Eko's posts with tag: 2008
Sepertia biasa, nyolong dari milis:
All, Artikel ini cukup bagus untuk menjadi renungan anak-anak muda negeri ini. Wasalam. Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar Oleh Saratri Wilonoyudho *
Kasus tertipunya sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogjakarta oleh ''proyek" blue energy cukup menyedihkan. Sialnya, yang mengerjai perguruan tinggi tersebut adalah orang biasa. Bukan sarjana. Buntut kasus itu adalah mundurnya sang rektor.
Kasus tersebut boleh jadi menunjukkan sepinya ilmuwan yang berkaliber serta sedikitnya karya-karya monumental yang lahir di negeri ini. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat, bahkan untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri !
Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson, adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.
Di tengah sepinya karya-karya besar, demo-demo yang dilakukan insan perguruan tinggi berubah menjadi anarkis. Selanjutnya, perguruan tinggi kita hanya terlibat dalam soal-soal sepele layaknya seorang pedagang. Mahasiswa bagaikan si pembeli dan perguruan tinggi bagai sang penjualnya. Transaksi ijazah berlangsung untuk mengejar pekerjaan belaka tanpa transfer keilmuan yang berarti. Itu tidak terjadi di level strata satu, namun juga sudah sampai level strata dua, bahkan strata tiga.
Negeri ini pernah memiliki pemikir besar yang mampu berbicara dalam skala global. Orang biasa menyebut jenis pemikir tersebut adalah generalis. Orang itu adalah almarhum Soedjatmoko yang juga pernah menjabat rektor Universitas PBB di Tokyo. Soedjatmoko menebar ide-ide besar tentang teori pembangunan, sosial, strategi budaya, pendekatan kewilayahan, dan sebagainya. Lawan seorang generalis adalah seorang spesialis.
Tampaknya, dunia spesialis itulah yang kini dianut perguruan tinggi kita. Ketika seseorang menulis artikel atau penelitian ilmiah, pasti yang ditanya adalah apa latar belakang keahliannya. Seorang ilmuwan teknik yang mencoba menulis masalah-masalah sosial akan ditolak lembaganya. Padahal, sang ilmuwan teknik tadi menulis ilmu sosial justru untuk mendukung temuan teknologinya.
Demikian pula, salah satu syarat yang dibutuhkan seseorang dosen untuk menjadi profesor adalah ''linieritas" basis ilmunya sejak S-1, S-2, dan S-3. Alangkah monotonnya jika dalam jurusan teknik, keahlian yang diambil melulu teknik belaka, sementara yang mencoba ''mengawinkan" dengan ilmu sosial, kependudukan, lingkungan, dan seterusnya ditolak gara-gara dianggap ''murtad" atau tidak linier.
Sepi Ide-Ide Besar
Akibatnya, kini perguruan tinggi kita sepi dari pemikiran-pemikiran besar yang komprehensif untuk menjawab permasalahan bangsa. Benar bahwa spesialisasi juga perlu, namun jika para spesialis tersebut bagai katak dalam tempurung dan tenggelam dalam ''ilusi limiah" atau arogansi ilmiah masing-masing, apa jadinya masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa?
Buktinya, masalah ''sepele" seperti mahalnya kedelai, sampah, banjir, dan anarkisme pilkada juga tidak terselesaikan, meski banyak doktor spesialis masalah tersebut. Mengapa tidak terselesaikan? Sederhana saja, masalah yang kelihatannya berdiri sendiri sebenarnya berada dalam persoalan sistem besar yang saling terkait. Kalau para spesialis tidak saling ''menyapa", bagaimana mungkin masalah besar akan teratasi?
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyebut istilah ''sarjana fakultatif" dan bukan sarjana ''universal", meski nama lembaga yang dimasukinya bernama universitas. Jurusan atau fakultas tenggelam dalam dunianya masing-masing.
Di titik itu pula, saya lantas ingat kata Lord C.P. Snow dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow mengkritik polarisasi dua jenis cendekiawan di Inggris saat itu, yakni dari kalangan humaniora dan ilmu pengetahuan murni.
