Eko's posts with tag: conspiracy
tauk deh bohong apa gak:
Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan.
Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.
Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsipsatu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.
Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi,ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.
Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.
Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.
Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.
Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti ini seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai,sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.
Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.
Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnya kalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.
Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan memintaagar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat tidak ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.
Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama bersahabat dan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, ?Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.? Saya katakan, ?Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.? Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.
Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau.
Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.
Ia lalu mengatakan, ?Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,? katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya, alhamdulillah, amplop-amplo itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.
Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, ?Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.? Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.
Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a?lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit,saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.
Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?
Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, ?Kenapa tidak bilang-bilang? ? Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.
Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru. Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa. Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, ?Uang setan ya dimakan hantu.?
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.
Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.
Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum?at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum?atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.
Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur?an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.
Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.
Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan.
 | Woro! | Dec 13, '07 2:00 AM for everyone |
Perut Buncit emang susah dikempesin...The Conspiracy Against Renewable Energy http://www.opednews.com/articles/opedne_john_f___071201_the_conspiracy_again.htm By John F. Miglio I hate to use the "C" word, but there is no other way to say it. There is a national conspiracy to prevent renewable energy from becoming the primary energy source in the United States. And who are the conspirators? The usual cast of characters: the fossil fuels industry, which continues to rake in exorbitant profits on oil and gas while it refuses to make any significant investment in renewable energy, even in the face of global warming; the members of the mainstream news media, too craven to cross their corporate masters by doing any serious coverage on the viability of renewable energy in today's market; and the members of Congress, too addicted to the big bucks they receive from Big Oil and other traditional energy sources to create any sweeping renewable energy legislation for the good of the country. The truth is, if it were not for this unholy trinity of greed, cowardice, and bribery, all of us would already be living in solar or wind powered homes and driving electric cars to and from work. Here are the facts: 1) According to the U.S. Department of Energy, the amount of solar energy that hits the surface of the earth every hour is greater than the total amount of energy that the entire human population requires in a year. Another way of looking at it is that roughly 100 square miles of solar panels placed in the southwestern U.S. could power the entire country. 2) The Department of Energy also states that all U.S. electrical energy needs could be met by the wind in Texas and the Dakotas alone. 3) In 1977, the Office of Technology Assessment published a nonpartisan report that concluded that if the federal government offered substantial tax credits and incentives to speed up the mass production of renewable energy technologies, these technologies "could be made competitive in markets representing over 40% of U.S. energy demand by the mid-1980s." At that rate, they would be competitive in almost all markets today. 4) The technology to produce photovoltaic panels and modern wind turbines has been around for decades, and thousands of Americans already have installed these renewable technologies on their homes and businesses, cutting their energy bills by significant margins. Recently, a New Jersey resident named Mike Mercurio installed both an array of solar panels on his roof and a wind turbine in his back yard and cut his energy bill from over $300 per month to about $10 per month. This immediately begs the question: If we have the renewable technology at hand and we know it works, why don't we use it in place of heavily polluting energy sources like oil, gas or coal? And why have so few people installed solar panels or windmills on their homes and in their backyards? The primary reason is because the cost of renewable energy is still relatively high compared to fossil fuels, although the gap is closing as the cost of natural gas and oil continues to climb. For example, the price to install an array of photovoltaic panels on the average home-- notwithstanding some modest tax incentives and rebates from the government-- is anywhere from $20,000 to $40,000. At this price, only those who are well off can afford to have solar panels installed on their homes. Of course, anyone with half a brain knows that once a product is mass produced, its price per unit plummets. But in order to facilitate this process and make it happen over a period of years and not decades, the federal government (with help from the states) needs to institute a massive, full-scale national renewable energy program, something equivalent to the Marshall Plan, something that would transform our entire society within a decade. It can begin this process with a four-point plan: 1) Mandate tight pollution standards on the fossil fuels industry and stiff penalties for not abiding by them. This will get the carbon-based boys to start thinking about divesting some of their money into renewable energy. 2) Impose high CAFE standards on auto manufacturers and stiff penalties if they don't implement them post haste. This will get the bright boys at GM to start thinking about electric cars in a big way. 3) Implement a windfall profits tax on oil companies and remove tax incentives to the entire fossil fuels industry. This will create billions of dollars that can be used to promote renewable energy. 4) Offer generous tax credits and incentives to the renewable energy industry to facilitate mass production of its technology and equally generous tax credits and incentives for homeowners to buy it. If Congress made this four-point plan a reality, it would literally reverse the brain-dead energy policy that has been in effect for the past 27 years, ever since Ronald Reagan, Big Oil's Bad Boy, strutted into office, decimated Jimmy Carter's renewable energy program, and created energy bills and tax policies that favored the fossil fuels industry at the expense of renewable technology. But how much money would it actually cost to institute a full-scale national renewable energy program in the United States? Hundreds of billions, no doubt, which is a lot of money, but not that much when you consider that over the past seven years, the Bush regime has already blown a half trillion dollars on Iraq and another trillion on tax cuts for the rich. If that $1.5 trillion had been used to fund renewable energy instead, photovoltaic panels and wind turbines would already be in mass production at affordable prices for most homeowners, and the electric car industry would have been able to stage a major comeback. For the last couple of decades, the electric car industry has languished due to the introduction of the hybrid car, the "compromise car," as I call it. Instead of going from gas-powered cars straight to all-electric vehicles, which was the original plan, auto manufacturers decided to take an in-between step in deference to the fossil fuels industry and create the hybrid. (See the documentary Who Killed the Electric Car? for more information on how auto manufacturers deliberately sabotaged their own electric vehicles.) As a result, three misperceptions about electric cars have persisted to this day: 1) They're too slow. 2) Their batteries won't go far enough on a single charge. 