The Highly Energetic Hyperbolic Indonesian Person

Eko's posts with tag: economy

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag economy
Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat - Bagian 2May 20, '08 9:02 PM
for everyone
Melihat cerita di sini seharusnya bisa membuat orang-orang Indonesia sadar bahwa semenjak Camdessus melipat tangannya sementara Si Jendral Bego membungkuk, kita sudah terjebak dalam permainan perusahaan agrikultur multinasional yang akan mencerabut paksa Indonesia dari akar agrarianya.

Beranjak dari situ lah, saya merasa perlu berkata bahwa pencabutan subsidi BBM dan menggantikannya menjadi subsidi benih dan pupuk serta biaya pengambilalihan lahan-lahan sawah dan perkebunan dari pihak-pihak perorangan dan mengembalikannya ke masyarakat petani melalui kredit lunak adalah hal terbaik yang bisa dilakukan sebelum Indonesia terjebak seperti Meksiko, India, Jepang, dan Filipina. Mereka dulu bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Setelah terjebak dalam krisis keuangan dan menyetujui program "restrukturisasi moneter" dari IMF, mereka terjebak dalam krisis finansial dan terseret dalam kewajiban membayar hutang yang menggila. Hutang menggila ini kemudian menyita resource negara dan memberikan landasan bagi IMF untuk "memberikan nasihat" bagi negara-negara itu untuk mencabut subsidi, mempreteli sistem ketahanan sumber daya untuk membiarkan "investasi" masuk, dan 

membeli resources yang berharga murah dari negara-negara maju. Murah karena disubsidi 25% (USA) dan 40% (European Union/EU).




Miris rasanya melihat foto di atas. Foto itu dari Nigeria, negara penghasil Minyak terbesar se-Afrika. Tak perlu menunggu lama, foto-foto serupa telah bermunculan di koran-koran besar di tanah air kita. Rakyat-rakyat di daerah kelaparan karena tidak punya akses ke makanan pokok.

Kenapa negara tidak mampu memberikan makanan kepada mereka, padahal landasan negara ini adalah Pancasila dan salah satu ajarannya bersimbolkan padi dan kapas.

Karena negara menghabiskan duitnya untuk memenuhi hasrat kalangan menengah ke atas yang merasa harus memiliki kendaraan pribadi ke kantor demi identitas diri dan menarik lawan jenis. 

Right?

Right!

Dan pemerintah merasa perlu memenuhi hasrat kalangan menengah ini karena economy mostly digerakkan oleh mereka. Tanpa "kebahagiaan" kalangan menengah, pemerintah bisa "short-lived": protes-protes, hujatan-hujatan, dan yang parah adalah kudeta ekonomi. Pikiran ini semakin mempersempit ruang logika pemerintah yang sudah sempit oleh "dua tahun menikmati duit, satu tahun bekerja, dan dua tahun menumpuk duit buat pemilu".

Kalangan menengah. Heh. Kalangan yang berhasil menjadi kalangan paling apatis-pragmatis setelah kejatuhan orde jendral bego.

Naik harga BBM? Minta naik gaji! Angkot resek? Beli Motor! Naik motor kena polusi? Beli Mobil! Naik Mobil capek nyetir? Sewa Sopir! 

Begitu lah.

Anyway, back to pencabutan subsidi n ketahanan pangan.

Duit trilyunan rupiah bisa dialokasikan untuk memberikan "starter pack" pangan berupa bibit-bibit unggul, pupuk-pupuk, pestisida, dan pendidikan pertanian yang baik. Setelah memberikan "paket kail" tersebut, pemerintah perlu menjamin keberhasilan panen melalui sarana irigasi yang efektif n efisien.Setelah panen berhasil, pemerintah harus membeli langsung dari petani/koperasi petani. Harga pembelian ditentukan pemerintah sebijak mungkin mempertimbangkan pengeluaran petani selama menunggu panen, skala kesejahteraan mereka, dan penyisihan hasil panen untuk pangan petani dan bibit untuk masa tanam berikutnya. Setelah membeli, pemerintah perlu menyimpan hasil panen di gudang-gudang pemerintah secara baik. Pengeluaran hasil panen untuk konsumsi masyarakat perlu dikontrol secara ketat mempertimbangkan statistik rata-rata konsumsi dan pertumbuhan konsumsi. Harga pangan disubsidi secara baik sehingga masyarakat tidak terlalu berkeberatan. Dan tentu saja, pemerintah perlu menyisihkan sebagian untuk cadangan pangan selama setahun ke depan. Kalo bisa tujuh tahun ke depan, seperti sunnah (?) Nabi Yusuf

Setelah semua terjamin, baru lah ekspor dilakukan. Di sini lah pemerintah bisa meraup sedikit keuntungan dari harga pangan dunia yang pastinya lumayan tinggi karena stoknya semua ditimbun oleh pemeritnah. Keuntungan ini bisa digunakan untuk menambal subsidi, sukur-sukur bisa semua.

Saya yakin, kalau pangan terjamin, berdesak-desakan sedikit di angkot dan bus umum atau hidup tanpa tivi and motor pribadi bisa dimaklumi oleh kalangan menengah ke bawah.

Menengah ke atas? Oh well, ngapain memanjakan orang yang mapan n mampu, right? Kecuali alasan politik, tak ada logikanya membantu mereka. 

Sekarang, bagaimana pemerintah mem-phase out subsidi BBM dari masyarakat? Itu akan saya bahas di bagian tiga












Blog EntrySeremMay 18, '08 9:02 PM
for everyone
Ternyata kalo sentuh2an ama IMF and World Bank emang bikin orang-orang selain orang amrik n yurop miskin:

http://www.thenation.com/doc/20080602/bello

It has become increasingly difficult for Mexican corn farmers to avoid the fate of many of their fellow corn cultivators and other smallholders in sectors such as rice, beef, poultry and pork, who have gone under because of the advantages conferred by NAFTA on subsidized US producers. According to a 2003 Carnegie Endowment report, imports of US agricultural products threw at least 1.3 million farmers out of work--many of whom have since found their way to the United States.

As in Mexico the World Bank and IMF, working on behalf of international creditors, pressured the Corazon Aquino administration to make repayment of the $26 billion foreign debt a priority. Aquino acquiesced, though she was warned by the country's top economists that the "search for a recovery program that is consistent with a debt repayment schedule determined by our creditors is a futile one." Between 1986 and 1993 8 percent to 10 percent of GDP left the Philippines yearly in debt-service payments--roughly the same proportion as in Mexico. Interest payments as a percentage of expenditures rose from 7 percent in 1980 to 28 percent in 1994; capital expenditures plunged from 26 percent to 16 percent. In short, debt servicing became the national budgetary priority.

Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat (bagian 1-a)May 13, '08 2:08 AM
for everyone
Ini ada artikel yang menyatakan bahwa subsidi memang bisa memberikan kemakmuran semu.

Out of 155 countries surveyed, U.S. gas prices were the 45th cheapest, according to a recent study from AIRINC, a research firm that tracks cost of living data.

The difference is staggering. As of late March, U.S. gas prices averaged $3.45 a gallon. That compares to over $8 a gallon across much of Europe.

The U.S. has always fought to keep gas prices low, and the current debate among presidential candidates on how to keep them that way has been fierce.

But those cheap gas prices - which Americans have gotten used to - mean they feel price spikes like the ones we're experiencing now more acutely than citizens from other nations which have had historically more expensive fuel.

Cheap gas prices have also lulled Americans into a cycle of buying bigger cars and bigger houses further away from their work - leaving them more exposed to rising prices, some experts say.


Mirip sama yang terjadi di Indonesia kan?

Gasoline costs roughly the same to make no matter where in the world it's produced, according to John Felmy, chief economist for the American Petroleum Institute. The difference in retail costs, he said, is that some governments subsidize gas while others tax it heavily.

Revenues from Europe's high gas taxes are used to fund a variety of things. One thing they have built is better public transportation, said Peter Tertzakian, chief energy economist at ARC Financial, a Calgary-based private equity firm.

They gave people an alternative to driving, something we don't have in North America," said Tertzakian

Oil use in the United Kingdom has basically stayed flat from 1980 to now, while in France it's dropped 17%, according to figures from the Energy Information Administration.

In the U.S., meanwhile, oil use is up 21% over the same period, although the country has added more people and seen its economy grow slightly faster.


Dan sekarang ada tanda-tanda bahwa Indonesia juga mau menyalin runtuhnya ekonomi ala Amerika dengan booming real estate semu (yang lagi-lagi subsidinya salah kaprah)



Blog EntryCabut Subsidi Masyarakat (bagian 1)May 12, '08 6:17 AM
for everyone
Pemerintah sepertinya mulai pintar!

Saya selalu percaya, setelah tercerahkan oleh pertumbuhan motor membabi-buta 3 tahun belakangan ini, dan makin gilanya konsumsi masyarakat, bahwa subsidi BBM memberikan pertumbuhan semu dan karbitan bagi masyarakat Indonesia, dari segala lapisan ekonomi yang akhirnya memperparah jurang antara si kaya dan si miskin karena semua modal dan pembangunan masih terpusat di kota-kota besar karena biaya mobilitas dari pinggir kota ke pusat kota masih bisa terjangkau.

Apabila biaya mobilitas sudah tidak terjangkau, demand akan angkutan massal dan perumahan vertikal kelas menengah ke bawah akan makin tinggi, dan pada akhirnya akan mengefisienkan mobilitas kalangan urban labour.

Angkutan massal, saya pikir, tidak perlu meningkatkan tarif, karena pencabutan subsidi BBM akan memaksa para pengendara mobil dan motor yang pas-pasan akan berpindah ke angkutan umum, dan efisiensi volume angkutan umum akan meningkat, tidak seperti sekarang ini yang mana masih banyak metromini dan kopaja yang kosong, bahkan di jam-jam padat penumpang seperti pagi dan sore hari.

Perumahan vertikal akan memberikan efisiensi ruang pemukiman yang lebih tinggi, dan memungkinkan penataan yang lebih mudah karena konsentris. Perumahan vertikal juga bisa menjadi pusat-pusat ekonomi baru, dengan kebutuhan lahan yang lebih sedikit. Seperti di rusun benhil, di mana tempat tinggal berdekatan dengan rumah makan, tempat foto kopi, tempat foto, de el el.