Kalangan humaniora mengatakan ukuran kecendekiawanan ditentukan seberapa jauh seseorang mampu memahami karya sastra yang berbobot, sedangkan arogansi cendekiawan ilmu alam mendasarkan seberapa jauh seseorang mampu memahami hukum massa, termodinamika, energi, dan sebagainya. Mereka tidak saling menyapa.
Bagi Snow, tujuan pertama pendidikan adalah bagaimana menghasilkan ilmuwan supra cum laude sebanyak-banyaknya. Kedua, melatih ilmuwan agar dapat menjalankan penelitian-peneliti an yang diperlukan, membuat rencana-rencana tingkat tinggi dan pengembangan.
Ketiga, melatih beribu-ribu ilmuwan dan ahli teknik lainnya. Keempat, melatih politikus, pegawai, dan masyarakat untuk mengerti ilmu pengetahuan agar bisa memahami apa yang dibicarakan kaum ilmuwan.
Sederhana saja alasan mengapa hal tersebut di atas perlu dilakukan. Ilmu dan teknologi adalah know-how (keterampilan teknis). Know-how adalah cara tanpa tujuan, suatu potensi, suatu kalimat tidak lengkap. Know-how bukanlah sebuah kebudayaan. Karena itu, tugas perguruan tinggi adalah menyebarkan ide, tata nilai mengenai mau apakah kita dengan hidup ini.
Know-how juga perlu, namun itu soal kedua. Sebab, gegabah sekali menyerahkan kekuasaan besar kepada rakyat dan birokrat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mereka tahu apa yang harus diperbuat dengan know-how tersebut.
Science hanyalah masalah praktis dan tidak bisa digunakan untuk menafsirkan dunia dalam konteks besar yang terdiri atas berbagai persoalan spesifik yang saling terkait dan bertingkat. Masalah banjir Jakarta, impor kedelai, bencana alam, anarkisme, dan sebagainya memerlukan pemikiran besar dan pendekatan kewilayahan komprehensif.
Kalau masing-masing ''spesialis" tidak saling menyapa, masalah besar tersebut juga tidak akan terselesaikan.
* Saratri Wilonoyudho, dosen dan peneliti di Universitas Negeri Semarang
. -- Visit http://www.strivearth.com and be entertained
Finally out of the hotel. Quite an experience, living in a four stars hote room for 30 days and juggling through adapting into this new but old city for me: Balikpapan. I was born at Balikpapan, almost 29 years ago. Now I return here, and living one of many Indonesian engineers dreams: working for a multi national corporations, and the third ranked FORTUNE 500 (2007) company at that! When I started working in this branch of energy extracting industry, I was imagining slaving away in small companies the rest of my life. Why? Cause I was not the brigthest of my generation. Taking classes with my juniors when In college (I was class 98, I took classes for class 2001!), l5 months late for normal length graduation, and 9 months long spent in futile unemployment. Now I am here, and I need to remind you all that there is a God around us. You just need to believe! Anyway, Balikpapan is quite a city. Middle way between sleepy city and busy industrial center, a hybrid between beach city and rolling hills, and between slowgoing and fast-moving, Balikpapan tastes like Martabak: you thought it is double layered, but actually it is single layered, and put between them is a mixture of meat, vegetables, and many other things. And like Martabak, Balikpapan is delicious and safe. Have I told you that this is one of the safest city in Indonesia? Anyway, I now live in a room in a dorm house. It's expensive for a dorm house, but air conditioned and have its own balcony. Really, A BALCONY! And out of the Balcony, you can view the rooftops of the houses standing on the rolling hills, breathtaking when saw at night. And just beneath my balcony is a busy street. Very very busy street. It roars till midnight and more. It's just two laned road, but boy it roars, and I roar with it every day on my new Honda Supra 125 PGM Fuel Injection Silver Red Bike of Pride! GO GO HONSU! ROAAAAAAAAARRRR!! 60 kilometer per hour running on the rolling hills, my life has turned loud and hopefully, happy 
Alkisah ada seorang engineer kenthir bernama prayitno,ST yg bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang, ni orang baru aja lolos tes perusahaan KPS Migas dari Eropah (jelas gede duitnya) dan mau resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya kita singkat aja ya, manajer = M, dan prayitno = P
M = edan kowe yo prayitno, dimana morality kamu? P = morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yg nyuruh karyawannya lembur2 melebihi aturan pemerintah sampe sakit tapi tunjangan kesehatan gak full
M = sebenernya mau kamu apa? dimana2 kerja itu sama. Saya sudah menjalani 2 company sebelum ini P = karena kerja dimana2 itu sama, makanya saya gak ragu resign pak, wong sama aja kok, cuma rewardnya yg beda tho.... ya saya pilih yg rewardnya lebih
M = kenapa kamu gak mencoba profesional disini aja, klo alasannya reward, kan nanti karir serta salary kamu juga bakal naik klo kamu bertahan P = kenapa saya harus nunggu, klo ada company yg nawarin itu sekarang?