3) Their batteries take too long to recharge. This was partially true 20 years ago, but no longer. Recently, the Japanese built an electric car called the Ellica that can out perform a gas-powered Porsche from zero to 100 by almost two seconds! So much for being slow. And as far as batteries being a problem, the technology has come a long way in recent years, and if the money is there for more research and development, the battery technology will be perfected, and the electric car will become the ultimate driving machine, i.e., a vehicle that is affordable, fast, pollution-free, economical, and stylish-- all in one package. And the best part of all, American drivers will never have to pay $3 a gallon for gas again. At the end of the day, they will simply plug their electric vehicles into their solar and wind-powered homes and recharge their batteries for nothing! This has always been the dream of environmentalists: a non-polluting energy source for their homes and a zero-emission vehicle for travel at a cost that would be reasonable for everyone. Of course one person's dream is another person's nightmare, and this green scenario is anathema to the fossil fuels industry. It means they would lose their economic and political stranglehold on not just America, but the entire world. Which is why they've been bullying mainstream news organizations for decades and paying off politicians at the beginning of each election cycle. Naturally, there are plenty of cynics around who say it will take 50 years for renewable energy to make a real difference in our energy consumption, and we'll still need good old gas, oil, and coal as our primary sources of energy in the meantime. Of course, this becomes a self-fulfilling prophesy if we just sit back and do nothing, but if we change our energy policy dramatically, we can transform our entire society in a relatively short period of time. As proof, consider this: In 1997, the Danish government began an experimental project on the island of Samso to see if it was practical to use various forms of renewable energy for all the island's energy needs. Their goal was to accomplish this in ten years. Remarkably, they finished ahead of schedule, and today 100% of the island's electricity is generated by 11 one-megawatt wind turbines, while the rest of the island's energy needs are met by using solar panels and other forms of renewable energy. True, it is easier to convert a small island to renewable energy than a large country. But the point is, the technology is available, and with the proper financial incentives and a full-scale commitment from the federal and state governments, the United States could break free from fossil fuels and be well on its way to becoming a land where solar panels, wind turbines, and electric cars would become the norm in ten years. The only thing it takes is the political will to stand up to the fossil fuels industry. I know that's asking a lot. But in view of the perpetual wars for oil in the Middle East, the increased awareness of global climate change, and the high cost of gasoline at the pump, maybe, just maybe, enough Americans will get fed up living under the greasy, smelly, polluted armpit of the fossil fuels industry and look to the sun and the wind to guide them to a cleaner, safer, brighter future. Get your daily alternative energy news Alternate Energy Resource Network 1000+ news sources-resources updated daily http://www.alternate-energy.netNews Blog http://blog.alternate-energy.net/index.phpNext_Generation_Grid http://tech.groups.yahoo.com/group/next_generation_gridAlternative_Energy_Politics http://tech.groups.yahoo.com/group/Alternative_Energy_PoliticsTomorrow-energy http://tech.groups.yahoo.com/group/tomorrow-energyEarth_Rescue_International http://groups.yahoo.com/group/Earth_Rescue_International
Dear friends, The US, Canada and Japan are climate-wrecking at Bali - here's our global emergency petition to save the talks, add your name automatically by clicking below! " We call urgently for the US, Canada and Japan to stop blocking serious 2020 targets for emissions reductions, and for the rest of the world to refuse to accept anything less." We're here at the climate summit in Bali -- but it's reached crisis point. Working late, negotiators were nearing consensus that developed countries should pledge post-Kyoto emissions cuts by 2020--a step which the scientists say is needed to avert the worst ravages of global warming, and which will help to bring China and the developing world onboard. But then the news broke: the US, Canada and Japan rejected any mention of such cuts. Every few hours the draft changes. We can't let three governments hold the world to ransom: so we're launching a global emergency petition before the summit climax in 48 hours. We'll deliver our message every way we can -- a stark full-page advertisement in the Jakarta Post conference supplement which all the delegates are reading, stunts at the conference gates, direct to country negotiators -- telling Canada, Japan and the US to accept the option of post-Kyoto targets, and the rest of the world to settle for nothing less. Please take a moment right now to sign the new global emergency petition -- the text is in the box above, so click this link to sign automatically if you've taken action with us before -- then tell all your friends: http://www.avaaz.org/en/bali_emergency/7.php Today marks the 10th anniversary of the expiring Kyoto pact, but Japan, the US and Canada don't seem to want a workable global deal to follow it. There is almost universal agreement in Bali that the idea of 2020 climate targets should be included, making possible a deal to bring the developing world onboard over time. As the news links below make clear, the US, Japan and Canada are destroying that delicate bargain, not even allowing the idea to be mentioned. We're doing everything we can. Tens of thousands of Canadian Avaaz members have launched an ad campaign telling their government not to betray them -- our Japanese members are emailing their leaders -- while our American members will send their own message to Bali as Al Gore and Congressional and local representatives land there, asking negotiators to ignore the official US delegation because it does not represent them. Coming from every country on earth, all of us can play a direct role in the Bali face-off by signing this global emergency petition -- delivered at the summit gates, in a full-page Financial Times ad, and direct to delegates. Add your name at this link, act now and spread the word -- we have just 48 hours: http://www.avaaz.org/en/bali_emergency/7.php With determination and hope, Paul, Ricken, Galit, Ben, Iain, Graziela, Milena and the whole Avaaz team PS This article explains a bit of what's going on: http://www.iht.com/articles/2007/12/10/news/climate.phpThe New Scientist has more detail here: http://www.newscientist.com/blog/environment/2007/12/bali-draft-hints-emissions-targets-may_10.html We're in the thick of things here at Bali -- Avaaz was the only organisation allowed to demonstrate inside the fortified summit Saturday. As hundreds of thousands marched around the world, we brought over half a million voices to the heart of the decision-making venue, carrying big banners and scores of country flags. We've also been hosting the daily Fossil Awards of the Climate Action Network, the umbrella of all the NGOs here – see http://www.avaaz.org/fossils. ABOUT AVAAZ Avaaz.org is an independent, not-for-profit global campaigning organization that works to ensure that the views and values of the world's people inform global decision-making. (Avaaz means "voice" in many languages.) Avaaz receives no money from governments or corporations, and is staffed by a global team based in London, New York, Paris, Washington DC, Geneva, and Rio de Janeiro. You are getting this message because you signed "Stand with the Burmese Protesters" on 2007-10-17 using the email address Strivearth@gmail.com. To ensure that Avaaz messages reach your inbox, please add avaaz@avaaz.org to your address book. To change your email address, language settings, or other personal information, click here, or simply go here to unsubscribe. To contact Avaaz, please do not reply to this email. Instead, write to info@avaaz.org. You can also send postal mail to our New York office: 260 Fifth Avenue, 9th floor, New York, NY 10001 U.S.A. If you have technical problems, please go to http://www.avaaz.org.
