Eko's posts with tag: godam 9
SINOPSIS GODAM 9 BUKU 1: RAGA BANGKIT GODAM
Format: Tankoubon/Graphic Novel Perkiraan jumlah halaman: 90 halaman.
PROLOG:
Pemegang kekuatan Godam sudah menua. Sudah lama dia tidak bertarung; Dia memiliki banyak alasan untuk tidak mempergunakan kekuatannya selama berpuluh tahun ini. Sekarang dia hanyalah seorang kakek tua pengemudi taksi di Ibukota Nusantara, Jakarta.
Suatu malam, dia menyadari bahwa keadaan negeri semakin tak terkontrol, sudah tak ada alasan lagi baginya untuk menyembunyikan kekuatan luar biasa yang bersemayam di cincin yang dia pakai sehari-hari. Anaknya sendiri telah mendayagunakan kekuatan besar, meski artificial, dan telah mempergunakan nama yang telah lama dia tinggalkan: Godam.
Tapi dia juga menyadari satu hal: umurnya sudah 60 tahun lebih, meski pun kekuatan di cincinnya akan tetap memberikan daya yang luar biasa untuknya, tetapi tetap saja tubuh asli dirinya kan terkalang tanah sebentar lagi. Harus ada orang yang menggantikannya; seorang yang muda dan idealis; seorang yang mempunyai jiwa perjuangan tinggi untuk membela orang-orang kecil. Godam baru haruslah seorang anak muda, pikirnya. Jodoh takkan kemana, pikirnya, dan pasti lah ada salah satu anak muda yang berjodoh dengan Cincin Godam.
Cincin Godam akan membantuku memilih, pikirnya.
BAB 1
Seorang pengamen jalanan meloncat dari bus ke bus, memetik dawai-dawai gitarnya, menyanyikan lagu-lagu yang dia karang sendiri dan lagu yang dipopulerkan oleh orang lain. Lagu demi lagu telah dia lantunkan, receh demi receh telah ia kumpulkan.
Ketika menyani di sebuah bus, dia pun melihat seorang pencopet beraksi ketika bis berhenti di lampu merah. Dia pun berteriak memperingatkan penumpang, tapi copet tetap bisa kabur. Dia pun langsung turun mengejar sang pencopet sendirian. Sang pencopet pun kabur ke sebuah gang dan terus diikuti sang pengamen. Di sana sang pengamen terpaksa berhadapan dengan geng sang pencopet. Dengan gigih dia bertarung melawan mereka, tapi kekuatannya sendiri belum mampu melawan geng tersebut yang brutal. Dia pun tedesak mundur, keluar dari gang kembali ke jalan besar, untuk kemudian terkapar berdarah-darah.
Sebuah taksi yang sedang melaju kemudian berhenti. Pintu taksi tersebut – yang di dindingnya tertera nama “Taksi Pahlawan” - terbuka, dan sopir taksi tersebut pun dengan bergegas menolong sang pengamen, dengan terlebih dahulu memasang tampang sangar kepada para gang pencopet. Tak ada yang mau menolong sang pengamen dan sang sopir taksi. Sopir tersebut kemudian menaruh si pengamen di taksinya, dan bergegas menuju rumah sakit.
Di rumah sakit, sang pengamen yang telah siuman dan sang sopir taksi kemudian bercakap-cakap. Sang pengamen bercerita bahwa dia memiliki sebuah jiwa yang selalu ingin berjuang keras merubah negeri, tapi apa daya dia hanya bisa mengamen. Lewat mengamen itu lah, dia menyisipkan lagu-lagu yang diharapkannya bisa menggugah rasa perjuangan orang-orang. Dia juga tidak segan-segan menegur kawan-kawannya yang berbuat merugikan orang lain. Sang sopir taksi terus mendengarkan sambil tersenyum dan mengatakan bahwa niatnya mulia dan perjuagannya sudah bagus, tapi masih bisa ditingkatkan lagi apabila niatnya terus berkobar.
Sementara itu, sebuah ruangan di rumah sakit dijaga oleh beberapa orang polisi. Di dalamnya, tiga orang anak muda sedang meregang nyawa; tangan dan kaki mereka menegang, urat dan pembuluh darah menonjol di sekujur kulit mereka, dan wajah meraka tegang dengan mata melotot merah dan gigi-gigi yang terkatup rapat menahan sakit. Tangan dan kaki mereka diikat erat di sisi-sisi kasur, tapi regangan dan lonjakan tubuh mereka terlalu kuat sehingga menggetarkan kasur.
