Eko's posts with tag: education
Sepertia biasa, nyolong dari milis:
All, Artikel ini cukup bagus untuk menjadi renungan anak-anak muda negeri ini. Wasalam. Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar Oleh Saratri Wilonoyudho *
Kasus tertipunya sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogjakarta oleh ''proyek" blue energy cukup menyedihkan. Sialnya, yang mengerjai perguruan tinggi tersebut adalah orang biasa. Bukan sarjana. Buntut kasus itu adalah mundurnya sang rektor.
Kasus tersebut boleh jadi menunjukkan sepinya ilmuwan yang berkaliber serta sedikitnya karya-karya monumental yang lahir di negeri ini. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat, bahkan untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri !
Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson, adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.
Di tengah sepinya karya-karya besar, demo-demo yang dilakukan insan perguruan tinggi berubah menjadi anarkis. Selanjutnya, perguruan tinggi kita hanya terlibat dalam soal-soal sepele layaknya seorang pedagang. Mahasiswa bagaikan si pembeli dan perguruan tinggi bagai sang penjualnya. Transaksi ijazah berlangsung untuk mengejar pekerjaan belaka tanpa transfer keilmuan yang berarti. Itu tidak terjadi di level strata satu, namun juga sudah sampai level strata dua, bahkan strata tiga.
Negeri ini pernah memiliki pemikir besar yang mampu berbicara dalam skala global. Orang biasa menyebut jenis pemikir tersebut adalah generalis. Orang itu adalah almarhum Soedjatmoko yang juga pernah menjabat rektor Universitas PBB di Tokyo. Soedjatmoko menebar ide-ide besar tentang teori pembangunan, sosial, strategi budaya, pendekatan kewilayahan, dan sebagainya. Lawan seorang generalis adalah seorang spesialis.
Tampaknya, dunia spesialis itulah yang kini dianut perguruan tinggi kita. Ketika seseorang menulis artikel atau penelitian ilmiah, pasti yang ditanya adalah apa latar belakang keahliannya. Seorang ilmuwan teknik yang mencoba menulis masalah-masalah sosial akan ditolak lembaganya. Padahal, sang ilmuwan teknik tadi menulis ilmu sosial justru untuk mendukung temuan teknologinya.
Demikian pula, salah satu syarat yang dibutuhkan seseorang dosen untuk menjadi profesor adalah ''linieritas" basis ilmunya sejak S-1, S-2, dan S-3. Alangkah monotonnya jika dalam jurusan teknik, keahlian yang diambil melulu teknik belaka, sementara yang mencoba ''mengawinkan" dengan ilmu sosial, kependudukan, lingkungan, dan seterusnya ditolak gara-gara dianggap ''murtad" atau tidak linier.
Sepi Ide-Ide Besar
Akibatnya, kini perguruan tinggi kita sepi dari pemikiran-pemikiran besar yang komprehensif untuk menjawab permasalahan bangsa. Benar bahwa spesialisasi juga perlu, namun jika para spesialis tersebut bagai katak dalam tempurung dan tenggelam dalam ''ilusi limiah" atau arogansi ilmiah masing-masing, apa jadinya masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa?
Buktinya, masalah ''sepele" seperti mahalnya kedelai, sampah, banjir, dan anarkisme pilkada juga tidak terselesaikan, meski banyak doktor spesialis masalah tersebut. Mengapa tidak terselesaikan? Sederhana saja, masalah yang kelihatannya berdiri sendiri sebenarnya berada dalam persoalan sistem besar yang saling terkait. Kalau para spesialis tidak saling ''menyapa", bagaimana mungkin masalah besar akan teratasi?
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyebut istilah ''sarjana fakultatif" dan bukan sarjana ''universal", meski nama lembaga yang dimasukinya bernama universitas. Jurusan atau fakultas tenggelam dalam dunianya masing-masing.
Di titik itu pula, saya lantas ingat kata Lord C.P. Snow dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow mengkritik polarisasi dua jenis cendekiawan di Inggris saat itu, yakni dari kalangan humaniora dan ilmu pengetahuan murni.
Kalangan humaniora mengatakan ukuran kecendekiawanan ditentukan seberapa jauh seseorang mampu memahami karya sastra yang berbobot, sedangkan arogansi cendekiawan ilmu alam mendasarkan seberapa jauh seseorang mampu memahami hukum massa, termodinamika, energi, dan sebagainya. Mereka tidak saling menyapa.
Bagi Snow, tujuan pertama pendidikan adalah bagaimana menghasilkan ilmuwan supra cum laude sebanyak-banyaknya. Kedua, melatih ilmuwan agar dapat menjalankan penelitian-peneliti an yang diperlukan, membuat rencana-rencana tingkat tinggi dan pengembangan.
Ketiga, melatih beribu-ribu ilmuwan dan ahli teknik lainnya. Keempat, melatih politikus, pegawai, dan masyarakat untuk mengerti ilmu pengetahuan agar bisa memahami apa yang dibicarakan kaum ilmuwan.
Sederhana saja alasan mengapa hal tersebut di atas perlu dilakukan. Ilmu dan teknologi adalah know-how (keterampilan teknis). Know-how adalah cara tanpa tujuan, suatu potensi, suatu kalimat tidak lengkap. Know-how bukanlah sebuah kebudayaan. Karena itu, tugas perguruan tinggi adalah menyebarkan ide, tata nilai mengenai mau apakah kita dengan hidup ini.
Know-how juga perlu, namun itu soal kedua. Sebab, gegabah sekali menyerahkan kekuasaan besar kepada rakyat dan birokrat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mereka tahu apa yang harus diperbuat dengan know-how tersebut.
Science hanyalah masalah praktis dan tidak bisa digunakan untuk menafsirkan dunia dalam konteks besar yang terdiri atas berbagai persoalan spesifik yang saling terkait dan bertingkat. Masalah banjir Jakarta, impor kedelai, bencana alam, anarkisme, dan sebagainya memerlukan pemikiran besar dan pendekatan kewilayahan komprehensif.
Kalau masing-masing ''spesialis" tidak saling menyapa, masalah besar tersebut juga tidak akan terselesaikan.
* Saratri Wilonoyudho, dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang
. -- Visit http://www.strivearth.com and be entertained
[ppi-uk] penipuan melalui pemeringkatan PTN-PTS?
kawan-kawan,
saya meneruskan email dari Rektor ITS di bawah. mohon dicermati. sungguh memprihatinkan.
salam, y -------------------
"BUBLE INFORMATION" MARKETING "PTS KONGLOMERAT" SUATU BENTUK PENIPUAN BARU Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI e-mail : rektor@its.ac.id <mailto:rektor@its.ac.id>
Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN-PTN terkemuka maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia. Sebagai contoh, total score UPH (356) "diposisikan" mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB (296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS(258). UPH juga "diposisikan" mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR (230), dan PETRA (151).
Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka saya merasa aneh dengan "pemosisian" ranking oleh Globe Asia tersebut. Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun "mirip"dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi member "bobot" yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%, sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar "apple to apple" (kesederajatan).
Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri oleh DIKNAS (BAN PT), regional asia (Asia University Network, AUN), maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo). Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang "logis secara akademis". Artinya adalah bahwa kriteria tersebut (meskipun bervariasi) adalah memang benar-benar akan menunjukkan "jaminan mutu" dari input, proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan "kemewahan lifestyle" sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.
Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi suatu bentuk "penipuan" informasi yang bersifat "buble" kepada publik, khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis secara "tidak kritis" oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.
Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah menjadi komoditas yang "empuk" untuk menaikkan status sosial pemilik hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka pendidikan juga dikelola dengan image "Lifestyle" (gaya hidup), bukan dengan image "Qualistyle" (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking sesuai dengan "Strength" yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan "Weakness" yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu dicapai dengan memuaskan.
Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran, sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49 Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank adalah sistem dunia yang dianggap "paling sederhana".
Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara-cara tidak "fair"dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain: tata kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya saing suatu Perguruan Tinggi.
Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa dilihat salah satunya dengan criteria akreditasi yang logis secara akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis. (PS)
Amerika, sebagai negara adidaya pengkreasi berbagai macam ide nyeleneh untuk mendapatkan uang, memojokkan dirinya sendiri ketika salah satu ide itu memberikan hasil yang negatif: Memberikan utangan pada orang-orang yang susah bayar utang, dengan jaminan rumah yang "dijamin harganya pasti naik", sehingga banyak orang yang menjadikan rumahnya "ATM" dan mengutang sana-sini. Ketika orang-orang itu tidak bisa bayar utang, apa yang terjadi? Sebelum menjawab, bagaimana kalau ternyata pengutang menawarkan "paket investasi" kepada para investor, dan yang dijual adalah "surat penagihan hutang" yang berkaitan dengan "hutang rumah ajaib" itu. Intinya: dari ngutangin ke debtor tukang ngemplang, si kreditor mengharap untung; dan dari hasil bulshitting bahwa "surat penagihan hutang" itu akan menjadi surat sakti, dia berharap untung juga. Dan ketika banyak debtor yang gak bisa bayar utang karena ternyata "harga nilai taksiran rumah" sudah mentok, apa yang terjadi? Kredit macet, kreditor gagal dapet untung, investor "surat penagihan hutang" merasa tertipu dan meminta uangnya kembali, dan para investor itu, karena rugi di perjudian hutang-menghutang ini, mencoba membullshit yang lain supaya mendapat untung dengan "memompa" harga-harga komoditas: emas, minyak, kedelai, jagung, gandum, perak, gas bumi. Kalau harga diri bisa mereka kalkulasikan dan mereka modelkan, pasti akan ada "Human-Worth Futures" trading di bursa derivatif mereka! Jadi semua ini terjadi karena para financial warriors merasa mereka mempunyai jurus jitu untuk menaklukkan gunung keuntungan! Udah tahu belum, bahwa Amerika pernah resesi di tahun 30-an? Dan udah tahu belum penyebabnya apa? karena pada tahun-tahun itu, pasar modal berkembang luar-biasa, sehingga banyak orang ngutang ke bank supaya bisa beli saham; dan ketika harga saham mentok karena para broker kehabisan bahan buat membullshit, maka semua orang menarik investasinya dan berharap bisa mengambil profit; lalu runtuhlah bursa saham; dan banyak yang gak bisa bayar hutang ke bank. Oh ya, hutang ke bank buat beli saham itu namanya "Margin Trading" Mau tahu satu lagi teknik trading? Short Selling: Lu minjem saham ke broker, jual tuh saham dan berharap harganya turun (!) lalu beli lagi di harga rendah, n balikin lagi sahamnya ke broker! Banyak broker di sini, n gw yakin pasti cuman pada diem ngeliatin e-mail gw ini; soalnya kalo ngebullshit di sini juga percuma, soalnya Dow Jones akan terus terjun sampe 10000 (!)meski Bernanke, Alan Greenspan, n Jim Cramer ngebullshit macam apa pun (apalagi si pandir yang tinggal di Gedung Putih) saatnya beli reksadana nantinya!
Link: http://tinyurl.com/e4jf3For those who loves to know the feeling of the legendary forex battlegrounds, you can feel the heat in here!
Real US$ 5 and Virtual US$ 10000 for training and learning the ropes of Forex and Funds worlds!
This is a beautiful story An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could. One day the grandson asked, "Grandpa! I try to read the Qur'an just like you but I don't understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur'an do?" The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, "Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water." The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house. The grandfather laughed and said, "You'll have to move a little faster next time," and sent him back to the river with the basket to try again. This time the boy ran faster, but again the bas ket was empty before he returned home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man said, "I don't want a bucket of water; I want a basket of water. You're just not trying hard enough," and he went out the door to watch the boy try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, "See Grandpa, it's useless!" "So you think it is useless?" The old man said, "Look at the basket." The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out. "Son, that's what happens when you read the Qur'an. You mi ght not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives. " If you feel this email is worth reading, please forward to your contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h) says: "The one who guides to good will be rewarded equally"
BALIKPAPAN - Garis batas Indonesia dengan Malaysia di Tanjung Datu, Kalimantan Barat, bergeser. Indonesia kehilangan tanah 648 ribu meter persegi atau 64,8 hektare yang kini berada di wilayah Malaysia.
Di lihat dari luas, wilayah yang hilang akibat pergeseran patok perbatasan yang diduga dilakukan negeri jiran itu tidak terlalu besar. Namun, karena letaknya yang strategis di pinggir pantai, itu sangat merugikan kedaulatan NKRI karena konsekuensinya akan mengubah zona ekonomi eksklusif (ZEE) di wilayah laut.
Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI G.R. Situmeang kepada Kaltim Post (Grup Jawa Pos) mengungkapkan, pada pengecekan ujung Pantai Tanjung Datu, Kalbar, ditemukan patok Malaysia yang masuk wilayah Indonesia dengan kode SRTP 01 (Serawak Topografi 01). Patok itu berada pada koordinat 02 ?04' 53,8" Northing dan 109 ? 38' 41,8" Easting. Itu tak sesuai dengan patok bersama Indonesia-Malaysia kode A1 yang berada pada koordinat 02 ? 04' 52,8" Northing dan 109 ? 38' 41,7" Easting. Dengan begitu, terjadi selisih 1 detik dan 30 meter di wilayah Indonesia. Selisih itu bila ditarik ke darat 648 ribu meter persegi.
Jika patok SRTP 01 dibiarkan, itu berpotensi digunakan sebagai titik referensi (base point) dalam peta laut oleh Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM). Akibatnya, hal tersebut akan merugikan laut teritorial Indonesia. Bila ditarik dari batas pantai, wilayah Indonesia bakal hilang 200 meter. Dan, bila ditarik lagi ke zona ekonomi eksklusif, habislah wilayah Tanjung Datu. "Yang pasti, wilayah kita di Tanjung Datu akan hilang 648.000 meter persegi," ujar jenderal bintang dua itu.
Tak hanya soal tapal batas, Pangdam juga memaparkan pembalakan liar di wilayah Kaltim. Misalnya, di Gunung Lasantuyan, Desa Long Apari, Kutai Barat (Kubar). Cukong-cukong kayu Malaysia, kata dia, bergerilya memengaruhi masyarakat untuk melakukan illegal logging. Warga setempat mau saja mengejar rupiah dengan jalan itu karena menyangkut kesejahteraan dan keterbatasan infrastruktur.
Hasil hutan diduga dijual ke pabrik kayu yang letaknya secara administratif masuk wilayah Malayasia. Yakni, antara Gunung Lasantuyan dan pabrik kayu hanya dibatasi sungai. "Jika di wilayah Malaysia sudah tidak ada kayu hutan yang bisa ditebang, ke mana lagi kalau tidak mencari kayu dari Indonesia," ungkapnya memperlihatkan gambar-gambar melalui slide.
Gunung Lasantuyan yang lokasinya memakan waktu satu jam terbang dengan menggunakan helikopter dari Long Apari, Kutai Barat, itu tidak bisa didarati pesawat. Bahan makanan untuk pasukan yang menjaga di garis perbatasan dilakukan dengan cara dilemparkan dari helikopter, sedangkan pasukan bergerak dengan berjalan kaki.
Hasil patroli terbaru yang dilakukan anggota Kodim 0906/Tenggarong di patok DU 387 dan 384 juga sudah bergeser. Bahkan, ada dua patok yang disatukan dan digeser masuk wilayah Indonesia. Di lokasi yang digeser patoknya itu digunakan untuk jalan logging milik perusahaan Malaysia.
Menurut Pangdam, ada dua persoalan penting di perbatasan yang harus segera diselesaikan. Pertama, ketertinggalan masyarakat di perbatasan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Kedua, masalah perbatasan dengan negara tetangga.
"Persoalan perbatasan yang berkaitan dengan kedaulatan NKRI bukan hanya di Laut Ambalat. Ada sepuluh titik perbatasan yang bergeser masuk ke wilayah Indonesia. Masalah bergesernya patok itu sudah saya laporkan ke pusat," kata Situmeang kemarin. (bs/bir)
SAYA membaca beberapa baris biografi Einstein. Ia berbaring di padang pasir dan tiba-tiba memperoleh ide tentang teori relativitas. Ia meloncat, berhitung, hingga akhirnya menuliskan rumus mc2 yang terkenal itu.
Pada biografi yang lain, tentu pada zaman yang berbeda, Thomas Alfa Edison memilih keluar dari sekolah formal, lalu berkutat di laboratorium fisika milik ibunya. Dan pada suatu hari ia melompat kegirangan ketika bola kacanya berpijar.
Saya tidak tahu persis bagaimana hubungan antara simpoa (alat hitung tradisional Cina) dengan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, atau para jenius dan pencipta lain. Namun, Soroban Indonesia Mental Aritmatika (Sima)-sebuah lembaga pendidikan nonkurikulum-mengetahui hubungan itu.
''Otak kanan para pencipta dan jenius lebih sering bekerja. Karena itu, mereka lebih banyak mencipta karena selalu berpikir tentang kreativitas, bukan hafalan.''
Kalimat itu datang dari Dr Ir FB Soesanto Soebekti, Ketua Yayasan Sima di Jalan Seroja Dalam 9 Semarang. Tentu saja, sedikit banyak, kalimat itu berbau promosi. Namun, tidak ada salahnya mendengar penjelasannya soal simpoa dan otak kanan tersebut.
