all weapons are there and really, what better thing a young-at-heart man can dream of? It is perhaps called Dendrobium, but boy, it is not flowers for girls, that's fore sure! Now, anyone can point where The Devil opens his damned shop?
| |