Setelah perumahan vertikal yang dibangun dekat dengan pusat-pusat perkantoran dan dihubungkan dengan sistem transportasi massal yang efisien menjadi sebuah hal yang diterima masyarakat urban, maka otomatis demand akan BBM menyusut, dan SPBU-SPBU akan berkurang jumlahnya. SPBU bisa dipindah ke dekat hub-hub transportasi, dan lahan-lahan bekas SPBU bisa dijadikan taman-taman paru-paru kota kecil.

lanjut nanti aaaah

Blog EntrySerakah oh serakah!Apr 29, '08 7:25 AM
for everyone
Jasa Marga (JSMR) membukukan pertambahan laba sebesar 1350%!

WOW!

Perusahaan yang luar biasa! Performa sahamnya pasti LUAR BIASA KAAAN?

Mari kita lihat performa JSMR:





ternyata CRAPPY!

saham terjun bebas, Moving Average Converge Divergenya (MACD) juga masih memberikan sinyal probabilitas harga turun masih ada. 

Mungkin karena itu lah, top management JSMR mengusulkan kenaikan harga 12,4% ?

Bener-bener deh.....udah tanpa saingan, masih minta dielus-elus....DASAR LIBIDO WORSHIPPER!







Blog EntrySekali Lagi!Apr 28, '08 3:07 AM
for everyone
Pemerintah lebih mementingkan proyek dan solusi jangka pendek!

Mereka gak nyadar apa, konsumsi BBM itu LUAR BIASA karena most pekerja harus KOMUTING karena RUMAHNYA JAUH-JAUH!

Jadi daripada sibuk-sibuk bikin proyek baru yang PASTI GAGAL TOTAL, kenapa gak menggalakkan pembangunan PERUMAHAN BERSUBSIDI, penyelenggaraan dan perbanyakan TRANSPORTASI UMUM BERSUBSIDI dan CABUT SUBSIDI BBM secara TOTAL dan KOMPREHENSIF!

CABUT! CABUT! CABUT!



Blog EntryMakanan kok dimain2inApr 8, '08 3:28 AM
for everyone
http://www.cnbc.com/id/23992438

Asia is panicking. By the end of March, 35 countries had recorded food riots. In the Philippines and Indonesia rice hoarding is taking place. The governments of Vietnam, India and Cambodia have taken steps to curb exports in order to ensure domestic supplies. Chinese Premier Web Jiaobao took the unprecedented step of guaranteeing rice supplies to Hong Kong and Macau after soaring prices triggered panic buying.


Z: emang spekulan perlu dimandulin n dikulitin
S: lha, lu main forex
Z: heleh..gw kan cuman ikut gelombang..
S: terus emang pedagang2 beras itu gak ikut gelombang?
Z:......harusnya kalo BULOG punya otot n latihan fitness, gak bakal tuh ikut2an gelombang....
S: Heleh, pemerintah. Disuruh onani tiap hari aja asal dikasih duit semilyar tiap kali ejakulasi, tuh presiden ama wapres pasti mau.....
Z: Bener aja siiih....
S: Terus...gimana dong sekarang?
Z: Mungkin saatnya kita kembali ke jaman dulu: sistem barter....
S: Nah loh....
Z: Ato kayak Civilization IV, pake sistem State Properties
S: Heleh..malah ngomongin game...
Z: Gw main game malah lebih bagus performanya daripada pemerintah ngurus negara...
S: Lu daftar jadi presiden aja?
Z: Lha yang ngedukung?
S: Kagak ada....
Z: Gak ngaruh kaaaaaaaaaaaaaan?
S: Iya sih. Terus, soal beras ini gimana?
Z: Cabut Subsidi bahan bakar biar gak pada demen jalan2 ke mall n jadi konsumtif n lebih begaul di lingkungannya, n pake tuh duit buat memperkuat sistem pertahanan pangan nasional.
S: Jadi inget Soeharto.
Z:....kalo soal ini, tuh bangsat emang lebih bisa mengendalikan...
S: Heh. Bener sih. Anyway, si kumis makassar kok gak ngomong apa2 ya soal ini?
Z: Lha, tengkulaknya kan keluarga dia semua...
S:....bener sih. Well...gak bakal selamat deh kita...
Z: Siap-siap aja puasa panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang
S: Bener. Pas gw lagi overweight nih.
Z: Lah lu overweight, tuh orang-orang di kampung2 overkurus!
S:.....

Blog EntryINLANDER BODO!Apr 2, '08 8:45 PM
for everyone
Kolma
Wilders & Inlanders
Eddi Santosa - detikcom

Den Haag - Verdraaid, inlanders bodo, he! Menahan diri atas 'Fitna' dan tidak terpancing itu jempolan, tapi seharusnya ada sikap. Wilders akan kena batunya kalau ekonomi Belanda guncang karena diboikot.

Kalimat pertama di atas saya petik dari dialog perwira Belanda Heinen (Hamid Arief) dalam film Si Pitung (1975). Stereotip inlander itu bodoh, lemah, gampang dikibuli. Sejak Diponegoro-Jenderal De Kock hingga sekarang, mental inlander itu masih jelas terlihat. Para pemimpin itu selalu keok di meja perundingan.

Tentu dalam kasus Fitna, diplomat-diplomat Belanda sigap menemui KH Hasyim Muzadi, Din Syamsuddin, dan entah siapa lagi. Mengapa mereka tergopoh-gopoh melakukan ofensi diplomatik? Seharusnya Hasyim-Din dkk tahu dan bisa menekan para diplomat itu supaya hukum ditegakkan atas Geert Wilders. Tidak cukup dengan hahaha-hihihi selesai sampai di sini. Mantan Menlu Hans van den Broek dan advokat top Gerard Spong termasuk yang mengatakan Wilders bisa diseret ke pengadilan, tapi pemerintah Belanda bersikap mendua.

Pertemuan sudah terjadi. Umat terkendali, tenang. Bagus. Hanya itu? Perhatikan kenerveusan Belanda, sehingga perlu ofensi diplomatik: faktor ekonomi! Belanda takut ekonominya guncang, misalnya karena produk mereka diboikot, lalu PHK meluas. Asosiasi pengusaha Belanda (VNO-NCW) sudah menyatakan akan menyeret Wilders ke pengadilan untuk meminta ganti rugi, jika produk Belanda diboikot. Wilders bisa kena batunya, apalagi pengikutnya mayoritas dari kalangan rendah yang rentan PHK. Mengapa ini tidak dimanfaatkan?

Media Yordania (30 koran, stasiun radio, dan situs web) hingga Mahathir Mohammad sudah menyerukan boikot atas produk-produk Belanda ini. Hasyim-Din dkk punya infrastruktur hingga ke cabang ranting, tapi mereka ini inlanders. Apakah bisa?

Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. ( es / es )


Blog EntryParadoxMar 26, '08 9:35 PM
for everyone

Blog EntryAriefnya Pak AriefMar 9, '08 8:20 PM
for everyone
tauk deh bohong apa gak:



Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan.

Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih
menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.

Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsipsatu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.

Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi,ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.

Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu.
Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.

Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.

Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.

Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.

Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan
cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai,sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.

Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia
sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.

Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.

Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan memintaagar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.

Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, ?Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.? Saya katakan, ?Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.?
Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.

Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.

Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa
pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.

Ia lalu mengatakan, ?Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,? katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.

Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.

Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, ?Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.? Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis
ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.

Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a?lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit,saya
malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.

Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?

Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, ?Kenapa tidak bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.

Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru. Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas
dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, ?Uang setan ya dimakan hantu.?

Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.

Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.

Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum?at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum?atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.

Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur?an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.

Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang
dipecat dan dipenjara.

Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan.


Blog EntryThe Bear Market is ComingJan 28, '08 12:18 AM
for everyone
Since January 2008, stock market indices all around the world have been declining in values following the unwinding of capitals from Japan and investors pulling up their capitals to cover the losses inflicted by a busted derivatives market related to housing markets.

Subprime Mortgage market, it seems, have been the addictive narcotic that requires high amount of pain to withdraw from.

The fed have been cutting rates from as high as 5% to now at 3.5% since November, with surprise rate cut at the fourth week of January 2008 cutting 0.75%. This was done, many believe, to put a brake to the decline being suffered by US major indices.

Indeed, the markets all around the world saw a halt to their seemingly utter demise, but every expert analysists now are seemingly in chorus: the rate cuttings are not enough; they want more! This attitude is like giving insults already injured market bulls and when the bulls are injured and insulted, the bears will take over.

And nobody but short-sellers (to a certain degree) wants a bear market. But the signs of the coming regime of the bears are in sight: the markets lost nearly 20% of their value since the subprime mortgage meltdown. The traders demand nothing less than aggressive rate cuts, and the talk about USA economic recessions are gaining additional voices daily.

Last week of January 2008 is a crucial moments for stocks, forex, and futures investors everywhere: will they saw the Bears erect their Standards on top of markets, or will the bull pulls out a miraclous comeback and swat the bears back to their dens?

No one knows.


Blog EntryHati-hati Makanya!Jan 23, '08 8:03 AM
for everyone
Amerika, sebagai negara adidaya pengkreasi berbagai macam ide nyeleneh untuk mendapatkan uang,
memojokkan dirinya sendiri ketika salah satu ide itu memberikan hasil yang negatif:
Memberikan utangan pada orang-orang yang susah bayar utang,
dengan jaminan rumah yang "dijamin harganya pasti naik",
sehingga banyak orang yang menjadikan rumahnya "ATM" dan mengutang sana-sini.
Ketika orang-orang itu tidak bisa bayar utang,
apa yang terjadi?
Sebelum menjawab, bagaimana kalau ternyata pengutang menawarkan "paket investasi" kepada para investor,
dan yang dijual adalah "surat penagihan hutang" yang berkaitan dengan "hutang rumah ajaib" itu.
Intinya: dari ngutangin ke debtor tukang ngemplang, si kreditor mengharap untung; dan dari hasil bulshitting bahwa "surat penagihan hutang" itu akan menjadi surat sakti, dia berharap untung juga.
Dan ketika banyak debtor yang gak bisa bayar utang karena ternyata "harga nilai taksiran rumah" sudah mentok,
apa yang terjadi?
Kredit macet,
kreditor gagal dapet untung,
investor "surat penagihan hutang" merasa tertipu dan meminta uangnya kembali,
dan para investor itu, karena rugi di perjudian hutang-menghutang ini, mencoba membullshit yang lain supaya mendapat untung dengan "memompa" harga-harga komoditas: emas, minyak, kedelai, jagung, gandum, perak, gas bumi. Kalau harga diri bisa mereka kalkulasikan dan mereka modelkan, pasti akan ada "Human-Worth Futures" trading di bursa derivatif mereka!
Jadi semua ini terjadi karena para financial warriors merasa mereka mempunyai jurus jitu untuk menaklukkan gunung keuntungan!
Udah tahu belum, bahwa Amerika pernah resesi di tahun 30-an?
Dan udah tahu belum penyebabnya apa?
karena pada tahun-tahun itu, pasar modal berkembang luar-biasa,
sehingga banyak orang ngutang ke bank supaya bisa beli saham;
dan ketika harga saham mentok karena para broker kehabisan bahan buat membullshit,
maka semua orang menarik investasinya dan berharap bisa mengambil profit;
lalu runtuhlah bursa saham;
dan banyak yang gak bisa bayar hutang ke bank.
Oh ya, hutang ke bank buat beli saham itu namanya "Margin Trading"
Mau tahu satu lagi teknik trading? Short Selling: Lu minjem saham ke broker, jual tuh saham dan berharap harganya turun (!) lalu beli lagi di harga rendah, n balikin lagi sahamnya ke broker!
Banyak broker di sini, n gw yakin pasti cuman pada diem ngeliatin e-mail gw ini;
soalnya kalo ngebullshit di sini juga percuma,
soalnya Dow Jones akan terus terjun sampe 10000 (!)meski Bernanke, Alan Greenspan, n Jim Cramer ngebullshit macam apa pun (apalagi si pandir yang tinggal di Gedung Putih)
saatnya beli reksadana nantinya!
