The latest development in palm-based cooking-oil soaring-high-price fiasco has been making me brewing some conspiracy theory inside this scheming little brain of mine (left or right, I have no idea).
1. The high price of palm-based cooking-oil is because Crude Palm Oil producers and PBCO producers tend to sell it outside the country because of higher price.
2. So, businessman can forward a theory to the government that more CPO and PBCO is needed to push the price down.
3. If government agrees, more CPO means more palm plantation, and more deforestations! More illegal lumbers will be exported, and who knows that all who do deforestations for the sake of palm plantation will actually plant the palms after cutting the trees? 4. Another scenario is that there will be more imports of cheap, low quality palm-oil from <insert the name of the fastest growing economy here> which can be a hazard to health.
5. Or perhaps the drive of palm-oil price internationally is caused by the importirs and illegal-loggers putting pressures to palm-oil producers to hold stock back and causing the price to soar up.
6. WHERE IN THE NAME OF GOD IS BULOG POWER IN HERE? GEEZ, IMF HAD REALLY CRIPPLED THEIR COJONES, HAD THEY NOT?
'nuff said!
SBY Tak Tahan Diolok-olok Amien Rais 2,5 Tahun Luhur Hertanto - detikcom Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata menyimpan kejengkelan menahun kepada Amien Rais. Siang ini perasaan yang lama terpendam itu pun akhirnya terkuak ke publik.
"Lebih dua setengah tahun saya emban tugas sebagai Kepala Negara. Selama ini saya terus menahan diri dan tak ingin tanggapi komentar, kecaman, serangan dengan kata-kata bahkan tindakan memperolok-olok saya oleh saudara Amien Rais di berbagai forum dan kegiatan publik," ungkap SBY dengan suara bergetar.
Masa sih? Perasaan Amien Rais diem2 aja, yang ribut malah si gendut sapi betina. Hal tersebut disampaikannya kepada wartawan secara khusus di halaman kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (25/5/2007).Gile, curhat aja pake acara khusus. Gak tau multiply.com ya nak? Pemicu pengakuan presiden adalah opini yang dikembangkan Amien Rais dua pekan terakhir, yakni tentang adanya pasangan capres-cawapres yang semasa kampanye Pilpres 2004 juga menerima dana non-bugeter Departemen Kelautan dan Perikanan(DKP) dan bantuan dari Washington, AS.Kesentil nih ye? terus marah nih ye? itu kan artinya sama aja ngaku, ya kan? Amien Rais memang tidak pernah menyebut secara terbuka indentitas pasangan capres-cawapres yang dimaksudnya.
"Publik tahu arah opini yang dibangun itu pasangan SBY-JK, atau paling tidak tim kampanye SBY-JK juga menerima dana DKP yang bermasalah itu. Secara tidak langsung juga diopinikan yang menerima dana asing itu juga SBY-JK," ujar SBY..
Hal lain yang makin menguatkan dugaannya bahwa pasangan capres-cawapres yang dituju adalah SBY-JK, ada di dalam pernyataan Amien Rais dalam sebuah kesempatan wawancara jarak jauh dengan sebuah stasiun televisi swasta nasional pada 16 Mei 2007.
Presiden SBY kemudian mengutip pernyataan mantan saingannya pada Pilpres 2004 dalam wawancara yang mengangkat isu adanya pasangan capres-cawapres mendapat dana dari Washington.
"Semua yang pernah menerima dana asing untuk membeberkannya ke atas meja. Walaupun tidak usah membatalkan presiden atau apa pun," ujar SBY mengutip Amien.