''Hampir semua sekolah formal di Indonesia memiliki pola pendidikan yang lebih menekankan penggunaan otak kiri. Artinya, banyak orang yang berpola pikir eksak; serbahitungan dan kaku."
Pola pendidikan seperti itu, lanjut dia, tidak banyak melahirkan orang-orang kreatif . ''Karena itu, Indonesia jarang melahirkan para pencipta dan kreator. Sumber daya manusia (SDM) kita rendah.''
Nah, warna promosi itu ada di sini. ''Pendidikan di Yayasan Sima lebih mengefektifkan penggunaan otak kanan. Kami membantu para siswa untuk menumbuhkembangkan potensi otak kanan,'' tutur Soesanto.
Laki-laki yang memiliki 89 cabang Sima di seluruh Indonesia itu menyebut simpoa sebagai salah satu media untuk melatih kerja otak kanan tersebut.
''Metode ini sebenarnya ditemukan di Cina, tetapi Cina sendiri kini tertinggal dibandingkan dengan Indonesia."
Namun, simpoa bukan hanya milik Yayasan Soroban. Jika Anda melintas di ruas Jalan Majapahit, misalnya, banyak ditemukan pendidikan nonkurikulum yang hampir serupa. Satu jenis pendidikan di luar sekolah formal yang konon bisa membuat cerdas dan jenius bagi anak- anak usia 4-14 tahun.
Media Simpoa
Terlepas dari mujarab atau tidaknya metode itu, bagaimana sebenarnya cara simpoa menjadikan anak-anak cerdas dan jenius-setidaknya jika promosi itu benar?
Menurut pendapat Soesanto, simpoa sebenarnya hanya media dalam metode pendidikan mental aritmatika. Metode tersebut sebenarnya memiliki dasar yang sama dengan matematika, yakni berhitung. Hanya, simpoa tidak memberikan teknik menghafal seperti dalam matematika.
Dia menjelaskan, dalam matematika, 12 x 3 dihitung dengan cara menyusun angka-angka, sehingga pada akhirnya anak-anak bisa menghafal. Dalam simpoa, penghitungan dilakukan dengan cara menaikkan atau menurunkan manik-manik (biji simpoa).
Saya, terus terang, belum paham benar dengan penjelasan itu. Akhirnya, Soesanto menunjukkan selembar daftar deret hitung dan memanggil seorang siswanya, Oka Dimas Hokka Pratama.
Saya diminta menyebutkan dua angka (masing-masing di lajur atas dan kiri), setiap lajur selalu bertemu dengan sederet bilangan. Misalnya (secara acak), angka 8 dan 9 bertemu pada angka 2409, kemudian 1 dan 2 pada 1654 dan seterusnya.
Saya agak heran ketika menyebut angka secara acak, Hokka bisa menebak ''angka pertemuan'' itu dengan benar. Saya coba menyebut lagi, mengulang pasangan angka yang berbeda, dan jawabannya lagi-lagi benar.
''Saya tidak menghafal, tapi tahu,'' kata Hokka enteng.
Rasanya memang tidak mungkin menghafal deret angka sebanyak itu (81 deret, tiap-tiap deret terdiri atas empat angka!).
''Jika Anda tidak mengikuti pendidikan dasar mental aritmatika, Anda tidak bakal mengerti,'' kata Soesanto, seperti tahu keheranan saya.
Sekadar catatan, sebagai siswa Sima, Hokka yang masih duduk di kelas II SLTP Maria Mediatrix itu telah memperoleh penghargaan dari Muri untuk dua rekor. Yakni, menghitung cepat melebihi kalkulator dan kemampuannya menebak dengan tepat tahun, weton, tanggal dan hari lahir seseorang tanpa harus melihat atau bertemu dengan orang yang bersangkutan.
Namun, kata Soesanto, tidak berarti bahwa seluruh siswa Sima memiliki kecerdasan seperti Hokka. ''Ibarat tim sepak bola, tidak semua pemainnya bisa seperti Ronaldo, Beckham, atau Zinedane Zidane. Semua bergantung pada latihan dan bakat mereka.''
Menuju Jenius
Pendidikan mental aritmatika tersebut secara umum memiliki tiga tingkatan. Pertama, kelas dasar (basic) yang terdiri atas delapan level. Lama pendidikan tiap-tiap level tiga bulan.
Tingkat kedua adalah kelas superlevel dengan empat level yang bisa ditempuh selama setahun, dan terakhir megalevel yang terdiri atas empat tingkatan dengan lama pendidikan setahun. Biaya tiap-tiap level Rp 240.000, sedangkan biaya pendaftaran Rp 30.000.
Saya sempat bertanya, apakah mereka, para siswa itu (anak-anak usia 4- 14 tahun) tidak merasa terbebani, karena siapa tahu mereka masuk ke sana bukan atas kemauan sendiri, tapi desakan orang tua misalnya? Sebab, siapa tahu, mereka lebih memilih bermain sepeda, bola, playstasion atau video game dibandingkan dengan mengutak-atik formula simpoa?
Saya memang tak bisa mengukur secara pasti kejujuran jawaban mereka. Namun, ketika saya tanyakan hal itu kepada enam siswa, semuanya menjawab tidak masalah. Bahkan, mereka senang karena mendapatkan sesuatu yang tidak ada di sekolah (formal) mereka.
Tentang hal ini, Soesanto juga beberapa pengelola sekolah serupa menyatakan, belajar mental aritmatika harus enjoy. Bahkan, jika mereka menemukan siswa yang ogah-ogahan, mereka akan menanyakan kembali komitmen itu baik kepada anak maupun orang tua.
''Kami juga tidak mau jika ada siswa yang merasa terpaksa dan terbebani. Kondisi itu tidak akan membantu mereka, justru merusak mental."
Lantas apa pengaruh belajar mental aritmatika dengan prestasi di sekolah misalnya?
Dari data di Yayasan Sima, lebih dari 75% siswa (14.000 di seluruh Indonesia) memiliki grafik prestasi sekolah yang meningkat. Bahkan, menurut pengamatan Soesanto, ada beberapa siswa yang ingin keluar dari pendidikan formal karena merasa jenuh menghafal pelajaran.
''Namun, tentu bukan kondisi seperti itu yang ingin kami ciptakan. Bagaimanapun, pendidikan formal masih perlu, setidaknya di Indonesia.''
Hanya, masih menurut pendapat Soesanto, dibandingkan dengan memasukkan anak ke kursus-kursus eksak, seperti matematika, fisika, dan kimia misalnya, lebih baik membawa mereka ke mental aritmatika.
''Ini bukan sekadar promosi, melainkan anak-anak perlu mendapat fondasi pendidikan yang kuat.''
Dia menambahkan, lembaga pendidikan yang dia kelola sekadar membantu anak-anak dalam mengefektifkan otak kanan. Soal hasilnya, semua sangat bergantung pada anak-anak.
''Ini hanya soal pilihan dan kesempatan. Kami tidak menjamin semua siswa Sima akan jenius seperti Einstein atau Thomas Alfa Edison. Namun, paling tidak kami memberi jalan menuju ke sana."
Nah, apakah Anda juga ingin mengantar anak-anak mencoba melintasi jalan lain menuju jenius itu?(Ganug Nugroho Adi-72e)
1. Pendidikan Indonesia kacau balau
2. Karena pendidikan rendah, maka selera remaja indonesia penonton sinetron pun rendah 3. Karena dengan sinetron mutu rendahan pun TV masih laku dan production house masih bisa jualan, maka teruslah dibikin sinetron-sinetron murahan
4. Karena sinetron murahan, maka yang muncul adalah ide-ide murahan: marah, tangis, amukan, cinta monyet, balas dendam, mistik, religi, dan aksi dalam balutan mutu kelas tai kambing.
5. Karena remaja cenderung belajar dari hal-hal yang bukan berbau orang-tua dan sekolah, dan pilihannya sinetron-sinetron hancur-hancuran, maka terdidiklah remaja Indonesia jadi remaja hancur-hancuran berselera rendah.
6. Karena pas remaja hancur-hancuran, maka banyak di antara mereka yang kemudian jadi guru tetap mewariskan sifat hancur-hancuran tersebut (meski banyak yang mengajarkan moral, tapi tetap saja murid dan guru tau itu cuman buat mengisi waktu saja) 7. Karena banyak guru yang demikian, maka ya hancurlah pendidikan Indonesia.
8. Kembali ke nomer satu.
catatan: sejarah sinetron indonesia sudah mendekati usia satu dekade, jadi kira-kira remaja 18 tahun pas awal sinetron muncul, sekarang umurnya sudah 28, sudah banyak yang menjadi guru.