Blog EntrySwastanisasi Penjara!Jan 20, '08 6:41 PM
for everyone
Berkaitan dengan ide saya tentang pendayagunaan penghuni lapas menjadi pekerja paksa tanpa bayar, dan gara-gara Frank Miller, saya jadi punya ide untuk swastanisasikan saja lembaga pemasyarakatan.

Kenapa Frank Miller? Apa hubungannya orang yang mengarang perjuangan 300 pria gagah perkasa setengah telanjang dan God-damn Batman dengan ide ini?

Karena Frank Miller berkaitan dengan Robo-Cop. Dan di dalam cerita Robo-Cop ini, ada sebuah perusahaan bernama Omni-Consumer Product, yang menguasai AmRik luar-dalam, sampai penjara pun dijalankannya!

Ide saya simpel sebenarnya: swastanisasi penjara berkaitan dengan semakin ngawurnya moral para pekerja penjara itu sendiri. Penjara bisa menjadi surga bagi para napi pecandu narkotik (masih inget cerita bahwa ganja kiloan yang ditemukan di penjara di medan ternyata sudah biasa disuplai untuk dinikmati ramai-ramai?), dan surga bagi para koruptor. Penjara juga sudah penuh sesak. Dan ternyata penjara menjadi semacam tempat pematangan para napi kelas teri supaya nanti kalo keluar menjadi napi kelas kakap!.

Swastanisasi penjara, apabila dilakukan dengan regulasi yang ketat dan dikaitkan dengan regulasi kerja paksa bagi para kriminal bisa memberikan suplai pekerja murah bagi proyek-proyek pembangunan dan perawatan negara ini!

Pengelolaan penjara bisa diberikan secara kontrak kepada perusahaan-perusahaan swasta; yang mana pengelolaan itu meliputi perawatan penjara, penyuplaian tenaga paksa, dan pengawasan napi-napi itu. Swastanisasi penjara juga bisa menyebabkan para kontraktor memberikan bantuan bagi polisi untuk menertibkan jalan-jalan, pasar-pasar, dan perokok-perokok supaya penjaranya selalu penuh, dan keuntungan selalu mengalir!

Udah kebayang katalisasi penertiban kehidupan yang akan terjadi?

Tentu saja, semua ini harus diawasi secara ketat oleh negara dan tidak boleh ada penyimpangan dan penyalahgunaan sedikit pun!

So, daripada melihat penjara menjadi tempet perkembangbiakan duit haram, pematangan kriminal, dan penyebarluasan homoseksualisme, mending diswastanisasikan dan dijadikan supplier pekerja paksa!

Blog EntryBali: Sumbu Pemanasan Tahap Dua ?Dec 12, '07 10:25 AM
for everyone
Dear friends,

The US, Canada and Japan are climate-wrecking at Bali - here's our global emergency petition to save the talks, add your name automatically by clicking below!

" We call urgently for the US, Canada and Japan to stop blocking serious 2020 targets for emissions reductions, and for the rest of the world to refuse to accept anything less."




We're here at the climate summit in Bali -- but it's reached crisis point. Working late, negotiators were nearing consensus that developed countries should pledge post-Kyoto emissions cuts by 2020--a step which the scientists say is needed to avert the worst ravages of global warming, and which will help to bring China and the developing world onboard. But then the news broke: the US, Canada and Japan rejected any mention of such cuts. Every few hours the draft changes.

We can't let three governments hold the world to ransom: so we're launching a global emergency petition before the summit climax in 48 hours. We'll deliver our message every way we can -- a stark full-page advertisement in the Jakarta Post conference supplement which all the delegates are reading, stunts at the conference gates, direct to country negotiators -- telling Canada, Japan and the US to accept the option of post-Kyoto targets, and the rest of the world to settle for nothing less.

Please take a moment right now to sign the new global emergency petition -- the text is in the box above, so click this link to sign automatically if you've taken action with us before -- then tell all your friends:

http://www.avaaz.org/en/bali_emergency/7.php

Today marks the 10th anniversary of the expiring Kyoto pact, but Japan, the US and Canada don't seem to want a workable global deal to follow it. There is almost universal agreement in Bali that the idea of 2020 climate targets should be included, making possible a deal to bring the developing world onboard over time. As the news links below make clear, the US, Japan and Canada are destroying that delicate bargain, not even allowing the idea to be mentioned.

We're doing everything we can. Tens of thousands of Canadian Avaaz members have launched an ad campaign telling their government not to betray them -- our Japanese members are emailing their leaders -- while our American members will send their own message to Bali as Al Gore and Congressional and local representatives land there, asking negotiators to ignore the official US delegation because it does not represent them.

Coming from every country on earth, all of us can play a direct role in the Bali face-off by signing this global emergency petition -- delivered at the summit gates, in a full-page Financial Times ad, and direct to delegates. Add your name at this link, act now and spread the word -- we have just 48 hours:

http://www.avaaz.org/en/bali_emergency/7.php

With determination and hope,

Paul, Ricken, Galit, Ben, Iain, Graziela, Milena and the whole Avaaz team

PS This article explains a bit of what's going on:

http://www.iht.com/articles/2007/12/10/news/climate.php

The New Scientist has more detail here:

http://www.newscientist.com/blog/environment/2007/12/bali-draft-hints-emissions-targets-may_10.html

We're in the thick of things here at Bali -- Avaaz was the only organisation allowed to demonstrate inside the fortified summit Saturday. As hundreds of thousands marched around the world, we brought over half a million voices to the heart of the decision-making venue, carrying big banners and scores of country flags. We've also been hosting the daily Fossil Awards of the Climate Action Network, the umbrella of all the NGOs here – see http://www.avaaz.org/fossils.



ABOUT AVAAZ
Avaaz.org is an independent, not-for-profit global campaigning organization that works to ensure that the views and values of the world's people inform global decision-making. (Avaaz means "voice" in many languages.) Avaaz receives no money from governments or corporations, and is staffed by a global team based in London, New York, Paris, Washington DC, Geneva, and Rio de Janeiro.

You are getting this message because you signed "Stand with the Burmese Protesters" on 2007-10-17 using the email address Strivearth@gmail.com.
To ensure that Avaaz messages reach your inbox, please add avaaz@avaaz.org to your address book. To change your email address, language settings, or other personal information, click here, or simply go here to unsubscribe.

To contact Avaaz, please do not reply to this email. Instead, write to info@avaaz.org. You can also send postal mail to our New York office: 260 Fifth Avenue, 9th floor, New York, NY 10001 U.S.A.

If you have technical problems, please go to http://www.avaaz.org.


Blog EntryScary Truth About Fictional MoneyDec 9, '07 6:46 AM
for everyone

You are in Deep Shit, My Friends. Read this to know why:

I Want The Earth Plus 5%

Fabian was excited as he once more rehearsed his speech for the crowd certain to turn up tomorrow. He had always wanted prestige and power and now his dreams were going to come true. He was a craftsman working with silver and gold, making jewelry and ornaments, but he became dissatisfied with working for a living. He needed excitement, a challenge, and now his plan was ready to begin.
For generations the people used the barter system. A man supported his own family by providing all their needs or else he specialised in a particular trade. Whatever surpluses he might have from his own production, he exchanged or swapped for the surplus of others.
Market day was always noise and dusty, yet people looked forward to the shouting and waving, and especially the companionship. It used to be a happy place, but now there were too many people, too much arguing. There was no time for chatting - a better system was needed.

Generally, the people had been happy, and enjoyed the fruits of their work.

In each community a simple Government had been formed to make sure that each person's freedoms and rights were protected and that no man was forced to do anything against his will by any other man, or any group of men.
This was the Government's one and only purpose and each Governor was voluntarily supported by the local community who elected him.

However, market day was the one problem they could not solve. Was a knife worth one or two baskets of corn? Was a cow worth more than a wagon … and so on. No one could think of a better system.

Fabian had advertised, "I have the solution to our bartering problems, and I invite everyone to a public meeting tomorrow."
The next day there was a great assembly in the town square and Fabian explained all about the new system which he called "money". It sounded good. "How are we to start?" the people asked.

"The gold which I fashion into ornaments and jewelry is an excellent metal. It does not tarnish or rust, and will last a long time. I will make some gold into coins and we shall call each coin a dollar."
He explained how values would work, and that "money" would be really a medium for exchange - a much better system than bartering.

One of the Governors questioned, "Some people can dig gold and make coins for themselves", he said.

"This would be most unfair", Fabian was ready with the answer. "Only those coins approved by the Government can be used, and these will have special marking stamped on them." This seemed reasonable and it was proposed that each man be given an equal number. "But I deserve the most," said the candle-maker. "Everyone uses my candles." "No", said the farmer, "without food there is no life, surely we should get the most." And so the bickering continued.

Fabian let them argue for a while and finally he said, "Since none of you can agree, I suggest you obtain the number you require from me. There will be no limit, except for your ability to repay. The more you obtain, the more you must repay in one year's time. "And what will you receive?" the people asked.

"Since I am providing a service, that is, the money supply, I am entitled to payment for my work. Let us say that for every 100 pieces you obtain, you repay me 105 for every year that you owe the debt. The 5 will be my charge, and I shall call this charge interest."