"Semula saya benar-benar tidak ingin menanggapi isu seperti ini, tapi akhirnya saya pandang perlu menyampaikan penjelasan langsung, karena isu atau fitnah ini telah menjangkau kehormanatan dan nama baik saya yang dilindungi secara hukum. Ini keterlaluan, fitnah yang kejam, naudzubillah," cetus SBYLah, jangan nangis dong kalo gitu. Mending bawa aja ke pengadilan, jantan2an ngungkap data dan fakta aktual, jangan main public relation kampungan gini dong; kamu belajar dari pedagang sinetron India ya nak? Terus penjelasan secara langsungnya mana? Gak baca teliti ya naskah yang dibikin sama si kumis bugis? Dasar anak kecil, disentil dikit langsung keki n ngamuk. Udah anak kecil, biasa megang senjata lagi http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/25/time/174344/idnews/785317/idkanal/10
Perspektif Online 22 May 2007 Bukannya Foke muncul, malah Wimar menghilang. Bukannya kampanye curang dihentikan, malah yang nanyain dihentikan. Sudah berminggu-minggu semua orang termasuk Wimar menunggu kehadiran Fauzi Bowo, satu-satunya Calon Gubernur yang belum memenuhi undangan ke Gubernur Kita untuk memperkenalkan diri ke pemilih dan menerangkan visi dan misi sebagai Gubernur mendatang. Padahal banyak sekali pertanyaan untuk Bang Foke, antara lain mengenai niat dia sebagai penerus Gubernur Sutiyoso dan mengenai kampanye terselubung menggunakan duit rakyat. Setelah episode Gubernur Kita Kamis lalu masih menyinggung etika kampanye Fauzi Bowo, Jak-TV mengaku ke WW mereka ditekan oleh orang Fauzi Bowo, dan akhirnya hari Senin pagi (21/5) memberhentikan Wimar dari tugas panelis Gubernur Kita. Pemberhentian ini pertama dilaporkan oleh berpolitik.com, Wimar Dipecat dari Gubernur Kita! Akhirnya terjadi juga. Wimar Witoelar resmi dipecat sebagai panelis dalam acara Gubernur Kita yang mengudara setiap Kamis malam di Jakarta TV. Pemberhentian itu sebenarnya sudah diproses sejak Jumat lalu (18/5). Pihak Jak TV sudah bertemu dengan staf Wimar. Dalam pembicaraan itu, Jak TV meminta Wimar mengundurkan diri. Pasalnya, pihak stasiun yang antara lain sahamnya dimiliki oleh Eric Thohir ini mendapat banyak SMS dari yang mereka sebut sebagai "orang-orang penting" perihal omongan Wimar yang mempersoalkan iklan terselubungnya Fauzi Bowo. Ketika dihubungi per telpon siang ini (21/5), Wimar setengah bergurau masih sempat bilang, "Ini bab dua, kelanjutannya, he..hee. Kali ini atas perintah orang-orang sekitarnya Fauzi Bowo." Baca wawancara pertama Wimar mengenai kasus ini di berpolitik.com Kemudian detikcom juga melaporkan, Kritisi Fauzi Bowo, Wimar Ditendang dari Gubernur Kita: "Saya diberhentikan tadi pagi. Disampaikan secara lisan, berkali-kali berhubungan dengan staf saya," ungkap Wimar saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Pernyataan lisan itu, menurut Wimar, disampaikan oleh Produser JakTV Martin Mohede. Apa alasan Martin memberhentikan Wimar sebagai panelis dalam acara yang digelar setiap Kamis malam itu? "Dia minta saya mengundurkan diri karena mengganggu kenyamanan Fauzi Bowo," kata Wimar menyebutkan alasan Martin. Saat ditanya wartawan yang sama, pihak JakTV memberikan alasan yang berbeda: JakTV Bantah Ditekan Fauzi Bowo: "...Ini semata masalah Wimar keluar dari komitmen," ungkap Produser Eksekutif 'Gubernur Kita' JakTV Martin Mohede dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Martin, saat acara itu digagas, terjalin komitmen tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain. "Kita komitmen acara ini untuk cari solusi. Boleh kritis, tapi ujung-ujungnya solusi," jelas Martin. Masih mencari siapa yang menekan, detikcom bertanya ke Fauzi Bowo Center yang menjawab: Fauzi Bowo Tidak Menekan JakTV: "Waduh, fitnah itu. Nggak kepikiran kita melakukan itu," cetus Direktur Fauzi Bowo Center, Makmun Amin, saat dihubungi detikcom, Senin (21/5/2007). Menurut Makmun, Fauzi Bowo sendiri tidak pernah berkomentar apa-apa atas acara 'Gubernur Kita' itu. "Tidak logis itu. Tidak pernah juga terlintas di tim pendukung untuk menghubungi JakTV itu," kata Makmun. Siapapun yang menekan pasti tidak akan mengaku, tapi siapa sih yang diuntungkan dari pemecatan ini? Menurut Faisal Basri dalam liputan berpolitik.com: Citra Fauzi Justru Makin Buruk: ...pemecatan terhadap Wimar sebenarnya justru makin merugikan citra Fauzi Bowo sendiri. Menurut Faisal, tak soal apakah yang melakukan itu orang-orang dekatnya atau memang atas kehendak dirinya sendiri. Selama Fauzi membiarkan atau tak membantahnya, berarti dia bisa dianggap menyetujuinya. Jadi, "Jangan salahkan orang lain jika ada anggapan, 'baru jadi calon saja sudah begitu, bagaimana jika sudah benar-benar jadi Gubernur," ujarnya prihatin. Sama dengan saat JakTV memberhentikan acara rating tertingginya sendiri, Wimar's World, Wimar tidak ingin berita ini menjadi soal dirinya. Don't worry, WW sih baik-baik saja, karena secara pribadi sudah biasa dibredel sejak jaman Perspektif, Selayang Pandang, Dialog Aktual. Yang perlu dikasihani justru adalah media, penonton, dan kredibilitas acara Gubernur Kita. Apakah penonton masih bisa percaya acara mengenai Pilkada yang ceritanya mengangkat semua masalah tapi sekalinya mengangkat soal etika kampanye, satu panelis independen dipecat, sementara satu panelis yang disimpan adalah ketua salah satu partai pendukung Fauzi Bowo merangkap anggota tim sukses Fauzi Bowo, dalam acara yang disponsor iklan Fauzi Bowo di setiap break, dari stasiun yang bisnis pemiliknya sangat tergantung pada kelompok Sutiyoso-Fauzi? Jawabannya ada di Anda sendiri... http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=642http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=644http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=660http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4686&c_id=21&g_id=286http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4686&c_id=21&g_id=286http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time/184911/idnews/783013/idkanal/10http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/05/tgl/21/time/192023/idnews/783026/idkanal/10http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=4694&c_id=21&g_id=286http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=616http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=665http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/jabodetabek/dukungan-fauzi-bowo-capai-70-3.htmlhttp://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=644http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=640