Sekonyong-konyong, tiga anak muda itu pun mulai menunjukkan perubahan di fisik mereka. Otot mereka membesar, gigi-gigi mereka memanjang dan menajam, serta rambut-rambut muncul di sekujur tubuh mereka dengan liar. Dengan sekali hentakan, meraka pun mampu melepaskan diri dari ikatan di sisi-sisi kasur, lalu melompat luar ke arah pintu dan merobohkan pintu dengan sekali terjang.
Kepanikan pun meruyak di rumah sakit
BAB 2
Para monster itu pun mengamuk liar di dalam rumah sakit dimana sang supir taksi dan pengamen berbincang. Polisi pun tak mampu menahan; jatuh korban tewas dan terluka-luka berat di jalur amuk para monster.
Sang pengamen kemudian berinisiatif untuk melawan. Para monster pun teralihkan, tapi tetap saja sang pengamen tak mampu melawan. Sang supir taksi pun kemudian mengeluarkan keahlian beladirinya dalam melawan para monster. Tubuhnya berkelebat lincah diantara para monster dan beberapa kali mereka dijatuhkan dengan kelebat jurus-jurus lembutnya. Tapi stamina para monster itu mengalahkan stamina sang sopir taksi yang sudah tua, dan sang kakek mulai kewalahan. Sang pengamen menolong sang supir taksi, tapi pada akhirnya dia pun cedera berat; cedera yang mengancam jiwanya.
Sang sopir taksi pun mengelak dan menjatuhkan para monster sekali lagi untuk kemudian menuju sang pengamen. “Keberanian dan rasa bela kebenaran mu luar biasa, anakku” Sang Kakek berkata “maukah kau sebuah kekuatan untuk menyalurkan jiwa bela kebenaranmu?”
“Kakek….diri ini sudah tak berguna, badan ini sudah hancur lebur!”
“Tapi apakah jiwa pejuang mu sudah lantak bersama tubuhmu?”
“Belum!” sambil tersenyum penuh darah ” Takkan pernah!”
Kemudian sang sopir taksi pun mengeluarkan cincin yang dikenakannya dan menaruhnya di jari sang pengamen. Sang pengamen kemudian tersentak karena seakan2 ada kekuatan luar biasa yang menyapanya
“Bisakah kau rasakan kekuatan itu? Panggilah dengan segenap hatimu; panggilah GODAM!”
Sang Pengamen kemudian mengucapkan kata tersebut dengan sepenuh hati.
Sejurus kemudian, sesosok berzirah hitam dengan garis-garis emas, berjubah merah, dan bermata menyala biru tegak berdiri. Rambutnya hitam dengan highlight emas di seikal rambut yang menutup setengah keningnya. Wajah sang pengamen pun berubah menjadi gagah, berwibawa, dan memancarkan keberanian penuh.
“GODAM!” Sang kakek pun tersenyum “lakukan tugasmu!”
Para monster pun kemudian merangsek dengan segenap kekuatan ke arah Godam. Godam pun dengan segenap kekuatannya menyeret para monster ke luar dari rumah sakit. Di luar, dia pun bertarung sengit melawan mereka. Pada akhirnya, para monster pun kalah dengan tubuh yang penuh luka dan anggota tubuh yang patah-patah.
Sang kakek pun mendekat ke GODAM yang baru bangkit. GODAM pun berkata “Kakek Tua…..kekuatan apa ini?”
“Kekuatan luar biasa yang telah terpendam lama, Nak!” Sang Kakek tersenyum “Kekuatan Legendaris Sang Pahlawan!”
GODAM pun tersenyum “Ini luar biasa!”
“Memang Nak, ini kekuatan yang luar biasa!” Sang Kakek kemudian berwajah serius “Pertanyaannya sekarang: Mampukah kau mewarisinya?”
Di sebuah sudut kelam di kota itu, sebuah sosok gelap tersenyum keji “GODAM! Akhirnya bangkit juga dirimu!”