There seemed to be no other way, and besides, 5% seemed little enough charge. "Come back next Friday and we will begin."
Fabian wasted no time. He made coins day and night, and at the end of the week he was ready. The people were queued up at his shop, and after the coins were inspected and approved by the Governors the system commenced. Some borrowed only a few and they went off to try the new system.

They found money to be marvelous, and they soon valued everything in gold coins or dollars. The value they placed on everything was called a "price", and the price mainly depended on the amount of work required to produce it. If it took a lot of work the price was high, but if it was produced with little effort it was quite inexpensive.

In one town lived Alan, who was the only watchmaker. His prices were high because the customers were willing to pay just to own one of his watches.

Then another man began making watches and offered them at a lower price in order to get sales. Alan was forced to lower his prices, and in no time at all prices came down, so that both men were striving to give the best quality at the lowest price. This was genuine free competition.
It was the same with builders, transport operators, accountants, farmers, in fact, in every endeavour. The customers always chose what they felt was the best deal - they had freedom of choice. There was no artificial protection such as licences or tariffs to prevent other people from going into business. The standard of living rose, and before long the people wondered how they had ever done without money.
At the end of the year, Fabian left his shop and visited all the people who owed him money. Some had more than they borrowed, but this meant that others had less, since there were only a certain number of coins issued in the first place. Those who had more than they borrowed paid back each 100 plus the extra 5, but still had to borrow again to carry on.
The others discovered for the first time that they had a debt. Before he would lend them more money, Fabian took a mortgage over some of their assets, and everyone went away once moreto try and get those extra 5 coins whichalways seemed so hard to find.

No one realised that as a whole, the country could never get out of debt until all the coins were repaid, but even then, there were those extra 5 on each 100 which had never been lent out at all. No one but Fabian could see that it was impossible to pay the interest - the extra money had never been issued, therefore someone had to miss out.

It was true that Fabian spent some coins, but he couldn't possibly spend anything like 5% of the total economy on himself. There were thousands of people and Fabian was only one. Besides, he was still a goldsmith making a comfortable living.
At the back of his shop Fabian had a strongroom and people found it convenient to leave some of their coins with him for safekeeping. He charged a small fee depending on the amount of money, and the time it was left with him. He would give the owner receipts for the deposit.

When a person went shopping, he did not normally carry a lot of gold coins. He would give the shopkeeper one of the receipts to the value of the goods he wanted to buy.
Shopkeepers recognised the receipt as being genuine and accepted it with the idea of taking it to Fabian and collecting the appropriate amount in coins. The receipts passed from hand to hand instead of the gold itself being transferred. The people had great faith in the receipts - they accepted them as being as good as coins.
Before long, Fabian noticed that it was quite unusual for anyone to actually call for their gold coins.

He thought to himself, "Here I am in possession of all this gold and I am still a hard working craftsman. It doesn't make sense. Why there are dozens of people who would be glad to pay me interest for the use of this gold which is lying here and rarely called for.

It is true, the gold is not mine - but it is in my possession, which is all that matters. I hardly need to make any coins at all, I can use some of the coins stored in the vault."

At first he was very cautious, only loaning a few at a time, and then only on tremendous security. But gradually he became bolder, and larger amounts were loaned.

One day, a large loan was requested. Fabian suggested, "Instead of carrying all these coins we can make a deposit in your name, and then I shall give you several receipts to the value of the coins." The borrower agreed, and off he went with a bunch of receipts. He had obtained a loan, yet the gold remained in the strong-room. After the client left, Fabian smiled. He could have his cake and eat it too. He could "lend" gold and still keep it in his possession.

Friends, strangers and even enemies needed funds to carry out their businesses - and so long as they could produce security, they could borrow as much as they needed. By simply writing out receipts Fabian was able to "lend" money to several times the value of gold in his strong-room, and he was not even the owner of it. Everything was safe so long as the real owners didn't call for their gold and the confidence of the people was maintained.
He kept a book showing the debits and credits for each person. The lending business was proving to be very lucrative indeed.
His social standing in the community was increasing almost as fast as his wealth. He was becoming a man of importance, he commanded respect. In matters of finance, his very word was like a sacred pronouncement.
Goldsmiths from other towns became curious about his activities and one day they called to see him. He told them what he was doing, but was very careful to emphasize the need for secrecy.

If their plan was exposed, the scheme would fail, so they agreed to form their own secret alliance.
Each returned to his own town and began to operate as Fabian had taught.

People now accepted the receipts as being as good as gold itself, and many receipts were deposited for safe keeping in the same way as coins. When a merchant wished to pay another for goods, he simply wrote a short note instructing Fabian to transfer money from his account to that of the second merchant. It took Fabian only a few minutes to adjust the figures.

This new system became very popular, and the instruction notes were called "checks".

Late one night, the goldsmiths had another secret meeting and Fabian revealed a new plan. The next day they called a meeting with all the Governors, and Fabian began. "The receipts we issue have become very popular. No doubt, most of you Governors are using them and you find them very convenient." They nodded in agreement and wondered what the problem was. "Well", he continued, "some receipts are being copied by counterfeiters. This practice must be stopped."

The Governors became alarmed. "What can we do?" they asked. Fabian replied, "My suggestion is this - first of all, let it be the Government's job to print new notes on a special paper with very intricate designs, and then each note to be signed by the chief Governor. We goldsmiths will be happy to pay the printing costs, as it will save us a lot of time writing out receipts". The Governors reasoned, "Well, it is our job to protect the people against counterfeiters and the advice certainly seems like a good idea." So they agreed to print the notes.
"Secondly," Fabian said, "some people have gone prospecting and are making their own gold coins. I suggest that you pass a law so that any person who finds gold nuggets must hand them in. Of course, they will be reimbursed with notes and coins."

The idea sounded good and without too much thought about it, they printed a large number of crisp new notes. Each note had a value printed on it - $1, $2, $5, $10 etc. The small printing costs were paid by the goldsmiths.
The notes were much easier to carry and they soon became accepted by the people. Despite their popularity however, these new notes and coins were used for only 10% of transactions. The records showed that the check system accounted for 90% of all business.

The next part of his plan commenced. Until now, people were paying Fabian to guard their money. In order to attract more money into the vault Fabian offered to pay depositors 3% interest on their money.
Most people believed that he was re-lending their money out to borrowers at 5%, and his profit was the 2% difference. Besides, the people didn't question him as getting 3% was far better than paying to have the money guarded.
The volume of savings grew and with the additional money in the vaults, Fabian was able to lend $200, $300, $400 sometimes up to $900 for every $100 in notes and coins that he held in deposit. He had to be careful not to exceed this nine to one ratio, because one person in ten did require the notes and coins for use.

If there was not enough money available when required, people would become suspicious, especially as their deposit books showed how much they had deposited. Nevertheless, on the $900 in book figures that Fabian loaned out by writing checks himself, he was able to demand up to $45 in interest, i.e. 5% on $900. When the loan plus interest was repaid, i.e. $945, the $900 was cancelled out in the debit column and Fabian kept the $45 interest. He was therefore quite happy to pay $3 interest on the original $100 deposited which had never left the vaults at all. This meant that for every $100 he held in deposits, it was possible to make 42% profit, most people believing he was only making 2%. The other goldsmiths were doing the same thing. They created money out of nothing at the stroke of a pen, and then charged interest on top of it.

True, they didn't coin money, the Government actually printed the notes and coins and gave it to the goldsmiths to distribute. Fabian's only expense was the small printing fee. Still, they were creating credit money out of nothing and charging interest on top of it. Most people believed that the money supply was a Government operation. They also believed that Fabian was lending them the money that someone else had deposited, but it was very strange that no one's deposits ever decreased when a loan was advanced. If everyone had tried to withdraw their deposits at once, the fraud would have been exposed.

When a loan was requested in notes or coins, it presented no problem. Fabian merely explained to the Government that the increase in population and production required more notes, and these he obtained for the small printing fee.

One day a thoughtful man went to see Fabian. "This interest charge is wrong", he said. "For every $100 you issue, you are asking $105 in return. The extra $5 can never be paid since it doesn't exist.

Farmers produce food, industry manufacturers goods, and so on, but only you produce money. Suppose there are only two businessmen in the whole country and we employ everyone else. We borrow $100 each, we pay $90 out in wages and expenses and allow $10 profit (our wage). That means the total purchasing power is $90 + $10 twice, i.e. $200. Yet to pay you we must sell all our produce for $210. If one of us succeeds and sells all his produce for $105, the other man can only hope to get $95. Also, part of his goods cannot be sold, as there is no money left to buy them.

He will still owe you $10 and can only repay this by borrowing more. The system is impossible."
The man continued, "Surely you should issue 105, i.e. 100 to me and 5 to you to spend. This way there would be 105 in circulation, and the debt can be repaid."

Fabian listened quietly and finally said, "Financial economics is a deep subject, my boy, it takes years of study. Let me worry about these matters, and you look after yours. You must become more efficient, increase your production, cut down on your expenses and become a better businessman. I am always willing to help in these matters."
The man went away still unconvinced. There was something wrong with Fabian's operations and he felt that his questions had been avoided.

Yet, most people respected Fabian's word - "He is the expert, the others must be wrong. Look how the country has developed, how our production has increased - we must be better off."
To cover the interest on the money they had borrowed, merchants were forced to raise their prices. Wage earners complained that wages were too low. Employers refused to pay higher wages, claiming that they would be ruined. Farmers could not get a fair price for their produce. Housewives complained that food was getting too dear.
And finally some people went on strike, a thing previously unheard of. Others had become poverty stricken and their friends and relatives could not afford to help them. Most had forgotten the real wealth all around - the fertile soils, the great forests, the minerals and cattle. They could think only of the money which always seemed so scarce. But they never questioned the system. They believed the Government was running it.

A few had pooled their excess money and formed "lending" or "finance" companies. They could get 6% or more this way, which was better than the 3% Fabian paid, but they could only lend out money they owned - they did not have this strange power of being able to create money out of nothing by merely writing figures in books.

These finance companies worried Fabian and his friends somewhat, so they quickly set up a few companies of their own. Mostly, they bought the others out before they got going. In no time, all the finance companies were owned by them, or under their control.

The economic situation got worse. The wage earners were convinced that the bosses were making too much profit. The bosses said that their workers were too lazy and weren't doing an honest day's work, and everyone was blaming everyone else.The Governors could not come up with an answer and besides, the immediate problem seemed to be to help the poverty stricken.
They started up welfare schemes and made laws forcing people to contribute to them. This made many people angry - they believed in the old-fashioned idea of helping one's neighbour by voluntary effort.

