The Highly Energetic Hyperbolic Indonesian Person

Eko's posts with tag: education

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag education
Sepertia biasa, nyolong dari milis:

 





 
All,
 
Artikel ini cukup bagus untuk menjadi renungan anak-anak muda negeri ini.
 
Wasalam.
 
Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar 
Oleh Saratri Wilonoyudho * 

Kasus tertipunya sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogjakarta oleh ''proyek" blue energy cukup menyedihkan. Sialnya, yang mengerjai perguruan tinggi tersebut adalah orang biasa. Bukan sarjana. Buntut kasus itu adalah mundurnya sang rektor. 


Kasus tersebut boleh jadi menunjukkan sepinya ilmuwan yang berkaliber serta sedikitnya karya-karya monumental yang lahir di negeri ini. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat, bahkan untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri !


Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson, adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.


Di tengah sepinya karya-karya besar, demo-demo yang dilakukan insan perguruan tinggi berubah menjadi anarkis. Selanjutnya, perguruan tinggi kita hanya terlibat dalam soal-soal sepele layaknya seorang pedagang. Mahasiswa bagaikan si pembeli dan perguruan tinggi bagai sang penjualnya. Transaksi ijazah berlangsung untuk mengejar pekerjaan belaka tanpa transfer keilmuan yang berarti. Itu tidak terjadi di level strata satu, namun juga sudah sampai level strata dua, bahkan strata tiga.


Negeri ini pernah memiliki pemikir besar yang mampu berbicara dalam skala global. Orang biasa menyebut jenis pemikir tersebut adalah generalis. Orang itu adalah almarhum Soedjatmoko yang juga pernah menjabat rektor Universitas PBB di Tokyo. Soedjatmoko menebar ide-ide besar tentang teori pembangunan, sosial, strategi budaya, pendekatan kewilayahan, dan sebagainya. Lawan seorang generalis adalah seorang spesialis.


Tampaknya, dunia spesialis itulah yang kini dianut perguruan tinggi kita. Ketika seseorang menulis artikel atau penelitian ilmiah, pasti yang ditanya adalah apa latar belakang keahliannya. Seorang ilmuwan teknik yang mencoba menulis masalah-masalah sosial akan ditolak lembaganya. Padahal, sang ilmuwan teknik tadi menulis ilmu sosial justru untuk mendukung temuan teknologinya.


Demikian pula, salah satu syarat yang dibutuhkan seseorang dosen untuk menjadi profesor adalah ''linieritas" basis ilmunya sejak S-1, S-2, dan S-3. Alangkah monotonnya jika dalam jurusan teknik, keahlian yang diambil melulu teknik belaka, sementara yang mencoba ''mengawinkan" dengan ilmu sosial, kependudukan, lingkungan, dan seterusnya ditolak gara-gara dianggap ''murtad" atau tidak linier.


Sepi Ide-Ide Besar 

Akibatnya, kini perguruan tinggi kita sepi dari pemikiran-pemikiran besar yang komprehensif untuk menjawab permasalahan bangsa. Benar bahwa spesialisasi juga perlu, namun jika para spesialis tersebut bagai katak dalam tempurung dan tenggelam dalam ''ilusi limiah" atau arogansi ilmiah masing-masing, apa jadinya masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa?


Buktinya, masalah ''sepele" seperti mahalnya kedelai, sampah, banjir, dan anarkisme pilkada juga tidak terselesaikan, meski banyak doktor spesialis masalah tersebut. Mengapa tidak terselesaikan? Sederhana saja, masalah yang kelihatannya berdiri sendiri sebenarnya berada dalam persoalan sistem besar yang saling terkait. Kalau para spesialis tidak saling ''menyapa", bagaimana mungkin masalah besar akan teratasi?


Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyebut istilah ''sarjana fakultatif" dan bukan sarjana ''universal", meski nama lembaga yang dimasukinya bernama universitas. Jurusan atau fakultas tenggelam dalam dunianya masing-masing. 


Di titik itu pula, saya lantas ingat kata Lord C.P. Snow dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow mengkritik polarisasi dua jenis cendekiawan di Inggris saat itu, yakni dari kalangan humaniora dan ilmu pengetahuan murni.


Kalangan humaniora mengatakan ukuran kecendekiawanan ditentukan seberapa jauh seseorang mampu memahami karya sastra yang berbobot, sedangkan arogansi cendekiawan ilmu alam mendasarkan seberapa jauh seseorang mampu memahami hukum massa, termodinamika, energi, dan sebagainya. Mereka tidak saling menyapa.


Bagi Snow, tujuan pertama pendidikan adalah bagaimana menghasilkan ilmuwan supra cum laude sebanyak-banyaknya. Kedua, melatih ilmuwan agar dapat menjalankan penelitian-peneliti an yang diperlukan, membuat rencana-rencana tingkat tinggi dan pengembangan.


Ketiga, melatih beribu-ribu ilmuwan dan ahli teknik lainnya. Keempat, melatih politikus, pegawai, dan masyarakat untuk mengerti ilmu pengetahuan agar bisa memahami apa yang dibicarakan kaum ilmuwan.

Sederhana saja alasan mengapa hal tersebut di atas perlu dilakukan. Ilmu dan teknologi adalah know-how (keterampilan teknis). Know-how adalah cara tanpa tujuan, suatu potensi, suatu kalimat tidak lengkap. Know-how bukanlah sebuah kebudayaan. Karena itu, tugas perguruan tinggi adalah menyebarkan ide, tata nilai mengenai mau apakah kita dengan hidup ini. 


Know-how juga perlu, namun itu soal kedua. Sebab, gegabah sekali menyerahkan kekuasaan besar kepada rakyat dan birokrat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mereka tahu apa yang harus diperbuat dengan know-how tersebut. 


Science hanyalah masalah praktis dan tidak bisa digunakan untuk menafsirkan dunia dalam konteks besar yang terdiri atas berbagai persoalan spesifik yang saling terkait dan bertingkat. Masalah banjir Jakarta, impor kedelai, bencana alam, anarkisme, dan sebagainya memerlukan pemikiran besar dan pendekatan kewilayahan komprehensif. 


Kalau masing-masing ''spesialis" tidak saling menyapa, masalah besar tersebut juga tidak akan terselesaikan. 

* Saratri Wilonoyudho, dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang



.
--
Visit http://www.strivearth.com and be entertained


Blog EntryTipu Tipu TipuMar 6, '08 11:03 PM
for everyone
[ppi-uk] penipuan melalui pemeringkatan PTN-PTS?

kawan-kawan,

saya meneruskan email dari Rektor ITS di bawah.
mohon dicermati. sungguh memprihatinkan.

salam,
y
-------------------

"BUBLE INFORMATION" MARKETING "PTS KONGLOMERAT" SUATU BENTUK PENIPUAN BARU
Prof.Ir. Priyo Suprobo, MS., PhD
Rektor ITS dan Tim Akreditasi PT-DIKTI
e-mail : rektor@its.ac.id <mailto:rektor@its.ac.id>

Majalah Globe Asia, sebuah majalah baru dengan positioning untuk
eksekutif bisnis yang diterbitkan oleh kelompok Lippo, pada edisi
Pebruari 2008 membuat pemeringkatan PTN dan PTS. Hasilnya adalah cukup
mengagetkan, dimana UPH (Universitas Pelita Harapan) , yang juga
dimiliki oleh kelompok Lippo, mengalahkan ranking PTN-PTN terkemuka
maupun PTS-PTS terkemuka di Indonesia. Sebagai contoh, total score UPH
(356) "diposisikan" mengalahkan 5 besar PTN seperti UGM (338), ITB
(296), IPB (283), UNAIR (279), dan ITS(258). UPH juga "diposisikan"
mengalahkan PTS terkemuka seperti TRISAKTI (263), ATMAJAYA (243), UNPAR
(230), dan PETRA (151).

Sebagai seorang akreditor Perguruan Tinggi yang telah bertahun-tahun
mengakreditasi kebanyakan PTN maupun PTS, termasuk pernah mengakreditasi
UPH dan Perguruan Tinggi lain sebagaimana yang disebutkan diatas, maka
saya merasa aneh dengan "pemosisian" ranking oleh Globe Asia tersebut.
Keanehan pertama, Globe Asia menggunakan kriteria-kriteria yang meskipun
"mirip"dengan lembaga pemeringkat Internasional, tetapi member "bobot"
yang berbeda. Sebagai contoh, fasilitas kampus diberi bobot 16%,
sementara kualitas staff akademik (Dosen) hanya dibobot 9%. Lebih parah
lagi, kualitas riset hanya dibobot 7%. Keanehan kedua adalah sub
kriteria dari fasilitas kampus misalnya tidak memasukkan kapasitas
bandwidth sebagaimana standar akreditasi yang ada. Keanehan ketiga
adalah sistem membandingkan yang tidak berbasis kaidah logis dasar
"apple to apple" (kesederajatan).

Bila kita menilik standar akreditasi, maka ada akreditasi dalam negeri
oleh DIKNAS (BAN PT), regional asia (Asia University Network, AUN),
maupun sistem akreditasi pemeringkatan dunia (THES, Jiao Tong, Webbo).
Akreditasi dalam negeri, regional, maupun dunia menggunakan
kriteria-kriteria dan KPI (Key Performance Indicator) yang "logis secara
akademis". Artinya adalah bahwa kriteria tersebut (meskipun bervariasi)
adalah memang benar-benar akan menunjukkan "jaminan mutu" dari input,
proses, sarana pendukung, hingga outcome produknya. Tidak ada dari
kriteria dan sub kriteria yang hanya menunjukkan keunggulan "kemewahan
lifestyle" sebagaimana yang ingin ditonjolkan dalam hasil Globe Asia
Ranking. Demikian juga halnya dengan membandingkan antara Universitas
dengan Institut yang nature kriterianya pasti berbeda, misalnya di
Institut teknik manapun tidak ada yang mempunyai Fakultas Hukum dan
Fakultas Kedokteran sebagaimana sub kriteria ranking yang dibuat Globe Asia.

Dengan demikian, maka ranking yang dilakukan Globe Asia akan menjadi
suatu bentuk "penipuan" informasi yang bersifat "buble" kepada publik,
khususnya orang tua mahasiswa dari kalangan eksekutif sebagai target
pasar majalah tersebut. Penipuan ini menjadi meluas ketika dirilis
secara "tidak kritis" oleh koran Suara Pembaruan, 29 Januari 2008.