Dan bangkitnya Sang Pahlawan Legendaris pun memberikan getaran hebat yang dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang telah terpilih oleh terang maupun gelap.
Pria tua itu menatap lampu merah di tengah2 perempatan. Genggaman tangannya erat memegang kendali mobil. Hembusan dingin penyejuk udara mobil mampu mencegah bulir-bulir keringat mengalir dari pori-pori tubuh yang menghiasi kulit yang mengkeriput entah sejak kapan.
Hatinya gundah. Entah sejak kapan keinginan itu muncul; keinginan untuk menanggalkan kulit palsu yang telah ia kenakan semenjak dirinya merasa telah menjadi suatu kesia-siaan. Mungkin semenjak darah-dagingnya mengenakan kulit dari besi dan menembus awan, mencoba mengikut jejaknya. Mungkin semenjak matanya menatap mata-mata tak berisi dari anak-anak muda yang terjebak di sampah yang menggunung sejak jaman dirinya masih terbang menembus awan dan menghempas angin.
Mungkin semenjak dia sadar bahwa dirinya telah menua; sadar bahwa beberapa dekade telah berlalu dan dia hanya bisa menatap wajah di cermin yang telah menjadi budak kejadian yang dengan sadar membiarkan roda kegilaan berputar. Wajah itu selalu mengingatkan dirinya akan jubah yang berkibar dan kepalan yang kekar menghantam kejamnya kelam.
Tanpa sadar dia meraba cincin di jarinya; cincin yang setiap hari menghinanya, mencelanya, mengasihinya, dan mendorongnya. Sudah beberapa kali ia ingin membuang cincin itu; sudah berapa kali dia menembus nisbinya dunia dan berubah menjadi citra yang lain: citra kebenaran dan keadilan. Cincin ini masih bagus, tampak baru dan mengkilat. Dia telah mengenakannya selama 30 tahun lebih.
Cincin yang menutupi jari-jemari yang pernah berjaya di negeri yang dulu pernah berjaya.
"Pak, udah hijau tuh!" wanita muda mengingatkannya "ntar kebalap motor2 gila lo!" Matanya pun kembali penuh sadar. Tangan dan kakinya bergerak cepat, memberikan kembali nyawa pada roda-roda yang kemudian berputar. Senyum tersungging di bibirnya. Kenyataan kembali menghiasi relung jiwanya. Sekarang dia bukan siapa-siapa; sekarang dia hanyalah seorang sopir taksi.
"Kok gila sih Mbak?" dia menyambut kata "kan jelas2 waras bisa nyetir motor?"
"Ih, si Bapak gimana sih" suara centil memberikan bantahan "orang waras kok nyetirnya kayak pada mau mati cepet gitu" Kembali senyum merekah di bibirnya "Namanya juga mau cepet2 nyampe di kantor, Mbak. Mana tau ada kecelakaan di depan, kan berabe toh?"
"Ih, si bapak. Kalo kecelakaan mah bilang aja atuh ke bossnya!"
"Bener juga sih, tapi ya itu Mbak, kan gak semua orang percaya semua orang."
"Nah itu susahnya. Ni namanya juga Jakarta, Ibu kota!" sang penumpang berkata "Orang harus makan orang kalo mau idup Pak!"
"Duh...gak segitunya kali Mbak. Masih banyak kok orang jujur di sini"
"Orang jujur mah nemunya di pojok kali Pak, ngumpet di mesjid2!" wajah cantik sang wanita berlipat "Mana ada yang jujur n idup di gedung bertingkat!"
Kembali dia tersenyum.
"Eh, Pak Pak! Kiri dong Pak!"
"Oh, di sini toh Mbak" sang pria pun melambatkan kendaraannya "saya stop di halte aja ya?"
"Duh Bapak!" sang wanita muda mengeluh "ntar kejauhan"
Tapi dia tak mendengarkan; kakinya tetap menapak pedal besi tuk kemudian menghentikan roda-rodanya di depan halte dari besi mengkilap. Matanya pun kemudia menatap layar kecil yang menampilkan angka-angka merah.