"These laws are nothing more than legalised robbery. To take something off a person against his will, regardless of the purpose for which it is to be used, is no different from stealing."
But each man felt helpless and was afraid of the jail sentence which was threatened for failing to pay. These welfare schemes gave some relief, but before long the problem was back and more money was needed to cope. The cost of these schemes rose higher and higher and the size of the Government grew.

Most of the Governors were sincere men trying to do their best. They didn't like asking for more money from their people and finally, they had no choice but to borrow money from Fabian and his friends. They had no idea how they were going to repay. Parents could no longer afford to pay teachers for their children. They couldn't pay doctors. And transport operators were going out of business.

One by one the government was forced to take these operations over. Teachers, doctors and many others became public servants.

Few obtained satisfaction in their work. They were given a reasonable wage, but they lost their identity. They became small cogs in a giant machine.

There was no room for personal initiative, little recognition for effort, their income was fixed and advancement came only when a superior retired or died.
In desperation, the governors decided to seek Fabian's advice. They considered him very wise and he seemed to know how to solve money matters. He listened to them explain all their problems, and finally he answered, "Many people cannot solve their own problems - they need someone to do it for them. Surely you agree that most people have the right to be happy and to be provided with the essentials of life. One of our great sayings is "all men are equal" - is it not?"
Well, the only way to balance things up is to take the excess wealth from the rich and give it to the poor. Introduce a system of taxation. The more a man has, the more he must pay. Collect taxes from each person according to his ability, and give to each according to his need. Schools and hospitals should be free for those who cannot afford them …"

He gave them a long talk on high sounding ideals and finished up with, "Oh, by the way, don't forget you owe me money. You've been borrowing now for quite some time. The least I can do to help, is for you to just to pay me the interest. We'll leave the capital debt owing, just pay me the interest."

They went away, and without giving Fabian's philosophies any real thought, they introduced the graduated income tax - the more you earn, the higher your tax rate. No one liked this, but they either paid the taxes or went to jail.
Merchants were forced once again to raise their prices. Wage earners demanded higher wages forcing many employers out of business, or to replace men with machinery. This caused additional unemployment and forced the Government to introduce further welfare and handout schemes.
Tariffs and other protection devices were introduced to keep some industries going just to provide employment. A few people wondered if the purpose of the production was to produce goods or merely to provide employment.

As things got worse, they tried wage control, price control, and all sorts of controls. The Government tried to get more money through sales tax, payroll tax and all sorts of taxes. Someone noted that from the wheat farmer right through to the housewife, there were over 50 taxes on a loaf of bread.

"Experts" arose and some were elected to Government, but after each yearly meeting they came back with almost nothing achieved, except for the news that taxes were to be "restructured", but overall the total tax always increased.

Fabian began to demand his interest payments, and a larger and larger portion of the tax money was being needed to pay him.
Then came party politics - the people started arguing about which group of Governors could best solve the problems. They argued about personalities, idealism, party labels, everything except the real problem. The councils were getting into trouble.
In one town the interest on the debt exceeded the amount of rates which were collected in a year. Throughout the land the unpaid interest kept increasing - interest was charged on unpaid interest.

Gradually much of the real wealth of the country came to be owned or controlled by Fabian and his friends and with it came greater control over people. However, the control was not yet complete. They knew that the situation would not be secure until every person was controlled.

Most people opposing the systems could be silenced by financial pressure, or suffer public ridicule. To do this Fabian and his friends purchased most of the newspapers, T.V. and radio stations and he carefully selected people to operate them. Many of these people had a sincere desire to improve the world, but they never realised how they were being used. Their solutions always dealt with the effects of the problem, never the cause.
There were several different newspapers - one for the right wing, one for the left wing, one for the workers, one for the bosses, and so on. It didn't matter much which one you believed in, so long as you didn't think about the real problem.

Fabian's plan was almost at its completion - the whole country was in debt to him. Through education and the media, he had control of people's minds. They were able to think and believe only what he wanted them to.
After a man has far more money than he can possibly spend for pleasure, what is left to excite him? For those with a ruling class mentality, the answer is power - raw power over other human beings. The idealists were used in the media and in Government, but the real controllers that Fabian sought were those of the ruling class mentality.

Most of the goldsmiths had become this way. They knew the feeling of great wealth, but it no longer satisfied them. They needed challenge and excitement, and power over the masses was the ultimate game.

They believed they were superior to all others. "It is our right and duty to rule. The masses don't know what is good for them. They need to be rallied and organised. To rule is our birthright."

Throughout the land Fabian and his friends owned many lending offices. True, they were privately and separately owned. In theory they were in competition with each other, but in reality they were working very closely together. After persuading some of the Governors, they set up an institution which they called the Money Reserve Centre. They didn't even use their own money to do this - they created credit against part of the money out of the people's deposits.
This Institution gave the outward appearance of regulating the money supply and being a Government operation, but strangely enough, no Governor or public servant was ever allowed to be on the Board of Directors.
The Government no longer borrowed directly from Fabian, but began to use a system of I.O.U.'s to the Money Reserve Centre. The security offered was the estimated revenue from next year's taxes. This was in line with Fabian's plan - removing suspicion from himself to an apparent Government operation. Yet, behind the scenes, he was still in control.

Indirectly, Fabian had such control over the Government that they were forced to do his bidding. He boasted, "Let me control the nation's money and I care not who makes its laws." It didn't matter much which group of Governors were elected. Fabian was in control of the money, the life blood of the nation.

The Government obtained the money, but interest was always charged on every loan. More and more was going out in welfare and handout schemes, and it was not long before the Government found it difficult to even repay the interest, let alone the capital.

And yet there were people who still asked the question, "Money is a man-made system. Surely it can be adjusted to serve, not to rule?" But these people became fewer and their voices were lost in the mad scrabble for the non-existent interest.

The adminstrations changed, the party labels changed, but the major policies continued. Regardless of which Government was in "power", Fabian's ultimate goal was brought closer each year. The people's policies meant nothing. They were being taxed to the limit, they could pay no more. Now the time was ripe for Fabian's final move.

10% of the money supply was still in the form of notes and coins. This had to be abolished in such a way as not to arouse suspicion. While the people used cash, they were free to buy and sell as they chose - they still had some control over their own lives.
But it was not always safe to carry notes and coins. Checks were not accepted outside one's local community, and therefore a more convenient system was looked forward to. Once again Fabian had the answer. His organisation issued everyone with a little plastic card showing the person's name, photograph and an identification number.
When this card was presented anywhere, the storekeeper phoned the central computer to check the credit rating. If it was clear, the person could buy what he wanted up to a certain amount.

At first people were allowed to spend a small amount on credit, and if this was repaid within a month, no interest was charged. This was fine for the wage earner, but what businessman could even begin? He had to set up machinery, manufacture the goods, pay wages etc. and sell all his goods and repay the money. If he exceeded one month, he was charged a 1.5% for every month the debt was owed. This amounted to over 18% per year.

Businessmen had no option but to add the 18% onto the selling price. Yet this extra money or credit (the 18%) had not been loaned out to anyone. Throughout the country, businessmen were given the impossible task of repaying $118 for every $100 they borrowed - but the extra $18 had never been created at all.

Yet Fabian and his friends increased their standing in society. They were regarded as pillars of respectability. Their pronouncements on finance and economics were accepted with almost religious conviction.

Under the burden of ever increasing taxes, many small businesses collapsed. Special licenses were needed for various operations, so that the remaining ones found it very difficult to operate. Fabian owned and controlled all of the big companies which had hundreds of subsidiaries. These appeared to be in competition with each other, yet he controlled them all. Eventually all competitors were forced out of business. Plumbers, panel beaters, electricians and most other small industries suffered the same fate - they were swallowed up by Fabian's giant companies which all had Government protection.

Fabian wanted the plastic cards to eliminate notes and coins. His plan was that when all notes were withdrawn, only businesses using the computer card system would be able to operate.

He planned that eventually some people would misplace their cards and be unable to buy or sell anything until a proof of identify was made. He wanted a law to be passed which would give him ultimate control - a law forcing everyone to have their identification number tattooed onto their hand. The number would be visible only under a special light, linked to a computer. Every computer would be linked to a giant central computer so that Fabian could know everything about everyone.

________________________________________________________

By the way, the correct terminology used in the financial world for this system is "fractional reserve banking".

The story you have read is of course, fiction.

But if you found it to be disturbingly close to the truth and would like to know who Fabian is in real life, a good starting point is a study on the activities of the English goldsmiths in the 16th & 17th centuries.

For example, The Bank of England began in 1694. King William of Orange was in financial difficulties as a result of a war with France. The Goldsmiths "lent him" 1.2 million pounds (a staggering amount in those days) with certain conditions:
The interest rate was to be 8%.
The King was to grant the goldsmiths a charter for the bank which gave them the right to issue credit.

Prior to this, their operations of issuing receipts for more money than they held in deposits was totally illegal. The charter made it legal.

In 1694 William Patterson obtained the Charter for the Bank of England.

© Larry Hannigan 1971, Australia

www.wheylite.com.au

Feel free to make as many copies of this article, and to reproduce this article, SO LONG AS YOU ADD A LINK TO www.relfe.com

Quotations:

Encyclopaedia Britannica, 14th Edition - "Banks create credit. It is a mistake to suppose that bank credit is created to any extent by the payment of money into the banks. A loan made by a bank is a clear addition to the amount of money in the community."

Lord Acton, Lord Chief Justice of England, 1875 - "The issue which has swept down the centuries and which will have to be fought sooner or later is the People v. The Banks."

Mr Reginald McKenna, when Chairman of the Midland Bank in London - "I am afraid that ordinary citizens will not like to be told that the banks can, and do, create and destroy money. And they who control the credit of the nation direct the policy of governments, and hold in the hollow of their hands the destiny of the people.

Mr Phillip A. Benson, President of the American Bankers' Association, June 8 1939 - "There is no more direct way to capture control of a nation than through its credit (money) system."

USA Banker's Magazine, August 25 1924 - "Capital must protect itself in every possible manner by combination and legislation. Debts must be collected, bonds and mortgages must be foreclosed as rapidly as possible. When, through a process of law, the common people lose their homes they will become more docile and more easily governed through the influence of the strong arm of government, applied by a central power of wealth under control of leading financiers.

This truth is well known among our principal men now engaged in forming an imperialism of Capital to govern the world.