Mungkin fenomena seperti ini adalah akibat dari komersialisasi
pendidikan di Indonesia. Pendidikan, khususnya Pendidikan Tinggi, telah
menjadi komoditas yang "empuk" untuk menaikkan status sosial pemilik
hingga meraup keuntungan yang besar. Ditangan para pesulap bisnis, maka
pendidikan juga dikelola dengan image "Lifestyle" (gaya hidup), bukan
dengan image "Qualistyle" (gaya kualitas). Mereka menyusun ranking
sesuai dengan "Strength" yang dimilikinya, sekaligus menyembunyikan
"Weakness" yang seharusnya menjadi kriteria akreditasi. Akibatnya adalah
bahwa segala cara akan dilakukan yang penting target meraih mahasiswa
selama periode marketing setiap awal tahun (Pebruari sampai Juli) mampu
dicapai dengan memuaskan.

Buble informasi yang dilakukan Globe Asia untuk menaikkan citra UPH
tersebut secara langsung akan mengganggu citra beberapa PTN maupun PTS
yang dikelola dengan kaidah jaminan mutu yang baik. Sebagai gambaran,
sistem Webbo Rank (Juli 2007) yang merupakan sistem akreditasi dunia
pada penekanan kriteria kerapihan manajemen data menempatkan PTS
terkenal di kawasan Timur, yaitu Universitas Petra dalam ranking ke 49
Se Asia Tenggara, UGM dan ITB adalah ranking ke-12 dan 13. Dalam
Webbo rank Juli 2007 itu tidak ada kelas ranking UPH, padahal webbo rank
adalah sistem dunia yang dianggap "paling sederhana".

Oleh karena itu, maka sudah saatnya pemerintah sebagai regulator
bersama-sama dengan masyarakat untuk secara aktif mengawasi pola
komersialisasi pendidikan yang dampaknya menggunakan cara-cara tidak
"fair"dalam rangka merekrut mahasiswa. Hasil kerja dari Badan Akreditasi
Nasional (BAN) yang membuat 15 standar penilaian antara lain: tata
kelola kepemimpinan, fasilitas lab, alumni, jumlah Guru Besar (tidak
perlu harus expert asing), rasio Dosen dengan Mahasiswa, prestasi
Mahasiswa, hingga rasio antara jumlah peminat dengan yang diterima
adalah merupakan kriteria yang sangat lengkap untuk menunjukkan daya
saing suatu Perguruan Tinggi.

Daya saing pendidikan tinggi sebagaimana yang diamanatkan dalam konsep
strategis HELTS DIKTI (Higher Education Long Term Strategy) haruslah
dicapai dengan sistem penjaminan mutu yang benar, sehingga hasilnya bisa
dilihat salah satunya dengan criteria akreditasi yang logis secara
akademis, bukan logis secara pendekatan bisnis. (PS)


Blog EntryHati-hati Makanya!Jan 23, '08 8:03 AM
for everyone
Amerika, sebagai negara adidaya pengkreasi berbagai macam ide nyeleneh untuk mendapatkan uang,
memojokkan dirinya sendiri ketika salah satu ide itu memberikan hasil yang negatif:
Memberikan utangan pada orang-orang yang susah bayar utang,
dengan jaminan rumah yang "dijamin harganya pasti naik",
sehingga banyak orang yang menjadikan rumahnya "ATM" dan mengutang sana-sini.
Ketika orang-orang itu tidak bisa bayar utang,
apa yang terjadi?
Sebelum menjawab, bagaimana kalau ternyata pengutang menawarkan "paket investasi" kepada para investor,
dan yang dijual adalah "surat penagihan hutang" yang berkaitan dengan "hutang rumah ajaib" itu.
Intinya: dari ngutangin ke debtor tukang ngemplang, si kreditor mengharap untung; dan dari hasil bulshitting bahwa "surat penagihan hutang" itu akan menjadi surat sakti, dia berharap untung juga.
Dan ketika banyak debtor yang gak bisa bayar utang karena ternyata "harga nilai taksiran rumah" sudah mentok,
apa yang terjadi?
Kredit macet,
kreditor gagal dapet untung,
investor "surat penagihan hutang" merasa tertipu dan meminta uangnya kembali,
dan para investor itu, karena rugi di perjudian hutang-menghutang ini, mencoba membullshit yang lain supaya mendapat untung dengan "memompa" harga-harga komoditas: emas, minyak, kedelai, jagung, gandum, perak, gas bumi. Kalau harga diri bisa mereka kalkulasikan dan mereka modelkan, pasti akan ada "Human-Worth Futures" trading di bursa derivatif mereka!
Jadi semua ini terjadi karena para financial warriors merasa mereka mempunyai jurus jitu untuk menaklukkan gunung keuntungan!
Udah tahu belum, bahwa Amerika pernah resesi di tahun 30-an?
Dan udah tahu belum penyebabnya apa?
karena pada tahun-tahun itu, pasar modal berkembang luar-biasa,
sehingga banyak orang ngutang ke bank supaya bisa beli saham;
dan ketika harga saham mentok karena para broker kehabisan bahan buat membullshit,
maka semua orang menarik investasinya dan berharap bisa mengambil profit;
lalu runtuhlah bursa saham;
dan banyak yang gak bisa bayar hutang ke bank.
Oh ya, hutang ke bank buat beli saham itu namanya "Margin Trading"
Mau tahu satu lagi teknik trading? Short Selling: Lu minjem saham ke broker, jual tuh saham dan berharap harganya turun (!) lalu beli lagi di harga rendah, n balikin lagi sahamnya ke broker!
Banyak broker di sini, n gw yakin pasti cuman pada diem ngeliatin e-mail gw ini;
soalnya kalo ngebullshit di sini juga percuma,
soalnya Dow Jones akan terus terjun sampe 10000 (!)meski Bernanke, Alan Greenspan, n Jim Cramer ngebullshit macam apa pun (apalagi si pandir yang tinggal di Gedung Putih)
saatnya beli reksadana nantinya!
















LinkMarketiva - Forex and Funds Training GroundAug 20, '07 7:11 AM
for everyone
Link: http://tinyurl.com/e4jf3

For those who loves to know the feeling of the legendary forex battlegrounds, you can feel the heat in here!

Real US$ 5 and Virtual US$ 10000 for training and learning the ropes of Forex and Funds worlds!

This is a beautiful story
An old American Muslim lived on a farm in the
mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning
Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Quran. His
grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every
way he could. One day the grandson asked, "Grandpa! I try to read the
Qur'an just like you but I don't understand it, and what I do understand
I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur'an
do?" The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and
replied, "Take this coal basket down to the river and bring me back a
basket of water." The boy did as he was told, but all the water leaked
out before he got back to the house. The grandfather laughed and said,
"You'll have to move a little faster next time," and sent him back to
the river with the basket to try again. This time the boy ran faster,
but again the bas ket was empty before he returned home. Out of breath,
he told his
grandfather that it was impossible to carry
water in a basket, and he went to get a bucket instead. The old man
said, "I don't want a bucket of water; I want a basket of water. You're
just not trying hard enough," and he went out the door to watch the boy
try again. At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted
to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the
water would Leak out before he got back to the house. The boy again
dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his
grandfather the basket was again empty. Out of breathe, he said, "See
Grandpa, it's useless!" "So you think it is useless?" The old man said,
"Look at the basket." The boy looked at the basket and for the first
time realized that the basket was different. It had been transformed
from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out. "Son,
that's what happens when you read the Qur'an. You mi ght not understand
or remember everything, but when you read it, you will be changed,
inside and out. That is the work of Allah in our lives.
" If you feel this email is worth reading,
please forward to your contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h)
says: "The one who guides to good will be rewarded equally"



Blog EntryPatok Malaysia Masuk Wilayah RIJul 20, '07 5:31 AM
for everyone

BALIKPAPAN - Garis batas Indonesia dengan Malaysia di Tanjung Datu, Kalimantan Barat, bergeser. Indonesia kehilangan tanah 648 ribu meter persegi atau 64,8 hektare yang kini berada di wilayah Malaysia.

Di lihat dari luas, wilayah yang hilang akibat pergeseran patok perbatasan yang diduga dilakukan negeri jiran itu tidak terlalu besar. Namun, karena letaknya yang strategis di pinggir pantai, itu sangat merugikan kedaulatan NKRI karena konsekuensinya akan mengubah zona ekonomi eksklusif (ZEE) di wilayah laut.

Pangdam VI/Tanjungpura Mayjen TNI G.R. Situmeang kepada Kaltim Post (Grup Jawa Pos) mengungkapkan, pada pengecekan ujung Pantai Tanjung Datu, Kalbar, ditemukan patok Malaysia yang masuk wilayah Indonesia dengan kode SRTP 01 (Serawak Topografi 01). Patok itu berada pada koordinat 02 ?04' 53,8" Northing dan 109 ? 38' 41,8" Easting. Itu tak sesuai dengan patok bersama Indonesia-Malaysia kode A1 yang berada pada koordinat 02 ? 04' 52,8" Northing dan 109 ? 38' 41,7" Easting. Dengan begitu, terjadi selisih 1 detik dan 30 meter di wilayah Indonesia. Selisih itu bila ditarik ke darat 648 ribu meter persegi.

Jika patok SRTP 01 dibiarkan, itu berpotensi digunakan sebagai titik referensi (base point) dalam peta laut oleh Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM). Akibatnya, hal tersebut akan merugikan laut teritorial Indonesia. Bila ditarik dari batas pantai, wilayah Indonesia bakal hilang 200 meter. Dan, bila ditarik lagi ke zona ekonomi eksklusif, habislah wilayah Tanjung Datu. "Yang pasti, wilayah kita di Tanjung Datu akan hilang 648.000 meter persegi," ujar jenderal bintang dua itu.

Tak hanya soal tapal batas, Pangdam juga memaparkan pembalakan liar di wilayah Kaltim. Misalnya, di Gunung Lasantuyan, Desa Long Apari, Kutai Barat (Kubar). Cukong-cukong kayu Malaysia, kata dia, bergerilya memengaruhi masyarakat untuk melakukan illegal logging. Warga setempat mau saja mengejar rupiah dengan jalan itu karena menyangkut kesejahteraan dan keterbatasan infrastruktur.

Hasil hutan diduga dijual ke pabrik kayu yang letaknya secara administratif masuk wilayah Malayasia. Yakni, antara Gunung Lasantuyan dan pabrik kayu hanya dibatasi sungai. "Jika di wilayah Malaysia sudah tidak ada kayu hutan yang bisa ditebang, ke mana lagi kalau tidak mencari kayu dari Indonesia," ungkapnya memperlihatkan gambar-gambar melalui slide.