"37900 Mbak"
Sang penumpang pun menyodorkan dua lembar kertas berwarna kehijauan "Kembaliannya ambil aja Pak, abis nama taksi bapak lucu sih 'Taksi Pahlawan' "
"Makasih ya neng" sang pria tersenyum ramah dan tulus "hati2 ya di kantor"
Sang penumpang cantik menatap sang bapak, tak percaya ada bapak tua yang menasihatinya di pagi menjelang perang rutinnya, lalu dia tersenyum manis "Makasih Pak" dan menapak keluar.
Pintu pun tertutup; Sang pria kembali pada kesendiriannya. Kesendirian yang berhias rasa bersalah yang selalu terkalahkan rasa siasia. Kuda besinya lalu meraung; dia pun kembali memutar roda2nya.
"Orang jujur mah nemunya di pojok kali Pak, ngumpet di mesjid2! Mana ada yang jujur n idup di gedung bertingkat!"
"Sudah demikian pesimiskah dunia?" pikirnya "anak muda pun digelayuti rasa sia-sia akan kebaikan". Ibukota negeri memang keras, pikirnya. Keras dan kejam; kesempatan adalah hal langka yang tak boleh dibuang ke tong sampah begitu saja. "Akan berbedakah apabila aku tetap berjuang" pikirnya lagi "akankah lebih baik?"
Dia pun terus menginjak pedal-pedal kereta oktana-nya. Penumpang silih berganti masuk dan keluar, dan rupiah pun terus dia tangguk. Rupiah dan kumpulan rasa gundah penumpangnya yang kadang dibumbui rasa masa bodoh. Pesimisme telah menjadi penghias utama roda kehidupan di ibukota ini.
Ketika hari telah malam, dia pun beranjak menuju kediamannya di pinggiran kota yang sumpek. Diparkirnya lah mobilnya, dan beranjaklah dia ke kamarnya. Tak ada siapa-siapa di hidupnya. Putranya masih tinggal di kota gudeg, bercita menjadi pelindung kota pelajar tersebut. "Lalu siapa yang akan melindungi para orang-orang yang tertindas kejamnya tapak ibukota ini?"
Pertanyaan-pertanyaan terus menumpuk, memupuk gundah-gulananya.
Malam itu, ketika purnama bersinar kuning penuh, dia menatap wajahnya di cermin. Wajah tua, keriput, dan berhiaskan garis-garis kecewa di sana-sini. Wajah tua, tapi masih ada yang tidak tua di situ: sinar matanya. Sinar matanya, dan sinar mata dia yang bersemayam di jiwanya. Sinar mata yang terus menagih janji.
Dia pun membuka jendela, dan melompat.
Dia tidak mendarat; terus mendaki tinggi; mendaki tinggi tanpa tali dan tangga. Angin mendesir keras di wajahnya; secarik kain berkibar-kibar megah di punggungnya. Janggut putihnya bergoyang-goyang diterpa embun malam yang mulai mendingin. Kedua kepalan tangannya kemudian menembus dinginnya udara yang terkotori manusia, terus melaju tak terkendalikan menembus awan.
Ketika berhenti, kakinya tak menapak tanah tapi menjejak awan. Matanya tak menatap sesuatu tapi menatap semua: kelap-kelip lampu kota, aliran cahaya dari mereka-mereka yang seakan tak bisa berhenti.
"Kota ini butuh pelindung" pikirnya "Dan bukan sekedar pelindung. Pelindung dan Pemberi inspirasi dan contoh."
Dan dia pun tersenyum "Pemberi inspirasi dan contoh dari generasi-generasi baru"
Dia pun mengangkat dan memandang telapak tangannya "Generasi-generasi yang telah kehilangan kepercayaan pada generasiku"
Dia pun mengepal dan memandang langit yang penuh bintang dan bulan yang bersinar kuning. "Jutaan bintang di langit dan jutaan manusia di bumi" senyumnya pun melebar dan merekah "pastilah di antaranya ada yang mampu mengemban beratnya kekuatan ini!"
Godam pun melesat menuju ibukota. Matanya telah menangkap sebuah kejadian luar biasa di jantung ekonomi kota; pewaris nama Sang Jendral Besar tengah porak-poranda oleh sebuah kejadian luar biasa. Instingnya berkata: Perang akan dimulai; para pahlawan harus bangkit kembali!
oleh Eko Prasetyo, 26 Mei 2007, sebagai pembuka cerita GODAM 9. Semoga api yang telah kita sulut lagi ini tak kan padam di akhirnya.
| |