By dividing the voters through the political party system, we can get them to expend their energies in fighting over questions of no importance. Thus by discreet action we can secure for ourselves what has been so well planned and so successfully accomplished."

Sir Denison Miller - During an interview in 1921, when he was asked if he, through the Commonwealth Bank, had financed Australia during the First World War for $700 million, he replied; "Such was the case, and I could have financed the country for a further like sum had the war continued." Asked if that amount was available for productive purposes in this time of peace, he answered "Yes".

From "Hand Over Our Loot, No. 2, by Len Clampett:

"There are four things that must be available for paid work to take place:
The work to be done.
The materials to do the work.
The labor to do the work.
The money to pay for the work to be done.

If any of those four things are missing, no paid work can take place. It is a naturally self-regulating system. If there is work to be done, and the material is available and the labour willing, all we have to do is create the money. Quite simple."

"Ask yourself why it was that depressions happened. All that went missing from the community was the money to buy goods and services. The labour was still available. The work to be done was still there. The materials had not disappeared, and the goods were readily available in the shops, or could be produced but for the want of money.

Extract from a letter written by Rothschild Bros of London to a New York firm of bankers on 25 June 1863:

"The few who can understand the System (Cheque Money and Credits) will either be so interested in its profits, or so dependent on its favours, that there will be no opposition from that class. While on the other hand, the great body of people mentally incapable of comprehending the tremendous advantage that capital derives from the system, will bear its burdens without complaint and perhaps without even suspecting that the system is inimical (hostile, hurtful) to their interests.

The following quotation was reprinted in the Idaho Leader, USA, 26 August 1924, and has been read into Hansard twice: by John Evans MP, in 1926, and by M.D. Cowan M.P., in the Session of 1930-1931.

In 1891 a confidential circular was sent to American bankers and their agents, containing the following statements:

"We authorise our loan agents in the western States to loan our funds on real estate, to fall due on September 1st 1894, and at no time thereafter.

On September 1, 1894, we will not renew our loans under any consideration.

On September 1st we will demand our money - we will foreclose and become mortgagees in possession.

We can take two-thirds of the farms west of the Mississippi and thousands of them east of the great Mississippi as well, at our own price.

We may as well own three-fourths of the farms of the west and the money of the country.

Then the farmers will become tenants, as in England."

From "Hand Over Our Loot, No. 2"

In the United States, the issuing of money is controlled by the Federal Reserve Board. This is not a government department but a board of private bankers.Most of us would believe that the Federal Reserve is a federal arm of the national government….This is not true…In 1913 President Woodrow Wilson signed the document that created the Federal Reserve, and committed the American people to debt slavery until such time as they awake from their slumber and overthrow this vicious tyranny."…

"The understanding of this issue of money into the community can be best illustrated by equating money in the economy with tickets in a railway system. The tickets are printed by a printer who is paid for his work. The printer never claims the ownership of the tickets … And we can never imagine a railway company refusing to give passengers seats on a train because it is out of tickets. By this same token, a government should never refuse people the access to normal commerce and trade by claiming it is out of money."

Suppose the government borrows $10 million. It only costs the bankers a few hundred dollars to actually produce the funds, and a little more to do the book-keeping. Do you think it is fair that our citizens should struggle to keep their homes and families together, while the bankers grow fat on these profits?

Credit created by a Government-owned bank is better than credit created by private banks, because there is no need to recover the money from people by way of taxes, and there is no interest attached to inflate the cost. The public work completed with the credit by the Government bank is the asset that replaces the money created when the work is finished.

None of our problems will disappear until we correct the creation, supply and circulation of money. Once the money problem is solved, everything else will fall into place.

Each of us can help to turn this ship around:
The first thing is to teach people. VERY FEW know about or understand this information yet. Please pass this information on to those on and off the net.
Research this subject for yourself to increase your understanding.
Join with others who want to return the control of government to the people. Remember - they are 'public SERVANTS'! We are not their servant. They should do OUR bidding.
Regardless of your political leanings, encourage your local Member to investigate and correct our money system. (They probably need to be educated too!). You can do this by email, letter, telephone or personal discussion.
Legislators receive an average of only 100 letters on any given issue. So if you write you opinion and get others to write, say 25 letters, you send a strong message. (Have a letter writing evening).

MOST IMPORTANT OF ALL:

Support Ron Paul in the 2008 Election!

1) Do searches on "Ron Paul" at google video and http://www.youtube.com.

2) Register as Republican and vote for him in the primaries!

3) Donate at http://www.ronpaul2008.com. No donation is too small.

4) Spread the word - Ron Paul is Hope for America.

FURTHER INFORMATION

Money Files www.moneyfiles.org/soundmoney.html
Exposing corruption in the Global Monetary System

A Phone Call to the Fed www.rense.com/general29/ringring.htm

Money Game - The Greatest Scam Ever:
Excerpt from the book "Knowledge without Wisdom" by Paul Bond.

Billions for the Bankers www.mtl.clubplus.net/ ~clinique/bankers.htm

Liberty Australia: Banks & Money www.alphalink.com.au/~noelmcd

The Money Masters www.themoneymasters.com

FAME-Foundation for the Adancement of Monetary Education www.FAME.org

Rothschild Wealth & Influence www.mega.nu:8080/ampp/rothschild2.html#metatop

www.prolognet.qc.ca/clyde/money.htm

www.geocities.com/CapitolHill/Lobby/1234/spooner.html

From Moses to Rothschild www.reformation.org/moneychangers.html

Americans for Better Transportation www.wealthmoney.org

The Rothschilds: www.mega.nu:8080/ampp/rothschild2.html#metatop
Noone knows what they are worth, but it's estimated that their wealth is estimated at $2 trillion - $491,409 trillion US

Starting a New Economy http://freeeconomy.com/?cat=1

WANTED!!! Help your country! Volunteers wanted to translate this page!!! If you are willing and able to translate this page into another language, please email Stephanie Relfe at Stephanie@relfe.com and say which language you can translate it into.

I can put your translation on this site. However, it is even better if you can put it on a site of your own so all I have to do is link to it. If you use this option, please:

1) Add the pictures, except for a few that have a lot of english words on them (as this may confuse readers of another language).

2) Link to my site www.relfe.com

3) Link to all the other translations that are listed at the start of this article, including this English translation.

You may add whatever ad or links you like at the end of it (with a few exceptions, eg no porno or occult stuff).

The languages that are already taken care of are listed at the top of this page, with links to those pages.

www.relfe.com
Email:Stephanie@Relfe.com
















































PENYEBAB BOROS

TIDAK ADA PERENCANAAN

Salah satu ciri zaman modern adalah segala sesuatu dibuat menjadi sangat mudah. Lihat saja televisi, kalau dulu selain ukurannya besar, memindahkan channel-nya pun butuh tenaga. Bandingkan dengan TV zaman sekarang yang sudah menggunakan remote control, yang hanya dengan sekali sentuh, channel sudah berpindah. Termasuk untuk menggerakkan TV-nya sekalipun. Juga AC, lampu, bahkan ada yang dengan suara pun sudah bisa menjadi sensor penggerak peralatan rumah tangga kita, luar biasa. Sungguh kemampuan akal manusia telah menjadikan kebutuhan hidup kita lebih mudah untuk dilakukan.
Tapi, kemudahan ini pun ada dampak negatifnya. Tiada lain karena segala kemudahan yang didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, ternyata dapat menjadi biang munculnya pemborosan. Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah ia dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone. Tiada lain, karena sedemikian mudahnya menggunakan dua alat yang memang diperuntukkan sebagai pemberi kemudahan ini. Biasa tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan biaya yang dikeluarkan pun terlewati.
Sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uangnya di tabungan, yang harus berproses dulu. Untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang. Harap dimaklumi, sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk, melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.
Salah satu yang dapat kita lakukan untuk menghindari perilaku boros ini adalah dengan membuat perencanaan keuangan. Subhanallaah, sebuah rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga dapat mengadakan antisipasi terhadap kekurangan cash flow keuangan keluarga. Bahkan anak-anak pun sudah dapat dilatih sedari kecil dengan cara uang jajannya diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dalam hal ini akan sangat membantu dalam program penghematan.
Ada sebuah contoh menarik. Ibu Fulanah, sebut saja begitu, hampir setiap minggu selalu bertengkar dengan suaminya. Sebabnya adalah anggaran belanja yang tidak pernah cukup. Padahal menurut perhitungan kasar sang suaminya, dianggap sudah memadai. Sesudah diselidiki dengan seksama, ternyata ibu Fulanah ini memang tidak punya perencanaan anggaran belanja berimbang, sehingga tidak ada prioritas dalam pengeluaran uang dan tentu saja akibatnya banyak hal penting tak terbiayai sedangkan hal sekunder yang tak begitu penting malah dibeli.
Berlainan dengan ibu Siti, bukan nama sebenarnya, yang memiliki pengetahuan untuk mengadakan perencanaan pengeluaran dan pemasukan yang berimbang. Walaupun gaji suaminya pas-pasan dan bahkan cenderung kurang, tapi dengan perencanaan yang cermat dan terbuka kepada seluruh anggota keluarga sehingga setiap anggota keluarga memahami keadaan perekonomian keluarga yang sebenarnya. Akibatnya, selain dananya tepat guna, seluruh keluarga pun terbiasa juga berhemat. Selain itu, kekurangan dana juga bisa dideteksi lebih awal dan segera dicarikan solusinya bersama. Tentu saja hasil kerja sama setiap anggota keluarga ini membantu menyelesaikan masalah yang ada. Sungguh sangat belainan dengan ibu Fulanah dan suaminya tadi yang sibuk saling menyalahkan, padahal tentu saja tidak menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah.
Kalau tak percaya, untuk hal yang sederhana saja yaitu jikalau kita pergi berbelanja ke pasar atau toko serba ada namun tidak punya perencanaan yang jelas, maka akibatnya bisa secara sembrono membeli hal yang tidak prioritas. Disamping itu kurangnya perencanaan menyebabkan pula peluang kegagalan semakin terbuka lebar, berarti pemborosan dalam segala bidang.
Maka jikalau ingin menjadi orang yang hemat, selalu adakan perencanaan yang matang dalam segala hal. Semakin mendetail/rinci maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam penghematan ini. Termasuk untuk hal-hal yang sederhana atau yang biasa dianggap sepele. Biasakanlah sebelum belanja tulis dengan baik dan jelas barang yang harus dibeli dan anggaran yang harus disediakan, begitu pula dalam belanja bulanan, rumah tangga yang terbiasa mengadakan perencanaan, selain lebih hemat juga bisa mengadakan antisipasi terhadap kekurangan biaya belanja, bahkan anak-anak pun sudah bisa dilatih mulai dari kecil dengan cara uang jajannya bisa diberikan mingguan atau bahkan bulanan, sehingga sang anak sudah biasa membuat perencanaan pengeluarannya, dan hal ini akan sangat membantu dalam hal efisiensi.
Hanya saja harus juga dianggarkan dengan jelas biaya sedekah sebagai investasi penting untuk penolak bala dan bencana, pengundang rezeki yang lebih berkah. Jangan sampai keinginan hemat menjadi kekikiran dalam kebaikan. Rasulullah dalam hal ini bersabda, "Orang yang kikir akan jauh dari Allah dan jauh dari manusia" (HR Thabrani).
Allah SWT pun menjelaskan dalam firman-Nya, "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, jika kamu tidak menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui" (QS. Ali Imran [3] : 92). Dalam ayat lain, "Dan barangsiapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung" (QS. Ath Taghabun [54] : 16).
Nampaklah bahwa perencanan finansial yang berdampak pada perilaku hemat, ternyata bukan berarti harus kikir.***