M = tapi sayang sekali, saya pandang kamu yg paling berpotensi diantara yg lain P = bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yg resign sebelum saya
M = tidak, ini serius, kamu memiliki potensi besar, disini kamu bisa sukses! daripada kamu memulai lagi dari bawah di company lain yg belum ketauan ntar disana kamu bakal sukses ato gak P = disini juga sama aja saya blum tau bakal sukses apa gak, wong namanya masa depan kok. Sama2 gak ketauan, tapi yg satu awalannya lebih baik, ya pilih yg lebih baik dunk......
M = maksud kamu lebih baik itu apa? money? uang itu bukan segala2nya P = klo emang begitu ngapain company costdown gaji saya, apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer
M = Kta kan tidak hanya mengejar uang. Klo orientasi kamu hanya uang, kamu hanya mengejar "live". No difference with kambing, Bekerja hanya untuk bertahan hidup, Kamu itu engineer!!!! harus berorientasi pada yg lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri P = saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi "live" klo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos, pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaaa skarang ada company yg nawarin itu, salary yg membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang "live existency". So, boleh dunk saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya
M = prayitno.... klo kmu ngejar yg lebih baik, gak akan abis2.... selalu ada yg lebih baik. saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu P = emang gak bakal abis pak.... karena itu, ngapain saya abisin disini? mending saya terus2an dapet yg lebih baik ampe brenti karena cape. lagian Bapak juga nyatanya bisa brenti kan?
M = Nyatanya itu si pak Bambang bisa sukses disini sampe level Director, itu karena dia sabar disini P = pantesan pak Bambang tampangnya kaya gitu. Dah nyingkirin brapa orang dia pak buat ke posisi itu? Iya jabatan si Director, tapi mobilnya sama ama manajer di company baru saya.mendingan saya jadi GM disana dunk daripada jadi director disini
M = inilah yg membuat bangsa kita gak maju2. Oportunis. Orang Jepang maju karena loyal P = loyalitas tu kata2 pembenaran buat ngegaji orang dibawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya, akibatnya istri2 mereka harus mengimbanginya, ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yg hilang untuk anak2nya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada mereka. Tanya deh cewek jepang, lelaki jepang tu paling gak romantis. Cewe bawa tas berat aja dicuekin
M = tapi dimana responsibility kamu? P = responsibility tu apa pak? perasaan dulu saya pernah punya, pas awal2 masuk disini, tapi kata2 itulah yg dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yg jelas2 merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham. Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? Keluarga, anak dan istri adalah amanah dari Yg Diatas.
M = kamu kurang bersyukur, masih banyak orang yg susah dapet kerjaan P = saya dah diterima Pak, itu rejeki dari Yg Diatas, Klo gak saya ambil, itu yg namanya gak bersyukur. Yg Diatas itu tau kebutuhan kta. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru, mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, Yg Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yg akan menggantikan posisi saya disini setelah resign
M = EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! !!!! nek ngono aku yo melu resign...... .... P = raiso pak.... kowe wis tuwo. Cuma bisa ngelamar ke yg sesuai background. Cuma terbatas di sesama manufaktur elekronik hehehhee cacingan deh lo.....