Makanya, kalian pekerja sinetron, sekali-kalilah melawan ke para orang India(baca: produser sinetron; karena secara banyak mereka itu orang turunan India, dan "produser sinetron" terlalu panjang), and minta supaya dikasih kesempatan membuat sinetron sekelas HEROES ato bahkan KAMEN RIDER! Liat tuh Jepang, Korea, and Taiwan: modal cantik-cantik and ganteng-ganteng boleh, tapi ISI CERITA pun menarik!
05 Mei 2007 Di Balik Sukses Olimpiade
Agus Purwanto Pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam ITS, Juri Teori IPhO ke-33 dan APhO ke-6Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih dua emas, tiga perak, dan dua perunggu di Asian Physics Olympiad (APhO) ke-8 di Shanghai Cina 22-28 April 2007. Hasil ini, menjadikan Indonesia sebagai satu dari empat negara yang mampu menyabet emas APhO, sekaligus menempel ketat Cina. Meskipun demikian, olimpiade fisika dan cabang ilmu lainnya tetap perlu dikritik. Yohanes Surya (YS) sang arsitek TOFI seperti berhasil memecah kebekuan pendidikan Indonesia. Mulanya ia bina siswa-siswi yang disiapkan dalam ajang International Physics Olympiad (IPhO) dengan biaya sendiri. Upaya ini membuahkan hasil, yakni diraihnya medali perunggu, perak, dan emas. YS dengan TOFI-nya membuat kejutan lebih lanjut dengan ungkapan provokatifnya 'The First Step to Noble Prize'. Orang Indonesia seperti terhipnotis. Akibatnya, penyelenggaraan IPhO ke-33 di Denpasar tahun 2002 konon menjadi IPhO paling istimewa dan mewah. Selain diselenggarakan di hotel bintang lima juga dibuka oleh Presiden Megawati. Demikian pula APhO ke-6 2004 di Pekanbaru yang dibuka Menko Kesra, Jusuf Kalla. Bandingkan dengan pembukaan APhO ke-8 yang hanya dibuka oleh YS sebagai presiden APhO dan dihadiri wakil wali kota Shanghai (Kompas, 23/4/2007). Tahun lalu Pesiden SBY menyambut para siswa TOFI bak pahlawan. YS dipilih sebagai wakil ahli pendidikan yang mendapat kesempatan bertemu Presiden Bush yang berkunjung ke Indonesia. Desakralisasi olimpiadeKini kita dilanda demam olimpiade. Sejak tahun 2004, di beberapa provinsi diadakan pelatihan guru-guru untuk mempersiapkan siswa-siswi ke aneka olimpiade. Aneka kompetisi tingkat SD sampai SMA dinamai olimpiade. Ada olimpiade fisika, olimpiade matematika, kimia, biologi, komputer, ekonomi bahkan di lingkungan Muhammadiyah ada olimpiade Al Islam. Dari sekian banyak olimpiade ilmu, barangkali olimpiade fisika yang terkesan paling wah. Begitu mendengar, si fulan meraih medali IPhO, maka kita membayangkan sosok jenius mirip Newton, Einstein, atau Hawking. Atau terbayang orang nyentrik yang berkutat di laboratorium dan sedang membuat formula bom atom Hiroshima yang dahsyat itu. Masyarakat cukup silau dan bangga dengan prestasi siswa-siswi SMA Indonesia di ajang IPhO dan APhO. Kesan wah bahkan sakral terhadap TOFI tidak terlalu salah. YS berulang-ulang menyatakan bahwa soal IPhO dan APhO setara dengan soal doktor. Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka dapat mengatasi soal-soal sulit tersebut? Sedemikian hebatnya sekolah-sekolah kita? Siswa yang lolos seleksi sampai tingkat provinsi dididik khusus fisika selama beberapa bulan oleh para doktor fisika. TOFI tahun ini, misalnya, telah dikarantina di Karawachi sejak September 2006. YS yang pernah menulis buku Mekanika Tanpa Kalkulus menyatakan siswa SMP yang ingin lolos masuk TOFI harus tamat kalkulus yakni limit, diferensial, dan integral sehingga saat SMU bisa konsentrasi belajar fisika. Kesan sakral akan berkurang bila kita tahu garis besar pelaksanaan IPhO dan APhO. Sebelum diujikan, soal dan solusinya didiskusikan dengan semua pembimbing dan soal bisa mengalami modifikasi. Pada tahap ini dibahas dan disepakati pula skor nilai setiap nomor dan setiap tahap jawaban. Untuk menghindari kebocoran, panitia melakukan pengamanan dan aturan ekstra ketat. Soal yang telah disepakati dan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu setiap negara peserta diujikan. Waktu ujian teori dan eksperimen masing-masing lima jam pada hari yang berbeda. Selanjutnya adalah tahap penilaian jawaban. Penilaian dilakukan oleh juri dan masing-masing pembina. Kopian nilai versi pembina dan juri ditukar dan dibandingkan. Tahap berikutnya adalah moderasi, yakni penyesuaian bila terjadi perbedaan antara nilai dari juri dan pembimbing. Bila nilai juri lebih besar dari pembimbing bisa dipastikan tidak ada protes. Sebaliknya bila nilai juri lebih kecil apalagi cukup besar selisihnya maka akan terjadi perdebatan dan tawar-menawar nilai yang cukup alot dan seru antara pembina dan juri. Pada IPhO 2002 ada seorang ibu pembina yang tidak dapat menahan tangis lantaran gagal memperjuangkan kenaikan nilai siswanya. Dus, peran dan kejelian pembina sangat menentukan. Tahap akhir adalah penentuan peraihan medali emas, perak, perunggu, dan kehormatan yang ditentukan sesuai selang nilai tertentu. Karena itu, peraih medali emas olimpiade bisa cukup banyak dan semua anggota tim suatu negara tertentu bisa mendapat emas. Menertawakan diri sendiriSecara umum, siswa yang masuk TOFI memang siswa yang cemerlang dan kita bangga atas prestasi mereka. Tetapi benarkah pemerintah mengalokasikan dana Rp 100 miliar untuk keberangkan tim A (belum tim B) ke Shanghai (Kompas, 20/4/2007)?. Untuk apa saja uang ini? Bukankah jumlah itu bisa untuk melahirkan sedikitnya 200 doktor baru di luar negeri ketimbang delapan doktor produk TOFI? Sekarang ini banyak doktor kita yang membagi waktu sebulan menjadi dua pekan di Tanah Air dan dua pekan di Malaysia. Sebabnya selain untuk menutupi kebutuhan ekonomi juga mendapat fasilitas riset yang memadai di sana. Apa yang ingin kita capai dengan aneka olimpiade? Jelas, sukses aneka olimpiade internasional atau pun nasional sama sekali tidak mewakili sukses pendidikan kita. Sukses di APhO hanya memperlihatkan bahwa sebenarnya kita mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan negara manapun termasuk negara maju. Kenyataan ini juga bisa dilihat dari prestasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sistem di dalam negeri membuat semua potensi tersebut sulit berkembang dan tumbuh menjulang. Ketika presiden dan para petinggi lainnya menyambut dan memberi ucapan selamat misalnya kepada TOFI sejatinya mereka sedang menertawakan diri sendiri. Mereka seolah sedang mengucapkan "Selamat, kalian jadi juara karena telah menabrak sistem yang telah kita buat."Betapa tidak, emas IPhO atau APhO diperoleh oleh siswa yang meninggalkan program normal sekolah untuk dilatih bukan oleh guru sendiri tetapi para doktor fisika sekitar enam bulan di Karawachi. Singkatnya, mereka menjadi juara karena keistimewaan sistem dan dispensasi yang mereka dapatkan. Anggota TOFI yang sekarang kelas tiga SMA mendapat dispensasi pelaksanaan UN dan baru menjalani UN 14-16 Mei 2007. Sekarang ada Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan setiap tahun. Strategi guru, sekolah dan diam-diam sepakati diknas lokal untuk melatih para atlet dan mendulang sebanyak mungkin medali adalah kebijakan dispensasi. Artinya, siswa diperkenankan dilatih pelajaran tertentu dan meninggalkan aneka pelajaran lainnya tetapi nantinya tetap naik kelas atau lulus sebagaimana siswa-siswa lainnya.Tanpa jaminan seperti ini hampir dapat dipastikan tidak ada siswa yang mau mengikuti olimpiade. Bila demikian untuk apa medali APhO dan IPhO, bila harus menyimpang dan menggunakan dana sangat besar? Akankah prestasi APhO menjadi sekadar penghibur diri dari kemiskinan prestasi? Kita tidak ingin IPhO dan sejenisnya menjadi lahan baru penghamburan uang negara. APhO dan IPhO diikuti berbagai negara termasuk negara maju, tetapi menariknya Jepang belum pernah berpartisipasi sebagai peserta. Ikhtisar - Kesuksesan di ajang olimpiade sains, sama sekali tidak mencerminkan kondisi nyata pendidikan di Indonesia. - Dana besar untuk olimpiade, semestinya bisa dialokasikan untuk memajukan pendidikan yang lebih massal. - Secara umum, pola yang dijalankan dalam olimpiade sains telah menabrak sistem pendidikan yang ada.Berita bisa dilihat di : http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=292024&kat_id=16