KURANG PERAWATAN
Aini sekali lagi harus pergi ke dokter gigi untuk memeriksakan giginya yang sering sakit. Padahal dokter gigi yang praktek di kampungnya cuma satu-satunya dan berjarak cukup jauh hingga untuk mendapatkan perawatan dokter tersebut ia harus meluangkan waktu lebih awal dan tetap antri berlama-lama bersama-sama dengan pasien lain. Aini sebetulnya tidak perlu repot-repot pergi ke dokter gigi seandainya ia rajin merawat kesehatan giginya. Perawatan yang ringan dengan kebiasaan menjaga kebersihan tentu lebih menguntungkannya. Ia tidak perlu membuat jadwal khusus untuk pergi ke dokter gigi yang selain menyita waktu dan tenaga, juga menguras keuangannya untuk sekedar ongkos naik angkot dan membeli obat.
Silahkan bayangkan sendiri apa yang terjadi andaikata kita tidak merawat gigi kita selama sebulan saja, jangan digosok, biarkan saja! Resiko apa kira-kira yang akan kita pikul (keuntungan yang diperoleh adalah hemat odol, hemat waktu, dan hemat tenaga).
(Maaf) Gigi menjadi kuning menebal membuat mual siapapun yang melihatnya, aromanya benar-benar memusingkan siapapun yang menghirupnya tentu saja termasuk yang bersangkutan, penyakit mulut serba kumat bisa jadi sariawan, infeksi mulut, termasuk sakit gigi (seperti yang kita maklumi sakit gigi adalah sakit yang paling dramatis, selain sakitnya hampir tak tertahankan, jarang ada yang menengok apalagi mengirim makanan bahkan terkadang jadi bahan tertawaan), hubungan dengan sesama akan kacau berantakan, begitupun hubungan bisnis/kerja, sekali lagi silahkan kalkulasikan sendiri kerugian dari segala sisi terhadap akibat dari kurangnya perawatan.
Hal ini berlaku terhadap apapun yang harus dirawat, barang-barang rumah tangga, elektronik, kendaraan, apapun termasuk tubuh kita sendiri, kita akan menanggung resiko pengeluaran yang jauh lebih besar dibanding biaya perawatan berkala yang dilakukan.
Pernah kami melihat sebuah mobil Mercy tahun 48, yang masih sangat mulus, karena pemiliknya begitu disiplin merawatnya dengan seksama, baik kondisi bodinya maupun mesinnya, bahkan sampai komponen detail interiornya sekalipun, karena dengan teratur dibersihkan secara apik dan benar, begitu pun penggantian komponen atau pelumas sesuai dengan aturan ausnya, dianggarkan secara khusus, dan hasilnya selain mobil itu awet dan masih sangat nyaman dipakai juga punya nilai jual yang jauh lebih tinggi.
Mahasuci Allah SWT yang menjanjikan "La insyakartum la adzii dannakum wa la in kafartum inna adzaabi la syadiid" (QS. Ibraahim [14] : 7) yang artinya "Barangsiapa yang bersyukur atas nikmat yang ada niscaya Kutambah nikmat-Ku padamu, dan barangsiapa yang tiada tahu bersyukur niscaya adzab Allah sangat pedih."
Memelihara nikmat yang Allah titipkan/karuniakan kepada kita sesungguhnya termasuk amal shaleh yang utama dan dikategorikan ahli syukur yang pasti mendapat balasan nikmat lain yang lebih baik, dan sebaliknya orang yang tak mau merawat nikmat ini termasuk orang yang kufur nikmat yang akan memikul derita kerugian lahir batin, naudzubillaah.
Sebetulnya anggaran untuk merawat, tidak boleh disebut biaya perawatan, melainkan investasi/modal, seperti halnya membeli sikat gigi dan pastanya bukan biaya melainkan modal untuk menikmati gigi yang sehat, bisa makan dengan nikmat dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, marilah kita songsong nikmat yang melimpah yang Allah janjikan dengan mensyukuri nikmat yang ada yaitu diantaranya dengan merawat, memelihara dengan baik, teratur dan benar.

DIPERBUDAK NAFSU
Sesungguhnya pemboros sejati adalah orang-orang yang memang pecinta duniawi ini, yang mengutamakan topeng ingin dipuji dan dihormati orang lain, yang bersikukuh menjaga gengsi, yang ingin serba enak dengan kemewahan, yang larut sebagai korban mode atau korban jaman, yang pada ujungnya penyebabnya adalah kurang iman akibat kurang pengetahuan tentang hakekat hidup mulia yang sebenarnya.
Memang menyedihkan kehidupan yang selalu diukur dengan ukuran materi dengan badai informasi lewat media cetak maupun elektronik lewat film, sinetron, lagu, iklan, dan lain-lain, mempertontonkan kehidupan mewah, glamour, membuat banyak orang yang hidup tidak realistis seakan jauh lebih besar pasak daripada tiang, dan semua ini juga menjadi biang keresahan dan kesengsaraan batin juga menjadi biang terjadinya tindakan ketidakjujuran/ kejahatan, karena untuk mendapatkan obsesinya tersebut akan menghalalkan segala cara.
Tukang jaga gengsi, kasihan benar orang yang sangat menjaga gengsi takut tertinggal oleh orang lain, dia akan pontang-panting untuk memiliki sesuatu agar gengsinya dianggap tetap terjaga, walaupun harus pinjam sana-pinjam sini tentu saja barang yang dimilikinya tak akan membahagiakannya karena taruhan untuk memilikinya sesungguhnya diluar kemampuannya.
Korban mode ini pun selain pemboros juga menderita, karena selalu ingin tampil up to date bermode sesuai dengan jaman, tentu akan repot karena mode terus menerus berubah pasti akan sangat menguras tenaga, waktu, dan biaya, dan yang paling meyedihkan paling sering seseorang merasa keren sesuai dengan mode padahal yang melihatnya menjadi sangat geli bahkan mengasihani, karena selain seringkali mode itu tak sesuai/tak pantas, orang lain juga sudah tahu modal yang sebenarnya.
Si Sombong, kalau si Sombong tak pernah tahan melihat orang lain melebihi keadaannya, sehingga yang terus ada dalam benak pikirannya adalah bagaimana selalu kelihatan lebih dari orang lain dalam hal apapun, makanya dia begitu menderita melihat kesuksesan, kekayaan, dan kemajuan orang lain, maka akan berjuang mati-matian dengan cara apapun agar selalu tampak lebih bagus, lebih moderen, lebih kaya, lebih elit, dia sudah tak perhitungkan lagi biaya yang keluar dan dari mana asalnya yang penting lebih dari orang lain.
Si Riya, alias tukang pamer, kalau si Riya ini persis mirip etalase sibuk ingin memiliki sesuatu yang diharapkan membuat dirinya diketahui kekayaanya, statusnya, dan lain sebagainya, tentu saja ia akan berusaha pamer pakai barang luar negeri, ekslusif, lain dari yang lain, yaa sebetulnya mirip satu sama lain, fokus dari pikirannya adalah bagaimana supaya dinilai hebat oleh orang lain setidaknya tidak diremehkan.
Dalam beberapa hal menjaga kemuliaan diri ini adalah kebaikan, tapi kalau sampai menyiksa diri, melampaui batas kemmpuan apalagi sampai melanggar hak-hak orang lain termasuk yang diharapkan, maka jelaslah kerugian dunia akhiratnya.

CEROBOH ATAU KURANG PERHITUNGAN (LALAI)
Kawan karibnya tergesa-gesa adalah ceroboh, tidak hati-hati, atau tidak berperhitungan cermat. Boleh jadi dia sudah punya perencanaan matang lalu menahan diri dari tergesa-gesa tapi belum juga luput dari kerugian kalau dia masih bertindak ceroboh. Skala kerugian akibat ceroboh ini sangat macam-macam mulai dari yang sederhana sampai bencana masal lahir batin melibatkan orang banyak.
Kisah kawan yang baru pulang dari Timur Tengah, dengan penuh keceriaan dan bangga memperlihatkan oleh-oleh yang katanya barang elektronik langka dan tidak ada di Indonesia. Sudah sangat terbayang dibenaknya selama perjalanan untuk mempergunakan alat canggih dan mahal ini, maka sesampainya di rumah sebelum melakukan apapun segera saja dibuka bungkusnya untuk dioperasikan secepatnya. Dengan diiringi uraian panjang lebar tentang keutamaan alat ini maka segeralah kabel listriknya dipasang. Tunggu punya tunggu kenapa tidak jalan seperti semestinya, bahkan beberapa saat kemudian tercium bau khusus, ya bau khusus kabel terbakar dan benar saja asap pun segera menghiasi alat baru tersebut. Walhasil selain kaget, sedih, kecewa. Tentu saja sangat rugi uang, waktu, dan tenaga mengangkut dari jauh ribuan kilo meter, hanya dalam bilangan detik saja menjadi sampah tak berguna karena kecerobohan lupa merubah voltase listriknya.
Ada kisah yang lebih dramatis lagi, semoga tidak ada orang yang mengulangi kecerobohan ini, yaitu ketika seorang ayah yang tentu sangat sayang kepada keluarganya, harus mengantar istri dan anaknya berobat ke dokter, mampir di sebuah apotik untuk membeli obat. Ketika keluar dari mobil, segera saja lari masuk ke dalam apotik, tiba-tiba terdengar jeritan dan suara benturan yang keras lalu suara benda besar terjun ke sungai, apakah yang terjadi? Ternyata sang suami ini begitu ceroboh memarkir mobilnya di pinggir jalan yang menurun dan tidak memasang rem tangan ataupun memasukkan gigi persenelingnya, sehingga sepeninggalnya mobil ini meluncur dengan sendirinya tak terkendali lalu membentur dinding jembatan dan akhirnya jatuh ke sungai, sungguh tragis. Ternyata hidup dengan mengandalkan kasih sayang saja tidak cukup, melainkan juga harus dengan kehati-hatian. Jauh dari kecerobohan.
Belum lagi kisah seorang ibu yang mengantuk ketika memberi obat kepada anaknya, yang ternyata harus rela kehilangan buah hatinya, karena ceroboh salah memberikan obat.
Begitu banyak kisah kecerobohan dari sisi kehidupan manapun yang ujungnya adalah bencana yang sangat merugikan dan memilukan. Oleh karena itu, sebagai langkah awal kita harus selalu berupaya memahami segala sesuatu dengan baik. Luangkanlah waktu untuk mempelajari prosedur dan aturan-aturan penggunaan, cara pakai yang benar, dosis atau takaran yang pasti, bacalah buku/lembaran panduannya terlebih dahulu, dan pahami dengan seksama berikut segala larangan dan resikonya.
Lalu tahap selanjutnya berusahalah untuk disiplin dan tertib melaksanakan sesuai aturan. Ikutilah tahapan-tahapan dan batasan-batasan yang dianjurkan/diharusk an dengan seksama, dan bersabarlah untuk mengikutinya, jangan sok tahu dan menganggap enteng.
Selalu melakukan sesuatu dengan kesungguhan, kehati-hatian dan konsentrasi yang baik agar tak terjadi kecerobohan yang merugikan.