Gunung Lasantuyan yang lokasinya memakan waktu satu jam terbang dengan menggunakan helikopter dari Long Apari, Kutai Barat, itu tidak bisa didarati pesawat. Bahan makanan untuk pasukan yang menjaga di garis perbatasan dilakukan dengan cara dilemparkan dari helikopter, sedangkan pasukan bergerak dengan berjalan kaki.

Hasil patroli terbaru yang dilakukan anggota Kodim 0906/Tenggarong di patok DU 387 dan 384 juga sudah bergeser. Bahkan, ada dua patok yang disatukan dan digeser masuk wilayah Indonesia. Di lokasi yang digeser patoknya itu digunakan untuk jalan logging milik perusahaan Malaysia.

Menurut Pangdam, ada dua persoalan penting di perbatasan yang harus segera diselesaikan. Pertama, ketertinggalan masyarakat di perbatasan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Kedua, masalah perbatasan dengan negara tetangga.

"Persoalan perbatasan yang berkaitan dengan kedaulatan NKRI bukan hanya di Laut Ambalat. Ada sepuluh titik perbatasan yang bergeser masuk ke wilayah Indonesia. Masalah bergesernya patok itu sudah saya laporkan ke pusat," kata Situmeang kemarin. (bs/bir)




SAYA membaca beberapa baris biografi Einstein. Ia berbaring di padang
pasir dan tiba-tiba memperoleh ide tentang teori relativitas. Ia
meloncat, berhitung, hingga akhirnya menuliskan rumus mc2 yang
terkenal itu.

Pada biografi yang lain, tentu pada zaman yang berbeda, Thomas Alfa
Edison memilih keluar dari sekolah formal, lalu berkutat di
laboratorium fisika milik ibunya. Dan pada suatu hari ia melompat
kegirangan ketika bola kacanya berpijar.

Saya tidak tahu persis bagaimana hubungan antara simpoa (alat hitung
tradisional Cina) dengan Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, atau
para jenius dan pencipta lain. Namun, Soroban Indonesia Mental
Aritmatika (Sima)-sebuah lembaga pendidikan nonkurikulum-mengetahui
hubungan itu.

''Otak kanan para pencipta dan jenius lebih sering bekerja. Karena
itu, mereka lebih banyak mencipta karena selalu berpikir tentang
kreativitas, bukan hafalan.''

Kalimat itu datang dari Dr Ir FB Soesanto Soebekti, Ketua Yayasan
Sima di Jalan Seroja Dalam 9 Semarang. Tentu saja, sedikit banyak,
kalimat itu berbau promosi. Namun, tidak ada salahnya mendengar
penjelasannya soal simpoa dan otak kanan tersebut.

''Hampir semua sekolah formal di Indonesia memiliki pola pendidikan
yang lebih menekankan penggunaan otak kiri. Artinya, banyak orang
yang berpola pikir eksak; serbahitungan dan kaku."

Pola pendidikan seperti itu, lanjut dia, tidak banyak melahirkan
orang-orang kreatif . ''Karena itu, Indonesia jarang melahirkan para
pencipta dan kreator. Sumber daya manusia (SDM) kita rendah.''

Nah, warna promosi itu ada di sini. ''Pendidikan di Yayasan Sima
lebih mengefektifkan penggunaan otak kanan. Kami membantu para siswa
untuk menumbuhkembangkan potensi otak kanan,'' tutur Soesanto.

Laki-laki yang memiliki 89 cabang Sima di seluruh Indonesia itu
menyebut simpoa sebagai salah satu media untuk melatih kerja otak
kanan tersebut.

''Metode ini sebenarnya ditemukan di Cina, tetapi Cina sendiri kini
tertinggal dibandingkan dengan Indonesia."

Namun, simpoa bukan hanya milik Yayasan Soroban. Jika Anda melintas
di ruas Jalan Majapahit, misalnya, banyak ditemukan pendidikan
nonkurikulum yang hampir serupa. Satu jenis pendidikan di luar
sekolah formal yang konon bisa membuat cerdas dan jenius bagi anak-
anak usia 4-14 tahun.

Media Simpoa

Terlepas dari mujarab atau tidaknya metode itu, bagaimana sebenarnya
cara simpoa menjadikan anak-anak cerdas dan jenius-setidaknya jika
promosi itu benar?

Menurut pendapat Soesanto, simpoa sebenarnya hanya media dalam metode
pendidikan mental aritmatika. Metode tersebut sebenarnya memiliki
dasar yang sama dengan matematika, yakni berhitung. Hanya, simpoa
tidak memberikan teknik menghafal seperti dalam matematika.

Dia menjelaskan, dalam matematika, 12 x 3 dihitung dengan cara
menyusun angka-angka, sehingga pada akhirnya anak-anak bisa
menghafal. Dalam simpoa, penghitungan dilakukan dengan cara menaikkan
atau menurunkan manik-manik (biji simpoa).

Saya, terus terang, belum paham benar dengan penjelasan itu.
Akhirnya, Soesanto menunjukkan selembar daftar deret hitung dan
memanggil seorang siswanya, Oka Dimas Hokka Pratama.

Saya diminta menyebutkan dua angka (masing-masing di lajur atas dan
kiri), setiap lajur selalu bertemu dengan sederet bilangan. Misalnya
(secara acak), angka 8 dan 9 bertemu pada angka 2409, kemudian 1 dan
2 pada 1654 dan seterusnya.

Saya agak heran ketika menyebut angka secara acak, Hokka bisa
menebak ''angka pertemuan'' itu dengan benar. Saya coba menyebut
lagi, mengulang pasangan angka yang berbeda, dan jawabannya lagi-lagi
benar.

''Saya tidak menghafal, tapi tahu,'' kata Hokka enteng.

Rasanya memang tidak mungkin menghafal deret angka sebanyak itu (81
deret, tiap-tiap deret terdiri atas empat angka!).

''Jika Anda tidak mengikuti pendidikan dasar mental aritmatika, Anda
tidak bakal mengerti,'' kata Soesanto, seperti tahu keheranan saya.

Sekadar catatan, sebagai siswa Sima, Hokka yang masih duduk di kelas
II SLTP Maria Mediatrix itu telah memperoleh penghargaan dari Muri
untuk dua rekor. Yakni, menghitung cepat melebihi kalkulator dan
kemampuannya menebak dengan tepat tahun, weton, tanggal dan hari
lahir seseorang tanpa harus melihat atau bertemu dengan orang yang
bersangkutan.

Namun, kata Soesanto, tidak berarti bahwa seluruh siswa Sima memiliki
kecerdasan seperti Hokka. ''Ibarat tim sepak bola, tidak semua
pemainnya bisa seperti Ronaldo, Beckham, atau Zinedane Zidane. Semua
bergantung pada latihan dan bakat mereka.''

Menuju Jenius

Pendidikan mental aritmatika tersebut secara umum memiliki tiga
tingkatan. Pertama, kelas dasar (basic) yang terdiri atas delapan
level. Lama pendidikan tiap-tiap level tiga bulan.

Tingkat kedua adalah kelas superlevel dengan empat level yang bisa
ditempuh selama setahun, dan terakhir megalevel yang terdiri atas
empat tingkatan dengan lama pendidikan setahun. Biaya tiap-tiap level
Rp 240.000, sedangkan biaya pendaftaran Rp 30.000.

Saya sempat bertanya, apakah mereka, para siswa itu (anak-anak usia 4-
14 tahun) tidak merasa terbebani, karena siapa tahu mereka masuk ke
sana bukan atas kemauan sendiri, tapi desakan orang tua misalnya?
Sebab, siapa tahu, mereka lebih memilih bermain sepeda, bola,
playstasion atau video game dibandingkan dengan mengutak-atik formula
simpoa?

Saya memang tak bisa mengukur secara pasti kejujuran jawaban mereka.
Namun, ketika saya tanyakan hal itu kepada enam siswa, semuanya
menjawab tidak masalah. Bahkan, mereka senang karena mendapatkan
sesuatu yang tidak ada di sekolah (formal) mereka.

Tentang hal ini, Soesanto juga beberapa pengelola sekolah serupa
menyatakan, belajar mental aritmatika harus enjoy. Bahkan, jika
mereka menemukan siswa yang ogah-ogahan, mereka akan menanyakan
kembali komitmen itu baik kepada anak maupun orang tua.

''Kami juga tidak mau jika ada siswa yang merasa terpaksa dan
terbebani. Kondisi itu tidak akan membantu mereka, justru merusak
mental."

Lantas apa pengaruh belajar mental aritmatika dengan prestasi di
sekolah misalnya?

Dari data di Yayasan Sima, lebih dari 75% siswa (14.000 di seluruh
Indonesia) memiliki grafik prestasi sekolah yang meningkat. Bahkan,
menurut pengamatan Soesanto, ada beberapa siswa yang ingin keluar
dari pendidikan formal karena merasa jenuh menghafal pelajaran.

''Namun, tentu bukan kondisi seperti itu yang ingin kami ciptakan.
Bagaimanapun, pendidikan formal masih perlu, setidaknya di
Indonesia.''

Hanya, masih menurut pendapat Soesanto, dibandingkan dengan
memasukkan anak ke kursus-kursus eksak, seperti matematika, fisika,
dan kimia misalnya, lebih baik membawa mereka ke mental aritmatika.

''Ini bukan sekadar promosi, melainkan anak-anak perlu mendapat
fondasi pendidikan yang kuat.''

Dia menambahkan, lembaga pendidikan yang dia kelola sekadar membantu
anak-anak dalam mengefektifkan otak kanan. Soal hasilnya, semua
sangat bergantung pada anak-anak.

''Ini hanya soal pilihan dan kesempatan. Kami tidak menjamin semua
siswa Sima akan jenius seperti Einstein atau Thomas Alfa Edison.
Namun, paling tidak kami memberi jalan menuju ke sana."

Nah, apakah Anda juga ingin mengantar anak-anak mencoba melintasi
jalan lain menuju jenius itu?(Ganug Nugroho Adi-72e)



Blog EntryLingkaran Setan Kultur Sinetron Remaja IndonesiaJun 29, '07 7:30 AM
for everyone

1. Pendidikan Indonesia kacau balau

2. Karena pendidikan rendah, maka selera remaja indonesia penonton sinetron pun rendah
3. Karena dengan sinetron mutu rendahan pun TV masih laku dan production house masih bisa jualan, maka teruslah dibikin sinetron-sinetron murahan

4. Karena sinetron murahan, maka yang muncul adalah ide-ide murahan: marah, tangis, amukan, cinta monyet, balas dendam, mistik, religi, dan aksi dalam balutan mutu kelas tai kambing.