Latar Belakang Penemuan Psychorientology Populer dan Tujuannya Oleh : H.Rd.Lasmono Dyar Metode silva ditemukan melalui penyelidikan ilmiah oleh seorang bernama Jose Silva. Pada saat itu beliau telah berumur 30 tahun dan berkecimpung di dalam usaha elektronik. Sebelum itu banyak telah dialaminya mengenai jiwa manusia di medan perang Eropa, ia ditempatkan di bagian terapi psikologis. Secara kebetulan ia ditempatkan disitu, sekalipun pada dasarnya ia tidak mempunyai pendidikan didalam bidang ini. Bakat kepekaan di dalam menerima masukan-masukan mengenai terapi dari orang-orang yang mengalami `goncangan jiwa' yang dialami di medan perang. Jose menaruh banyak perhatian kepada bagaimana terapi itu dilaksanakan. Karena perhatian dan timbulnya keterampilan pada bidang itu, banyak ahli kesehatan, seperti para dokter, ahli jiwa dan mereka yang mempunyai pendidikan dalam bidang itu, memberikan pengetahuannya kepada Jose muda. Buku-buku psikologi dan semua hal yang menyangkut bidang bekerjanya otak manusia beliau `lalap' dengan mudah. Jadi, sebenarnya, beliau telah memulai memperhatikan fungsi Pusat Pikir sejak tahun 1944. Selesai dinas militernya, ia mulai dengan penyelidikan-penyelidikannya dengan mengikut sertakan adiknya Juan Silva. Dari penyelidikan pertama itulah, ternyata bahwa manusia dilengkapi dengan pusat pikir terdiri dari dua belahan otak yang berfungsi dengan cara berbeda. Ia menemukan juga, bahwa intelektualisme adalah perekaman-perekaman yang dilaksanakan oleh otak bagian kiri dan bahwa otak bagian kanan merupakan wadah inteligensia yang nyatanya hanya sedikit saja berfungsi, bila keaktifan berada pada kondisi bangun sadar, tapi tetap membantu dalam keaktifan otak kiri. Ia banyak mengadakan `uji-coba' dengan anak-anak, keluarga sendiri dan para tetangga yang menaruh kepercayaan kepadanya. Salah satu uji- cobanya ialah bahwa ia sering membacakan pelajaran-pelajaran sekolah anak-anaknya, mereka itu sedang didalam kondisi sangat tenang dengan mata tertutup seperti pada meditasi. Hanya, `meditasi' yang ia bimbingkan berbeda dari yang biasa dilaksanakan secara umum. Dengan suatu pengendalian dari konsentrasi ia berhasil meningkatkan `kualitas inteligensia' anak-anaknya itu yang termasuk agak rendah dibanding anak-anak lain. Suatu hari terjadilah apa yang diharapkan. Seorang anaknya yang bernama Elisabeth, telah dapat meningkatkan kepekaan menerima `getaran-getaran' informasi, sedemikian rupa, sehingga terjadilah `fenomena' diluar kenormalan. Anak itu memberikan jawaban atas pertanyaan bapaknya yang belum terformulasi dan menjadi rangkaian kata-kata, dari suatu pertanyaan yang sedang dirancang di Pusat Pikir Silva untuk dicetuskan. Beliau terperanjat dan begitu gembira dengan hasil penemuannya itu, sampai menghubungi Duke University di California, Prof.DR.J.B.Rhine, seorang dekan dari Fakultas parapsikhologi, banyak mengadakan penyelidikan-penyelidikan mengenai fenomena kepekaan mereka yang berbakat diatas keadaan normal. Mereka yaitu para penyelidik fenomena itu, termasuk profesor Rhine, tidak menaruh banyak perhatian pada penemuan yang dikemukakan oleh Jose Silva. Suasana tidak `antusias' tapi dingin-dingin saja, mereka kurang yakin. Kecewa dengan mereka itu, Silva kembali ke kotanya, Laredo. Tapi apa yang dikemukakan mereka di Universitas itu, tidak lepas dari perhatian seorang profesor, bernama Prof.DR.J.W.Hahn, yang lalu menyusulnya ke Laredo. Disitulah ia sejak bertemu kembali dengan Jose Silva dan adiknya Juan Silva menetap dan dari tahun ketahun menarik banyak cendekiawan. Semua sangat kagum dengan kecerdasan Silva yang akhirnya, bersama dengan kawan-kawan cendekiawan yang mendukungnya dan dari universitas-universitas lain, dapat menyelesaikan penyelidikannya itu dengan hasil yang gemilang. Sejak itu, mulai tahun 1966, metode Silva diperkenalkan di Amerika, kemudian ke seluruh dunia. Banyak cendekiawan Universitas mengagumi penemuan Silva itu, yang tak telak lagi, mereka memberikan Jose Silva `predikat' Doctor di dalam ilmu Psychorientology yang merupakan bidang baru didalam ilmu Psikhologi. Bidang itu kini sudah menjadi konvensional karena kemajuan yang diinginkan hanya berdasarkan penemuan mengenai Alam Pikir (Mind) yang diselidiki pada masa lampau oleh Sigmund Freud, Abraham Maslow dan lain-lain, karena terbentur pada suatu keterbatasan dari Ruang dan Waktu yang masih merupakan pendekatan fisik. Pengalaman-pengalaman yang telah dapat dicapai oleh mereka yang junmlahnya telah lebih dari 25 juta alumni diseluruh dunia begitu mengesankan. Bahkan memberikan suatu kesempatan baru bagi setiap manusia untuk berbenah diri dari suatu keadaan yang tak dapat dikendalikan seperti antara lain Emosi, yang selalu menjadi gejolak utama didalam suatu tindakan negatif antara lain pikiran buruk, jahat, bohong, dendam, iri hati, gelisah, ragu-ragu, curiga dan masih banyak yang dapat disebut. Setelah apa yang ditemukan oleh DR.Jose Silva, kini banyak penyelidikan-penyelidikan dilaksanakan oleh mereka yang dahulu tidak percaya pada penemuannya Silva itu. Dengan metode Silva kini telah terbuka suatu pendidikan baru, yang dinamakan pendidikan subyektif. Mengapakah dinamakan demikian? Karena sistimnya akan memberikan cara tuntas untuk menghilangkan kenegatifan yang menjadi pengelolaan otak dan tinggal didalam neuron-neuron otak sejak kecil, remaja, pra-dewasa dan dewasa. Hal itu merupakan fakta yang dapat dialami semua manusia karena adanya kelemahan jiwa yang tak terkendali, bila berada didalam keadaan bangun sadar. Mengapakah hal bangun sadar itu menjadi aktivitas dari `ramuan' masukan yang melanda diri manusia? Pada tingkatan seperti itu, dengan hanya pendidikan intelektual saja, tidak akan mampu membendung sifat- sifat informasi yang melanda manusia berupa provokasi-provokasi negatif. Hanya mereka yang telah terdidik dengan keteguhan iman, yang artinya mampu benar untuk mengendalikan gejolak emosi yang biasanya buruk, dapat membendung dan menetralisirnya. Menurut penyelidikan `team Silva', ternyata hanya 10 % dari penduduk dunia yang seperti itu. Yang 90 % tergantung dari yang disebut tadi. Mengontrol diri sendiri memang masih merupakan kendala besar bagi kebanyakan manusia. Hal itu tidak akan mudah bila kondisi jiwa didalam keadaan frustrasi dan stres. Seperti kita semua telah memaklumi, semua pendidikan pada kondisi bangun sadar, memerlukan masa yang panjang sekali. Rata-rata memerlukan lima puluh persen dari kehidupannya. Apakah masih ada cukup waktu untuk mengisi dirinya dengan pendidikan moral dan etika yang tuntas? Berapa banyak `provokasi negatif' yang ia terima dan dapat melunturkan keteguhan iman, sekalipun diperingati dengan nasehat-nasehat yang mengingatkannya kepada kelemahan-kelemahannya? Kebanyakan diantara manusia tidak sabar menanti hasil dari usahanya dan selalu akan mencoba mencapai sesuatu dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan waktu dan kesempatan wajar dari pengusahaan yang diperlukan untuk dapat menikmati hasil dari uasahanya itu. Hal ini dipacu lagi dengan kemanjaan yang diberikan penemuan-penemuan yang dibuat sedemikian rupa, sehingga manusia tidak perlu mengeluarkan tenaga dan pikiran banyak untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Kehidupan manusia menjadi sangat konsumtif dan tidak kreatif lagi. Kreativitas memerlukan banyak imajinasi yang berkualitas yang dapat ditransfer pada kenyataan dan bukan untuk mendapatkan keberhasilan melalui perhitungan, analisa dan rekayasa. Dengan sistim yang ditemukan oleh Silva, kondisi positif dapat dipacu dengan tuntas, karena pemacuan melalui kondisi bangun sadar tidak akan mungkin dan bila