Cause you would be loved! Motivation of The Day : " Spirit Bekerja " Tue Jun 24, 2008 9:59 pm (PDT) Spirit ada di udara, mudah terasa dan tercium. Bagi sebagian orang, spirit tidak sulit diciptakan. Terkadang hanya perlu "dipancing" dengan gorangan di sore hari atau kebersamaan saat lembur sampai pagi. Namun, di beberapa organisasi tertentu, terasa bahwa spirit ini sulit dikembalikan, walaupun sudah "diangkat" dan "ditarik-tarik" . Organisasi yang penuh birokrasi, misalnya, sering membuahkan karyawan yang terlalu berhati-hati, "cari selamat", terlalu berhitung, takut berubah, hanya menunggu ide untuk berubah dari orang lain dan enggan mengeluarkan ide baru. Tidak ada dinamika, kewaspadaan dan kenikmatan untuk berinisiatif lagi. Bila kita terjebak berada dalam organisasi seperti ini, namun secara pribadi memiliki spirit yang kuat, kita tentunya bertanya-tanya, apakah saya nanti tidak aneh sendiri ? Bukankah spirit itu bersumber dari suasana kerja tim ? Akankah kita bisa mempertahankan spirit yang segar dari waktu ke waktu ? Bagaimana menyuntikkan spirit ke dalam diri sendiri, bahkan sampai mempengaruhi organisasi ? Ingat umur Bila kita sudah kehilangan spirit bekerja, ingatlah umur. Bayangkan profesional seperti Martha Tilaar, yang berusia 70 tahun, tetapi semangatnya serasa 30 tahun. Beliau mengisi kehidupan karirnya dengan passion dan urgensi. Berapa usia kita sekarang ? Masih berapa tahunkan kita harus berproduksi ? Bila sekarang saja semangat kita sudah kempis, bagaimana kita akan giat berkarya pada tahun-tahun mendatang ? Hati-hati dengan "menerima apa adanya" Bayangkan sebuah rapat yang 'garing', tidak bersemangat, di mana kebanyakan orang tidak mempunyai persiapan materi yang menantang, hanya menjawab bila ditanya atasan, tidak mempunyai ide dan pasrah menjalankan kehidupan perusahaan apa adanya. Saat seseorang mengemukakan ide berbeda, semua pandangan menghujam padanya. Dan si kreatif ini bisa-bisa kemudian meragukan idenya. Kita lihat bahwa sikap 'menerima apa adanya' bisa mematikan spirit sehingga perlu diwaspadai dan diperangi. Pandanglah ke depan Bukan saja enterpreneur seperti Henry Ford (Ford Motor Comp), Bill Gates (Microsoft Corp), Larry Page dan Sergey Brin (Google) yang mempunyai kemampuan untuk memandang ke depan, kita pun bisa ! Kita selalu bisa melakukan benchmark ke perusahaan yang mempunyai aspek yang bisa ditiru. Kita pun selalu bisa memiliki obsesi untuk meningkatkan produktivitas kita sebagai individu, kelompok atau bahkan perusahaan. Bacaan-bacaan mengenai best practice profesi dan perusahaan serupa tidak terbatas jumlahnya. Dari sini kita bisa menumbuhkan mood untuk maju, mentransfer dan merealisasikan ide dan berobsesi untuk lebih sukses. Bertanyalah "bagaimana caranya ?" Bisnis dan situasi negara kita sekarang membutuhkan produk baru, cara dan metode produksi, pasar baru, kecepatan, transfer kekuatan, dan informasi. Bagaimana mungkin kita tinggal diam dan menunggu ? Kita bisa mengaktifkan otak dan selalu mencari cara baru. Seberapa pun kecil peranan kita di perusahaan, bantulah untuk memikirkan improvement, karena hal ini pasti akan berguna bagi perusahaan, tim dan diri Anda sendiri. Selain itu, kekuatan spirit Anda akan terasa oleh atasan. Dengan demikian kita secara tidak langsung membuat harapan baru bagi diri sendiri setiap saat dan terbiasa menanggulangi ancaman. Kembangkan mindset "memulai" Menjadi orang yang