5. Karena remaja cenderung belajar dari hal-hal yang bukan berbau orang-tua dan sekolah, dan pilihannya sinetron-sinetron hancur-hancuran, maka terdidiklah remaja Indonesia jadi remaja hancur-hancuran berselera rendah.

6. Karena pas remaja hancur-hancuran, maka banyak di antara mereka yang kemudian jadi guru tetap mewariskan sifat hancur-hancuran tersebut (meski banyak yang mengajarkan moral, tapi tetap saja murid dan guru tau itu cuman buat mengisi waktu saja)
7. Karena banyak guru yang demikian, maka ya hancurlah pendidikan Indonesia.

8. Kembali ke nomer satu.

catatan: sejarah sinetron indonesia sudah mendekati usia satu dekade, jadi kira-kira remaja 18 tahun pas awal sinetron muncul, sekarang umurnya sudah 28, sudah banyak yang menjadi guru.

Makanya, kalian pekerja sinetron, sekali-kalilah melawan ke para orang India(baca: produser sinetron; karena secara banyak mereka itu orang turunan India, dan "produser sinetron" terlalu panjang), and minta supaya dikasih kesempatan membuat sinetron sekelas HEROES ato bahkan KAMEN RIDER! Liat tuh Jepang, Korea, and Taiwan: modal cantik-cantik and ganteng-ganteng boleh, tapi ISI CERITA pun menarik!





LinkHR InterviewsMay 30, '07 5:59 AM
for everyone
Link: http://hrinterviews.blogspot.com/

Cool guidelines for facing interviewer

Blog EntryDi Balik Sukses OlimpiadeMay 7, '07 8:29 PM
for everyone
05 Mei 2007
Di Balik Sukses Olimpiade

Agus Purwanto
Pekerja Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam ITS, Juri Teori IPhO
ke-33 dan APhO ke-6


Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) meraih dua emas, tiga perak, dan
dua perunggu di Asian Physics Olympiad (APhO) ke-8 di Shanghai Cina
22-28 April 2007. Hasil ini, menjadikan Indonesia sebagai satu dari
empat negara yang mampu menyabet emas APhO, sekaligus menempel ketat
Cina. Meskipun demikian, olimpiade fisika dan cabang ilmu lainnya tetap
perlu dikritik.

Yohanes Surya (YS) sang arsitek TOFI seperti berhasil memecah kebekuan
pendidikan Indonesia. Mulanya ia bina siswa-siswi yang disiapkan dalam
ajang International Physics Olympiad (IPhO) dengan biaya sendiri. Upaya
ini membuahkan hasil, yakni diraihnya medali perunggu, perak, dan emas.
YS dengan TOFI-nya membuat kejutan lebih lanjut dengan ungkapan
provokatifnya 'The First Step to Noble Prize'.

Orang Indonesia seperti terhipnotis. Akibatnya, penyelenggaraan IPhO
ke-33 di Denpasar tahun 2002 konon menjadi IPhO paling istimewa dan
mewah. Selain diselenggarakan di hotel bintang lima juga dibuka oleh
Presiden Megawati. Demikian pula APhO ke-6 2004 di Pekanbaru yang dibuka
Menko Kesra, Jusuf Kalla. Bandingkan dengan pembukaan APhO ke-8 yang
hanya dibuka oleh YS sebagai presiden APhO dan dihadiri wakil wali kota
Shanghai (Kompas, 23/4/2007).

Tahun lalu Pesiden SBY menyambut para siswa TOFI bak pahlawan. YS
dipilih sebagai wakil ahli pendidikan yang mendapat kesempatan bertemu
Presiden Bush yang berkunjung ke Indonesia.

Desakralisasi olimpiade
Kini kita dilanda demam olimpiade. Sejak tahun 2004, di beberapa
provinsi diadakan pelatihan guru-guru untuk mempersiapkan siswa-siswi ke
aneka olimpiade. Aneka kompetisi tingkat SD sampai SMA dinamai
olimpiade. Ada olimpiade fisika, olimpiade matematika, kimia, biologi,
komputer, ekonomi bahkan di lingkungan Muhammadiyah ada olimpiade Al
Islam.

Dari sekian banyak olimpiade ilmu, barangkali olimpiade fisika yang
terkesan paling wah. Begitu mendengar, si fulan meraih medali IPhO, maka
kita membayangkan sosok jenius mirip Newton, Einstein, atau Hawking.
Atau terbayang orang nyentrik yang berkutat di laboratorium dan sedang
membuat formula bom atom Hiroshima yang dahsyat itu.

Masyarakat cukup silau dan bangga dengan prestasi siswa-siswi SMA
Indonesia di ajang IPhO dan APhO. Kesan wah bahkan sakral terhadap TOFI
tidak terlalu salah. YS berulang-ulang menyatakan bahwa soal IPhO dan
APhO setara dengan soal doktor. Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka
dapat mengatasi soal-soal sulit tersebut? Sedemikian hebatnya
sekolah-sekolah kita?

Siswa yang lolos seleksi sampai tingkat provinsi dididik khusus fisika
selama beberapa bulan oleh para doktor fisika. TOFI tahun ini, misalnya,
telah dikarantina di Karawachi sejak September 2006. YS yang pernah
menulis buku Mekanika Tanpa Kalkulus menyatakan siswa SMP yang ingin
lolos masuk TOFI harus tamat kalkulus yakni limit, diferensial, dan
integral sehingga saat SMU bisa konsentrasi belajar fisika.

Kesan sakral akan berkurang bila kita tahu garis besar pelaksanaan IPhO
dan APhO. Sebelum diujikan, soal dan solusinya didiskusikan dengan semua
pembimbing dan soal bisa mengalami modifikasi. Pada tahap ini dibahas
dan disepakati pula skor nilai setiap nomor dan setiap tahap jawaban.
Untuk menghindari kebocoran, panitia melakukan pengamanan dan aturan
ekstra ketat.

Soal yang telah disepakati dan diterjemahkan ke dalam bahasa ibu setiap
negara peserta diujikan. Waktu ujian teori dan eksperimen masing-masing
lima jam pada hari yang berbeda. Selanjutnya adalah tahap penilaian
jawaban. Penilaian dilakukan oleh juri dan masing-masing pembina. Kopian
nilai versi pembina dan juri ditukar dan dibandingkan.

Tahap berikutnya adalah moderasi, yakni penyesuaian bila terjadi
perbedaan antara nilai dari juri dan pembimbing. Bila nilai juri lebih
besar dari pembimbing bisa dipastikan tidak ada protes. Sebaliknya bila
nilai juri lebih kecil apalagi cukup besar selisihnya maka akan terjadi
perdebatan dan tawar-menawar nilai yang cukup alot dan seru antara
pembina dan juri. Pada IPhO 2002 ada seorang ibu pembina yang tidak
dapat menahan tangis lantaran gagal memperjuangkan kenaikan nilai
siswanya. Dus, peran dan kejelian pembina sangat menentukan.

Tahap akhir adalah penentuan peraihan medali emas, perak, perunggu, dan
kehormatan yang ditentukan sesuai selang nilai tertentu. Karena itu,
peraih medali emas olimpiade bisa cukup banyak dan semua anggota tim
suatu negara tertentu bisa mendapat emas.

Menertawakan diri sendiri
Secara umum, siswa yang masuk TOFI memang siswa yang cemerlang dan kita
bangga atas prestasi mereka. Tetapi benarkah pemerintah mengalokasikan
dana Rp 100 miliar untuk keberangkan tim A (belum tim B) ke Shanghai
(Kompas, 20/4/2007)?. Untuk apa saja uang ini? Bukankah jumlah itu bisa
untuk melahirkan sedikitnya 200 doktor baru di luar negeri ketimbang
delapan doktor produk TOFI?
Sekarang ini banyak doktor kita yang membagi
waktu sebulan menjadi dua pekan di Tanah Air dan dua pekan di Malaysia.
Sebabnya selain untuk menutupi kebutuhan ekonomi juga mendapat fasilitas
riset yang memadai di sana.

Apa yang ingin kita capai dengan aneka olimpiade? Jelas, sukses aneka
olimpiade internasional atau pun nasional sama sekali tidak mewakili
sukses pendidikan kita. Sukses di APhO hanya memperlihatkan bahwa
sebenarnya kita mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan negara
manapun termasuk negara maju. Kenyataan ini juga bisa dilihat dari
prestasi mahasiswa Indonesia di luar negeri. Tetapi sistem di dalam
negeri membuat semua potensi tersebut sulit berkembang dan tumbuh
menjulang.

Ketika presiden dan para petinggi lainnya menyambut dan memberi ucapan
selamat misalnya kepada TOFI sejatinya mereka sedang menertawakan diri
sendiri. Mereka seolah sedang mengucapkan "Selamat, kalian jadi juara
karena telah menabrak sistem yang telah kita buat."


Betapa tidak, emas IPhO atau APhO diperoleh oleh siswa yang meninggalkan
program normal sekolah untuk dilatih bukan oleh guru sendiri tetapi para
doktor fisika sekitar enam bulan di Karawachi. Singkatnya, mereka
menjadi juara karena keistimewaan sistem dan dispensasi yang mereka
dapatkan. Anggota TOFI yang sekarang kelas tiga SMA mendapat dispensasi
pelaksanaan UN dan baru menjalani UN 14-16 Mei 2007.

Sekarang ada Olimpiade Sains Nasional yang diselenggarakan setiap tahun.
Strategi guru, sekolah dan diam-diam sepakati diknas lokal untuk melatih
para atlet dan mendulang sebanyak mungkin medali adalah kebijakan
dispensasi. Artinya, siswa diperkenankan dilatih pelajaran tertentu dan
meninggalkan aneka pelajaran lainnya tetapi nantinya tetap naik kelas
atau lulus sebagaimana siswa-siswa lainnya.
Tanpa jaminan seperti ini
hampir dapat dipastikan tidak ada siswa yang mau mengikuti olimpiade.

Bila demikian untuk apa medali APhO dan IPhO, bila harus menyimpang dan
menggunakan dana sangat besar? Akankah prestasi APhO menjadi sekadar
penghibur diri dari kemiskinan prestasi? Kita tidak ingin IPhO dan
sejenisnya menjadi lahan baru penghamburan uang negara. APhO dan IPhO
diikuti berbagai negara termasuk negara maju, tetapi menariknya Jepang
belum pernah berpartisipasi sebagai peserta.