mungkin, akan memerlukan waktu sangat panjang dengan pendidikan satu generasi yang memerlukan waktu paling tidak 25 tahun minimal. Silva menjamin bahwa waktu yang dibutuhkan melalui pendidikan subyektif hanya akan mencapai maksimal satu tahun saja, akan dapat merobah sifat dari negatif menjadi positif. Tetapi bagi mereka yang benar-benar mempunyai motivasi tinggi untuk ingin memperbaiki diri dan mencapai kondisi hidup tanpa masalah, dan mempunyai disiplin, ketekunan dan konsistensi berkualitas melaksanakan pelatihan-pelatihan pengendalian terhadap nirsadar, akan mampu mencapai keberhasilan tuntas didalam hanya enam bulan. Pemeliharaannya akan dirasakan sangat ringan, karena akhirnya hanya satu kali sebulan diperlukan untuk pemeliharaan dari teknik-teknik yang wajib dipelihara untuk menjaga keterampilan yang langgeng. Sudah tentu akan timbul pertanyaan-pertanyaan, bagaimanakah mungkin untuk mengendalikan nirsadar, kata yang baru dari pengertian bawah sadar. Kehidupan manusia terdiri dari kondisi bangun untuk melaksanakan keaktifan apa saja dan istirahat tuntas untuk mengembalikan tenaga yang dipergunakan pada kondisi aktif tadi. Didalam keadaan bangun, manusia mengalami beberapa tingkatan kesadaran terdiri dari kondisi santai, normal aktif, gugup, frustrasi, stres dan panik. Didalam keadaan istirahat tuntas, manusia mengalami beberapa tingkatan ketidak sadaran terdiri dari kondisi pra-tidur, tidur dan tidur lelap. Apakah terjadi didalam kondisi bangun sadar? Manusia mampu menggunakan semua indra yang berfungsi hanya pada keadaan itu. Sampai pada tingkatan normal, diluar santai, manusia dapat melaksanakan usaha apapun untuk mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang produktif. Iapun dapat menanggulangi banyak masalah-masalah melalui sifat berfungsinya Otak Kiri. Bila kini kesibukan-kesibukan itu merangsangnya menjadi gugup, maka produktivitas pada kondisi normal akan pasti berkurang intensitasnya. Jika masalah-masalah yang dihadapinya tidak dapat ditanggulangi, maka kondisi gugup itu akan meningkat kepada frustrasi. Dengan suatu kondisi yang sudah tidak `mulus', akan banyak terjadi hambatan, disebabkan pula, karena penangkapan informasi berupa peristiwa dan kejadian, akan memberikan keterbatasan mengatur pencetusan pikiran secara jernih dan gamblang. Ini akan mengakibatkan kekaburan dari `visi' yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah dan hambatannya. Bertumpuknya masalah ketika waktu terasa makin sempit untuk penanggulangannya, yang pasti diperlukan proses panjang, maka manusia akan terkena kondisi stres. Ini merupakan gejala yang menimbulkan tekanan keras pada sistim pengelolaan keteraturan jalannya `metabolisme' yang akan mengakibatkan penyakit pada organ- organ tubuh. Dengan sendirinya, bila organ-organ tidak bisa bekerja secara teratur dan seimbang, maka hasilnya akan mutlak mempengaruhi penangkapan dari indra-indra fisik. DR. Jose Silva cs. menemukan, bahwa kondisi nirsadar merupakan pondasi kokoh yang positif dan tidak dapat dipengaruhi oleh kejadian dan peristiwa yang terjadi secara negatif. Hal ini merupakan fakta hasil penyelidikan ilmiah statistis yang dilaporkan oleh badan-badan penyelidikan di dunia. Yang banyak mengeritik hasil penyelidikan Silva adalah mereka, yang pada hakekatnya tidak mau percaya, bahwa suatu usaha subyektif positif, akan setingkat dengan usaha yang dibangun atas penelitian dari alternatif-alternatif melalui perhitungan dan analisa cermat. Disitu mungkin saja akan bisa masuk pengaruh rekayasa untuk menjadikan hasilnya `ditanggapi' secara positif, sekalipun sebenarnya negatif atau merugikan. Dari banyak pengalaman akhir-akhir ini, terjadi suatu pendapat, bahwa mereka yang mempunyai suatu pengelolaan negatif pada nirsadarnya, dan timbul pada kondisi `obyektif' atau bangun sadar, tidak merasa nyaman mengikuti pelatihan metode Silva ini. Tetapi banyaknya masalah yang tetap dihadapi pada perjalanan hidupnya, serta harus berusaha keras menutupi kejanggalan-kejanggalan yang timbul dari pengelolaan negatif, akan mengalami kondisi stres seumur hidupnya. Hal itu karena akan selalu berbenturan dengan suatu Hukum Universal yang diCiptakan olehNya yang tak dapat dipengaruhi oleh pikiran manusia, apapun usahanya. Benturan itu merupakan peringatan dan Karma bagi setiap manusia tanpa kecuali. Bila menghadapi suatu masalah, maka hal itu berarti, bahwa manusia telah mengadakan benturan dengan Hukum Universal tadi, juga dapat dinamakan Hukum Timbal Balik Alam. Jelaslah sudah kini, latar belakang dan tujuan penemuan ilmiah esok hari, dapat dilaksanakan saat terkini. Dan semua ilmu pengetahuan mengenai pengembangan dan penggunaan keseimbangan dari otak Kiri dan Otak Kanan akan selalu bertemu dengan sistimnya DR. Jose Silva. Sistim ini tidak dapat ditiru dengan tuntas, karena didalam bidang subyektif akan langsung terkena imbalan benturan dari `Universal Law', karena melanggar ketentuan serta penunjukkan yang dianugerahkan penemuannya oleh Yang Maha Kuasa kepada seorang yang sederhana, mengalami kehudupan sulit dan jauh dari kesombongan, tetapi memimpin mereka yang adalah orang-orang super intelektual yang inteligensianya dibawah beliau. Demikian kenyataan-kenyataan yang sangat diperlukan bagi pengembangan generasi penerus, membangun sumber daya manusia berkualitas dan siap untuk menanggulangi Era Globalisasi yang bahaya terjajah oleh budaya ekonomi akan tidak terelakkan dengan mental bangsa kita pada umumnya. Keterpaduan didalam yang dinamakan programming, akan pasti membawakan hasil yang optimal pada tingkatan apapun didalam maupun diluar organisasi pekerjaan, baik yang sederhana, nasional maupun multinasional. Banyak ilmu-ilmu pengetahuan ditemukan dengan tujuan untuk kesejahteraan umat manusia dan kemanusiaan. Yang menemukannya pada dasarnya memang menginginkan hal itu, tetapi tidak mampu untuk menjaga penyimpangan-penyimpangan yang ditimbulkan oleh pencetusan pikiran ataupun pola pikir dari para penerus yang hendaknya dapat menjamin mempunyai pengendalian dari kejujuran, kebersihan, kemurnian, kebaikan dan kesabaran yang konotasinya akan selalu positif, dengan menggunakan kondisi `Nirsadar'. Bila sumber daya manusia Indonesia mempunyai kriteria seperti itu, maka sudah pasti negara kita akan terhindar dari adanya KKN. Hal itu dapat dinetralisir melalui pendidikan subyektif yang tidak memerlukan waktu lama untuk dapat merobah tabiat dan sifat yang menjadi biang keladi dari kemelut dalam segala bidang. Penulis naskah ini berharap adanya niat dan motivasi tinggi untuk melaksanakan implementasinya di kalangan eksekutif yang nantinya mampu untuk mempengaruhkan kondisi nirsadar didalam lingkungan organisasinya yang akan tumbuh menjadi organisasi teladan. SUMBER: http://www.healthwithhypnosis.com/silva-method-of-mind-control/History%20of%20The%20Silva%20Method.htm
Ada sebuah kisah yang ingin kubagi pada kalian semua. Entah apakah cerita ini benar-benar terjadi atau tidak, tapi yang jelas benar-benar bisa membuat semua orang terkejut. Cerita ini melibatkan pihak-pihak yang sedang memperjuangkan kebebasan Jakarta; kebebasan kota terbesar se-Indonesia ini dari pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruhnya demi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongannya. Orang-orang ini berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang berjuang dengan cara bergabung dengan unsur-unsur yang lekat dengan stigma negatif. Ada yang berjuang dengan cara mencari informasi kesana-kemari dan melabrak lokasi-lokasi penyimpangan sosial. Ada pula yang mencoba berjuang secara lebih ekstrik dengan target membunuh mereka-mereka para power-abuser itu. Dan ada pula yang berjuang secara gigih dengan lagu, musik, dan pendidikan para anak-anak tak berpunya. Kisah mereka kurasa pantas kusharing. Kalian pun bisa mendukung perjuangan mereka di sini. Sebarkan kisah mereka !