pertama maju ke depan memimpin diskusi, memberi tanggapan atau email kolega, mengirimkan notulen rapat ke pelanggan yang baru dikunjungi, sama sekali tidak sulit. Dampaknya terhadap diri sendiri-lah yang lebih besar. Kita akan mendapatkan apresiasi orang lain, dipandang sebagai orang yang gesit. Bayangkan kalau kita selalu menjadi orang yang pertama menyapa 'halo' di setiap kontak dengan orang lain. Kita pasti akan menebar semangat. Dan, untuk diri sendiri, kita akan menumbuhkan semangat ekstra sebagai pemulai dan penyerang, tidak sekadar responsif. Cintai teknologi Pemrosesan data, jaringan internet, telekomunikasi, tidak pernah bisa kita hindari. Teknologi juga berkembang sedemikan pesat sehingga sulit diikuti. Rasanya baru beberapa tahun saja kita menikmati teknologi GPRS, CDMA, sekarang kalau tidak ber-3G- ria, rasanya kuno. Baru saja kita menikmati iPod, sekarang kita perlu bersiap-siap memahami iPhone. Bila kita sedikit berusaha untuk menyukai dan memperdalam teknologi, kita secara tidak langsung terpaksa mengadaptasi derap inovasi dan perubahan dari perkembangan teknologi. Menjaga agar tetap ber-spirit ibarat menjalankan dinamika kehidupan seorang artis. Seorang artis tidak pernah berhenti memperhatikan, berpikir, mengembangkan ide, bereksperimen, mencari ide baru, antusias, bekerja tak kenal waktu dan berupaya menciptakan sesuatu yang unik dan baru. Jadilah orang yang senantiasa hidup dengan spirit. Hidup akan terasa lebih artistik. Sumber: KCM
 | STUPID | Jun 24, '08 8:45 AM for everyone |
WHAT DO YOU WANT, YOU BUNCH OF PYROMANIACS SLACKERS? FAME? FORTUNES? POLITICAL CHANNELS?
STUPID! STUPID! STUPID!
YOU KNOW WHY THE COUNTRY NEVER GO FORWARD?
THAT'S BECAUSE YOU STUPIDS ARE FOLLOWING THE WRONG EXAMPLES!
YOU FOLLOW THE POLITICAL HYPOCRITES AND NOT LARRY PAGE, SERGEI BRIN, AND THAT FACEBOOK GUY!
STUPID! STUPID! STUPID!
FUTURES ARE NOT MADE ON STREETS,
STUPIDS!!
FUTURES ARE MADE ON THE BENCHES, IN PAGES OF BOOKS, WRITTEN BY STEADY HANDS OF THE THINKERS!
GLAD I LEFT JAKARTA IN THE RIGHT TIME!
P.S: THERE ARE ALREADY TOO MUCH CARBON MONOXIDE, SULPHURS, AND LEADS ON THE AIR, YOU ASPHALT BURNING TIRE RAVAGING MINIATURE RATS YOU!

|  |
Siapakah orang yang sibuk? Orang yang sibuk adalah orang yang mengabaikan akan waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi
Sulaiman a.s
Siapakah orang yang manis senyumanya? Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ditimpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu ! sambil
berkata,"Ya Rabbi Aku redha dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang kaya? Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin? Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada, sentiasa menumpuk harta untuk kepuasannya sendiri.
Siapakah orang yang rugi? Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Siapakah orang yang paling cantik? Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik dan mulia.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas? Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit? Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal? Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Siapakah org yg PELIT ? Orang yg PELIT ialah org yg membiarkan atau membuang email ini begitu saja?
|
Balikpapan is a neat city. see for yourself! BalikpapanCruise - Pasir Ridge to Le Grandeur.avi (60.6 MB)
 Is Simply Beautiful and Dreamy :)
AKU BENCI KALIAN, MUSLIM!