Ikhtisar
- Kesuksesan di ajang olimpiade sains, sama sekali tidak mencerminkan
kondisi nyata pendidikan di Indonesia.
- Dana besar untuk olimpiade, semestinya bisa dialokasikan untuk
memajukan pendidikan yang lebih massal.
- Secara umum, pola yang dijalankan dalam olimpiade sains telah menabrak
sistem pendidikan yang ada.


Berita bisa dilihat di :
http://www.republika.co.id/Kolom_detail.asp?id=292024&kat_id=16


Latar Belakang Penemuan Psychorientology Populer dan Tujuannya
Oleh : H.Rd.Lasmono Dyar

Metode silva ditemukan melalui penyelidikan ilmiah oleh seorang
bernama Jose Silva. Pada saat itu beliau telah berumur 30 tahun dan
berkecimpung di dalam usaha elektronik. Sebelum itu banyak telah
dialaminya mengenai jiwa manusia di medan perang Eropa, ia
ditempatkan di bagian terapi psikologis. Secara kebetulan ia
ditempatkan disitu, sekalipun pada dasarnya ia tidak mempunyai
pendidikan didalam bidang ini.

Bakat kepekaan di dalam menerima masukan-masukan mengenai terapi dari
orang-orang yang mengalami `goncangan jiwa' yang dialami di medan
perang. Jose menaruh banyak perhatian kepada bagaimana terapi itu
dilaksanakan. Karena perhatian dan timbulnya keterampilan pada bidang
itu, banyak ahli kesehatan, seperti para dokter, ahli jiwa dan mereka
yang mempunyai pendidikan dalam bidang itu, memberikan pengetahuannya
kepada Jose muda. Buku-buku psikologi dan semua hal yang menyangkut
bidang bekerjanya otak manusia beliau `lalap' dengan mudah.

Jadi, sebenarnya, beliau telah memulai memperhatikan fungsi Pusat
Pikir sejak tahun 1944. Selesai dinas militernya, ia mulai dengan
penyelidikan-penyelidikannya dengan mengikut sertakan adiknya Juan
Silva. Dari penyelidikan pertama itulah, ternyata bahwa manusia
dilengkapi dengan pusat pikir terdiri dari dua belahan otak yang
berfungsi dengan cara berbeda. Ia menemukan juga, bahwa
intelektualisme adalah perekaman-perekaman yang dilaksanakan oleh
otak bagian kiri dan bahwa otak bagian kanan merupakan wadah
inteligensia yang nyatanya hanya sedikit saja berfungsi, bila
keaktifan berada pada kondisi bangun sadar, tapi tetap membantu dalam
keaktifan otak kiri.

Ia banyak mengadakan `uji-coba' dengan anak-anak, keluarga sendiri
dan para tetangga yang menaruh kepercayaan kepadanya. Salah satu uji-
cobanya ialah bahwa ia sering membacakan pelajaran-pelajaran sekolah
anak-anaknya, mereka itu sedang didalam kondisi sangat tenang dengan
mata tertutup seperti pada meditasi. Hanya, `meditasi' yang ia
bimbingkan berbeda dari yang biasa dilaksanakan secara umum. Dengan
suatu pengendalian dari konsentrasi ia berhasil
meningkatkan `kualitas inteligensia' anak-anaknya itu yang termasuk
agak rendah dibanding anak-anak lain. Suatu hari terjadilah apa yang
diharapkan.

Seorang anaknya yang bernama Elisabeth, telah dapat meningkatkan
kepekaan menerima `getaran-getaran' informasi, sedemikian rupa,
sehingga terjadilah `fenomena' diluar kenormalan. Anak itu memberikan
jawaban atas pertanyaan bapaknya yang belum terformulasi dan menjadi
rangkaian kata-kata, dari suatu pertanyaan yang sedang dirancang di
Pusat Pikir Silva untuk dicetuskan.

Beliau terperanjat dan begitu gembira dengan hasil penemuannya itu,
sampai menghubungi Duke University di California, Prof.DR.J.B.Rhine,
seorang dekan dari Fakultas parapsikhologi, banyak mengadakan
penyelidikan-penyelidikan mengenai fenomena kepekaan mereka yang
berbakat diatas keadaan normal. Mereka yaitu para penyelidik fenomena
itu, termasuk profesor Rhine, tidak menaruh banyak perhatian pada
penemuan yang dikemukakan oleh Jose Silva. Suasana tidak `antusias'
tapi dingin-dingin saja, mereka kurang yakin.

Kecewa dengan mereka itu, Silva kembali ke kotanya, Laredo. Tapi apa
yang dikemukakan mereka di Universitas itu, tidak lepas dari
perhatian seorang profesor, bernama Prof.DR.J.W.Hahn, yang lalu
menyusulnya ke Laredo. Disitulah ia sejak bertemu kembali dengan Jose
Silva dan adiknya Juan Silva menetap dan dari tahun ketahun menarik
banyak cendekiawan. Semua sangat kagum dengan kecerdasan Silva yang
akhirnya, bersama dengan kawan-kawan cendekiawan yang mendukungnya
dan dari universitas-universitas lain, dapat menyelesaikan
penyelidikannya itu dengan hasil yang gemilang. Sejak itu, mulai
tahun 1966, metode Silva diperkenalkan di Amerika, kemudian ke
seluruh dunia.

Banyak cendekiawan Universitas mengagumi penemuan Silva itu, yang tak
telak lagi, mereka memberikan Jose Silva `predikat' Doctor di dalam
ilmu Psychorientology yang merupakan bidang baru didalam ilmu
Psikhologi. Bidang itu kini sudah menjadi konvensional karena
kemajuan yang diinginkan hanya berdasarkan penemuan mengenai Alam
Pikir (Mind) yang diselidiki pada masa lampau oleh Sigmund Freud,
Abraham Maslow dan lain-lain, karena terbentur pada suatu
keterbatasan dari Ruang dan Waktu yang masih merupakan pendekatan
fisik.

Pengalaman-pengalaman yang telah dapat dicapai oleh mereka yang
junmlahnya telah lebih dari 25 juta alumni diseluruh dunia begitu
mengesankan. Bahkan memberikan suatu kesempatan baru bagi setiap
manusia untuk berbenah diri dari suatu keadaan yang tak dapat
dikendalikan seperti antara lain Emosi, yang selalu menjadi gejolak
utama didalam suatu tindakan negatif antara lain pikiran buruk,
jahat, bohong, dendam, iri hati, gelisah, ragu-ragu, curiga dan masih
banyak yang dapat disebut. Setelah apa yang ditemukan oleh DR.Jose
Silva, kini banyak penyelidikan-penyelidikan dilaksanakan oleh mereka
yang dahulu tidak percaya pada penemuannya Silva itu.

Dengan metode Silva kini telah terbuka suatu pendidikan baru, yang
dinamakan pendidikan subyektif. Mengapakah dinamakan demikian? Karena
sistimnya akan memberikan cara tuntas untuk menghilangkan kenegatifan
yang menjadi pengelolaan otak dan tinggal didalam neuron-neuron otak
sejak kecil, remaja, pra-dewasa dan dewasa. Hal itu merupakan fakta
yang dapat dialami semua manusia karena adanya kelemahan jiwa yang
tak terkendali, bila berada didalam keadaan bangun sadar.

Mengapakah hal bangun sadar itu menjadi aktivitas dari `ramuan'
masukan yang melanda diri manusia? Pada tingkatan seperti itu, dengan
hanya pendidikan intelektual saja, tidak akan mampu membendung sifat-
sifat informasi yang melanda manusia berupa provokasi-provokasi
negatif. Hanya mereka yang telah terdidik dengan keteguhan iman, yang
artinya mampu benar untuk mengendalikan gejolak emosi yang biasanya
buruk, dapat membendung dan menetralisirnya. Menurut
penyelidikan `team Silva', ternyata hanya 10 % dari penduduk dunia
yang seperti itu. Yang 90 % tergantung dari yang disebut tadi.

Mengontrol diri sendiri memang masih merupakan kendala besar bagi
kebanyakan manusia. Hal itu tidak akan mudah bila kondisi jiwa
didalam keadaan frustrasi dan stres. Seperti kita semua telah
memaklumi, semua pendidikan pada kondisi bangun sadar, memerlukan
masa yang panjang sekali. Rata-rata memerlukan lima puluh persen dari
kehidupannya. Apakah masih ada cukup waktu untuk mengisi dirinya
dengan pendidikan moral dan etika yang tuntas? Berapa
banyak `provokasi negatif' yang ia terima dan dapat melunturkan
keteguhan iman, sekalipun diperingati dengan nasehat-nasehat yang
mengingatkannya kepada kelemahan-kelemahannya?

Kebanyakan diantara manusia tidak sabar menanti hasil dari usahanya
dan selalu akan mencoba mencapai sesuatu dengan cara-cara yang tidak
sesuai dengan waktu dan kesempatan wajar dari pengusahaan yang
diperlukan untuk dapat menikmati hasil dari uasahanya itu. Hal ini
dipacu lagi dengan kemanjaan yang diberikan penemuan-penemuan yang
dibuat sedemikian rupa, sehingga manusia tidak perlu mengeluarkan
tenaga dan pikiran banyak untuk mendapatkan sesuatu yang
diinginkannya. Kehidupan manusia menjadi sangat konsumtif dan tidak
kreatif lagi. Kreativitas memerlukan banyak imajinasi yang
berkualitas yang dapat ditransfer pada kenyataan dan bukan untuk
mendapatkan keberhasilan melalui perhitungan, analisa dan rekayasa.

Dengan sistim yang ditemukan oleh Silva, kondisi positif dapat dipacu
dengan tuntas, karena pemacuan melalui kondisi bangun sadar tidak
akan mungkin dan bila mungkin, akan memerlukan waktu sangat panjang
dengan pendidikan satu generasi yang memerlukan waktu paling tidak 25
tahun minimal. Silva menjamin bahwa waktu yang dibutuhkan melalui
pendidikan subyektif hanya akan mencapai maksimal satu tahun saja,
akan dapat merobah sifat dari negatif menjadi positif.

Tetapi bagi mereka yang benar-benar mempunyai motivasi tinggi untuk
ingin memperbaiki diri dan mencapai kondisi hidup tanpa masalah, dan
mempunyai disiplin, ketekunan dan konsistensi berkualitas
melaksanakan pelatihan-pelatihan pengendalian terhadap nirsadar, akan
mampu mencapai keberhasilan tuntas didalam hanya enam bulan.
Pemeliharaannya akan dirasakan sangat ringan, karena akhirnya hanya
satu kali sebulan diperlukan untuk pemeliharaan dari teknik-teknik
yang wajib dipelihara untuk menjaga keterampilan yang langgeng.