Tulisan seorang ensiklopedi geologi berjalan Indonesia
Telah sejak lama Indonesia diminati para ahli geologi. Hal ini tak lepas dari keindahan Nusantara sebagai gugusan kepulauan di wilayah khatulistiwa, seperti kata Multatuli (1860) : ”...een gordel van smaragd die zich slingert rond de evenaar...” (sabuk zamrud yang berjajar sepanjang khatulistiwa)
Kita bisa kutip di sini pendapat-pendapat para ahli geologi yang pernah menekuni geologi Indonesia dan telah menghasilkan karya-karya yang patut menjadi referensi yang baik.
van Bemmelen (1949) : “The East Indian Archipelago is the most intricate part of the earth’s surface…The East Indies are an important touchstone for conceptions on the fundamental problems of geological evolution of our planet…”
Soetarjo Sigit (1962) : “the Indonesian Archipelago : the high mobility of this part of the earth’s crust – young active volcanism, high seismicity and strong gravity anomalies ”
Katili (1973) : “Differences in the geological environment of the various arc-trench systems in Indonesia are responsile for the complexity and discrepancies in the geology between the numerous islands”
Hamilton (1979) : “Indonesia represents an ideal level of complexity for analysis within the framework of available concepts of plate tectonics ”
Hutchison (1989) : “a complex and fascinating region”
Simandjuntak dan Barber (1996) : “The Indonesian archipelago represents an immensely complicated triple junction, involving a complex pattern of small marginal ocean basins and microcontinental blocks bounded by subduction zone, extensional margins, and major transcurrent faults”
Hall dan Blundell (1996) : “SE Asia is probably the finest natural geological laboratory in the world...It is a spectacular region in which the manifestations and processes of plate collision can be observed at present and in which their history is recorded”
Sukamto (2000) : “…Indonesian Region…has proved to be very attractive to the earth scientists…Many earth scientists have attempted to explain the various unique geological phenomena by theories, hypotheses and models ”
Dapat disimpulkan, bahwa geologi Indonesia : indah sekaligus rumit.
Dari segi ilmu kebumian, Indonesia benar-benar merupakan daerah yang sangat menarik. Kepentingannya terletak pada rupabuminya, jenis dan sebaran endapan mineral serta energi yang terkandung di dalamnya, keterhuniannya, dan ketektonikaannya. Oleh sebab itulah, berbagai anggitan (konsep) geologi mulai berkembang di sini, atau mendapatkan tempat untuk mengujinya (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).
Inilah wilayah yang memiliki salah satu paparan benua yang terluas di dunia (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), dengan satu-satunya pegunungan lipatan tertinggi di daerah tropika sehingga bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua), dan di sini pulalah satu-satunya di dunia terdapat laut antarpulau yang terdalam (-5000 meter) (Laut Banda), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan (-7500 meter) (Dalaman Weber). Dua jalur gunungapi besar dunia bertemu di Nusantara. Beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia. Indonesia pun dibentuk oleh pertemuan dua dunia : asal Asia dan asal Australia. Ini mengakibatkan begitu kayanya biodiversitas Indonesia.
Meskipun Indonesia hanya meliputi sekitar 4 % dari luas daratan di Bumi, tidak ada satu negeri pun selain Indonesia yang mempunyai begitu banyak mamalia, 1/8 dari jumlah yang terdapat di dunia). Bayangkan, satu dari enam burung, amfibia, dan reptilia dunia terdapat di Indonesia; satu dari sepuluh tumbuhan dunia terdapat di Indonesia (Kartawinata dan Whitten, 1991). Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropika lainnya. Sejarah geologi dan geomorfologinya yang beranekaragam, dan kisaran ikim dan ketinggiannya telah mengakibatkan terbentuknya banyak jenis hutan daratan dan juga hutan rawa, sabana, hutan bakau dan vegetasi pantai lainnya, gletsyer, danau-danau yang dalam dan dangkal, dan lain-lain.
Salah satu jalur timah terkaya di dunia menjulur sampai di Nusantara, daerahnya mempunyai akumulasi minyak dan gasbumi yang tergolong besar. Meskipun berumur muda, batubara Indonesia yang jumlahnya cukup besar dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tak kalah pentingnya adalah endapan nikel dan kromit yang terbawa oleh tesingkapnya kerak Lautan Pasifik di beberapa wilayah di Indonesia Timur.
Bagian tertentu Indonesia sangat baik untuk dihuni. Ini tidak hanya berlaku saat ini yang memungkinkan orang dapat bercocok tanam dan memperoleh hasil yang baik karena tanah subur dan air yang berlimpah, tetapi juga pada masa lampau, sebagaimana terbukti dengan temuan fosil manusia purba di beberapa tempat di Indonesia. Maka, Indonesia penting dalam dunia paleoantropologi sebagai salah satu pusat buaian peradaban manusia di dunia.
Semua kepentingan dan keunikan geologi Indonesia ini timbul karena latar belakang perkembangan tektonik wilayah Nusantara. Di sinilah wilayah tempat saling bertemunya tiga lempeng besar dunia : Eurasia – Hindia-Australia – Pasifik yang menghasilkan deretan busur kepulauan dan jajaran gunungapi, tanah yang subur, pemineralan yang kaya dan khas, pengendapan sumber energi yang melimpah, dan rupabumi yang menakjubkan (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).
Alasan pencarian mineral dan energi berharga serta kepentingan keilmuan telah sangat memajukan pengetahuan geologi Indonesia.
salam,
Awang Harun Satyana
Assalamu'alaikum,
Untuk diketahui.
Oleh Dr.M.Anjad Khan
Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya adalah mencatat semua me rek barang, makanan dan obat-obatan.
Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran, bahan-bahan produk tersebut harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Badan pengawas Obat dan Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah ilmiah namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141.
Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode matematis tersebut kepada seorang perancis yang berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab " KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA.
Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh Sahib dan dia kemudian mulai mencari tahu kode matematis tersebut dalam dokumen yang ada. Ternyata apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di dunia.
Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak di negara-negara tersebut. Di perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 .
Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. Namun orang eropa dan amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut. Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang; dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah: Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi.
Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak tersebut dan ternyata itu berhasil.
Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi dicantukam dengan nama Pig Fat(lemak babi) pada kemasan produk. Mereka yang sudah tinggal di Eropa selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.
Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang masuk ke negara-negara Islam pada saat itu sehingga menimbulkan defisit perdagangan bagi negara pengekspor. Menoleh ke masa lalu, jika anda hubungkan dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang faktor yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu berbulan-bulan hingga mencapai tempat tujuan sehingga bubuk mesiu yang ada di dalamnya mengalami kerusakan karena terkena air laut.
Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan daging), maka tentara - tentara tersebut menolak berperang sehingga mengakibatkan perang saudara ( civil war ).
Negara-negara Eropa mengakui fakta tersebut dan kemudian menggantikan penulisan lemak babi dalam kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 - an mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam. Oleh karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya, perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah keuangan yang sangat serius karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa mencapai milliaran dolar.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat di banyak produk perusahaan multinasional termasuk pasta gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula, biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis produk makanan & obat-obatan lainnya. Semenjak produk - produk tersebut di atas banyak dikonsumsi oleh negara-negara muslim, kita sebagai masyarakat muslim tidak terkecuali sedang menghadapi masalah penyakit masyarakat yakni hilangnya rasa malu,kekerasan dan seks bebas(kumpul kebo ).
Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode- kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung lemak babi.
E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,E252,E270, E280, E325,E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430,E431, E432, E433,E434, E435, E436, E440,E470, E471, E472, E473, E474, E475,E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492, E493,E494, E495, E542,E570, E572, E631, E635, E904 .
Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada saudara-saurdara kita.