Wednesday, March 07, 2007 Mimpi Buruk Indonesia Raya Artikel ini sangat serius dan mohon untuk diresapi baik-baik oleh seluruh Senopati-Senopati muda rekan Blog I-I dan siapapun yang masih punya nurani untuk rakyat Indonesia . Sebenarnya agak ngeri untuk mengungkapkan sepak terjang pihak-pihak yang ingin menghancurkan Indonesia Raya. Hal ini bukan disebabkan oleh resiko yang akan ditanggung Blog I-I, tetapi lebih pada resiko pecahnya peristiwa goro-goro yang sesungguhnya. Hal itu bisa terjadi sebagai akibat tidak langsung dari upaya Blog I-I didukung oleh sejumlah Senopati muda membeberkan proses kehancuran Indonesia Raya yang disebabkan lemahnya dukungan pemerintah kepada kegiatan Intelijen. Kemandulan unit Kontra Intelijen, minimnya alokasi dana yang tepat serta semakin buruknya kapabilitas analis intelijen telah menyebabkan pihak-pihak yang ingin memberi "kerusakan serius" pada Indonesia Raya bisa leluasa bergerak. Satu tim bayonet sudah datang di bumi pertiwi beberapa waktu silam, tepatnya tanggal 3 Maret 2007 dari Singapura. Tahukah anda apa bayonet itu? dalam bahasa Ibrani bayonet adalah Kidon. Tim ini jauh lebih saya takuti daripada tim apapun di Indonesia. Bila Senopati Wirang diciduk dan diamankan oleh aparat pemerintah RI, Senopati masih punya bargaining yang besar, itupun kalau tidak terjadi kecerobohan aksi tembak-menembak seperti pada kasus Poso. Tetapi bila harus berbicara tentang Kidon, itu sama saja dengan bunuh diri...iya benar bunuh diri. Kidon yang merupakan unit di dalam Mossad dan bekerja secara efisien untuk membunuh, sabotase, dan kerusakan serius lainnya sudah mendarat di bumi tercinta Nusantara. Tim yang baru datang tersebut melengkapi unit khusus Mossad yang sudah beroperasi di Republik Indonesia sekitar 7 bulan sebelum peristiwa 9/11. Seperti pernah saya ungkapkan pada tulisan tentang Intelijen Asing bahwa agen Mossad sangat minimalis dalam melakukan aksinya, yaitu 2-3 orang. Maka dalam kasus pengiriman Kidon kali ini terpantau ada sekitar 12 orang yang ada saat masuk Indonesia terpecah menjadi tiga kelompok, Jakarta, Surabaya, dan Denpasar, masing-masing beranggotakan 4 orang. Spesialisasi keahlian Kidon adalah menggunakan senjata, menyamar dan operasi yang dalam bahasa Ibrani disebut Paylut Hablanit Oyenet (PHO) atau operasi sabotase tingkat tinggi. Ketika sejumlah kasus kecelakaan di laut dan udara terjadi, Blog I-I sudah menerima isu-isu unsur sabotase, namun saya menolaknya karena informasi yang masuk miskin hard fact. Lebih mirip teori konspirasi dan pencarian kambing hitam yang kurang meyakinkan. Bahkan ada pihak yang menyatakan bahwa kasus tenggelamnya Kapal Senopati Nusantara bukan hal yang tanpa pesan bagi Blog I-I, sebuah pesan pembunuhan bagi Senopati-Senopati "Liar" Indonesia yang mengganggu kepentingan Israel. Kemudian dilanjutkan dengan kasus kapal levina yang meskipun merupakan bahasa latin kebetulan juga merupakan kode Levi-Ina (kode bagi sleeping agent Mossad untuk bangun). Apakah saya akhirnya jadi percaya atau tetap tidak percaya dengan teori konspirasi? ataukah biarkan saja catatan-catatan kebetulan itu berlalu dan dianggap sebagai kecelakaan biasa. Bagaimana pula dengan Adam Air dan Garuda Indonesia? saya tidak tahu harus bagaimana menyampaikannya...Saya sangat berharap ada transparansi dari hasil penyelidikan lapangan tentang apa penyebab utama terjadinya kecelakaan yang mengerikan tersebut. Sekecil apapun kecurigaan yang ada harus di teliti secara serius untuk melihat adanya kemungkinan sabotase. Andai saja aparat keamanan dan intelijen Indonesia bisa memiliki tempat kumpul bersama dan mendapat akses luas atas seluruh barang bukti, maka mekanisme keamanan nasional akan semakin solid. Beberapa rekan Blog I-I bahkan pernah memancing agar Blog I-I membahas kasus meledaknya Adam Air di udara. Blog I-I tetap tidak akan membahas sesuatu tanpa adanya bukti-bukti, walau dugaan sangat kuat tapi sulit untuk dikemukakan tanpa dukungan fakta. Sesungguhnyalah keberadaan Kidon yang membuat Blog I-I harus mengeluarkan nilai ancaman yang tinggi kepada Indonesia Raya. Senopati-Senopati Liar yang dimaksud dalam tulisan Blog I-I adalah mereka yang selalu mengganggu kepentingan Israel. Adalah bukan kebetulan bila ketua PP Muhammadiyah Dien Syamsudin juga berada di dalam Pesawat Garuda yang naas terbakar. Ada indikasi bahwa tim Kidon yang dikirim bukan hanya ahli dalam soal pembunuhan dan sabotase kecelakaan, tetapi juga dalam permainan opini publik, dalam sebuah rangkaian cerita propaganda hitam yang secara jitu akan membidik Indonesia Raya menjadi pesakitan kembali. Saya tidak menakut-nakuti Senopati-Senopati pembela Indonesia Raya, karena saya juga akan menjadi target terdepan dengan membocorkan kedatangan mereka pada 3 Maret yang lalu itu. Mohon tingkat pengamanan transportasi menjadi perhatian, baik darat, laut