KALIAN BIARKAN SAJA SEORANG TUA BUTA MENGHINA IMAN KALIAN DENGAN MEMELUK MUSUH NYATA!
KALIAN BIARKAN SAJA KITAB SUCI KALIAN DILEMAHKAN ORANG-ORANG YANG TERDIDIK DI ANTARA KALIAN!
KALIAN BIARKAN SAJA WAJAH KALIAN MENJADI SANGAR DAN TERCORENG-MORENG!
KALIAN! KALIAN! KALIAN!
p.s: gw juga sebel ama gw sendiri, bisanya cuman ngamuk di blog, tapi apa daya, cuman ini peluang gw mengingatkan kalian! Cek di gramed, ada orang sok lulusan al-azhar bikin buku yang secara halus melunturkan agama hebat ini
 | Why? | Jun 13, '08 6:39 AM for everyone |
Everyone knows that superior people are sometimes hard to understand and you have to muster all of your experiences simply just to get into their heads, understand their thoughts, and adjust yourselves accordingly. Sometimes you have the wisdoms you need to do it, sometimes you just lost your causes and let your connections with your superiors go to a stalemate.
Sometimes your wisdoms are subdued by the babel effect: language barriers that make you able to communicate mundane things but not so easy when talking about work details. This effect makes technical talks increased in difficulty, sometimes feel like ten folds harder.
I have been in meetings since I started working here, and the situations there are filled like intermittent long delays between talks and stuttered english from the non-english speakers. Not a good meeting atmosphere, as far as I know.
Anyway, somehow my predecessors have been able to run those meetings amidts those awkwardness, and perhaps, the awkwardness is their way of doing the meetings, somehow.
Needs to adapt more....
Balikpapan is, for better or worse, a small city. One week here, and I realized that like all small city, Balikpapan has its main commercial sites concentrated on one road, and u can tour all of the shopping places and still have energy left to walk back to hotel.
If you go to Balikpapan, don'f forget to ask people on how to get to Jl.Sudirman. You're all set once in there.
Another trait of it being a small city is the fact that there is not enough power generated by the city to satisfy its citizens growing need. Balikpapan's frequent power outage is outrageous. Electricity here is as reliable as politicians words. Balikpapan is often called blackout city, and this blackout even plaguing hotels as big as Le Grandeur, the hotel where I am staying for the first month here. Thanks God the hotel has its own backup generator.
Anyway, last night I thought I am in the Cloverfield movie: I woke up all of the sudden, the power suddenly out, and from the window came a guttural rumbling sound. The hotel room turned silent and eerie afterward. Then I realized that a huge lightning has hit somewhere in the city, put the electric company to its knees, and releasing a monstrous thunder that rumbled all over the city's sky. If I was in the Cloverfield movie, I wouldn't be alive and tell you the story anyway: the thin, anorexic monster would spot Le Grandeur instantly as it is one of the most lighted tall structure on the beach side.
And oh, another thing related to power: my room has a faulty thermoset that will cut the power to the room if I set the room temperature above 20 degrees celcius (68 degrees fahrenheit). I have reported it three times, and no improvements have been made. I guess its time to switch room.
....and I can already feel things could go wrong unless I stop and learn the environment.
And prepare skills accumulated by defeating monsters in the previous job and customized arsenals I have looted and crafted.
Being in a multinational corporation is so very different from being in an Indonesian company whose owner is one of the coordinating minister in the governmental cabinet.
Just wish me luck. The monsters here are big, tricky, and can skin me up with thousands different ways. I think I need to look out for higher leveled loots of very different weapon classes and utilize shortcuts for my skills more often now.
and no, I am not talking about Sword of The New World, I am talking about Chevron Company Indonesia.