M.Anjad Khan Medical Research Institute United States
taken from DSHnet, semoga bermanfaat
Sabtu, 28 April 2007 | 10:13 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Tim Olimpiade Fisika Indonesia berhasil merebut dua medali emas pada ajang Asian Physics Olympiade VIII yang berlangsung di Shanghai, Cina, 21-29 April 2007. Indonesia mengalahkan Cina dalam bidang fisika eksperimen. Seorang anggota tim A, Muhamad Firmansyah Kasim, meraih peringkat 2 dari 150 peserta. Mengikuti ajang ini, Indonesia mengirimkan 16 pelajar terbaik di bidang fisika, terdiri dari dua tim. Tim A dipimpin Yohanes Surya dan Widagdo Setiawan. Adapun tim B merupakan tim tamu yang didukung Kementerian Koordinator Kesejahtaeraan Rakyat. sumber: tempo

|  | Well...this must be the only world book fair in the world that has no EFFECTIVE AIR CONDITIONER running.
I had one heated discussion about comics in one stand, the air conditioner is barely felt, and so I am sweated.
But then, it's good to see that there are so many books around in one area, outside a bookshop :) |
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Inspiring Teacher Award 2007 adalah salah satu wujud dedikasi Lembaga Pengembangan Insani sebagai jejaring pendidikan Dompet Dhuafa dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional 2007. Inspiring Teacher Award 2007 adalah ajang pemberian penghargaan bagi guru-guru dari seluruh Indonesia yang telah memberikan berbagai inspirasi dalam proses belajar-mengajar. Masyarakat dapat mengajukan guru yang dianggap pantas menjadi kandidat penerima penghargaan Inspiring Teacher Award 2007 dengan memenuhi persyaratan sbb: Syarat Umum: - WNI - Pria atau wanita - Berstatus guru Indonesia Syarat Khusus : - Guru direkomendasikan oleh Kepala Sekolah atau rekan guru atau orangtua siswa - Guru yang mempunyai pendapatan di bawah UMR (slip gaji/ honor bulan terakhir dilampirkan) - Pengalaman mengajar minimal 10 tahun - Usia minimal 30 tahun - Foto copy ijazah terakhir - Pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 2 buah - Fotocopy KTP - Surat keterangan dari sekolah Formulir pendaftaran dan berkas yang diperlukan paling lambat diterima panitia pada tanggal 29 April 2007 Informasi pendaftaran : Ibad (08158115992), Evi (0813 11172100), Willy (081809105125), Yanti (08151682757) atau : LPI Dompet Dhuafa Jl. Raya Parung Bogor Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor 16310 Telp. (0251) 612044, 610818, 610817, Fax. (0251) 615016 www.lpi-dd.net e-mail : panitia@lpi-dd.net Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat dilihat/ download di sini< http://www.lpi-dd.net/award.pdf>(pdf81.3 kb) atau di sini< http://makmal.pendidikan.googlepages.com/InspiringTeacherAward2007.pdf>(pdf48.3 kb) Formulir pendaftaran dapat dilihat/ download di sini< http://makmal.pendidikan.googlepages.com/FormulirInspiringTeacheraward.doc>(worddoc 68.8 kb) Poster kegiatan dapat dilihat di sini< http://makmal.pendidikan.googlepages.com/poster_INSPIRING_teacher.pdf>Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Panitia Inspiring Teacher Award 2007
Mencermati kasus peredaran film porno amatir yang dibuat dengan berbagai peralatan kamera dan Handphone setahun belakangan ini, kami dari komunitas Video Film Mania, TV Lab Communications dan Komunitas Penulis Tangguh menggelar kampanye via internet berjudul
"ANAK MUDA INDONESIA : JANGAN BUGIL DIDEPAN KAMERA!"
Disinyalir terdapat 500 lebih cuplikan film porno yang menggambarkan hubungan sex orang-orang Indonesia yang dibuat dengan menggunakan Handphone dan Video Kamera. 90% adegan cuplikan film porno dilakukan oleh anak muda SMA dan Mahasiswa. 8%nya berasal dari rekaman prostitusi, para pejabat pemerintah (DPR dan Pegawai Negeri). 2%nya adalah cuplikan kamera pengintai yang mengambil gambar para wanita-wanita muda yang sedang bugil tanpa sadar di toilet ataupun di kamar hotel.
Perkembangan teknologi kamera Handphone ternyata berefek buruk. 500 lebih cuplikan film porno dibuat para pelakunya atas dasar senang-senang, tidak sengaja dan sebagian dijadikan alat kejahatan (rekaman perkosaan, penistaan, pelecehan).
Hal ini menjadi fenomena gunung es. Jangan-jangan, jumlah cuplikan film porno yang dibuat anak muda Indonesia telah mencapai ribuan klip? Jangan-jangan, anak muda kita tidak sadar bahaya yang mengancam, yang semula hanya iseng dan main-main, berubah menjadi mimpi buruk yang kelak akan menghancurkan masa depan mereka?
Tentunya tidak dengan menggunakan kotbah dan himbauan yang tidak mempan masuk ketelinga Anak muda. Jalan alternatif dan ampuh untuk menghentikan atau mengurangi peredaran dan pembuatan film porno amatir buatan anak muda Indonesia adalah dengan cara melakukan janji bersama, SUMPAH bersama untuk tidak BUGIL di depan KAMERA!
Maka , bila Anda mempunyai anak, teman atau Anda sendiri yang senang bereksperimen dengan kamera (baik Handphone kamera maupun Handycam Camera) mari bersama mengucapkan janji dibawah ini :
"DEMI MASA DEPAN KITA DAN INDONESIA YANG LEBIH BAIK, KAMI BERJANJI, TIDAK AKAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!"
(Janji ini telah dimulai sebagai sebuah gerakan pada bulan Januari 2007, disebuah acara diskusi kuliah bersama mahasiswa FISIKOM UPN Jogjakarta. Embrio gerakan ini berusaha menyebarkan pesan untuk tidak terjebak dalam arus pornografi)
Ajak teman, saudara, anak, ayah, ibu dan siapa saja untuk mengucapkan janji di atas. Stop penyebaran dan pembuatan cuplikan film porno Indonesia. Selamatkan Generasi kita. Selamatkan Anak Muda Indonesia!
Salam
Sony Set 0818 936 046
Adi Prasetyo 0813 929 820 71
TV Lab Communications Indonesia
Suatu sore di sebuah kampung sekelompok ibu-ibu berkerumun sedang belanja sayur sambil ngobrol seru, nampak wajah mereka sangat serius. Asyik sekali.. pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron. Namun dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal sekali, diam-diam saya mendekat bukan maksud mau nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang sedang dibicarakan.
Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin tayangan berita sebuah stasiun TV tentang kasus penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit petikan pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para "pengamat berita" ini....
" tuh kan apa gue bilang IPDN itu, Institut Penganiayaan Dalam Negeri... ! masak anak orang dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang nggak jelas, dasar gak tau diri !".
" Bukan nyak tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam Negeri..!" sahut ibu penjual sayur tak mau kalah.
"Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu ntar kalo udah jadi pejabat pasti jadi diktator, makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan Diktator Negara..!" seru ibu yang sedari tadi bolak balikin sayur bayam.
" Betul juga jeng Neni tapi saya paling gak suka sama kelakuan mereka yang suka maen keroyok kalo berani kenapa gak satu lawan satu tuh kayak di pilem koboy makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen Ngeroyok..!! " seru ibu gendut itu gemas sambil membanting labu siam diantara sayur yang makin berserakan.
"Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan Praja Doyan Nonjok ...!" sambar bu RT sambil bersungut-sungut.
"IPDN, Injak Pukul Dorong Nah ... mati..!! celetuk ibu bertubuh kerempeng itu sambil praktekkan gaya silatnya.
"Inginnya Pendidikan Dapetnya Nisan nah itulah IPDN kasihan orang tua yang udah susah payah kirim anaknya kesana pulang-pulang bikin batu nisan... !!" tukas bu Neni makin kesal.
" Yang kayak gini neh pasti kerjaan para pejabat yang gak punya tanggung jawab dan wawasan kebangsaan, mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan pengawas tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok didiemiin aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar budaya pejabat junior harus takut dengan senior tetap hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong kali ya ? namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana Negara", sahut ibu setengah baya berkerudung itu.
"Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita.. pantas aja korupsi gak habis-habis wong mentalnya aja udah kayak mafia.
Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja tergopoh-gopoh keluar dari kerumunan menuju kearah rumah bu RT, sambil iseng saya pun bertanya, "nek kalo menurut nenek IPDN itu apa ?".
Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak, "Ingin Pipis Dulu Nak .....!!".
| |