MALAS
Berbicara tentang kemalasan, maka bukan berbicara tentang kurang pengetahuan. Dia tahu tapi tetap tidak melakukan hal yang semestinya dilakukan, ya karena enggan atau malas itulah, dan kerugian yang timbul pun bukan main-main bisa jadi sampai hilang nyawa. Para pengangguran yang malas mencari nafkah, atau malas bekerja keras, benar-benar makhluk beban biang pemborosan karena walaupun menganggur dia tetap harus menguras dana untuk makan, minum, tempat berteduh, mandi, listrik, air ledeng, dan lain sebagainya..
Padahal kalau dia mau saja keluar dari rumahnya dengan niat dan tekad untuk bekerja keras mencari nafkah niscaya akan seperti burung yang keluar dari sangkarnya dan kembali membawa cacing untuk makan keluarganya, jadi bukan karena tidak ada jatah rizkinya melainkan malas menjemput jatahnya.
Ada seorang pemuda, malah mahasiswa, mempunyai motor yang bagus tapi dia malas sekali untuk memarkir kendaraannya di tempat semestinya, merasa lebih mudah menyimpan di depan pintu kostnya dan dia pun malas untuk repot-repot menggunakan rantai pengaman. Di ujung kisah ini sudah bisa ditebak, kemalasan seperti ini adalah memberi kemudahan bagi para maling untuk melakukan aksinya. Malas mengeluarkan waktu dan tenaga yang tak seberapa dan hasilnya lenyaplah berjuta-juta hasil tabungan orang tuanya plus masih harus nyicil sisanya.
Kisah lainnya tentang safety belt atau sabuk pengaman. Karena merasa sudah terbiasa tak menggunakan dan juga malas memakainya, maka Pak Fulan sang boss sebagai pemilik mobil mewah harus memiklul derita yang menyedihkan, yaitu tatkala ada mobil orang lain yang hilang kendali sehingga menabrak mobilnya tanpa bisa dihindarkan. Akibatnya, selain harus berbaring di rumah sakit berbulan-bulan karena geger otak dan patah tulang tangan serta kakinya yang tentu mengeluarkan biaya mahal, juga tak dapat bekerja dengan baik yang menghilangkan kesempatan bisnisnya, serta silahkan hitung jenis kerugian lainnya. Hal yang berbeda tidak dialami sang supir yang walaupun pendidikannya hanya Sekolah Dasar tapi selalu berusaha tertib, disiplin, dan tidak mengenal malas untuk menyempurnakan kewajibannya. Sang supir selamat karena menggunakan sabuk pengaman dengan baik dan juga tidak pernah malas untuk berdo’a meminta perlindungan kepada Allah yang menguasai segala kejadian. Tak
pernah malas untuk berdzikir sepanjang jalan, juga tak pernah malas untuk bersedekah, bukankah sedekah adalah penolak bala.
Silahkan renungkan sendiri perkara kemalasan lainnya. Misalnya malas mandi, maka bersiaplah untuk berpanu ria. Malas mengerjakan tugas dan belajar maka bersiaplah untuk tidak naik kelas/tingkat. Malas ngantor maka bersiaplah untuk dirumahkan, malas beribadah maka bersiaplah untuk mendapatkan penderitaan dunia akhirat (naudzubillaah) , bukankah tugas kita ini untuk beribadah?! Percayalah tidak ada jalan kesuksesan bagi pemalas yang malang. Maka, marilah kita lawan dengan segenap tenaga, dobrak, bagai buldozer menggempur penghalang. Yakinlah bahwa kita sangat sanggup melawan kemalasan yang merugikan dan menghinakan itu dengan mudah asalkan mau memulainya dengan DO IT NOW. Lakukan sekarang juga apa yang harus kau lakukan. Selamat menikmati hasilnya.

KURANG KENDALI
Ada sebuah rumus sederhana untuk sebuah kebangkrutan, pada umumnya jatuhnya sebuah usaha itu tidak langsung sekaligus melainkan pelan menjalar dan akhirnya menjadi parah tak tertahankan, dan penyebab semua ini adalah lemahnya system pengontrolan dari usaha tersebut.
Ya bagi siapapun yang mau pergi menggunakan kendaraan dan tidak melakukan pengontrolan terhadap jumlah bahan bakar yang ada maka bersiaplah stress sepanjang jalan dan siap pula untuk berkuah peluh mendorongnya, apalagi perjalanan keluar kota dan tidak punya sistem pengontrolan terhadap air radiator, oli, ban cadangan dan peralatannya, kotak P3K, atau hal lainnya maka bersiaplah untuk memikul biaya besar akibat kelalaian pengontrolan ini.
Orang tua yang tidak punya sistem kontrol yang baik terhadap perilaku dan pergaulan anak-anaknya, tampaknya terlalu banyak contoh di sekitar kita tentang aib dan bencana yang harus dipikul kedua orang tuanya.
Begitu pun organisasi yang lemah sistem kontrolnya baik ke atas maupun ke bawah niscaya organisasi ini akan menjadi organisasi babrok, tak bermutu, tak akan berprestasi dengan benar dan baik, dan suatu saat pasti ambruk karena memang demikianlah sunnatullah- nya. Termasuk sakitnya bangsa ini jelas sekali menjadi pelajaran bagi kita semua, korupsi dimana-mana merajalela disegala lapisan, sungguh menyedihkan memang bangsa kita punya moral yang sangat buruk begini, pelajaran yang dapat diambil memang sistem pengontrolan dari rakyat ke penguasa hampir tiada, aparat yang harus juga ternyata tak jujur maka ya jadilah semrawut begini.
Oleh karena itu marilah kita mulai dari diri kita, keluarga kita untuk berbudaya membangun system pengontrolan yang baik, benar dan tepat, awali pengetahuan tentang resiko yang harus dipikul yang dapat dicegah dengan cek dan ricek yang baik, lalu biasakan membuat check list, atau daftar pengecekan yang jelas dan detail, dan mulailah membiasakan untuk tidak melakukan apapun sebelum mengadakan check dan ricek tadi, Insya Allah semoga Dia mencegah segala kemudharatan dengan sikap kita yang penuh kehati-hatian ini, sehingga kita lebih dapat menikmati hidup ini dengan lebih baik.


SEGALANYA MUDAH
Salah satu ciri dari zaman modern ini adalah segala sesuatunya dibuat menjadi sangat mudah, lihat saja TV, kalau dulu selain ukurannya besar memindahkan chanelnya juga butuh tenaga, bandingkan dengan TV saat ini, sudah menggunakan remote yang hanya disentuh saja termasuk menggerakkan TV-nya sekalipun, juga AC, lampu, bahkan suara kita pun sudah bisa jadi sensor penggerak peralatan, luar biasa.
Tapi ada dampak negatifnya segala kemudahan yang tak didukung dengan pengetahuan yang memadai serta sikap mental yang bermutu, karena ternyata biang pemborosan pun bisa lahir dari kemudahan ini.
Ada seorang suami yang tercengang melihat rekening tagihan bulanannya yang membengkak luar biasa sesudah beliau dan istrinya masing-masing memiliki kartu kredit dan menggunakan handphone, karena demikian mudahnya menggunakannya tinggal menggesek dan memijit saja sampai-sampai waktu untuk mengadakan perhitungan pun terlewati, tentu sangat berlainan halnya dengan orang yang menyimpan uang di tabungan yang harus berproses untuk mengambilnya, proses ini akan cukup menghambat keinginannya untuk mudah mengeluarkan uang, harap dimaklumi sesungguhnya tidak berarti kartu kredit dan handphone itu buruk melainkan para pemiliknya harus memiliki mental dan keilmuan yang lebih tangguh agar apa yang dimilikinya tidak jadi bumerang, yang akan menjebak dan menyengsarakannya.
Sistem belanja dengan mencicil juga harus dicermati dengan seksama, kemudahan yang diberikan dengan kiriman langsung ke rumah dan dicicil bulanan, tentu saja ada mamfaatnya tapi tidak jarang menjadi ajang pemborosan karena digunakan untuk memiliki sesuatu yang sebetulnya tidak/belum begitu diperlukan, sedangkan cicilan-cicilan yang beraneka ragam akan sangat terasa ketika sudah mulai mencicilnya dan lebih terasa lagi jikalau cicilannya jangka panjang sedang sang barang tak begitu tinggi nilai mamfaatnya atau bahkan sudah rusak.
Termasuk berbelanja di superstore, yang sangat serba ada, daya rangsang untuk membeli akan timbul dengan kemudahan melihat barang-barang tersebut, yang sebetulnya jikalau mau jujur tanpa barang tersebut pun tak akan berpengaruh bagi keadaan rumah tangga, sungguh harus sangat berhati-hati selain harus direncanakan dengan baik apa yang akan dibeli juga harus dibatasi me