One of the reasons I decided to move from the previous company to this new one is the chance to feel day-to-day exposures to expats. My exposures to Indonesian people from many ethnic backgrounds have enriched my experiences during my tenure in EMP-MS, so I wondered what would it be like to have exposures to expatriats. Well, a job offer with good "bait" came to my email, and I snapped it right away. I am a simple minded fish, after all. So here I am now, starting to live in one of the many legendary Cities of Oil, and working for one of the big 10 of FORTUNE 500. I imagined that my first days would be like hell of indoctrinations, but no. Well, the indoctrinations are still there, since CICo is like this big, paranoid giant who tends to hogs everything it owns. "For Security Reasons", they say. But along with the indoctrinations, there is this good welcoming atmosphere. My mentors, both are American expatriates, are more than willing to help me getting along and move forward (and hopefully, upward). They have been friendly (even friendlier than EMP-MS guys when I fisrt got there), supportive, and most important of all: educating. Well, it's been only three days, so you can say that it's only "The Hello Effect", but hey, three days of comforting atmosphere will make any new recruits feel right at home, right? So here's for good days laying ahead of us! p.s: don't worry, I am still a nationalist 
Halo, ada yang kangen ama gw ? Kalo iya, sorry deeeh. Sorry juga buat fans2 gw yang harap-harap cemas soal keselamatan gw, GOOD NEWS! Gw baik2 aja n happy2 aja :)
Lalu kenapa gw gak ngempi beberapa hari ini? Ini gara-gara gw PINDAAAAAH! PINDAH KERJA! PINDAH KOTA! PINDAH NASIB!
UHUYYY!!
Gw pindah dari Jakarta yang makin sumpek n gak manusiawi ke Balikpapan yang tenang, damai, penuh senyum,
n MAHAL!
tapi gak pa pa, gaji baru gw mencukupi kok, HAR HAR HAR!
Okay,
back to work
NB: gak dapet internet di kantor, tapi gw dapet RUANG GW SENDIRI,
HAR HAR HAR!!
Melihat cerita di sini seharusnya bisa membuat orang-orang Indonesia sadar bahwa semenjak Camdessus melipat tangannya sementara Si Jendral Bego membungkuk, kita sudah terjebak dalam permainan perusahaan agrikultur multinasional yang akan mencerabut paksa Indonesia dari akar agrarianya. Beranjak dari situ lah, saya merasa perlu berkata bahwa pencabutan subsidi BBM dan menggantikannya menjadi subsidi benih dan pupuk serta biaya pengambilalihan lahan-lahan sawah dan perkebunan dari pihak-pihak perorangan dan mengembalikannya ke masyarakat petani melalui kredit lunak adalah hal terbaik yang bisa dilakukan sebelum Indonesia terjebak seperti Meksiko, India, Jepang, dan Filipina. Mereka dulu bisa memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri. Setelah terjebak dalam krisis keuangan dan menyetujui program "restrukturisasi moneter" dari IMF, mereka terjebak dalam krisis finansial dan terseret dalam kewajiban membayar hutang yang menggila. Hutang menggila ini kemudian menyita resource negara dan memberikan landasan bagi IMF untuk "memberikan nasihat" bagi negara-negara itu untuk mencabut subsidi, mempreteli sistem ketahanan sumber daya untuk membiarkan "investasi" masuk, dan membeli resources yang berharga murah dari negara-negara maju. Murah karena disubsidi 25% (USA) dan 40% (European Union/EU). Miris rasanya melihat foto di atas. Foto itu dari Nigeria, negara penghasil Minyak terbesar se-Afrika. Tak perlu menunggu lama, foto-foto serupa telah bermunculan di koran-koran besar di tanah air kita. Rakyat-rakyat di daerah kelaparan karena tidak punya akses ke makanan pokok. Kenapa negara tidak mampu memberikan makanan kepada mereka, padahal landasan negara ini adalah Pancasila dan salah satu ajarannya bersimbolkan padi dan kapas. Karena negara menghabiskan duitnya untuk memenuhi hasrat kalangan menengah ke atas yang merasa harus memiliki kendaraan pribadi ke kantor demi identitas diri dan menarik lawan jenis. Right? Right! Dan pemerintah merasa perlu memenuhi