Sudah tentu akan timbul pertanyaan-pertanyaan, bagaimanakah mungkin
untuk mengendalikan nirsadar, kata yang baru dari pengertian bawah
sadar. Kehidupan manusia terdiri dari kondisi bangun untuk
melaksanakan keaktifan apa saja dan istirahat tuntas untuk
mengembalikan tenaga yang dipergunakan pada kondisi aktif tadi.
Didalam keadaan bangun, manusia mengalami beberapa tingkatan
kesadaran terdiri dari kondisi santai, normal aktif, gugup,
frustrasi, stres dan panik.

Didalam keadaan istirahat tuntas, manusia mengalami beberapa
tingkatan ketidak sadaran terdiri dari kondisi pra-tidur, tidur dan
tidur lelap. Apakah terjadi didalam kondisi bangun sadar? Manusia
mampu menggunakan semua indra yang berfungsi hanya pada keadaan itu.
Sampai pada tingkatan normal, diluar santai, manusia dapat
melaksanakan usaha apapun untuk mengisi kehidupannya dengan hal-hal
yang produktif. Iapun dapat menanggulangi banyak masalah-masalah
melalui sifat berfungsinya Otak Kiri.

Bila kini kesibukan-kesibukan itu merangsangnya menjadi gugup, maka
produktivitas pada kondisi normal akan pasti berkurang intensitasnya.
Jika masalah-masalah yang dihadapinya tidak dapat ditanggulangi, maka
kondisi gugup itu akan meningkat kepada frustrasi. Dengan suatu
kondisi yang sudah tidak `mulus', akan banyak terjadi hambatan,
disebabkan pula, karena penangkapan informasi berupa peristiwa dan
kejadian, akan memberikan keterbatasan mengatur pencetusan pikiran
secara jernih dan gamblang. Ini akan mengakibatkan kekaburan
dari `visi' yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah dan
hambatannya.

Bertumpuknya masalah ketika waktu terasa makin sempit untuk
penanggulangannya, yang pasti diperlukan proses panjang, maka manusia
akan terkena kondisi stres. Ini merupakan gejala yang menimbulkan
tekanan keras pada sistim pengelolaan keteraturan
jalannya `metabolisme' yang akan mengakibatkan penyakit pada organ-
organ tubuh. Dengan sendirinya, bila organ-organ tidak bisa bekerja
secara teratur dan seimbang, maka hasilnya akan mutlak mempengaruhi
penangkapan dari indra-indra fisik.

DR. Jose Silva cs. menemukan, bahwa kondisi nirsadar merupakan
pondasi kokoh yang positif dan tidak dapat dipengaruhi oleh kejadian
dan peristiwa yang terjadi secara negatif. Hal ini merupakan fakta
hasil penyelidikan ilmiah statistis yang dilaporkan oleh badan-badan
penyelidikan di dunia. Yang banyak mengeritik hasil penyelidikan
Silva adalah mereka, yang pada hakekatnya tidak mau percaya, bahwa
suatu usaha subyektif positif, akan setingkat dengan usaha yang
dibangun atas penelitian dari alternatif-alternatif melalui
perhitungan dan analisa cermat. Disitu mungkin saja akan bisa masuk
pengaruh rekayasa untuk menjadikan hasilnya `ditanggapi' secara
positif, sekalipun sebenarnya negatif atau merugikan.

Dari banyak pengalaman akhir-akhir ini, terjadi suatu pendapat, bahwa
mereka yang mempunyai suatu pengelolaan negatif pada nirsadarnya, dan
timbul pada kondisi `obyektif' atau bangun sadar, tidak merasa
nyaman mengikuti pelatihan metode Silva ini. Tetapi banyaknya masalah
yang tetap dihadapi pada perjalanan hidupnya, serta harus berusaha
keras menutupi kejanggalan-kejanggalan yang timbul dari pengelolaan
negatif, akan mengalami kondisi stres seumur hidupnya. Hal itu karena
akan selalu berbenturan dengan suatu Hukum Universal yang diCiptakan
olehNya yang tak dapat dipengaruhi oleh pikiran manusia, apapun
usahanya. Benturan itu merupakan peringatan dan Karma bagi setiap
manusia tanpa kecuali. Bila menghadapi suatu masalah, maka hal itu
berarti, bahwa manusia telah mengadakan benturan dengan Hukum
Universal tadi, juga dapat dinamakan Hukum Timbal Balik Alam.

Jelaslah sudah kini, latar belakang dan tujuan penemuan ilmiah esok
hari, dapat dilaksanakan saat terkini. Dan semua ilmu pengetahuan
mengenai pengembangan dan penggunaan keseimbangan dari otak Kiri dan
Otak Kanan akan selalu bertemu dengan sistimnya DR. Jose Silva.
Sistim ini tidak dapat ditiru dengan tuntas, karena didalam bidang
subyektif akan langsung terkena imbalan benturan dari `Universal
Law', karena melanggar ketentuan serta penunjukkan yang dianugerahkan
penemuannya oleh Yang Maha Kuasa kepada seorang yang sederhana,
mengalami kehudupan sulit dan jauh dari kesombongan, tetapi memimpin
mereka yang adalah orang-orang super intelektual yang inteligensianya
dibawah beliau.

Demikian kenyataan-kenyataan yang sangat diperlukan bagi pengembangan
generasi penerus, membangun sumber daya manusia berkualitas dan siap
untuk menanggulangi Era Globalisasi yang bahaya terjajah oleh budaya
ekonomi akan tidak terelakkan dengan mental bangsa kita pada umumnya.
Keterpaduan didalam yang dinamakan programming, akan pasti membawakan
hasil yang optimal pada tingkatan apapun didalam maupun diluar
organisasi pekerjaan, baik yang sederhana, nasional maupun
multinasional.

Banyak ilmu-ilmu pengetahuan ditemukan dengan tujuan untuk
kesejahteraan umat manusia dan kemanusiaan. Yang menemukannya pada
dasarnya memang menginginkan hal itu, tetapi tidak mampu untuk
menjaga penyimpangan-penyimpangan yang ditimbulkan oleh pencetusan
pikiran ataupun pola pikir dari para penerus yang hendaknya dapat
menjamin mempunyai pengendalian dari kejujuran, kebersihan,
kemurnian, kebaikan dan kesabaran yang konotasinya akan selalu
positif, dengan menggunakan kondisi `Nirsadar'.

Bila sumber daya manusia Indonesia mempunyai kriteria seperti itu,
maka sudah pasti negara kita akan terhindar dari adanya KKN. Hal itu
dapat dinetralisir melalui pendidikan subyektif yang tidak memerlukan
waktu lama untuk dapat merobah tabiat dan sifat yang menjadi biang
keladi dari kemelut dalam segala bidang.

Penulis naskah ini berharap adanya niat dan motivasi tinggi untuk
melaksanakan implementasinya di kalangan eksekutif yang nantinya
mampu untuk mempengaruhkan kondisi nirsadar didalam lingkungan
organisasinya yang akan tumbuh menjadi organisasi teladan.

SUMBER: http://www.healthwithhypnosis.com/silva-method-of-mind-
control/History%20of%20The%20Silva%20Method.htm




Blog EntryPertarungan Itu Pun DimulaiMay 4, '07 2:17 AM
for everyone
Ada sebuah kisah yang ingin kubagi pada kalian semua. Entah apakah cerita ini benar-benar terjadi atau tidak, tapi yang jelas benar-benar bisa membuat semua orang terkejut. Cerita ini melibatkan pihak-pihak yang sedang memperjuangkan kebebasan Jakarta; kebebasan kota terbesar se-Indonesia ini dari pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruhnya demi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongannya.

Orang-orang ini berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang berjuang dengan cara bergabung dengan unsur-unsur yang lekat dengan stigma negatif. Ada yang berjuang dengan cara mencari informasi kesana-kemari dan melabrak lokasi-lokasi penyimpangan sosial. Ada pula yang mencoba berjuang secara lebih ekstrik dengan target membunuh mereka-mereka para power-abuser itu. Dan ada pula yang berjuang secara gigih dengan lagu, musik, dan pendidikan para anak-anak tak berpunya.

Kisah mereka kurasa pantas kusharing. Kalian pun bisa mendukung perjuangan mereka di sini.

Sebarkan kisah mereka !




Tulisan seorang ensiklopedi geologi berjalan Indonesia 


Telah sejak lama Indonesia diminati para ahli geologi. Hal ini tak lepas dari keindahan Nusantara sebagai gugusan kepulauan di wilayah khatulistiwa, seperti kata Multatuli (1860) : ”...een gordel van smaragd die zich slingert rond de evenaar...” (sabuk zamrud yang berjajar sepanjang khatulistiwa)


Kita bisa kutip di sini pendapat-pendapat para ahli geologi yang pernah menekuni geologi Indonesia dan telah menghasilkan karya-karya yang patut menjadi referensi yang baik.


van Bemmelen (1949) : “The East Indian Archipelago is the most intricate part of the earth’s surface…The East Indies are an important touchstone for conceptions on the fundamental problems of geological evolution of our planet…”


Soetarjo Sigit (1962) : “the Indonesian Archipelago : the high mobility of this part of the earth’s crust – young active volcanism, high seismicity and strong gravity anomalies ”


Katili (1973) : “Differences in the geological environment of the various arc-trench systems in Indonesia are responsile for the complexity and discrepancies in the geology between the numerous islands”


Hamilton (1979) : “Indonesia represents an ideal level of complexity for analysis within the framework of available concepts of plate tectonics ”


Hutchison (1989) : “a complex and fascinating region”


Simandjuntak dan Barber (1996) : “The Indonesian archipelago represents an immensely complicated triple junction, involving a complex pattern of small marginal ocean basins and microcontinental blocks bounded by subduction zone, extensional margins, and major transcurrent faults”


Hall dan Blundell (1996) : “SE Asia is probably the finest natural geological laboratory in the world...It is a spectacular region in which the manifestations and processes of plate collision can be observed at present and in which their history is recorded”


Sukamto (2000) : “…Indonesian Region…has proved to be very attractive to the earth scientists…Many earth scientists have attempted to explain the various unique geological phenomena by theories, hypotheses and models ”


Dapat disimpulkan, bahwa geologi Indonesia : indah sekaligus rumit.