maupun udara. Juga bukan kebetulan bila hubungan RI-Australia yang buruk sangat diharapkan oleh Mossad agar Indonesia sibuk dengan urusan negara tetangga. Bukan hanya Australia, tetapi juga dengan Singapura dan Malaysia yang selalu di adu domba dengan tema kepentingan nasional. Malaysia yang sangat ingin menjadi pemimpin dunia Malays beserta kelompok etniknya sangat mudah didorong untuk bersikap arogan terhadap Indonesia. Sementara Singapura juga demikian, dengan kepentingan-kepentingan yang didorong oleh sejumlah operator Mossad menjadi seolah-olah "potensi musuh berbahaya" bagi Indonesia. Juga bukan kebetulan apabila telah terjadi proses kristalisasi yang berupaya memecah belah persatuan TNI melalui gerakan cabut mandat kepada SBY baru-baru ini. Kekecewaan yang besar dari sekelompok elit militer terhadap SBY bukanlah hal yang ringan, kelompok ini sudah bersatu dengan kelompok militer yang terpojok oleh kasus-kasus HAM, mereka juga punya senjata dan kemampuan mobilisasi massa yang baik. Belum lagi adanya indikasi paramiliter swasta yang sedang berproses menjadi profesional dengan dukungan dari jaring jual-beli senjatanya. Apabila semua berproses, dan kemudian SBY juga berproses didorong untuk memuaskan kelompok HAM dengan "prestasi" penyelesaian masalah maka...saya tidak tahu harus memberikan gambaran seperti apa di tahun 2007-2008-2009 ini. Serangan dari berbagai arah yang mengupayakan proses penghilangan legitimasi SBY terus berproses bagaikan air yang mengalir mencari celah-celah. Mulai dari dasar hukum (UUD 45 dll), kristalisasi ketidakpuasan rakyat, bahkan sampai isu-isu pribadi SBY dan aspek magis politik juga menjadi alternatif serangan. Coba kita melongok ke luar. Sebuah informasi yang cukup solid (A2) misalnya menyebutkan bahwa SBY telah sangat mengecewakan Mossad (Israel) karena kedekatannya dengan kelompok Ikhwanul Muslimin dan Iran. bahkan ketika SBY didaulat sebagai pemimpin dunia Islam oleh DR. Yusuf Qardhawi, hal itu sudah cukup untuk meningkatkan ancaman kepada Indonesia. Hal itu diperparah dengan konsistensi politik luar negeri Indonesia yang mengecam masalah penggalian di sekitar Mesjid Al Asqha. Mungkin si plontos ydde yang bolak-balik ke Seno Raya bisa berpura-pura kooperatif, tapi sungguh mereka tidak akan henti-hentinya mengupayakan kerusakan yang serius bagi Indonesia Raya. Si plontos ydde juga akan menyangkal kehadiran Kidon di Indonesia, atau malahan akan segera terbang ke Singapura begitu tahu Blog I-I membongkar kedatangan Kidon, untuk menghindari pertanyaan. Mengapa Blog I-I tidak melaporkan kepada pihak yang berwenang agar digelar sebuah operasi besar untuk mengungkap jaring Mossad di Indonesia? mohon maaf, Blog I-I kurang percaya kepada aparat karena Blog I-I tidak merasakan adanya ketulusan dari dalam organisasi keamanan maupun intelijen. Blog I-I malahan sudah dituduh macam-macam, dan maka dari itu hanya ini yang bisa Blog I-I lakukan agar ada kewaspadaan nasional. Bukankah Indonesia juga menganut prinsip hankamrata atau pertahanan keamanan rakyat semesta, biarlah kewaspadaan itu meluas melalui media ini dan terus disebarluaskan agar rakyat semesta waspada bila ada upaya penyusupan oleh agen-agen asing. Saya masih percaya intelijen PBNU dan Muhammadiyah juga terus bekerja, belum lagi elemen intelijen Mujahidin yang sudah mulai paham peta terorisme internasional. Saya juga berharap bahwa moderasi Islam di Indonesia bisa dipahami oleh kelompok non Muslim sebagai langkah menuju kesepahaman tentang Indonesia Raya. Sehingga tidak akan terjadi kesalahpahaman pada tingkatan manapun ketika kita membahas ancaman asing. Saya yakin bahwa apapun keyakinan kita, hanya mereka yang tidak punya hati nurani yang rela mengorbankan Indonesia Raya. Saya tahu resiko terbesar mengungkapkan Kidon adalah tidak ada ampun. Tetapi dengan keyakinan bahwa kekuatan berita Blog I-I akan meningkatkan kewaspadaan aparat keamanan dan intelijen, maka gerak Kidon tidak akan leluasa di Indonesia. Meskipun Kidon kemudian direstrukturisasi menjadi Komemiute, tetapi istilah itu masih aktif. Mohon maaf, saya tidak berani mengungkap lebih detail tentang Tim Kidon yang baru masuk. Saya juga tidak berani mengungkap sel yang sudah ada di Indonesia, meski sudah ada masukan tentang orang Indonesia keturunan Arab yang telah dibina di luar negeri. Keterbatasan hard fact dan demi keselamatan rekan-rekan Blog I-I yang terus memantau kegiatan mereka menjadi alasan yang saya kira bisa dibenarkan. Sekian Catatan : Mohon koreksi dan cek ricek kepada siapapun yang berkepentingan untuk Indonesia Raya. Meski banyak yang berdo'a kecelakaan garuda adalah yang terakhir, tugas intelijen dan aparat keamanan adalah memastikan proses mempertinggi kewaspadaan aspek keselamatan transportasi. Ancaman serius bagi Indonesia Raya adalah masih di sektor transportasi, bom, kerusuhan sosial, dan menguatnya konsolidasi separatisme papua, serta pembunuhan kepada target terpilih (yang anti Israel, mohon tingkatkan kewaspadaan dalam perjalanan; transportasi, makanan-minuman, dan segala sesuatu yang berpotensi menciptakan suasana kematian yang wajar), sebagai tambahan juga akan berkembang propaganda hitam yang memanaskan (mengadu domba) perjalanan bangsa Indonesia menjelang pemilu 2009. Saya berdo'a semoga saya salah dalam menilai potensi ancaman, dan rakyat Indonesia tidak semakin menderita. # posted by senopati wirang : 11:55 AM http://intelindonesia.blogspot.com/
Pada awal 1960-an minyak mencakup seperempat dari total ekspor RI. Industri ini didominasi multinational corporation atau MNC yang menanam modal 400 juta dollar AS dan diperkirakan melonjak ke satu miliar dollar AS tahun 1965.