hasrat kalangan menengah ini karena economy mostly digerakkan oleh mereka. Tanpa "kebahagiaan" kalangan menengah, pemerintah bisa "short-lived": protes-protes, hujatan-hujatan, dan yang parah adalah kudeta ekonomi. Pikiran ini semakin mempersempit ruang logika pemerintah yang sudah sempit oleh "dua tahun menikmati duit, satu tahun bekerja, dan dua tahun menumpuk duit buat pemilu". Kalangan menengah. Heh. Kalangan yang berhasil menjadi kalangan paling apatis-pragmatis setelah kejatuhan orde jendral bego. Naik harga BBM? Minta naik gaji! Angkot resek? Beli Motor! Naik motor kena polusi? Beli Mobil! Naik Mobil capek nyetir? Sewa Sopir! Begitu lah. Anyway, back to pencabutan subsidi n ketahanan pangan. Duit trilyunan rupiah bisa dialokasikan untuk memberikan "starter pack" pangan berupa bibit-bibit unggul, pupuk-pupuk, pestisida, dan pendidikan pertanian yang baik. Setelah memberikan "paket kail" tersebut, pemerintah perlu menjamin keberhasilan panen melalui sarana irigasi yang efektif n efisien.Setelah panen berhasil, pemerintah harus membeli langsung dari petani/koperasi petani. Harga pembelian ditentukan pemerintah sebijak mungkin mempertimbangkan pengeluaran petani selama menunggu panen, skala kesejahteraan mereka, dan penyisihan hasil panen untuk pangan petani dan bibit untuk masa tanam berikutnya. Setelah membeli, pemerintah perlu menyimpan hasil panen di gudang-gudang pemerintah secara baik. Pengeluaran hasil panen untuk konsumsi masyarakat perlu dikontrol secara ketat mempertimbangkan statistik rata-rata konsumsi dan pertumbuhan konsumsi. Harga pangan disubsidi secara baik sehingga masyarakat tidak terlalu berkeberatan. Dan tentu saja, pemerintah perlu menyisihkan sebagian untuk cadangan pangan selama setahun ke depan. Kalo bisa tujuh tahun ke depan, seperti sunnah (?) Nabi Yusuf  Setelah semua terjamin, baru lah ekspor dilakukan. Di sini lah pemerintah bisa meraup sedikit keuntungan dari harga pangan dunia yang pastinya lumayan tinggi karena stoknya semua ditimbun oleh pemeritnah. Keuntungan ini bisa digunakan untuk menambal subsidi, sukur-sukur bisa semua. Saya yakin, kalau pangan terjamin, berdesak-desakan sedikit di angkot dan bus umum atau hidup tanpa tivi and motor pribadi bisa dimaklumi oleh kalangan menengah ke bawah. Menengah ke atas? Oh well, ngapain memanjakan orang yang mapan n mampu, right? Kecuali alasan politik, tak ada logikanya membantu mereka. Sekarang, bagaimana pemerintah mem-phase out subsidi BBM dari masyarakat? Itu akan saya bahas di bagian tiga
 | Serem | May 18, '08 9:02 PM for everyone |
Ternyata kalo sentuh2an ama IMF and World Bank emang bikin orang-orang selain orang amrik n yurop miskin: http://www.thenation.com/doc/20080602/belloIt has become increasingly difficult for Mexican corn farmers to avoid the fate of many of their fellow corn cultivators and other smallholders in sectors such as rice, beef, poultry and pork, who have gone under because of the advantages conferred by NAFTA on subsidized US producers. According to a 2003 Carnegie Endowment report, imports of US agricultural products threw at least 1.3 million farmers out of work--many of whom have since found their way to the United States.As in Mexico the World Bank and IMF, working on behalf of international creditors, pressured the Corazon Aquino administration to make repayment of the $26 billion foreign debt a priority. Aquino acquiesced, though she was warned by the country's top economists that the "search for a recovery program that is consistent with a debt repayment schedule determined by our creditors is a futile one." Between 1986 and 1993 8 percent to 10 percent of GDP left the Philippines yearly in debt-service payments--roughly the same proportion as in Mexico. Interest payments as a percentage of expenditures rose from 7 percent in 1980 to 28 percent in 1994; capital expenditures plunged from 26 percent to 16 percent. In short, debt servicing became the national budgetary priority.
| |