Dari segi ilmu kebumian, Indonesia benar-benar merupakan daerah yang sangat menarik. Kepentingannya terletak pada rupabuminya, jenis dan sebaran endapan mineral serta energi yang terkandung di dalamnya, keterhuniannya, dan ketektonikaannya. Oleh sebab itulah, berbagai anggitan (konsep) geologi mulai berkembang di sini, atau mendapatkan tempat untuk mengujinya (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).


Inilah wilayah yang memiliki salah satu paparan benua yang terluas di dunia (Paparan Sunda dan Paparan Sahul), dengan satu-satunya pegunungan lipatan tertinggi di daerah tropika sehingga bersalju abadi (Pegunungan Tengah Papua), dan di sini pulalah satu-satunya di dunia terdapat laut antarpulau yang terdalam (-5000 meter) (Laut Banda), dan laut sangat dalam antara dua busur kepulauan (-7500 meter) (Dalaman Weber). Dua jalur gunungapi besar dunia bertemu di Nusantara. Beberapa jalur pegunungan lipatan dunia pun saling bertemu di Indonesia. Indonesia pun dibentuk oleh pertemuan dua dunia : asal Asia dan asal Australia. Ini mengakibatkan begitu kayanya biodiversitas Indonesia.


Meskipun Indonesia hanya meliputi sekitar 4 % dari luas daratan di Bumi, tidak ada satu negeri pun selain Indonesia yang mempunyai begitu banyak mamalia, 1/8 dari jumlah yang terdapat di dunia). Bayangkan, satu dari enam burung, amfibia, dan reptilia dunia terdapat di Indonesia; satu dari sepuluh tumbuhan dunia terdapat di Indonesia (Kartawinata dan Whitten, 1991). Indonesia juga memiliki keanekaragaman ekosistem yang lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan negara tropika lainnya. Sejarah geologi dan geomorfologinya yang beranekaragam, dan kisaran ikim dan ketinggiannya telah mengakibatkan terbentuknya banyak jenis hutan daratan dan juga hutan rawa, sabana, hutan bakau dan vegetasi pantai lainnya, gletsyer, danau-danau yang dalam dan dangkal, dan lain-lain.


Salah satu jalur timah terkaya di dunia menjulur sampai di Nusantara, daerahnya mempunyai akumulasi minyak dan gasbumi yang tergolong besar. Meskipun berumur muda, batubara Indonesia yang jumlahnya cukup besar dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Tak kalah pentingnya adalah endapan nikel dan kromit yang terbawa oleh tesingkapnya kerak Lautan Pasifik di beberapa wilayah di Indonesia Timur.


Bagian tertentu Indonesia sangat baik untuk dihuni. Ini tidak hanya berlaku saat ini yang memungkinkan orang dapat bercocok tanam dan memperoleh hasil yang baik karena tanah subur dan air yang berlimpah, tetapi juga pada masa lampau, sebagaimana terbukti dengan temuan fosil manusia purba di beberapa tempat di Indonesia. Maka, Indonesia penting dalam dunia paleoantropologi sebagai salah satu pusat buaian peradaban manusia di dunia.

Semua kepentingan dan keunikan geologi Indonesia ini timbul karena latar belakang perkembangan tektonik wilayah Nusantara. Di sinilah wilayah tempat saling bertemunya tiga lempeng besar dunia : Eurasia – Hindia-Australia – Pasifik yang menghasilkan deretan busur kepulauan dan jajaran gunungapi, tanah yang subur, pemineralan yang kaya dan khas, pengendapan sumber energi yang melimpah, dan rupabumi yang menakjubkan (Sukamto dan Purbo-Hadiwidjoyo, 1993).


Alasan pencarian mineral dan energi berharga serta kepentingan keilmuan telah sangat memajukan pengetahuan geologi Indonesia.


salam,

Awang Harun Satyana



Blog EntryKode Babi pada makanan berkemasApr 30, '07 9:00 PM
for everyone
Assalamu'alaikum,

Untuk diketahui.

Oleh Dr.M.Anjad Khan

Salah seorang rekan saya bernama Shaikh Sahib bekerja sebagai pegawai di Badan Pengawasan Obat & Makanan (POM) di Pegal, Perancis. Tugasnya adalah mencatat semua me rek barang, makanan dan obat-obatan.

Produk apapun yang akan disajikan suatu perusahaan ke pasaran, bahan-bahan produk tersebut harus terlebih dahulu mendapat ijin dari Badan pengawas Obat dan Makanan Prancis dan Shaikh Sahib bekerja di Badan tersebut bagian QC , oleh sebab itu dia mengetahui berbagai macam bahan makanan yang dipasarkan. Banyak dari bahan-bahan tersebut dituliskan dengan istilah ilmiah namun ada juga beberapa yang dituliskan dalam bentuk matematis seperti E-904, E-141.

Awalnya, saat Shaikh Sahib menemukan bentuk matematis tersebut, dia penasaran dan kemudian menanyakan kode matematis tersebut kepada seorang perancis yang berwenang dalam bidang itu dan orang tersebut menjawab " KERJAKAN SAJA TUGASMU, DAN JANGAN BANYAK TANYA.

Jawaban tersebut menimbulkan kecurigaan buat Shaikh Sahib dan dia kemudian mulai mencari tahu kode matematis tersebut dalam dokumen yang ada. Ternyata apa yang dia temukan cukup mengagetkan kaum muslim di dunia.

Hampir diseluruh negara barat termasuk Eropa, pilihan utama untuk daging adalah daging babi. Peternakan babi sangat banyak di negara-negara tersebut. Di perancis sendiri jumlah peternakan babi mencapai lebih dari 42.000 .

Jumlah kandungan lemak dalam tubuh babi sangat tinggi dibandingkan dengan hewan lainnya. Namun orang eropa dan amerika berusaha menghindari lemak-lemak tersebut. Kemudian yang menjadi pertanyaan sekarang; dikemanakan lemak-lemak babi tersebut ? jawabannya adalah: Babi-babi tersebut dipotong di rumah-rumah jagal dalam pengawasan Badan POM dan yang membuat pusing Badan tersebut adalah membuang lemak yang sudah dipisahkan dari daging babi.

Dahulu kira-kira 60 tahun yang lalu, lemak-lemak tersebut dibakar. Kemudian mereka berpikir untuk memanfaatkan lemak-lemak tersebut. Sebagai awal ujicobanya mereka membuat sabun dengan bahan lemak tersebut dan ternyata itu berhasil.

Lemak-lemak tersebut diproses secara kimiawi, dikemas sedemikian rupa dan dipasarkan. Dalam pada itu negara-negara di Eropa memberlakukan aturan yang mengharuskan bahan-bahan dari setiap produk makanan, obat-obatan harus dicantumkan pada kemasan. Oleh karena itu bahan yang terbuat dari lemak babi dicantukam dengan nama Pig Fat(lemak babi) pada kemasan produk. Mereka yang sudah tinggal di Eropa selama 40 tahun terakhir ini mengetahui hal tersebut.

Namun produk dengan bahan lemak babi tersebut dilarang masuk ke negara-negara Islam pada saat itu sehingga menimbulkan defisit perdagangan bagi negara pengekspor. Menoleh ke masa lalu, jika anda hubungkan dengan Asia Tenggara, anda mungkin tahu tentang faktor yang menimbulkan perang saudara. Pada saat itu, peluru senapan dibuat di Eropa dan diangkut ke belahan benua melalui jalur laut. Perjalanannya memakan waktu berbulan-bulan hingga mencapai tempat tujuan sehingga bubuk mesiu yang ada di dalamnya mengalami kerusakan karena terkena air laut.

Kemudian mereka punya ide untuk melapisi peluru tersebut dengan lemak babi. Lapisan lemak tersebut harus digigit dengan gigi terlebih dahulu sebelum digunakan. Saat berita mengenai pelapisan tersebut tersebar dan sampai ketelinga tentara yang kebanyakan Muslim dan beberapa Vegetarian ( orang yang tdk makan daging), maka tentara - tentara tersebut menolak berperang sehingga mengakibatkan perang saudara ( civil war ).

Negara-negara Eropa mengakui fakta tersebut dan kemudian menggantikan penulisan lemak babi dalam kemasan dengan menuliskan lemak hewan. Semua orang yang tinggal di Eropa sejak tahun 1970 - an mengetahuinya. Saat perusahaan produsen ditanya oleh pihak berwenang dari negara Islam mengenai lemak hewan tersebut, maka jawabannya bahwa lemak tersebut adalah lemak sapi & domba, walaupun demikian lemak-lemak tesebut haram bagi muslim karena penyembelihan hewan ternak tersebut tidak mengikuti syariat islam. Oleh karena itu produk dengan label baru tersebut dilarang masuk ke negara-negara islam. Sebagai akibatnya, perusahan-perusaha produsen menghadapi masalah keuangan yang sangat serius karena 75% penghasilan mereka diperoleh dengan menjual produknya ke negara islam, dimana laba penjualan ke negara islam bisa mencapai milliaran dolar.

Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat kodifikasi bahasa yang hanya dimengerti oleh Badan POM sementara orang awam tidak mengetahuinya. Kode tersebut diawali dengan kode E-CODES. E-INGREDIENTS ini terdapat di banyak produk perusahaan multinasional termasuk pasta gigi, sejenis permen karet, cokelat, gula-gula, biscuit, makanan kaleng, buah-buahan kalengan dan beberapa multi vitamin dan masih banyak lagi jenis produk makanan & obat-obatan lainnya. Semenjak produk - produk tersebut di atas banyak dikonsumsi oleh negara-negara muslim, kita sebagai masyarakat muslim tidak terkecuali sedang menghadapi masalah penyakit masyarakat yakni hilangnya rasa malu,kekerasan dan seks bebas(kumpul kebo ).

Olehkarenanya, saya mohon kepada semua umat islam untuk memeriksa terlebih dahulu bahan-bahan produk yang akan kita konsumsi dan mencocokannya dengan daftar kode E-CODES berikut ini. Jika ditemukan kode- kode berikut ini dalam kemasan produk yang akan kita beli, maka hendaknya dapat dihindari karena produk dengan kode-kode tersebut di bawah ini mengandung lemak babi.

E100, E110, E120, E 140, E141, E153, E210, E213, E214, E216, E234,E252,E270, E280, E325,E326, E327, E334, E335, E336, E337, E422, E430,E431, E432, E433,E434, E435, E436, E440,E470, E471, E472, E473, E474, E475,E476, E477, E478, E481, E482, E483, E491, E492, E493,E494, E495, E542,E570, E572, E631, E635, E904 .

Adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat islam untuk mengikuti syariat islam dan juga memberitahukan informasi ini kepada saudara-saurdara kita.