Caltex Amerika Serikat (AS) menguasai 85 persen ekspor, Stanvac (AS) 5 persen, dan Permina 10 persen. Tahun 1963 total ekspor RI 94 juta barrel per tahun atau 1,7 persen dari konsumsi dunia.
Ekspor minyak dikuasai Shell (Belanda) yang per tahunnya 43 juta barrel-sementara Stanvac 10 juta barrel. Penerima terbesar adalah AS, Jepang, dan Australia.
Sejak tahun 1951, Bung Karno (BK) membekukan konsesi bagi MNC dan memberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1960. UU ini menegaskan, "Seluruh pengelolaan minyak dan gas alam dilakukan negara atau perusahaan negara."
Sejak merdeka, MNC berpegang pada "let alone agreement". Cara ini menghindari nasionalisasi, namun juga mewajibkan MNC mempekerjakan tenaga lokal lebih banyak lagi.
Pembekuan konsesi membuat MNC kelabakan karena laba menurun dan produksi terhambat. "Tiga Besar" (Stanvac, Caltex, dan Shell) meminta negosiasi ulang.
BK menjawab, kalau MNC menolak UU No 44/1960, ia akan jual konsesi ke Jepang. Maret 1963 BK mengatakan, "Saya berikan Anda waktu beberapa hari untuk berpikir dan saya akan batalkan seluruh kontrak lama jika Tuan-tuan tak mau terima tuntutan saya."
Apa tuntutan BK? Ia minta Caltex menyuplai 53 persen dari kebutuhan domestik yang harus disuling Permina. Surplus produksi yang dihasilkan Tiga Besar harus dipasarkan ke luar negeri dan hasilnya diserahkan ke RI.
Caltex wajib menyerahkan fasilitas distribusi dan pemasaran dalam negeri dan biaya prosesnya diambil dari laba ekspor. Caltex juga menyediakan valuta asing yang dibutuhkan untuk biaya pengeluaran dan investasi modal yang dibutuhkan Permina.
Masih kurang, BK menuntut Caltex menyuplai kebutuhan minyak tanah dan BBM dalam negeri. Formula pembagian laba 60 persen untuk RI dalam mata uang asing dan 40 persen untuk Caltex dihitung dalam rupiah. Karuan saja Caltex panik dan minta bantuan Presiden John F Kennedy. Mereka menilai tuntutan BK tak masuk akal dan bisa membuat Caltex bangkrut.
Tadinya Washington DC menganggap BK gertak sambal. Namun, waktu Presiden China Liu Shaoqi dan menteri Uni Soviet datang ke Jakarta membahas penjualan konsesi, mereka sadar BK tak main-main. Duta Besar AS di Jakarta Howard Jones pusing. "Jika Tiga Besar keluar, AS tak punya pilihan kecuali membatalkan bantuan ekonomi. Jangan mengancam, BK tak bisa ditekan," lapor Jones ke Kennedy.
Saat itu RI baru mau ikut program paket stabilisasi IMF yang ditawarkan Kennedy. Sehari setelah penandatanganan paket itu, BK menerbitkan "Regulasi 18" yang isinya tuntutan resmi dia. BK tak mau paket stabilisasi dikaitkan dengan Regulasi 18. Kennedy ketar-ketir dan segera mengirimkan utusan khusus, Wilson Wyatt, ke Tokyo, "mencegat" BK yang berada di Jepang. Lewat negosiasi alot, BK dan Wyatt menyepakati sistem "kontrak karya" yang disahkan DPR, 25 September 1963. Intinya, RI memiliki kedaulatan atas kekayaan migas sampai ke tempat penjualan (point of sale).
MNC cuma kontraktor: Stanvac untuk Permina, Caltex untuk Pertamin, dan Shell untuk Permigan. Jangka waktu dan area konsesi dibatasi dibandingkan dengan kontrak-kontrak lama.
MNC menyerahkan 25 persen area eksplorasi setelah 5 tahun dan 25 persen lainnya setelah 10 tahun. Pembagian laba tetap 60:40, MNC wajib menyediakan kebutuhan untuk pasar domestik dengan harga tetap dan menjual aset distribusi-pemasaran setelah jangka waktu tertentu.
MNC mau menerima karena yang penting batal kehilangan konsesi. Kennedy dan Kongres langsung menyetujui paket stabilisasi IMF, yang oleh BK diselaraskan dengan Rencana Pembangunan Nasional (RPN) Ketiga yang berlaku delapan tahun (1961).
Tahap pertama RPN mencapai swasembada sandang-pangan, tahap kedua memulai industrialisasi. Jangan-jangan RPN jauh lebih baik dibandingkan dengan Repelita.
Bandingkan kontrak karya dengan profit-sharing agreement (PSA) ala Orde Baru yang justru antinasionalisasi. PSA seolah menempatkan RI sebagai pemilik, MNC kontraktor.
Namun, pada praktiknya MNC yang mengontrol ladang yang mendatangkan laba berlipat ganda-mirip kolonialisme. PSA pernikahan ideal antara kontrak bagi hasil yang seolah menempatkan RI jadi majikan dan sistem kontrak berbasis konsesi/lisensi yang profit oriented.
RI seakan pegang kendali, padahal MNC-lah yang punya kedaulatan. "Klausul stabilisasi" PSA mengatakan UU RI tak berlaku bagi setiap kegiatan MNC dan tak bisa jadi rujukan jika sengketa terjadi-yang berlaku hukum internasional yang tak kenal kepentingan nasional.
"Cerita sukses" PSA ini yang dipakai MNC untuk menguras minyak Irak. Ironisnya BK malah dikagumi presiden yang bukan orang sini: Evo Morales.