M.Anjad Khan Medical Research Institute United States


taken from DSHnet, semoga bermanfaat

Blog EntryIndonesia Curi Emas di Sarang NagaApr 29, '07 11:41 PM
for everyone

Sabtu, 28 April 2007 | 10:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tim Olimpiade Fisika Indonesia berhasil merebut
dua medali emas pada ajang Asian Physics Olympiade VIII yang berlangsung di
Shanghai, Cina, 21-29 April 2007.

Indonesia mengalahkan Cina dalam bidang fisika eksperimen. Seorang anggota
tim A, Muhamad Firmansyah Kasim, meraih peringkat 2 dari 150 peserta.
Mengikuti ajang ini, Indonesia mengirimkan 16 pelajar terbaik di bidang
fisika, terdiri dari dua tim.

Tim A dipimpin Yohanes Surya dan Widagdo Setiawan. Adapun tim B merupakan
tim tamu yang didukung Kementerian Koordinator Kesejahtaeraan Rakyat.

sumber: tempo






Photo AlbumWorld Book Fair 2007 (15 photos)Apr 28, '07 8:47 PM
for everyone

Well...this must be the only world book fair in the world that has no EFFECTIVE AIR CONDITIONER running.

I had one heated discussion about comics in one stand, the air conditioner is barely felt, and so I am sweated.

But then, it's good to see that there are so many books around in one area, outside a bookshop :)

Blog EntryInspiring Teacher Award 2007Apr 19, '07 7:38 PM
for everyone
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Inspiring Teacher Award 2007 adalah salah satu wujud dedikasi Lembaga
Pengembangan Insani sebagai jejaring pendidikan Dompet Dhuafa dalam
memperingati Hari Pendidikan Nasional 2007.

Inspiring Teacher Award 2007 adalah ajang pemberian penghargaan bagi
guru-guru dari seluruh Indonesia yang telah memberikan berbagai inspirasi
dalam proses belajar-mengajar.

Masyarakat dapat mengajukan guru yang dianggap pantas menjadi kandidat
penerima penghargaan Inspiring Teacher Award 2007
dengan memenuhi persyaratan sbb:

Syarat Umum:
- WNI
- Pria atau wanita
- Berstatus guru Indonesia

Syarat Khusus :
- Guru direkomendasikan oleh Kepala Sekolah atau rekan guru atau orangtua
siswa
- Guru yang mempunyai pendapatan di bawah UMR (slip gaji/ honor bulan
terakhir dilampirkan)
- Pengalaman mengajar minimal 10 tahun
- Usia minimal 30 tahun
- Foto copy ijazah terakhir
- Pas foto ukuran 4 x 6 sebanyak 2 buah
- Fotocopy KTP
- Surat keterangan dari sekolah

Formulir pendaftaran dan berkas yang diperlukan paling lambat diterima
panitia pada tanggal 29 April 2007
Informasi pendaftaran : Ibad (08158115992), Evi (0813 11172100), Willy
(081809105125), Yanti (08151682757)
atau :

LPI Dompet Dhuafa
Jl. Raya Parung Bogor Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor 16310
Telp. (0251) 612044, 610818, 610817, Fax. (0251) 615016
www.lpi-dd.net
e-mail : panitia@lpi-dd.net

Informasi lebih lanjut mengenai kegiatan ini dapat dilihat/ download
di sini<http://www.lpi-dd.net/award.pdf>(pdf
81.3 kb) atau di
sini<http://makmal.pendidikan.googlepages.com/InspiringTeacherAward2007.pdf>(pdf
48.3 kb)
Formulir pendaftaran dapat dilihat/ download di
sini<http://makmal.pendidikan.googlepages.com/FormulirInspiringTeacheraward.doc>(word
doc
68.8 kb)
Poster kegiatan dapat dilihat di
sini<http://makmal.pendidikan.googlepages.com/poster_INSPIRING_teacher.pdf>

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Panitia Inspiring Teacher Award 2007



Mencermati kasus peredaran film porno amatir yang dibuat dengan
berbagai
peralatan kamera dan Handphone setahun belakangan ini, kami dari
komunitas
Video Film Mania, TV Lab Communications dan Komunitas Penulis Tangguh
menggelar kampanye via internet berjudul

"ANAK MUDA INDONESIA : JANGAN BUGIL DIDEPAN KAMERA!"

Disinyalir terdapat 500 lebih cuplikan film porno yang menggambarkan
hubungan sex orang-orang Indonesia yang dibuat dengan menggunakan
Handphone
dan Video Kamera. 90% adegan cuplikan film porno dilakukan oleh anak
muda
SMA dan Mahasiswa. 8%nya berasal dari rekaman prostitusi, para pejabat
pemerintah (DPR dan Pegawai Negeri). 2%nya adalah cuplikan kamera
pengintai
yang mengambil gambar para wanita-wanita muda yang sedang bugil tanpa
sadar
di toilet ataupun di kamar hotel.

Perkembangan teknologi kamera Handphone ternyata berefek buruk. 500
lebih
cuplikan film porno dibuat para pelakunya atas dasar senang-senang,
tidak
sengaja dan sebagian dijadikan alat kejahatan (rekaman perkosaan,
penistaan,
pelecehan).

Hal ini menjadi fenomena gunung es. Jangan-jangan, jumlah cuplikan
film
porno yang dibuat anak muda Indonesia telah mencapai ribuan klip?
Jangan-jangan, anak muda kita tidak sadar bahaya yang mengancam, yang
semula
hanya iseng dan main-main, berubah menjadi mimpi buruk yang kelak akan
menghancurkan masa depan mereka?

Tentunya tidak dengan menggunakan kotbah dan himbauan yang tidak
mempan
masuk ketelinga Anak muda. Jalan alternatif dan ampuh untuk
menghentikan
atau mengurangi peredaran dan pembuatan film porno amatir buatan anak
muda
Indonesia adalah dengan cara melakukan janji bersama, SUMPAH bersama
untuk
tidak BUGIL di depan KAMERA!

Maka , bila Anda mempunyai anak, teman atau Anda sendiri yang senang
bereksperimen dengan kamera (baik Handphone kamera maupun Handycam
Camera)
mari bersama mengucapkan janji dibawah ini :

"DEMI MASA DEPAN KITA DAN INDONESIA YANG LEBIH BAIK, KAMI BERJANJI,
TIDAK
AKAN BUGIL DI DEPAN KAMERA!"

(Janji ini telah dimulai sebagai sebuah gerakan pada bulan Januari
2007,
disebuah acara diskusi kuliah bersama mahasiswa FISIKOM UPN
Jogjakarta.
Embrio gerakan ini berusaha menyebarkan pesan untuk tidak terjebak
dalam
arus pornografi)

Ajak teman, saudara, anak, ayah, ibu dan siapa saja untuk mengucapkan
janji
di atas. Stop penyebaran dan pembuatan cuplikan film porno Indonesia.
Selamatkan Generasi kita. Selamatkan Anak Muda Indonesia!

Salam

Sony Set 0818 936 046

Adi Prasetyo 0813 929 820 71

TV Lab Communications Indonesia


Blog EntryNasib IPDN kiniApr 16, '07 1:23 AM
for everyone
Suatu sore di sebuah kampung sekelompok ibu-ibu berkerumun sedang
belanja sayur sambil ngobrol seru, nampak wajah mereka sangat serius.
Asyik sekali.. pikir saya pasti sedang ngegosipin artis sinetron. Namun
dilihat dari raut mukanya tampaknya mereka kesal sekali, diam-diam saya
mendekat bukan maksud mau nguping tetapi penasaran aja dengan tema yang
sedang dibicarakan.

Ooh.. aku baru tau nampaknya mereka sedang ngobrolin tayangan berita
sebuah stasiun TV tentang kasus penganiayaan di IPDN. Berikut sedikit
petikan pembicaraan yang seru dan meledak-ledak dari para "pengamat
berita" ini....

" tuh kan apa gue bilang IPDN itu, Institut Penganiayaan Dalam Negeri...
! masak anak orang dihabisin hanya gara-gara telat datang ke acara yang
nggak jelas, dasar gak tau diri !".

" Bukan nyak tapi IPDN itu, Institut Pembantaian Dalam Negeri..!" sahut
ibu penjual
sayur tak mau kalah.

"Kalo nurut saya sih masih jadi pelajar aja kayak gitu ntar kalo udah
jadi pejabat pasti jadi diktator, makanya IPDN itu, Institut Pengkaderan
Diktator Negara..!" seru ibu yang sedari tadi bolak balikin sayur bayam.

" Betul juga jeng Neni tapi saya paling gak suka sama kelakuan mereka
yang suka maen keroyok kalo berani kenapa gak satu lawan satu tuh kayak
di pilem koboy makanya dinamain aja IPDN, Institut Paling Demen
Ngeroyok..!! " seru ibu gendut itu gemas sambil membanting labu siam
diantara sayur yang makin berserakan.

"Iya betul tuh sekalian aja dinamain IPDN, Ikatan Praja Doyan Nonjok
...!" sambar bu RT sambil bersungut-sungut.

"IPDN, Injak Pukul Dorong Nah ... mati..!! celetuk ibu bertubuh
kerempeng itu sambil praktekkan gaya silatnya.

"Inginnya Pendidikan Dapetnya Nisan nah itulah IPDN kasihan orang tua
yang udah susah payah kirim anaknya kesana pulang-pulang bikin batu
nisan... !!" tukas bu Neni makin kesal.

" Yang kayak gini neh pasti kerjaan para pejabat yang gak punya tanggung
jawab dan wawasan kebangsaan, mestinya kan mereka sebagai pengontrol dan
pengawas tetapi kenapa korban udah berjatuhan kayak gini kok didiemiin
aja dari dulu, kayaknya sih sengaja biar budaya pejabat junior harus
takut dengan senior tetap hidup, kan ntar gampang diajak kongkalikong
kali ya ? namanya juga IPDN, Ideologi Pejabat Durjana
Negara", sahut ibu setengah baya berkerudung itu.

"Yah IPDN, Inilah Pendidikan Dalam Negeri kita.. pantas aja korupsi gak
habis-habis
wong mentalnya aja udah kayak mafia.

Tiba-tiba nenek tua yang sedari tadi diam saja tergopoh-gopoh keluar
dari kerumunan menuju kearah rumah bu RT, sambil iseng saya pun
bertanya, "nek kalo menurut nenek
IPDN itu apa ?".

Nenek itu melotot kesal kearahku sambil berteriak, "Ingin Pipis Dulu Nak
.....!!".


LinkYouTube - IPDNApr 11, '07 2:52 AM
for everyone

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help