Populasi 100 juta, 70 persen di desa dan lebih dari 50 persen GNP berasal dari pertanian-dari industri 15 persen. Utang luar negeri 2,5 miliar dollar AS walau inflasi membengkak akibat PRRI/Permesta, Konfrontasi, dan pembebasan Irian Barat.
Tingkat melék huruf naik dari 10 ke 50 persen (1960). Sukses BK lainnya yang sering disebut orang luar negeri adalah membenahi pendidikan karena kualitas kurikulum membuat generasi muda siap bersaing di tingkat internasional.
Ada sebuah kisah yang ingin kubagi pada kalian semua. Entah apakah cerita ini benar-benar terjadi atau tidak, tapi yang jelas benar-benar bisa membuat semua orang terkejut. Cerita ini melibatkan pihak-pihak yang sedang memperjuangkan kebebasan Jakarta; kebebasan kota terbesar se-Indonesia ini dari pihak-pihak yang menyalahgunakan kekuasaan dan pengaruhnya demi kepentingan-kepentingan pribadi dan golongannya. Orang-orang ini berjuang dengan caranya masing-masing. Ada yang berjuang dengan cara bergabung dengan unsur-unsur yang lekat dengan stigma negatif. Ada yang berjuang dengan cara mencari informasi kesana-kemari dan melabrak lokasi-lokasi penyimpangan sosial. Ada pula yang mencoba berjuang secara lebih ekstrik dengan target membunuh mereka-mereka para power-abuser itu. Dan ada pula yang berjuang secara gigih dengan lagu, musik, dan pendidikan para anak-anak tak berpunya. Kisah mereka kurasa pantas kusharing. Kalian pun bisa mendukung perjuangan mereka di sini. Sebarkan kisah mereka !
Sebagai seorang yang lulus dari sekolah yang mengajarkan cara membuat biodiesel fuel, diri ini pada awalnya merasa bangga bahwa pemerintah pada akhirnya melirik pengembangan biodiesel dan etanol sebagai penambah diversifikasi sumber daya alam penggerak mesin pengubah kalor menjadi gerak. Bagaimana tidak, negeri ini tertinggal dalam berbagai macam hal, termasuk diversifikasi bahan bakar dan metoda perubah energi menjadi gerak, selalu terbatas pada pereaksian hidrokarbon rantai panjang hasil tambang menjadi karbon oksida tunggal, karbon oksida ganda, hidrogen sulfida, nitrit, nitrat, dan abu (yang merupakan amalgamasi dari berbagai macam molekul kimia). Pengkonversian energi dari bahan berasal dari molekul yang diekstrak dari bahan terbarukan merupakan "ignored necessity" selama rejim Soeharto yang didikte oleh para penjaj...err..investor tambang petroleum. Selama minyak bumi dapat ditambang dengan mudah dan gas masih mengalir dengan lancar, maka selama itu pulalah sinar matahari, etanol, dan FAME masih hanya menjadi bahan diskusi dan mewujud hanya di berlembar-lembar laporan laboratorium dan tugas akhir para calon pakar perubah wujud molekul.
Sampai akhirnya tibalah rejim dari salah satu mantan jendral (sih, lagi2 mantan jendral) yang naik ke kursi RI-1 karena sosoknya yang melas dan terposisikan sebagai orang yang tertindas. Yang membuat diri ini jengah adalah pendampingnya di RI-1, seorang pedagang. Rasanya negeri ini memang negeri yang penduduknya mengalami sifat pelupa dan hangat-hangat tahi ayam. Penjajahan selama 32 tahun oleh rejim Soeharto harusnya mengajarkan kita bahwa komplotan militer berselingkuh dengan penguasaha akan selalu menjadi pembusuk dan penyedot sumber daya di negeri ini. Ingatlah Soeharto dan Lim Soe Liong. Mantan jendral dan pengusaha. Sekarang ada SBY-JK, mantan jendral dan pengusaha juga.
Tapi pasangan ini melahirkan kebijakan penggunaan biodiesel dan etanol sebagai diversifikasi bahan-bakar. Sekali lagi, saya merasa bangga akan hal ini.
Tapi seyogyanya kita harus mengawasi satu hal, karena biodiesel memerlukan bahan-bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, dan tumbuh-tumbuhan memerlukan tempat untuk hidup. Di titik inilah, penipuan dan kebohongan politik dapat terjadi akibat kebijakan pasangan mantan jendral dan pengusaha kumis hitler ini.
Ada sebuah cerita yang mengalir ke otak ini, sebuah cerita yang miris dan menambah panjang deret orang-orang yang tega memakan daging orang kecil demi menambal nafsu istri dan membesarkan anak-anaknya.
Sebuah cerita, di mana seorang atau sekomplot pengusaha mendapat izin untuk membuka lahan kebun sawit di lahan seluas ratusan hektar. Ketika lahan tersebut telah dibuka, dan lahan tersebut siap ditanami, yang terjadi adalah tumbuhnya rumput-rumput lebat dan gosip-gosip miring.
Gosip di mana sebenarnya para pengusaha itu tidak pernah berniat untuk menanami lahan ratusan (mungkin ribuan) hektar tersebut dengan kelapa sawit. Gosip di mana sebenarnya para pengusaha itu mengincar tumbuh-tumbuhan yang telah tumbuh selama jutaan tahun di sana.
Gosip di mana para pengusaha tersebut sebenarnya adalah perampok kayu yang tega menyuruh orang untuk memotong-motong lignin keras yang telah tumbuh selama ribuan tahun, memotong-motong hak ribuan orang untuk menikmati oksigen dan kekayaan yang mungkin tersalurkan ke banyak rakyat jelata.
Gosip dimana sebenarnya target utama dari diversifikasi bahan-bakar bukanlah penghematan sumber daya alam kaustabiolit, tapi demi justifikasi perambahan hutan demi bertambahnya pundi-pundi uang para perampok berdasi.
Gosip, yang mana bisa saja menjadi kebenaran, dan harus kita semua awasi.
| |